Pages

Kamis, 21 April 2011

The Hidden Wounds Chapter 02: The Beginning

genre: angst,romance, mystery

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun

note: I didn't own the characters...it's just a fanfiction...

************************************************




Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun

note: I didn't own the characters...it's just a fanfiction...

************************************************


-  Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul -
“brrrm…” sebuah mobil Hyundai Equus berwarna hitam melaju pelan melewati pagar putih yang tinggi dan   berhenti tepat di pintu masuk rumah yang sangat besar dan mewah. Lee Seong Gi yang  berdiri  dibantu tongkat ditemani para pelayannya sudah tersenyum menunggu kedatangan putrinya.

 “ayah..” seru Yo Won begitu keluar dari mobil. Ia segera berlari memeluk ayahnya . “aku sangat merindukkan ayah…” gumam Yo Won.

“ayah juga sangat merindukan putri kesayangan ayah…” sahut  Lee Seong Gi.

Ia menatap putrinya  dengan tatapan hangat penuh kasih sayang “kau pasti lapar…ayah sudah meminta  para pelayan untuk menyiapkan makanan favoritmu…”   Yo Won tersenyum mengangguk kemudian ia menggandeng lengan ayahnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.

-  Geumcheon-gu, Seoul -
“klik” suara pintu terbuka. “tap..tap..” Gun Wook melangkah masuk ke dalam apartemen miliknya. Apartemen minimalis lengkap dengan perabotannya yang masih dibungkus plastik. “sraak..sraak…” ia menarik satu persatu plastik yang membungkus sofa, kursi, tempat tidur dan perabotan lainnya. Di tengah debu yang bertebaran, ia duduk di atas sofa dan kemudian memandang ke atas,   dimana sinar matahari menerpa wajahnya menerobos langit-langit yang terbuat dari kaca.
“drrt..drrt…” saku  jas hitamnya bergetar. Gun Wook pun merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.

“informasi yang kauminta sudah kukirim…” ujar suara berat laki-laki dari ponsel tersebut.

“ya…pembayarannya akan kulakukan setelah informasinya kubaca…” jawab Gun Wook.

“senang berbisnis denganmu…” jawab lawan bicaranya di telepon tersebut.

Gun Wook tak menggubrisnya dan segera mematikan ponselnya. Ia bangun dari duduknya, menarik kopernya dan berjalan hingga sampai di depan rak buku 4 tingkat di hadapannya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah remote kecil dan menekan salah satu tombolnya . Rak buku  di hadapannya pun  bergeser ke samping, sehingga terbuka celah yang cukup untuk 1 orang. Ia pun melangkah masuk ke sana.
Ia membuka koper hitamnya dan mengeluarkan laptop berwarna hitam dari situ, lalu menyalakannya.
“you’ve got email!”tulisan tersebut muncul di layar laptopnya. Gun Wook mengenali  email tersebut dan membukanya. Wajahnya pun tersenyum lebar begitu membacanya.



Malam hari
-Kediaman Keluarga Lee,  Seocho-gu, Seoul –
Yo Won berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya. “tok..tok..” ia mengetuk pintu dua kali.

“masuklah..” jawabTuan Lee.

“44% saham Tae Wang Petroleum corp. dibeli seluruhnya oleh San Hao Group, apakah ada keretakan di antara pemegang saham?” begitu bunyi headline berita di TV yang sedang ditonton oleh Tuan Lee di balik meja kerjanya. Yo Won bisa melihat kedua tangan ayahnya menggenggam lengan kursinya erat-erat.  Ia tahu pastinya ayahnya sekarang sangatlah marah dan emosi. Sahabat lamanya sendiri merebut perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah. 

“ayah…” panggil Yo Won.

Tuan Lee pun menoleh dan tersenyum pada putrinya. “duduklah di sini..” ujarnya sambil menunjuk sebuah kursi di depan meja kerjanya.  Yo Won pun masuk dan duduk  di kursi yang ditunjuk ayahnya.

“kau benar-benar ingin pergi bekerja besok?” tanya Tuan Lee.

Yo Won mengangguk “ya ayah..aku akan mulai bekerja besok jadi ayah bisa beristirahat…”

“sebenarnya ayah tak ingin kau bekerja…para dewan direksi pasti akan berusaha menjatuhkanmu dan…uhuk..uhuk..” Tuan Lee terbatuk-batuk sambil memegang dadanya. 

“ayah..ayah…”  Yo Won segera berlari ke samping ayahnya.  “ini minumnya…” Yo Won segera mengambilkan gelas ayahnya yang ada di atas meja. Tuan Lee pun meminumnya dan kondisinya pun membaik.

“jangan berpikir terlalu keras ayah..dokter sudah meminta ayah untuk beristirahat…” ujar Yo Won dengan wajah khawatir.

“Yo Won maafkan ayah..ayah tak bisa menjagamu di sana…” gumam Tuan Lee  sambil menggenggam tangan putrinya erat-erat.

“ayah..” Yo Won pun memeluk ayahnya. “aku pasti akan melindungi semua jerih payah ayah..” janjinya dalam hati.

- 20.00 AM Pulau Jeju-

“sraat..” Gun Wook mengenakan vest hitamnya dan bercermin di kaca sambil merapikan dasi kupu-kup hitam yang dikenakannya. Tiba-tiba pintu toilet terbuka

“hei..tamu-tamu sudah mulai berdatangan…”  seru salah seorang pria yang juga mengenakan vest hitam dan kemeja putih.

“ya..” jawab Gun Wook.
 Ia pun berjalan keluar dari toilet khusus karyawan, hiruk pikuk dapur sudah menyambutnya. Koki dan para pelayan hilir mudik ke sana kemari. Ia pun segera mengambil salah satu baki yang ada di rak piring dan berjalan keluar dari pintu dapur, menuju geladak yacht. Geladak yacht mewah milik Hong Gi Hoon, putra pertama Chairman San Hao Group, Hong Myung Hwan.  
Sambil bersiul, ia berjalan mengelilingi pelataran yacht. Ia pun tiba di bagian belakang kapal, pada sebuah tangga yang diberi rantai. Tanda bahwa tak boleh ada orang yang melewati tangga itu. Gun Wook melihat ke sekelilingnya, memastikan tidak ada orang. Lalu ia berjalan menaiki tangga itu. Ia pun tiba di geladak atas.  Tak ada siapa-siapa di sana selain ruang anjungan yang kosong. Gun Wook pun berjalan menuju pintu anjungan.

“aakh..aakh…Gi Hoon-ssi…” samar-samar terdengar suara desahan wanita. Gun Wook pun tak jadi membuka pintu anjungan. Ia diam sejenak untuk memastikan apa yang didegarnya benar.

“aku menginginkanmu Yunaaa….” terdengar suara laki-laki.

Mendengarnya Gun Wook pun tersenyum lebar. “I found you…” gumamnya.
Ia pun berjalan pelan-pelan  di pelataran kapal, mencari sumber suara itu berasal, sampai akhirnya ia tiba pada sebuah jendela yang tidak tertutup tirai.
Dilihatnya sepasang laki-laki dan perempuan sedang bercinta dengan hebatnya di atas tempat tidurnya.
Gun Wook hanya menatap dengan dingin apa yang dilihatnya, kemudian mengeluarkan ponselnya dan memotretnya.  Kemudian ia tersenyum melihat hasilnya dan pergi dari situ.
Ia berjalan menuruni tangga.  Para tamu sudah datang dan memenuhi yacht yang mulai berjalan.

“hei tolong kau bawa ini ke geladak…” tiba-tiba salah seorang pelayan menyerahkan satu baki yang berisi gelas-gelas champagne kepada Gun Wook.

Gun Wook hanya mengangguk dan berjalan, namun alih-alih ia mengerjakan tugasnya, ia hanya  menyelinap di antara rombongan artis dan asisten mereka yang baru saja datang untuk mengisi acara di pesta tersebut. Ia membututi  mereka sampai tiba di ruang ganti yang telah disiapkan.
“ini minumannya…” ujar Gun Wook sambil meletakkan gelas-gelas champagne satu persatu, namun tidak ada yang menggubrisnya.Ia melihat ada sebuah jas hitam tergantung sementara pemiliknya sepertinya sedang sibuk mengatur para artisnya, ia pun mengambilnya dan berjalan keluar dari sana.
Ia masuk ke dalam toilet pria dan menguncinya. Di dalam ia melepas vestnya lalu memakai jas hitam yang tadi diambilnya. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku vestnya dan memasangnya dengan rapi pada saku kemeja hitamnya. Di depan cermin,  ia menguncir rambutnya yang sudah melewati kerah dan merapikan jas hitamnya. Lalu berjalan keluar untuk ikut berpesta.
 “slurp..” ia mengambil segelas champagne dan meminumnya sambil berjalan menuju geladak. Ia berdiri  di samping seorang perempuan yang mengenakan gaun merah maroon.  Gun Wook mengambil satu gelas champagne yang dibawa oleh seorang pelayan yang melewatinya.

“ini..” ujar Gun Wook seraya menyerahkan gelas champagne kepada perempuan di sebelahnya.

“eh..” perempuan itu terkejut.

“angin malam seperti ini tidak bagus untuk kesehatan…minumlah itu agar dirimu merasa hangat..” uajr Gun Wook sambil
menatap laut yang hitam di depannya.

“terima kasih..” jawab perempuan itu.
Gun Wook pun membalikkan badannya dan berjalan namun perempuan itu sudah menariknya.

“tunggu..temani aku..” ujar perempuan yang bernama Hong Mo Ne itu.
Akhirnya Gun Wook pun menemani perempuan itu dan mendengarkan semua obrolannya. Mone nampak bersemangat sekali bercerita tentang dirinya, tentang pesta yang sangat malas dihadirinya namun dipaksa oleh ibunya untuk mengawasi kakaknya.

“apakah oppa akan berada di korea untuk waktu yang lama?” tanya Mo Ne.

“aku tidak tahu…jika aku menemukan pekerjaan yang cocok kurasa aku akan menetap di sini..” jawab Gun Wook sambil menegak champagnenya.

“ah kalo begitu Oppa bekerja di San Hao Group saja…aku akan pastikan oppa dapat pekerjaan yang oppa sukai…kalau ada oppa aku pasti akan lebih rajin ke kantor…” ujar Mo Ne.
Gun Wook hanya tertawa kecil sambil menatap champagnenya.


“hei Mo Ne sedang apa kau di pestaku?apa ibu yang menyuruhmu” tiba-tiba terdengar suara dari belakang. 
Gun Wook dan Mo Ne menoleh ke belakang, rupanya Gi Hoon yang memanggilnya dari geladak atas ditemani teman wanitanya yang dilihat Gun Wook tadi.
Namun Mo Ne cuek saja dan menarik Gun Wook agar tidak mempedulikan kakaknya.

“brrmmm…brrrmm…” terdengar suara  speedboat dari samping yacht.
“HENTIKAN KAPALNYA!!!!” terdengar suara teriakan melalui megaphone.

Gun Wook, Mo Ne, Gi Hoon dan para tamu pun  berjalan ke arah asal suara tersebut.
Di atas 4 speedboat  ada segerombolan laki-laki yang nampaknya adalah anggota gangster sudah siap dengan pemukul di tangan mereka bahkan ada yang membawa samurai di tangannya.

“celaka itu yeobo!!” seru teman wanita Gi Hoon yang bernama Yuna itu sambil bersembunyi di balik punggung Gi Hoon.

Lalu pria berbadan gendut besar dengan tato di sekujur lengannya yang sepertinya adalah boss dari anggota kawanan mengambil megaphone itu “GI HOON KEPARAT!! KELUAR KAU!!BERANI-BERANINYA KAU MENIDURI PACARKU!!” serunya.

Begitu mendengar hal itu, para tamu undangan pun menjadi ramai membicarakannya. Bahkan termasuk Mo Ne sendiri “kakakku tidur dengan kekasih boss  gangster..” gumamnya.

“Oppa serahkan wanita itu ke sana!!kau mau kita semua mati di sini?!!” seru Mo Ne pada kakaknya yang masih saja melindungi teman kencan sesaatnya itu.

Yuna pun tidak tinggal diam, ia berlari menuju geladak samping kapal dan berteriak “yeobo maafkan aku tadi Gi Hoon-ssi yang memaksaku tidur dengannya!!”

Gi Hoon pun menariknya kemudian menamparnya “kau!!wanita jalang!!”  bentaknya.

Sambil menahan sakit di pipinya Yuna pun kembali berteriak “yeobo..dia menamparku!!” serunya.

“KEPARAT KAU GI HOON!! HANCURKAN YACHTNYA!!BAWA GI HOON KE HADAPANKU” seru boss gangster itu. Perahu-
perahu motor itu semakin mendekat dengan yacht. Para tamu pun menjerit dan berlarian ketakutan.

“Gun Wook oppa ayo kita lari...” ujar Mo Ne yang panik 

“Mo Ne apakah di yacht ini tak ada speedboat atau sekoci?” tanya Gun Wook.

“a..ada..di garasi bawah…” jawab Mo Ne. “tunjukkan aku tempatnya..” sahut Gun Wook. Mo Ne pun menarik tangan Gun Wook dan berlari menuju bagian belakang kapal.

“Mo Ne kau kemana?!!” seru Gi Hoon yang juga panik. Ia pun menuruni tangga terdekat dan mengejar adiknya.
Gi Hoon berhasil menarik tangan adiknya “tunggu kau mau kemana?bersama laki-laki yang tidak dikenal ini” seru Gi Hoon sambil melirik Gun Wook.

“tentu saja aku mau pulang..kau mau adikmu ini diserang gangster?” bentak Mo Ne.

“itu dia si keparat Gi Hoon!!ayo tangkap dia” seru gerombolan gangster yang ternyata sudah mencapai geladak.   

“kurasa berdebat hanya akan menambah masalah…” ujar Gun Wook. “haisss!!sial!!” Gi Hoon memaki. Mone pun kembali menarik tangannya dan diikuti kakaknya, mereka bertiga lari sampai ke belakang kapal.Mereka lalu menuruni tangga dan sampai di garasi yacht. Gun Wook dan  Mo Ne pun segera menaiki speedboat yang ada.  Gi Hoon menekan tombol merah yang ada di dinding garasi dulu agar gerbang garasi terbuka sebelum ia menyusul adiknya naik ke atas speedboat.

“brrm!!” Gun Wook menyalakan mesin speedboatnya.  “cepat!!” seru Gi Hoon. Gerombolan gangster tadi berhasil menyusul mereka ke garasi kapal. Gun Wook segera menaikkan persnelingnya dari netral menjadi kecepatan tinggi.

“brrm!!!” speedboat pun melaju cepat keluar dari garasi. Namun mereka belum bisa lega karena gerombola gangster sudah siap mengejar mereka di atas speedboatnya.Kejar-mengejar speedboat pun terjadi.  4 speedboat mengejar 1 speedboat.

“cepat!! mereka mengejar!!!” seru Gi Hoon.

“Mo Ne apa kau bawa ponsel?” tanya Gun Wook yang masih berkonsetrasi pada kemudi speedboat.

“ba..bawa..” ujar Mo Ne yang nampak takut. Dikejar gangster dan kecepatan speedboat yang gila-gilaan membuatnya takut jika ternyata speedboat ini celaka duluan.

“telepon polisi..bilang mengenai kejadian ini…” ujar Gun Wook. 

Gi Hoon pun menarik bahu Gun Wook  “kau gila?!kau mau orang-orang mengetahuinya?”

“terserah kau ingin kita selamat atau kau ingin dihajar oleh gangster itu…kami mungkin bisa lolos tapi kau tidak…kau bisa lihat bahan bakar speedboat ini tidak banyak..”jawab  Gun Wook sambil menunjuk pada layar LCD speedboat itu. Gi Hoon pun hanya bisa duduk dan memaki-maki. “SIALAN!!” serunya.

Mo Ne segera menelpon 911 dengan ponselnya. “oppa aku sudah menelpon polisi, mereka akan segera mengirim personilnya ke sini…” ujarnya

 “bagus…sekarang kita tinggal mengulur waktu, menunggu polisi laut menghentikan kejaran mereka sehingga kita bisa menepi…” jawab Gun Wook.

Akhirnya 20 menit kemudian, speed boat mereka berhasil menepi ke dermaga terdekat. Polisi sudah menanti mereka di tepi dermaga. “apa kalian baik-baik saja?” tanya salah satu polisi. “ya..” jawab Mo Ne yang nampak lemas.

“ckiit..” mobil jaguar silver berhenti di depan mereka. Dua pria berjas hitam keluar dari sana.
Mo Ne tahu pasti ayahnya yang mengirim mereka. “apakah ayah marah?” tanya Gi Hoon. Namun kedua  pria itu hanya diam. “sial..pasti dia sangat marah..” ujar Gi Hoon sambil masuk dalam mobilnya.

Mo Ne membuka tas pestanya yang berwarna emas dan mengeluarkan secarik kartu nama. “oppa harus ke San Hao Group…tunjukkan kartu nama ini…mereka pasti akan mengerti..” ujarnya. Gun Wook hanya diam saja sambil membaca dengan seksama kartu nama itu. “Hong Mo Ne, San Hao Group Assistant Director…”

“maaf Nona, Tuan Besar sudah menunggu Nona pulang…” ujar salah satu prai berjas hitam tadi.
Mo Ne pun segera masuk ke dalam mobil. “ingat oppa besok kau harus ke sana..” seru Mo Ne dari jendela mobil. Jaguar silver itu pun melaju meninggalkan Gun Wook. “San Hao Group…awal yang bagus…untuk menghancurkan yang lebih besar…” pikir Gun Wook.

Grand Crown Hotel, Pulau Jeju-

“PLAAK!!” tamparan mendarat di pipi kanan Gi Hoon.
“ayah!!” seru Gi Hoon sambil menahan sakit di pipi kanannya.

“PLAAK!!” lagi-lagi Hong Myung Hwan menampar putra sulungnya itu.
Sementara istrinya  hanya duduk di sofa sambil memeluk putrinya.

“KAU BENAR-BENAR ANAK BRENGSEK!!LIHAT APA YANG SUDAH KAU PERBUAT!!” bentak Tuan Hong pada putranya.
Gi Hoon pun diam saja. Tak ada gunanya membantah ayahnya sekarang kecuali ingin ditampar lagi.

“untung saja ada Gun Wook-oppa yang menolong kami..” gumam Mo Ne dalam pelukan ibunya.

“Gun Wook?siapa dia?” tanya Nyonya Hong.

“itu pria tak dikenal yang mendekati Mo Ne di pesta..” sahut Gi Hoon.

“tapi ia lebih baik darimu!!ia tidak tidur dengan pacar boss gangster!!” bentak Mo Ne.

“ka..kau!!” Gi Hoon melototi adiknya tapi ayahnya sudah menatapnya dengan tatapan penuh amarah.   

“jadi siapa Gun Wook?” tanya Tuan Hong

“ia pria menolong kami ayah…aku memang baru saja mengenalnya di pesta tadi..setidaknya ia tidak seperti kenalan kakak yang berusaha mendekatiku..ia justru cuek dan tidak bertanya sedikit pun soal San Hao Group maupun diriku sendiri…ia hanya diam mendengarkan ceritaku lalu menolong kami…” jawab Mo Ne.

Mo Ne menarik tangan ayahnya “oleh karena itu ayah..tolong terima dia bekerja di San Hao Group..ia baru saja pindah dari Amerika…jadi aku menawarkannya pekerjaan di San Hao Group…aku mohon..”
Tuan Hong bertukar pandang dengan istrinya. “akan ayah pertimbangkan apa yang cocok untuknya…” jawab Tuan Hong.

“terima kasih ayah…” jawab Mo Ne sambil tersenyum senang.

- 8.00 AM Seoul-

“jika aku menjadi tabby, pasti aku pasti stress karena jika pemilikku adalah kamu..” ujar Soo Hyun sambil melirik kekasihnya yang tadi sibuk dengan galaxy tabnya.

“tiint..tiint…” ia membunyikan klakson dua kali agar mobil di depannya segera jalan karena sudah lampu hijau.

“jam 13.00 ada rapat dengan para kepala pabrik…lalu jam 15.00..” Shin Yuri memasukkan kegiatan tersebut dalam jadwalnya hari ini.

Soo Hyun hanya bisa tersenyum kecil melihat raut kekasihnya yang sudah suntuk karena harus menyusun jadwal hari ini.

“nah selesai…” ujar Yuri sambil tersenyum lega sambil memeluk tabbynya.

“tadi Hyun bilang apa?” tanya Yuri. Soo Hyun pun menggelengkan kepala “bukan apa-apa..”

“kau mengatur jadwal untuk siapa?bukankah Tuan Lee sedang sakit?” tanya Soo Hyun.

“iya..tapi hari ini aku menjadi assistant putrinya, Nona Lee Yo Won…ia yang akan mejadi wakil direktu selama Tuan Lee sakit…”

“ooh..” Soo Hyun menganggukkan kepala mengerti.

“nah sudah sampai..” ujar Soo Hyun sambil menepikan mobilnya.

“hari ini sepertinya aku pulang agak terlambat jadi Hyun tidak perlu menjemputku..” ujar Yuri sambil melepas sabuk pengamannya.

“akan kutunggu..” jawab Soo Hyun.

“hm?” Yuri menatap kekasihnya dengan pandangan tidak mengerti.

“aku akan menunggumu di sini seperti biasa..aku tak ingin kekasihku pulang sendiri…” ujar Soo Hyun sambil mendekatkan wajahnya pada Yuri.

Yuri pun tersenyum “terima kasih…” lalu mengecup bibir kekasihnya itu.  Soo Hyun pun membalas ciumannya.

Lalu Yuri pun turun dari mobil “semangat buat hari ini..HWAITING!!” serunya pada kekasihnya. “HWAITING!!” seru Soo Hyun sambil tertawa.

Yuri pun berjalan dengan penuh semangat memasukki Gedung Tae Wang Emporium Tower.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar