Pages

Minggu, 20 Juni 2010

Chapter 30: I'll be Strong

Setelah keluar dari gua, Bi Dam segera menguburkan mayat Yong Li. “semoga kau bias bertemu adikmu di alam sana” gumamnya sebelum pergi. Lalu Bi Dam segera berlari menuju desa terdekat yang ia lihat. Dengan uang yang tersisa dimilikinya ia membeli seekor kuda berwarna hitam. Lalu ia juga membeli pakaian untuk dirinya, tentu saja warna hitam kesukaanya, beberapa botol arak dan obat reumatik. Kemudian ia memacu kudanya ke arah gua Pak Tua. Lalu ia turun dari kudanya, masuk ke dalam gua. Pak Tua sedang tertidur. Dengan diam-diam, Bi Dam menaruh botol arak dan obat reumatik di sampingnya, lalu kembali keluar. Pak Tua melihatnya hanya tersenyum lalu tidur kembali.
Bi Dam memacu kudanya secepat mungkin menuju selatan, ke kota Kowon. Beberapa lama kemudian, ia tiba di sana. "nampaknya tidak ada pasukan Wolya dan Godo di sini." Lalu ia bertanya pada orang-orang di sana "ya..ada laki-laki yang bermata sipit dan berdagu kotak, kira-kira setinggimu ditemani pria besar dengan brewok hitam dan rombongannya..mereka terus bertanya-tanya apakah kami lihat pria terdampar di pantai atau di laut..kurasa setelah beberapa hari mencari, mereka sudah pulang."jawab seorang nelayan yang kebetulan lewat. "berdagu kotak?Yushin maksudnya?dan yang besar dengan brewok itu Godo?"pikirnya. Setelah berterima kasih, Bi Dam melanjutkan kembali perjalanannya tanpa henti ke Wonsan. "aku akan segera pulang, Deok Man"gumamnya.

Keesokan harinya.
Kediaman Perdana Menteri Bi Dam. Pagi hari.
Deok Man duduk di depan meja rias di kamarnya. Ia sedang menata rambutnya. Lalu Soo Hye masuk ke dalam kamarnya mengantarkan sarapan dan kemudian membantunya.
"apa rencana Tuan Putri hari ini?"tanya Soo Hye sambil menyisir rambut Deok Man yang panjang. "hmm..mungkin aku akan ke tabib..melakukan pemeriksaan rutin bulan ini..tak terasa sudah memasuki bulan yang kedelapan.."katanya sambil mengusap perutnya. "baik Tuan Putri,saya akan menyiapkan tandunya..nah selesai"kata Soo Hye. Deok Man berdiri dan terdiam melihat Soo Hye di sampingnya lalu melihat dirinya sendiri. "a..ada apa Tuan Putri?apa ada yang salah?"tanya Soo Hye takut. "tidak.. hanya saja aku baru sadar..aku belum mengenakan pakaian kabungku.." "Tuan Putri.." "bahkan sampai sekarang aku masih belum bisa percaya Bi Dam telah tiada dan lusa adalah pemakamannya.."kata Deok Man gemetar. Meskipun ia nampak tegar namun matanya kali ini tidak mau bekerja sama . Soo Hye ikut sedih melihatnya. Lalu Deok Man menghapus air matanya dan kembali tegar "siapkan pakaian kabungku Soo Hye..aku akan mengenakannya" katanya. Soo Hye mengangguk lalu mengeluarkan pakaian kabung putih dari lemari pakaian Deok Man. Kemudian dengan hati yang tegar, Deok Man mengenakannya.

Siang hari. Klinik Tabib Hang Hye Jin..
Deok Man sedang berbaring diperiksa oleh tabib kepercayaannya itu. "bagaimana keadaannya?"tanya Deok Man. Han Hye Jin tersenyum "kondisi bayi Tuan Putri sangat sehat..semuanya baik-baik saja" Deok Man tersenyum senang "syukurlah"katanya. "tapi saya dapat melihat kelelahan di wajah Tuan Putri..saya tahu saat ini adalah saat yang berat bagi Tuan Putri, namun Tuan Putri harus tegar melaluinya..demi bayi Tuan Putri dan juga Tuan Putri sendiri..dan saya juga ikut berduka cita atas meninggalnya Tuan Perdana Menteri .." kata Han Hye Jin sambil menundukkan kepala dalam-dalam. "terima kasih Han Hye Jin.. nasihatmu akan kuingat .." jawab Deok Man.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar