Pages

Minggu, 10 April 2011

Our Future Still Continue Chapter 86 : A New Age (Ending)





5 tahun kemudian
Tepi Kota Chu-A-Gun, Shilla
“tuk..tuk…tuk..” Deok Man menaruh wortel-wortel yang sudah terpotong itu dalam mangkuk kosong, kemudian mengambil bawang bombay untuk dikupasnya. “omma..kami pulang!!” terdengar suara teriakan anak-anak dari luar. “iya…selamat datang…omma sedang di dapur…” sahut Deok Man. “tap..tap..tap..” terdengar suara langkah kaki berlari menuju dapur. “sraak..”  bocah laki-laki disusul saudara kembarnya perempuan berdiri di samping Deok Man dengan kedua tangannya tersembunyi di belakang “omma coba tebak apa yang aku dapat?” tanya Yun Ho sambil tersenyum lebar pada ommanya. Deok Man jongkok di hadapan putranya dan tersenyum menggeleng “lihat..” ujar Yun Ho. Ia menyerahkan sebuah sarang kecil yang berisi 5 telur bebek. “telur bebek?kalian tadi main di tepi sungai”tanya Deok Man. Yun Ho tersenyum menggelengkan kepalanya.  “tadi saat kami akan ke pasar, kakak menolong seorang nenek pedagang yang kehilangan kainnya, rupanya kain itu tersangkut di atas pohon..kakak mempraktekkan jurus yang diajarkan appa dan berhasil mengambilnya…dan nenek itu memberikan ini pada kami” sahut Yoo Na. “appa dan omma senang kamu mempraktekkan jurus itu untuk menolong orang..  ujar Deok Man dengan wajah gembira dan penuh rasa bangga sambil mengusap pipi tembem putranya itu. “nah sekarang giliranku…omma coba lihat lukisanku…itu gambar apa?” ujar Yoo Na penuh semangat. Deok Man membuka sebuah gulungan dan ia takjub dengan apa yang dilihatnya “omma tahu ini pemandangan di pasar kan?” jawab Deok Man. Yoo Na tersenyum lebar mengangguk “ini lukisan buatanku dan Paman Carten..”  “Paman Carten?” tanya Deok Man. “iya…Paman Carten baru saja tiba dari Tujue, ia tersesat dan tak bisa bahasa Gyerim jadi kami menolongnya…rupanya ia adalah pedangang lukisan dan ia tadi mau mengajariku membuat ini dan memintaku besok datang lagi…” jawab Yoo Na dengan rasa bangga. Mendegar cerita putrinya, Deok Man tersenyum, teringat dengan masa kecilnya sendiri dengan Paman Cartan saat masih tinggal di Gurun Taklamakan. “adiuvetis tam populo sum vobis superbus..” ujar Deok Man dalam bahasa latin yang berarti kalian sudah menolong orang-orang hari ini, omma sangat bangga pada kalian. Yun Ho dan Yoo Na mengangguk “yes!!” “Yun Ho..Yoo Na main yuk!!” terdengar suara teriakan anak-anak dari luar. “omma..bolehkah kami ikut bermain bersama mereka?” tanya Yun Ho dan Yoo Na. serempak. Deok Man tersenyum mengangguk “tapi ingat nanti saat makan siang kalian harus pulang dan jangan berantem yaa..” “baik omma…” jawab Yun Ho dan Yoo Na. Mereka berdua pun pergi keluar setelah mengecup pipi omma mereka satu persatu.  

“ini Nyonya tomat dan kentangnya…”ujar Soo Hye sambil meletakkan sekeranjang tomat dan kentang di atas meja. “terima kasih Soo Hye…Yun Ho dan Yoo Na tidak nakalkan selama menemanimu?” tanya Deok Man. “tidak Nyonya, mereka berdua sangat baik hari ini…” jawab Soo Hye. “syukurlah kalau begitu..” jawab Deok Man. Ia mulai mengupas kentang yang baru saja dicucinya. Tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang “bruk…” Deok Man menahan dirinya pada meja di hadapannya. “Nyonya..Nyonya…” ujar Soo Hye panik sambil memapah Deok Man untuk duduk. “ini Nyonya minumnya..” Soo Hye mengambilkan segelas air untuk Deok Man. “Nyonya baik-baik saja kan?” tanya Soo Hye. Deok Man tersenyum mengangguk “aku baik-baik saja…” “Nyonya terlihat pucat..Nyonya harus beristirahat…” ujar Soo Hye khawatir. “aku baik-baik saja Soo Hye..” jawab Deok Man. “saya diserahkan tanggung jawab oleh Tuan untuk selalu menjaga Nyonya selama Tuan tidak ada…jadi Nyonya harus beristirahat…” ujar Soo Hye. Deok Man pun tersenyum lebar “baiklah akan aku turuti saranmu..aku akan kembali lagi saat semuanya sudah terkupas..” “ya..serahkan saja padaku..” jawab Soo Hye. Deok Man pun berjalan keluar dari ruang dapur dan duduk di pelataran halaman samping rumahnya.    
Dari halaman rumahnya bisa terlihat hamparan lahan pertanian yang cukup luas yang sedang digarap para petani. Lahan tersebut memang miliknya dan suaminya tapi ia membebaskan penduduk sekitar untuk memanfaatkannya karena lahan itu dirasa terlalu luas jika dimilikinya sendiri. “tap..” tiba-tiba pandangannya menjadi gelap. “siapa ini?” Deok Man berusaha melepaskan tangan yang menutupi matanya namun tidak juga lepas. Ia meraba-raba tangan itu dan mengenali tangan siapa itu dari cincin yang dikenakan di jari tengahnya. “Bi Dam…” panggilnya. “aku pulang Deok Man..” gumam Bi Dam dari belakang.  “Bi Dam tolong lepaskan tanganmu..” ujar Deok Man. “hmm..maaf Nyonya tidak bisa..karena ada kejutan untukmu…” jawab Bi Dam dengan bercanda. “kejutan?” tanya Deok Man. “ya..tapi kau harus janji sesuatu..” jawab Bi Dam. “apa itu?” tanya Deok Man. “jangan coba mengintip..kau harus menutup matamu terus sampai aku memintamu membukanya..” jawab Bi Dam. “baiklah..aku janji…” Bi Dam kemudian menutup mata Deok Man dengan sehelai kain berwarna merah. “kyaa..” Deok Man menjerit kaget karena tiba-tiba Bi Dam menggendongnya “biar lebih cepat…” ujar Bi Dam sambil tersenyum lebar. Kemudian ia membawa Deok Man ke dalam sebuah tandu dan mereka pergi dengan tandu itu. “kita akan ke atas gunung ya?” tanya Deok Man saat ia merasa bahwa tandunya sedang berjalan agak menanjak. “hmmm…rahasia..” jawab Bi Dam.

Tak lama kemudian Bi Dam menggandeng tangannya, menuntun dirinya keluar dari tandu, dan kembali menggendongnya. “kita sedang berada di dalam hutan ya?” tanya Deok Man. “alasannya?” sahut Bi Dam. “karena aku merasa sejuk di tengah siang seperti ini, dari bau daun-daun yang kucium, dan suara langkah kakimu yang melewati rerumputan..” jawab Deok Man. Bi Dam tersenyum lalu mengecup pipi istrinya. “Bi Dam?” Deok Man pun bingung. “1 kecupan untuk jawaban yang benar..” jawab Bi Dam sambil tertawa kecil. “nah..sebentar lagi kita sampai..” Bi Dam berjalan keluar dari hutan dan berada di sebuah tebing gunung. Kemudian ia menuntun Deok Man untuk duduk di kursi yang telah disediakannya. Lalu ia mulai melepaskan kain penutup mata Deok Man dan berbisik “ aku harap ini tidak kalah dari gunung Taebaeksan…” Deok Man membuka matanya perlahan dan takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. Hamparan sawah yang menguning tanda akan segera panen, desa-desa kecil,  dan sebuah danau yang cukup besar serta sungai-sungai kecil. “ini luar biasa..” ujarnya. “belum lama ini aku menemukannya saat berburu dan kurasa kau akan menyukainya…” jawab Bi Dam yang berdiri di sampingnya.”sangat menyukainya…” jawab Deok Man. “kemarin saat dalam perjalanan pulang, aku bertemu Yushin di Kota Sabi…” ujar Bi Dam. “Panglima Yushin?” tanya Deok Man. “ya…ia sedang dalam perjalanan menuju Saitama… untuk mengatasi pemberontakan yang sepertinya diprovokasi oleh Goguryeo…kami pun bertukar kabar…” “Alcheon sekarang sudah memiliki anak kedua, seorang putri dan Kim Seo Hyun memutuskan untuk pensiun dan digantikkan oleh Jenderal Baek Jong…setelah itu ia menitipkan salam untukmu dan anak-anak kita…” jawab Bi Dam.

“hmm..tak terasa sudah 5 tahun  kita hidup di sini sebagai rakyat biasa…” gumam Deok Man. “apa kau merindukan Seoraboel?” tanya Bi Dam. “tentu..aku cukup lama tinggal di sana…banyak kenangan yang kumiliki di sana…tapi itu bukan berarti aku ingin kembali tinggal di sana…karena politik dan kekuasaan bisa menyeretku ke dalam masalah kembali…” Deok Man kemudian menatap suaminya “dan aku sangat bahagia berada di sini…di zaman dan tempat tinggal yang baru ini…” Bi Dam pun tersenyum lebar mendengarnya. Ia berlutut di samping istrinya dan menggenggam tangan kanannya erat-erat “aku berjanji akan melindungimu, Yun Ho, dan Yoo Na dan membahagiakan kalian bertiga…” “salah…” sela Deok Man. “salah?” tanya Bi Dam bingung. Deok Man menarik tangan Bi Dam dan meletakkannya di atas perutnya. “kita berlima…” gumam Deok Man sambil tersenyum. “Deok Man..maksudmu..kau…hamil?” tanya Bi Dam. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Deok Man menjawabnya dengan anggukan “diam-diam kemarin aku ke tempat tabib dan tabib bilang aku sudah hamil 1 bulan…”  Bi Dam mengecup kening istrinya “terima kasih Deok Man…kau selalu menjadikanku pria yang paling berbahagia di dunia ini…” “kalau begitu nanti kita berdua akan memberitahukan anak-anak bahwa mereka kan segera mempunyai adik…” ujar Deok Man.   Bi Dam mengulurkan tangannya dan Deok Man meraihnya lalu bangun dari duduknya. “kita pulang?” tanya Bi Dam. Deok Man mengangguk.  Bi Dam kembali membawa Deok Man dalam gendongannya dan berjalan kembali ke dalam hutan tempat tandu mereka sudah menanti mereka. “kami memang hidup sebagai orang biasa…tapi kebahagiaan yang kami terima sangatlah luar biasa…” pikir Deok Man sambil menatap wajah suaminya tiba-tiba ia menarik leher suaminya yang dirangkulnya dan mengecup pipinya. “Deok Man?” tanya Bi Dam. “satu kecupan hadiah dariku karena telah membawaku ke sini…” ujarnya tersenyum. Bi Dam pun tersenyum lebar “akan kutunggu kecupan yang lain di dalam tandu..” dan mereka pun tertawa.

~FIN~
It isn’t the end of all, but the new beginning for all
    A fresh start for their new life
    When everyone thinks it’s over
The Destiny just said that their future still continued

11 komentar:

  1. hhmm baru sempet ke warnet,, ehh ternyata ceritanya sudah tamat... bener bener happy ending...

    oh ya sist*sok akrab* ada rencana buat fic baru gak????

    BalasHapus
  2. waahh deokman hamil lagi? bidam kuat banget ya..!

    bwt endingnya bagus,, andai saja ending queen seondeok kyak gini....

    BalasHapus
  3. hmm ff baru?ada rencana buat gy pengumpulan bahan sama ide trus sama tokoh"nya cuma buat penulisan sama publishnya mungkin ga dalam waktu dekat ini :D kalo kamu punya akun facebook main ke 'elfanfic' aja...di sana ada ff" yang bagus juga...mohon ditunggu ya karyaku selanjutnya :D (bow)

    BalasHapus
  4. hhw...kan hamilnya 5 tahun kemudian itu...iya sebenernya nie agak nyindir ending QSD juga nih yang scene terakhir mereka lihat pemandangan dari tebing...kan kalo di QSD, Deokman sama Yushin ngeliatnya trus deokman sedih trus yah you know it so well lha endingnya...makanya aku buat beda, di sini, bidam sama deokman, n ini bukan sebagai akhir dari hidup mereka melainkan awal kehidupan mereka :D (apalagi dengan hadirnya 1 anggota keluarga baru hhe)

    BalasHapus
  5. akhir'a tamat juga....
    cerita ending'a bagus banget ^_^
    seneng deh akhir'a bisa liat bidam n deokman bahagia...:D
    klo ada fanfic bideok lagi kasih tau ya,, pasti aku baca...
    terima kasih....

    BalasHapus
  6. iya pastinya aku post dimari kalo ada ff bideok ata Kim Nam Gil - Lee Yo Won yang baru ^^...makasih ya udah setia ngikutin OFSC :)

    BalasHapus
  7. waaahh...
    sis, gak tertarik bikin cerbernya QSD 2?
    hehehhe,,ngelanjutin kisah bahagia bideok :D

    BalasHapus
  8. hah?maksudnya lanjutin OFSC ini lagi?wew..hhw..niat c ada cuma kasian lha mereka hidupnya kubuat jadi roller coaster mulu...jadi biar mereka ngelanjutinj kebahagiaan mereka sendiri...gypula aku juga mau nyoba ff genre baru..yg The Hidden Wounds udah baca?yg main Lee Yo Won ma KNG juga...cuma dia lebih condong ke dramanya di Bad Guy

    BalasHapus
  9. hihihihi..
    yadeh, nurut aja ma authornya :D
    yupz! q kan setia menanti kelanjutan cerita luka tersembunyi nya ;)

    BalasHapus
  10. doain kelancaran ilhamnya yaa...

    berhubung authornya UTS seminggu jadi kemungkinan awal mei baru publish lagi..mohon maklum ^^ n doanya biar uts saya lancar :D

    BalasHapus
  11. miya tolong donk cerita yang lom selesai diselesaikan juga kan q penasaran gitu he.....
    thx

    BalasHapus