Pages

Minggu, 20 Juni 2010

Chapter 29 part 2 : Deok Man

Bi Dam membuka matanya, di hadapannya, Deok Man sedang berdiri menggenggam kedua tangannya "berjanjilah padaku untuk pulang dengan selamat..aku dan anak kita menunggumu di sini"katanya. Lalu air mata Deok Man menetes. “Deok Man..” gumam Bi Dam. Tangannya bergerak maju ingin menghapusnya namun tiba-tiba Deok Man menghilang. "Deok Man..Deok Man.." panggil Bi Dam sambil melihat sekeliling.
Bi Dam terengah-engah membuka matanya sekejap. "ternyata hanya mimpi" gumamnya. Bi Dam melihat langit-langit goa dan mendengar suara deburan ombak "dimana aku sekarang..ugh..?"tanyanya sambil memegangi tulang rusuknya yang sakit. Lalu ia duduk melihat tubuhnya penuh dengan luka-luka yang sudah diobati, kalung soyopdo masih menggantung di dadanya yang diperban. Ia hanya mengenakan celana panjang hitamnya. "kau ada di gua tepi laut tempat tinggalku Bi Dam.. " Bi Dam kaget dan menoleh. Tak jauh darinya duduk seorang laki-laki paruh baya. Laki-laki itu tampak jauh lebih tua daripada Bi Dam, rambut hitamnya yang sedikit sudah bercampur putih, begitu pula janggut dan kumis tipisnya. "si..siapa kau?darimana kau tahu namaku?dan kenapa aku bisa berada di sini?"tanya Bi Dam sambil memandang bingung sekelilingnya. " aku menemukan kau dan temanmu terapung di laut, tapi sayangnya temanmu sudah menjadi mayat ketika aku membawa kalian ke sini.. syukurlah kau bertahan hidup " jawab laki-laki itu sambil membuat api unggun. “Teman?” tanya Bi Dam dalam hati. Lalu ia melihat ke pojok goa, dan ia tahu siapa yang dimaksud temannya itu. "aku hanyalah pengembara biasa..orang-orang biasa memanggilku Pak Tua..dan aku tahu namamu dari sini"jawabnya lagi seraya memberikan saputangan Deok Man kepada Bi Dam. Bi Dam menerimanya dan mengikatnya di lengannya lalu ia menundukan kepalanya "terima kasih sudah menolongku..aku harap aku bisa membalas jasamu..ugh.." erangnya sambil memegang perutnya. Luka-lukanya belum pulih total. Pak Tua itu tersenyum "janganlah memaksakan dirimu luka-lukamu belum pulih semuanya.. sekarang makanlah dulu sebelum kau ingin menolongku.."katanya seraya memberikan beberapa ekor ikan bakar kepada Bi Dam. Bi Dam berterima kasih lalu melahapnya sampai habis. Setelah selesai makan, Bi Dam merenggangkan badannya perlahan dan mengikat rambut panjangnya yang terurai "kau ingin meminta tolong apa Pak Tua?"tanyanya. Pak Tua itu menunjukkan pada Bi Dam sebuah perahu tua "perahuku sudah tua, jadi banyak bagiannya sudah mulai lapuk..tadinya aku ingin membetulkannya sendiri tapi reumatikku kambuh..alat dan bahannya sudah tersedia..jadi kau tinggal mengganti dan menambal bagian yang lapuk.."katanya. "tenang, pasti beres"kata Bi Dam. Lalu Bi Dam mengerjakannya dengan cepat dan cekatan "sudah berapa lama aku pingsan di sini?"tanyanya. "akibat kau terkena demam dan luka-lukamu yang cukup parah, kau tertidur hampir 5 hari lebih.." Bi Dam kaget mendengarnya "5 hari?mereka pasti mencariku.."pikirnya. Pak Tua hanya duduk mengamati Bi Dam "kau berasal darimana Bi Dam?dari logat bicaramu, aku tahu kau bukan dari sini.." "ya..aku berasal dari Shilla"jawab Bi Dam yang sedang menambal dasar perahu. Pak Tua itu menegak araknya "Shilla?aku pernah ke sana..ke Daeya..tapi karena di sana, sedang terjadi pertempuran, aku hanya singgah sebentar..ku dengar sekarang Shilla dipimpin oleh seorang perempuan..apakah benar?ku kira wanita itu tak bisa memimpin.." Bi Dam tersenyum mendengarnya "ya..benar..tapi beliau adalah seorang pemimpin yang hebat..rakyat hidup sejahtera karenanya..lalu setengah tahun yang lalu beliau memutuskan untuk menyerahkan takhtanya kepada keponakan laki-lakinya dan menikah.."jawabnya. "oo..hebat ya, ada wanita seperti itu..mampu memimpin Negara yang didominasi kita..laki-laki.."kata Pak Tua.
Beberapa lama kemudian, pekerjaan Bi Dam selesai. "nah selesai..aku harus segera pulang" kata Bi Dam sambil menyeka keringatnya. Lalu Bi Dam berjalan menghampiri Pak Tua yang sedang tertidur, dan ia jongkok di sampingnya "hei Pak Tua..perahumu sudah jadi nih.." Pak Tua itu pun terbangun dan tercengang melihat perahunya. Perahunya nampak seperti baru. Bi Dam senang melihatnya "nah sekarang tunjukkan padaku cara untuk pergi ke Kowon" Pak Tua itu menoleh "tadinya aku ingin mengantarmu ke sana dengan perahuku tapi reumatikku belum sembuh..jadi untuk ke sana, kau harus keluar dari sini dengan menaiki tangga itu, lalu kau akan melihat desa tak jauh dari sini..pergilah ke sana, jika kau punya cukup uang kau bisa membeli kuda di sana..lalu pergilah ke selatan..ke arah Kowon..jaraknya cukup dekat dari sini.."katanya. Bi Dam merogoh kantong celananya dalam-dalam "hmm..masih ada sekantong emas di sini.."pikirnya. Lalu ia berjalan ke tempat mayat temannya yang dimaksud Pak Tua tergeletak. Ia mengernyitkan hidungnya karena mayatnya sudah mulai membusuk lalu memeriksanya. "apa kau akan mengambil barang temanmu sendiri?"tanya Pak Tua yang masih mengamati perahunya. "dia bukan temanku..ia adalah musuhku yang membuatku jatuh ke laut"jawab Bi Dam. Lalu Bi Dam menemukan sekantong emas dan mengambilnya "anggaplah ini untuk biaya pemakamanmu Yong Li"gumamnya. Kemudian Bi Dam membopong mayat itu "Pak Tua, terima kasih atas segala-galanya, kapan-kapan datanglah ke Shilla, ke kota Soeraboel..cari aku..aku akan menerimamu tinggal di tempatku.."katanya. Pak Tua hanya tersenyum mengangguk melambaikan tangan "hati-hati yaa"serunya. Lalu sambil membopong mayat, Bi Dam menaiki tangga keluar dari goa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar