Pages

Selasa, 11 Januari 2011

Our Future Still Continue Chapter 74: The Awakening





Keesokan harinya

Pagi hari.
Benteng Bulcheon, Kota Taejon, Shilla.
Alcheon berjalan cepat diikuti beberapa prajurit di belakang. "apa kau sudah memeriksa ke ruang kerja, tempat latihan, istal kuda?"tanyanya. "su..sudah Tuan..kuda miliknya tidak ada.." "siapkan kudaku..aku yang akan mencarinya.." "toplak..toplak.." terdengar suara derap langkah kuda mendekat. "i..itu Tuan Bi Dam..Tuan.." seru seorang prajurit. Alcheon menoleh. Bi Dam menunggangi kuda hitamnya, namun ia tak sendiri, ada seekor kuda berwarna coklat yang terikat di belakang kuda miliknya dengan seorang laki-laki terikat di atasnya. "sini kau.." Bi Dam menarik turun paksa orang itu dan menggiringnya masuk ke dalam benteng.  

Istana Pyongyang, Goguryeo.
Yeon Gaesomun duduk sendiri di ruangannya. "Raja Uija dikabarkan jatuh sakit, namun belum ada tanda-tanda pemberontakan.. " gumamnya berulang-ulang membaca laporan dari mata-mata Goguryeo. Wajahnya lelah bercampur kesal. Meskipun tidak ada yang berani merongrong dirinya dalam setiap kebijakannya, tetapi tetap saja menunda-nunda kemenangan yang sudah pasti, membuat pikirannya lelah. Kenapa pasukan Wa miliknya belum dikembalikan, bagaimana jika rahasianya terbongkar. Kedua hal itu selalu terngiang-ngiang di dalam pikirannya, apalagi akhir-akhir ini Panglima Eulji sering kali menanyakan kemana pasukannya itu akan dikembalikan. "tidak..tidak..semua pasukan itu dikirim dengan diam-diam..Shilla tidak akan menyadarinya" pikir Yeon Gaesomun.  "hamba mohon menghadap Tuan Perdana Menteri.." seru seseorang dari balik pintu. "masuk.." sahut Yeon Gaesomun. Seorang kasim melangkah masuk ke dalam ruangan dan memberi hormat "hamba mengantarkan surat untuk Tuan Perdana Menteri.." Yeon Gaesomun mengambil surat itu dan membacanya. Senyum penuh kemenangan terlukis di wajahnya.

Siang hari.
Benteng Bulcheon, Kota Taejon, Shilla.
Kesabaran Bi Dam kali ini benar-benar sudah habis. Ia bangun dari duduknya, menarik dengan kasar kerah baju laki-laki yang tadi ditangkapnya "apa yang kalian lakukan terhadap Putri Deok Man?!" bentaknya. Namun laki-laki itu sepertinya tidak menunjukkan rasa penyesalan atau takut sama sekali malah memamerkan senyumnya kepada Bi Dam. “kau terlambat Bi Dam…kau sangat terlambat..percuma saja kau tak akan bisa menyelamatkannya…” Bi Dam hampir saja melepaskan tinjunya untuk yang kesekian kalinya jika saja Alcheon tidak berhasil menahannya kali ini. “meskipun kau memukulku berulang kali..aku akan mengatakan kata-kata yang sama..karena kau benar-benar sudah sangat terlambat..kau sudah gagal melindungi istrimu…kau tidak bisa menyelamatkannya..” Kali ini Bi Dam benar-benar naik pitam dan kali ini Alcheon tak bisa menahannya.

Alcheon pun terpaksa menarik Bi Dam keluar dari sel tahanan “Tuan Bi Dam tenanglah…emosi tidak akan membantu kita menemukan Tuan Putri…” Bi Dam berusaha mengatur  nafasnya yang masih diburu emosinya tinggi. Alcheon menggiring Bi Dam keluar dari ruang penjara bawah tanah “serahkan semua padaku…aku akan berusaha mencari tahu kebenarannya..” kemudian ia menutup pintu ruang penjara itu, sehingga Bi Dam terkunci di luar. “hei Alcheon…bukakan pintunya” Bi Dam menggedor-gedor pintu.   “tunggulah di ruanganmu..aku akan segera melapor begitu semuanya selesai..” jawab Alcheon.

Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla
“formasi anak panah…” seru Seolji menginstruksikan latihan formasi para prajurit. Semua prajurit yang ada di situ mengikuti instruksinya. Wolya yang berdiri di samping Seolji menatap puas latihan para pasukannya. Di tengah-tengah latihan, seorang prajurit berlari dengan terburu-buru melewati para prajurit lain yang sedang berlatih di tengah lapangan lalu menghadap Wolya. “Jenderal…Panglima Eulji dari Goguryeo sudah mendeklarasikan perang, para pasukan Goguryeo tengah bersiap…” Wolya, Seolji, beserta para jenderal yang ada di sana terkejut  mendengarnya. “apakah pasukan Wa sudah kembali?” tanya Im Jong. “belum..sepertinya mereka belum kembali..” jawan prajurit itu. “berarti mereka  mengetahui soal kepergian Panglima Yushin…” gumam para jenderal lainnya di belakang Wolya. “padahal kita berencana akan menyerang mereka besok pagi...” sahut yang lain. Wolya berusaha untuk tidak panik dan berpikir dengan tenang. Resiko ini sudah lama diprediksi olenya. “Sersan Seung Chul..apakah semua yang kuminta sudah kau laksanakan?” tanya Wolya. “sudah Jenderal…” jawab Sersan Seung Chul. Wolya membalikkan badannya menghadap kepada jenderal lainnya. “kurasa tak ada masalah dengan penyerangan sekarang ataupun besok pagi yang penting bagaimana kesiapan kita menghadapi resiko kapan pun..”  “ya Jenderal, kami mengerti..” jawab para jenderal serempak. “sekarang persiapkan formasi pasukan!!!” seru Wolya. “baik Jenderal..”

Benteng Chuseon, Baekje
Dari pelataran depan ruangan kerjanya yang ada di benteng itu, Daemusin menatap pemandangan di halaman. Halaman kosong tanpa seorang prajurit berlatih di tengah lapangan. Seorang prajurit datang menghadapnya dan memberi hormat “ada surat untuk Panglima…” Daemusin mengambil surat itu lalu membacanya. Raut wajahnya yang penuh kepuasan tak bisa disembunyikan. “3 kerajaan ada dalam genggamanku sekarang..” pikirnya. “siapkan kudaku…” perintahnya. Prajurit itu memberi hormat “baik Jenderal…” “Hwangsanbeol sudah menungguku..” gumam Daemusin sambil menggenggam erat surat di tangannya.

Sore hari


Wilayah Chungju, Shilla (60 km dari Wonju - 130 km dari Taejon)
Seorang prajurit menunggang kudanya terburu-buru melewati rombongan pengungsi yang berjalan berbaris di tepi jalan. Ia menghentikan kudanya dan mendekati rombongan pengungsi itu “kalian cepatlah pergi dari sini…sebentar lagi akan terjadi perang besar..” seorang laki-laki yang bercaping dan berpakaian lusuh sambil memanggul pacul di bahunya, menghampirinya. “ada perang apa Tuan?” tanya Yushin yang sedang dalam penyamaran. “Panglima Eulji dari Goguryeo telah mendeklarasikan perang besar-besaran..sepertinya malam ini Shilla dan Goguryeo akan berperang…oleh karena itu sebaiknya kalian segera mengungsi ke kota terdekat..” jawab prajurit itu sebelum kembali menunggangi kudanya. “Panglima, bagaimana ini?” bisik salah seorang jenderal yang juga menyamar. “kita lanjutkan rencana kita…kuyakin Wolya dan jenderal yang lain bisa memenangkan pertempuran ini..” jawab Yushin sebelum ia kembali berjalan.

Benteng Bulcheon, Kota Taejon, Shilla.
Bi Dam berjalan hilir mudik di dalam ruangannya.  “sraak..” pintu ruangannya terbuka. Alcheon yang wajahnya berlumuran darah melangkah masuk ke dalam ruangan. “criing..” ia melemparkan sebuah kantong ke atas meja Bi Dam. Bi Dam membuka kantong itu “uang apa ini?” tanya Bi Dam. “laki-laki itu memang tidak mengetahui apa-apa…ia hanya dibayar untuk mematai-mataimu dan mengatakan hal itu padamu…” “lalu sekarang dimana laki-laki itu?dan ada apa dengan wajahmu?” tanya Bi Dam. “aku sengaja membiarkannya melarikan diri..lalu mengikutinya diam-diam..akan tetapi ia tewas diracun di kedai di desa dekat sini oleh orang yang membayarnya…aku pun mengejarnya dan berhasil mendapatkan informasi dari orang itu sebelum ia dibunuh oleh seorang pemanah misterius..” jawab Alcheon. “informasi?informasi apa Alcheon..katakan padaku!katakan!” Bi Dam mengguncangkan badan Alcheon. “Tuan Putri benar-benar masih hidup…baru saja kemarin ia tiba di Hwangsanbeol..sama seperti yang dikatakan bocah itu kemarin..” Bi Dam melepaskan kedua tangannya dari Alcheon dan jatuh duduk di kursinya. Bi Dam menutupi wajahnya yang basah oleh air matanya “syukurlah kalau kau benar-benar masih hidup Deok Man…syukurlah..”  gumamnya


"uhm..." Deok Man membuka matanya dengan perlahan. Menyadari bahwa dirinya berada di  tempat asing, ia pun segera terbangun dari tidurnya "astaga!dimana aku?" dan ia juga terkejut dengan pakaian yang dikenakan "apa yang terjadi?kenapa pakaianku berubah?" pikirnya panik melihat sekarang dirinya sudah memakai pakaian berwarna pink. Ia mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian sebelumnya. "kami diserang..lalu aku mencoba bertarung dengan orang itu..dan..sekarang aku di sini.." pikirnya. Ia menatap sekeliling ruangan tempatnya berada. Ruangan berbentuk persegi panjang yang tidak begitu luas, dengan sebuah tempat tidur dan meja kecil. Dindingnya dari batu bata dan pintu dari besi. "tinggi sekali jendela ini.." ujar Deok Man berusaha melihat keluar dari jendela, namun jendela itu terlalu kecil dan tinggi. Lalu Ia berjalan mengelilingi ruangan itu. "kurasa ini bisa menjadi senjata.." gumamnya sambil mengosongkan sebuah vas bunga. Lalu ia merapikan tempat tidurnya dan membuatnya seakan-akan ia masih tertidur di situ. "klang.." Deok Man mendengar grendel pintu besinya tergeser, ia pun segera bersembunyi di balik pintu. Seorang prajurit melangkah masuk sambil membawa nampan yang berisi gelas dan makanan. "bruk.." Deok Man berjalan di belakangnya lalu memukulnya hingga pingsan. Ia mengambil pedang prajurit itu dan mengendap-endap mengintip keluar. "tak ada yang menjaga.." gumamnya sambil menatap lorong dari ujung ke ujung. Ia menutup pintu kamarnya dan berjalan pelan-pelan menuju ujung lorong yang bercahaya. "ini di dalam benteng kah?" gumamya terkejut. Ia melihat ada banyak prajurit sedang berlatih di lapangan bawah. Namun ia lebih terkejut begitu melihat bendera dan panji-panji yang terpasang di sana "ini..." "selamat datang di Baekje, Tuan Putri.." Deok Man menoleh ke belakang. Seorang laki-laki memberi hormat kepadanya "selamat datang di Hwangsanbeol, Tuan Putri Deok Man.." Deok Man mengacungkan pedangnya “siapa kau?kenapa aku berada di sini?” Laki-laki itu hanya tersneyum. “traang..” dalam sekejap mata, pedang Deok Man sudah terpental jatuh ke lantai akibat tebasan pedang laki-laki itu. Tangan kanan Deok Man gemetar karena tak bisa menahan kerasnya tebasan pedang tadi. Lalu tak lama kemudian muncul 2 prajurit memegang kedua lengan Deok Man. “jika Tuan Putri tak melawan kami akan memperlakukan Tuan Putri dengan baik..” ujar laki-laki itu sambil tersenyum. Deok Man sadar bahwa ia tak akan menang jika bertarung langsung dengan orang itu, ia pun memutuskan untuk diam. “bawa ia ke ruanganku..” perintah laki-laki itu. “baik Panglima..” jawab kedua prajurit itu, lalu berjalan sambil menggiring tahanan mereka. “Panglima?jadi orang ini adalah Panglima Baekje?” pikir Deok Man.      

Malam hari

Wilayah Wonju, Perbatasan Shilla-Goguryeo.
Tak lama setelah matahari terbenam, Wolya beserta seluruh pasukannya meninggalkan kamp mereka, menuruni lereng bukit menuju medan perang. “plak..toplak…” Wolya sudah bersiap di atas kudanya bersiap memberikan komando. Terdengar suara derap kuda berlari dari belakang. “Jenderal…Panglima Eulji sudah berangkat bersama pasukannya…sama seperti yang Jenderal perkirakan…pasukan berpedang Goguryeo memimpin di depan…kemudian diikuti pasukan penembak panah...sepertinya mereka akan melakukan serangan frontal…” “hmm..bagus semua berjalan sesuai rencana…terus awasi dari menara..” jawab Wolya.  “baik Jenderal..” jawab prajurit itu. “pasukan tombak dan pedang siapkan perisai kalian!pasukan pemanah tunggu aba-abaku!” seru Wolya. Para Jenderal yang lain ikut menyerukan hal yang sama ke setiap barisan yang mereka pimpin. “Sersan Seung Chul..” panggil Wolya. “ya Jenderal..” jawab Sersan Seung Chul. “begitu ada serangan panah tiba…segera lepaskan..” perintah Wolya. “baik..Jenderal..” jawab Sersan Seung Chul. Seolji yang juga menunggangi kuda,  menghampiri Wolya. “apakah Jenderal yakin tidak ingin menggunakan itu?aku bisa meminta pasukan membawanya dari gudang..” Wolya menggeleng “jangan..itu justru bisa membahayakan kita juga…kurasa itu tidak akan berguna di medan pertempuran yang sempit seperti ini…” Seolji nampak agak kecewa. Penemuan barunya belum bisa memberikan kontribusi malam ini Wolya bisa melihat kekecewaan di wajah pengikutnya yang paling setia itu “tapi sekarang aku lebih membutuhkan ketajaman panah-panah hasil penemuanmu…lebih baik kau segera siapkan panah-panah cadangan untuk pasukan pemanah…kita akan sangat membutuhkan panah buatanmu…” Mendengar itu Seolji kembali bersemangat “baik Jenderal..” ia segera memacu kudanya menuju belakang barisan. Wolya menatap medan pertempuran di hadapannya. Sebuah celah besar berkelok yang memisahkan kedua pegunungan yang merupakan pemisah antara Goguryeo dan Shilla. Tak lama kemudian nampak ribuan lebih panah api melesat ke langit. “semua berlindung!!”  seru Wolya. Semua pasukan termasuk para Jenderal berlindung di balik perisai mereka. Ribuan panah api berjatuhan dari langit menghujani pasukan Shilla. Ada beberapa pasukan yang terluka terkena panah api yang berhasil mengenai mereka. “sersan Seung Chul!lepaskan!” seru Wolya. Sersan Seung Chul melaksanakan perintah Wolya. Ia membuka pagar kandang yang berisi 1500 banteng milik penduduk kota Wonju lalu meniupkan terompet ke arah banteng-banteng itu sehingga banteng itu panik dan dengan cepat berlari meninggalkan kandang menuju medan pertempuran. “seluruh pasukan..segera bersiap dalam formasi!!perang dimulai!!” seru Wolya sambil mengangkat pedangnya.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar