Pages

Minggu, 17 Oktober 2010

Chapter 48: The Target?


Di lain tempat, para penyusup menyebar memasuki kediaman Bi Dam. “tak ada di sini..” kata salah seorang dari mereka. “di kamar juga tak ada..”sahut yang lain. Bi Dam bergerak diam-diam, bersembunyi di balik tembok mengamati apa yang sedang dilakukan para tamu yang tak diundang itu di kediamannya. “siapa mereka dan apa yang mereka incar?” pikirnya “tap..tap..tap..” suara langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya. Bi Dam bersiap dengan pedangnya untuk menyerang sewaktu-waktu jika orang itu menemukannya. Dan benar saja begitu orang itu menengok ke arah tempatnya bersembunyi, Bi Dam segera menariknya dan membunuh orang itu dalam sekali sayatan di leher sebisa mungkin tanpa suara. Tapi sial  “praang..” penyusup itu sempat menarik vas bunga di dekatnya hingga jatuh. “ada apa di sana?” tanya penyusup lain yang mendengar kegaduhan itu.  Bi Dam hanya diam dan berusaha menyembunyikan mayat korbannya. Pemimpin dari penyusup itu meminta bawahannya untuk tetap tenang lalu berjalan ke tengah halaman dan berteriak “bunuh semuanya yang ada di sini dan bakar semuanya sampai habis…” para bawahannya hanya menatap heran perintah pemimpinnya sebelum akhirnya mengerti makna perintah itu “baik..” jawab mereka. Keringat dingin langsung mengalir deras di kening Bi Dam begitu mendengar teriakan itu. Terbayang olehnya nasib Deok Man beserta anak-anaknya jika masih berada di tempat persembunyian mereka. Berharap mereka sudah pergi dari sini.

Deok Man dari balik dinding berusaha sebisa mungkin mendengar apa yang terjadi di luar sana. Namun nihil “Tuan Putri..apakah tidak sebaiknya kita pergi dari sini seperti yang dikatakan Tuan?” tanya Soo Hye. Deok Man hanya diam. Yang ada di benaknya sekarang adalah bagaimana kondisi Bi Dam sekarang  dan siapa penyusup itu. “oaa..” Yoo Na mulai terbangun dari tidurnya. Suhu ruangan yang cukup gerah membuat tidurnya tidak nyaman. “sst..sst..anak baik..” Soo Hye berusaha menenangkan nona kecilnya itu. Yun Ho pun juga mulai bereaksi sama. Akhirnya Deok Man memutuskan untuk segera keluar dari sini sesuai permintaan suaminya tadi. Sebelum beranjak dari tempatnya, Deok Man menatap sejenak dinding tempat suaminya keluar tadi “Bi Dam..berhati-hatilah..kami menunggumu di Istana..”

“bunuh semua pelayan dan bakar semuanya..” seru pemimpin penyusup itu. Bi Dam menatap sejenak ke arah kamar anaknya “kuharap kalian sudah berlindung di Istana sekarang..Deok Man..” lalu ia segera beranjak dari tempat persembunyiannya sambil menggenggam pedangnya erat-erat “tak akan kubiarkan..” geramnya.
Bi Dam pun melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Para penyusup itu sudah menunggunya dengan pedang dan crossbow di tangan. “prok..prok..” pemimpin penyusup itu tepuk tangan “menyambutnya” “akhirnya sang tuan rumah muncul juga..” “siapa kalian?dan apa mau kalian?” geram Bi Dam. “bunuh dia..” perintah pemimpin penyusup itu kepada bawahannya.  Anak buahnya segera beramai-ramai mengarahkan pedangnya ke arah Bi Dam. “traang..” Bi Dam menangkis setiap serangan mereka. “tembak dia..”  perintah pemimpin penyusup kepada 3 anak buahnya yang membawa crossbow. Mereka pun segera membidik Bi Dam “shuut..dart..dart..”  Bi Dam segera menarik salah satu penyusup untuk dijadikannya pelindung dari panah-panah itu. Pemimpin penyusup itu pun geram lalu mengambil crossbow anak buahnya dan membidiknya “shuut..” bersamaan dengan menghindar dari panah, Bi Dam juga menghindar dari serangan pedang yang bertubi-tubi menyerangnya. Panah itu memang meleset namun berhasil menggores pipinya. “haiiik..” teriak Bi Dam sambil menghempaskan tubuh lawannya dengan pedangnya. Pasukan berpedang sudah habis dibantainya. Para penyusup yang membawa crossbow segera menggantikannya teman-temannya yang sudah tewas menyerang Bi Dam dengan pedang kembar mereka, sementara pemimpin mereka hanya mengamatinya. Sementara Bi Dam berusaha menjatuhkan satu lawannya yang tersisa, seorang penyusup lain muncul dari atas atap. “sasaran berhasil ditemukan..ia kabur bersama seorang pelayan tak jauh dari sini..” seru penyusup itu.  Bi Dam langsung tersentak mendengarnya. “jadi Deok Man yang mereka incar..” gumamnya. “baikalah aku yang membereskannya..kau turun ke sini dan bunuh orang ini..” jawab pemimpinnya sambil menunjuk Bi Dam. “kauu!!!..langkahi mayatku dulu sebelum menyentuh Deok Man!!” seru Bi Dam penuh emosi. Namun pemimpin itu hanya diam lalu pergi melompat ke atas atap. “Deok Man..” hanya itu yang ada pikiran Bi Dam sekarang. Dengan cepat, ia segera menangkis serangan lawannya yang sekarang menjadi dua lalu menebas mereka.. “Deok Man…tak akan kubiarkan ia menyentuhmu!!” geramnya.

“Tuan Putri lewat sini..” ujar Soo Hye yang berjalan di depan Deok Man. Di bawah sinar bulan  mereka berjalan melintasi jalan setapak yang disebut Bi Dam tadi. “Deok Man..” Deok Man terhenti sebentar dan menoleh ke belakang. “sepertinya tadi ada suara yang memanggilku..” gumamnya. “ada apa Tuan Putri?” tanya Soo Hye sambil menatap ke arah yang sama. “ah tidak..bukan apa-apa..” jawab Deok Man. “sraak..” Soo Hye dan Deok Man terdiam. Mereka sadar bahwa tak hanya mereka yang ada di situ. “keluarlah..” seru Deok Man. “prok..prok..” terdengar suara tepuk tangan dari balik bayangan pohon, pemimpin penyusup itu berjalan ke hadapan Deok Man dan Soo Hye “ucapan yang sangat berani dari mulut seseorang yang kuhabisi sebentar lagi..akhirnya kutemukan juga kau..Putri Deok Man...” Soo Hye berusaha melindungi tuan putrinya namun Deok Man meminta dayangnya itu untuk berlindung di belakangnya. “jadi akulah yang kau incar?dimana Bi Dam?dimana suamiku?apa tujuanmu?” tanya Deok Man berusaha setenang mungkin. Pemimpin penyusup itu tersenyum mengejek dari balik penutup mulutnya “istri yang baik..masih mengkhawatirkan suaminya..di saat ajalnya sendiri sudah mendekat..dan mengenai tujuanku..tujuanku itu tak lebih dari sekedar emas..kau tahu kepalamu itu diberi harga 2 peti emas..” “jadi ia hanya orang suruhan..lalu siapa yang menyuruhnya?” pikir Deok Man. Lalu ia segera menarik pedangnya dan mengacungkannya ke arah Deok Man “ada permintaan terakhir yang ingin kau sampaikan?” tanyanya. “aku minta kau segera menyerah..aku yakin Bi Dam akan segera menolong kami..” jawab Deok Man lantang. “percaya diri sekali…” sahut pemimpin penyusup itu yang berjalan semakin mendekat ke arahnya. Ia lalu menatap Yun Ho dan Yoo Na yang masih terlelap dalam gendongan Deok Man dan Soo Hye. “setelah kau mati..kedua anak manis ini pun akan menyusul ibunya..ke neraka..” sambungnya. Deok Man pun tahu bahwa ancaman ini bukan main-main. “Tuan Putri..” bisik Soo Hye di sampingnya “ Soo Hye.. begitu ia berada 10 langkah dariku, kau pergilah ke Istana secepat mungkin bersama mereka..jaga mereka baik-baik..jangan pedulikan aku..” bisik Deok Man sambil menyerahkan Yun Ho kepada dayangnya. “tapi Tuan Putri..” sergah Soo Hye. “ikuti perintahku..” jawab Deok Man. “sekalipun kalian mencoba kabur..” pemimpin penyusup itu berjalan semakin mendekat. Hanya terpaut 20 langkah dari Deok Man.” pasti tak akan kubiarkan..mati kau!!!haiik”  Pemimpin penyusup itu berlari sambil mengacungkan pedangnya ke arah Deok Man.  “Soo Hye!!lari!!” seru Deok Man. Soo Hye pun segera berlari mengikuti perintahnya. Deok Man merentangkan kedua tangannya. Berharap Soo Hye berhasil kabur bersama kedua anaknya sejauh mungkin “mati kau!!” mata pedang pun semakin mendekat ke arah Deok Man. Terpaut 5 langkah lagi darinya. Deok Man memejamkan matanya. . “Bi Dam...” gumamnya.  “jleeb..” bersamaan dengan terdengarnya suara tusukan, darah pun terciprat ke udara. “Tuan Putri!!!” teriak Soo Hye.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar