Pages

Jumat, 10 September 2010

Chapter 44: Between Life and Death

“dimana aku?” tanya Deok Man. Ia memandang sekelilingnya. Pemandangan di hadapannya semuanya serba putih. “Deok Man..” Deok Man kaget begitu mendengar suara itu. “tidak mungkin..suara ini..”gumamnya. “Deok Man..” Suara yang sudah lama sekali tidak didengarnya dan seharusnya tidak mungkin bisa ia dengar lagi. Ia menoleh ke belakang. Deok Man tercengang dengan apa yang dilihatnya. “ini pasti mimpi..tidak mungkin..kakak?” gumamnya. Deok Man berusaha meyakinkan dirinya “kakak!!kau kah itu?” panggilnya. “Deok Man..adikku..” panggil Cheon Myeong. Deok Man segera berlari memeluk kakaknya “kakak…ini benar-benar kau..” “Deok Man…” “aku sangat merindukanmu kak..”isak Deok Man “begitu juga denganku Deok Man..” isak Cheon Myeong. “Deok Man coba lihat di belakangmu ada 3 orang lain yang juga sangat merindukanmu…” Deok Man pun menoleh ke belakang. “ayah..ibu..”gumamnya. Raja Jinpyeong, Permaisuri Maya, dan So Hwa tersenyum padanya. “Deok Man..”panggil mereka. Deok Man segera berlari ke arah mereka dan memeluk mereka.”aku sangat merindukan kalian.. ayah..ibu..”isaknya. “kami juga putriku..”jawab Permaisuri Maya. “Tuan Putri..” isak So Hwa. “panggil namaku ibu..panggil namaku..”isak Deok Man sambil menggenggeam kedua tangan So Hwa “Deok Man..Deok Man…” So Hwa memeluknya erat. “aku sangat senang bertemu kalian…pasti aku sedang bermimpi sehingga aku bisa bertemu kalian..” kata Deok Man seraya menghapus air mata dari pipinya. Mereka semua tersenyum kepadanya. “ini bukan mimpi Deok Man..ini kenyataan..” jawab Cheon Myeong. “ini kenyataan? maksud kakak?” tanya Deok Man kebingungan. “ini adalah dunia batas hidup dan mati..”ujar Raja Jinpyeong. “dunia batas hidup dan mati?tunggu jadi aku…” Deok Man berusaha memahami. “coba kau ingat kejadian apa yang terjadi sebelum kau tiba di sini..” kata Permaisuri Maya seraya mengusap pipi putri keduanya itu. Tiba-tiba segala kejadian terputar kembali dalam benak Deok Man. Bagaimana ia terbangun, mengingat kata-kata Han Hye Jin, mengusap kening Bi Dam, merasakan kontraksi pertama, berjuang melahirkan kedua anak kembarnya, menggendong mereka, lalu menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan suami yang sangat dicintainya, Bi Dam. “kau ingat semua?” tanya Cheon Myeong. “ya aku ingat sekarang..aku..aku sudah mati..” gumam Deok Man . Ia masih shock dengan apa yang ia lihat barusan. Begitu mengingat wajah Bi Dam yang menangis karena kehilangan dirinya, air matanya langsung jatuh menetes membasahi pipinya. “kau belum sepenuhnya kehilangan nyawamu putriku..kau bisa dengar mereka memanggilmu kan?”tanya Permaisuri Maya. “mereka memanggilku?” tanya Deok Man. “Deok Man!!Deok Man!!”samar-samar terdengar suara Bi Dam memanggil namanya“oaa..oaaa..”dan suara tangisan kedua anak mereka memanggil ibunya. “Bi Dam dan anak-anakku memanggilku…” gumam Deok Man. Air matanya pun jatuh berderai . “mereka memanggilmu untuk kembali..” ujar So Hwa. “di sini adalah dunia batas hidup dan mati...berbeda dengan kami yang benar-benar sudah kehilangan nyawa kami setelah kami mati..orang yang mempunyai kesempatan hidup lagi sepertimu bisa kembali hidup dengan cara melewati gerbang itu…asalkan kau mempunyai tekad yang kuat untuk kembali..karena jika tidak kau akan terbawa kembali ke sini dan hanya bisa menunggu sampai nyawamu benar-benar habis lalu pergi ke alam baka..seperti kami..”ujar Jinpyeong. “mempunyai tekad yang kuat untuk kembali?” tanya Deok Man. “coba ingatlah..apa alasanmu untuk bertahan hidup atau mengapa kau harus kembali ke dunia..”jawab So Hwa. “kami di sini bukan untuk membawamu bersama kami…tapi untuk mendukungmu pulang…” ujar Permaisuri Maya. “oleh karena itu Deok Man..bulatkan tekadmu..sebelum melewati gerbang itu..” kata Cheon Myeong sambil meletakkan kedua tangannya di atas bahu Deok Man. Deok Man mengangguk mengerti “baik kak..” Lalu mereka semua mengantar Deok Man sampai ke depan sebuah gerbang kelabu yang kokoh terbuat dari besi. “begitu memasuki gerbang ini, semuanya tergantung padamu..kau harus menemukan tekadmu kenapa kau harus hidup kembali..” ujar Cheon Myeong. Raja Jinpyeong, Permaisuri Maya, dan Sohwa mengangguk. “kakak..ibu..ayah..” gumam Deok Man. “kau memiliki suami yang sangat mencintaimu, memberikan kami kedua cucu yang manis…kami semua mengharapkan kau bisa hidup berbahagia bersama keluarga barumu..” ujar Jinpyeong. “ayah..” “kau tak perlu mencemaskan kami di sini..kami semua bahagia melihatmu bahagia..kami semua ada di dalam hatimu..” kata Permaisuri Maya sambil meletakkan tangan di atas dada Deok Man. “kami berharap kau bisa hidup bahagia..” ujar Sohwa yang ikut meletakkan tangannya di atas dada Deok Man. Begitu juga Cheon Myeong. “aku ingin adikku hidup bahagia..” isaknya bahagia. Lalu Raja Jinpyeong yang terakhir meletakkan tangannya ”hiduplah berbahagia putriku…biarlah penyakitmu tak akan kembali mengganggumu lagi..” Deok Man merasa muncul rasa hangat dari dalam dadanya. “ayah..ibu..kakak..” gumam Deok Man. “kami sangat menyayangimu Deok Man..” jawab Mereka. Lalu mereka semua berubah menjadi bola-bola cahaya dan menghilang. Kemudian bersamaan dengan itu pintu gerbang terbuka dan Deok Man terseret masuk ke dalam gerbang itu. “dimana aku?” gumamnya bingung. Berbeda dengan tadi, di sini yang ada hanyalah kegelapan tiada akhir. Benar-benar tak ada cahaya setitik pun.“kemana aku harus pergi?” tanyanya bingung. Lalu ia teringat kata-kata ayahnya “orang yang mempunyai kesempatan hidup lagi sepertimu bisa kembali hidup dengan cara melewati gerbang itu…asalkan kau mempunyai tekad yang kuat untuk kembali..karena jika tidak kau akan tersesat di sini sampai nyawamu benar-benar habis lalu pergi ke alam baka..seperti kami. “ Kemudian Deok Man memejamkan matanya. “aku harus pulang..aku ingin kembali..” gumamnya. Dan semua kenangan semasa hidupnya terputar kembali. Bagaimana ia lahir, diburu oleh Chilsuk, ia dibesarkan So Hwa di Gurun Taklamakan, bertemu dengan paman Cartan dan para pedagang lainnya, dan semua pengalaman lainnya semasa kecilnya, kenangan berubah begitu cepat,ia sekarang berada di Shilla, bertemu Jukbang dan Go Do, mencari Munno, bertemu Mishil untuk pertama kalinya,bertemu Cheon Myeong untuk pertama kalinya, bertemu Yushin dan menjadi Nangdo, pergi berperang, membunuh orang untuk pertama kalinya, merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, bertemu Bi Dam. Hatinya merasa sangat hangat melihat gambaran wajah Bi Dam muncul dan mengedipkan matanya. “Bi Dam..” gumamnya. Kenangan bagaimana kakaknya meninggal, ia diburu oleh Mishil, lalu kembali mengambil haknya sebagai keturunan kerajaan yang sah, ia membuang kehidupan bahagianya sebagai wanita untuk mengalahkan Mishil dan memimpin Shilla. Gambaran pun berpindah tempat. Sekarang ia seorang putri, semua menjaga jarak dengannya, bertemu So Hwa kembali, Yushin menikah dengan orang lain,tak ada lagi orang yang bisa dekat dengannya, lalu gambaran Bi Dam membawakan bunga untuknya muncul. “kau membawakan hadiah ulang tahun untukku di hari yang salah..” gumam Deok Man tersenyum. Kenangan berganti lagi, kompetisi Pungwolju, lalu muncul gambaran Bi Dam menarik dan menggenggam tangannya. “tanganmu gemetar..” gumam Deok Man mengingat kata-kata Bi Dam waktu itu. Kemudian muncul kenangan Mishil melakukan kudeta, So Hwa meninggal, ia hamper saja mati tertembak panah oleh Mishil jika tidak ada Soeyopdo di dadanya, Bi Dam datang menolongnya, Ia memberikan tugas untuk Bi Dam, Bi Dam membohonginya. “seharusnya kau jujur padaku..aku akan menerima apapun jawabanmu…” gumam Deok Man. Mishil mati bunuh diri, kemudian ayahnya meninggal, ibunya pamit pergi. “kau harus mempercayai seseorang namun kau juga tak bisa mempercayai orang..” gumam Deok Man mengingat nasihat terakhir ibunya. Ia diangkat jadi ratu, unifikasi dimulai, situasi semakin pelik, Yushin dan Bi Dam bersaing, ia meragukan cinta Bi Dam untuknya, menolak dipeluk olehnya,. Air mata terjatuh dari kedua mata Deok Man yang terpejam. Ia mengakui perasaannya kepada Bi Dam. “hanya kamu yang memikirikanku sebagai seorang manusia, sebagai seorang wanita, tapi aku menyukainya, aku mencintaimu yang mencintaiku sebagai seorang wanita..tapi bisakah aku benar-benar melakukannya?” gumam Deok Man . Lalu ia melihat Bi Dam memberikan surat perjanjian untuknya. “apalah artinya kekuasaan jika aku tak bisa bersamamu?” gumam Deok Man. Lalu muncul kenangan Bi Dam sedang menemaninya tidur, menepuk-nepuk dadanya sampai dirinya terlelap, lalu ia mengumumkan pernikahannya dengan Bi Dam kepada seluruh pejabat. Namun segala sesuatunya berubah. Bi Dam difitnah oleh pengikutnya, sampai-sampai seluruh Istana meragukannya. Lalu muncul kenangan ia memberikan cincin untuk Bi Dam. Deok Man mengusap cincin yang melingkar di jari tengahnya itu. Lalu muncul gambaran Bi Dam mengembalikan cincin itu bersamaan dengan seorang mayat. “aku mempercayaimu sampai akhir..”gumam Deok Man. Lalu kenangan pemberontakan Bi Dam muncul, bagaimana Bi Dam akhirnya melindungi dirinya dari panah pengikutnya, lalu muncul kenangan Bi Dam menikahi dirinya. “aku mencintaimu, Bi Dam sangat mencintaimu..” menjalani kehidupan berumah tangga untuk pertama kalinya lalu saat dirinya dinyatakan hamil oleh tabib, bagaimana ia harus merelakan Bi Dam pergi berperang, lalu bagaimana Bi Dam memberikan kejutan di hari ulang tahunnya. Muncul kenangan ketika Bi Dam dituduh menculik Putri dari Negeri Wei, lalu bagaimana ia harus menerima kenyataan bahwa Bi Dam hilang tak ditemukan dan dinyatakan meninggal di Kowon, kemudian Bi Dam kembali.Merasakan pelukan hangat suaminya kembali. “kau pulang Bi Dam…” air matanya lagi-lagi menetes. Lalu ketika ia divonis sakit parah, melihat Bi Dam menyalahkan dirinya, ia bertengkar dengan Bi Dam untuk pertama kalinya sejak mereka berumah tangga, kenangan bagaimana Bi Dam memanjakan dirinya. Lalu ia merayakan ulangtahun Bi Dam untuk yang pertama kalinya. “kita bersama selamanya..”gumam Deok Man mengingat tulisan yang terukir pada kalung yang ia berikan untuk suaminya. Kemudian ketika ia harus berjuang melahirkan kedua anaknya yang ia dan Bi Dam sudah nantikan. Kemudian kenangan ketika ia menggendong anak-anaknya untuk pertama kalinya. “anak-anakku..” gumam Deok Man. Kemudian bagaimana ia mengucapkan kata-kata terakhirnya untuk suaminya dan menghembuskan nafasnya. Deok Man melihat bagaimana terpukulnya dan sedihnya Bi Dam. “aku mencintai anak-anak kita sama seperti aku mencintaimu Bi Dam..aku sangat menyayangi kalian..” gumam Deok Man mengulang ucapan terakhirnya. “ingatlah tekadmu..” terdengar suara Cheon Myeong dalam benaknya. Lalu samar-samar ia bisa mendengar suara tangis Bi Dam dan kedua anaknya. “aku ingin pulang..aku ingin bertemu Bi Dam dan kedua anakku…aku ingin hidup kembali bersama keluargaku..bersama Bi Dam dan anak-anakku” gumamnya sambil memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya keras-keras. Lalu muncul seberkas cahaya yang semakin lama semakin terang bersamaan dengan semakin jelas terdengar suara Bi Dam memanggil-manggil namanya. Deok Man membuka matanya perlahan

1 komentar: