Pages

Selasa, 31 Agustus 2010

Chapter 42: First Contraction

Tanggal 10 bulan ketujuh.Tengah Malam. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.

Deok Man terbangun dari tidurnya. Penyakit susah tidurnya kembali kambuh setelah sekian lama tidak pernah ia alami lagi. “Bi Dam…” gumamnya sambil tersenyum melihat suaminya terlelap di sisinya. Ia membelai lembut kening suaminya itu. Sekilas ingatan akan percakapannya dengan Han Hye Jin kemarin muncul dalam benaknya.
“nah sudah selesai…dan sekarang sambil menunggu Tuan Perdana Menteri pulang.. Tuan Putri harus istirahat ..” saran Han Hye Jin pada Deok Man yang sedang duduk di atas tempat tidur, sambil membereskan peralatan akupunturnya. “Han Hye Jin..” panggil Deok Man. “ya Tuan Putri…” jawab Han Hye Jin. Deok Man menatap mata Han Hye Jin dalam-dalam “tolong jawab dengan jujur…apakah ada kemajuan dengan penyakitku?aku ingin tahu keadaanku yang sebenarnya..baik ataupun buruk..” “Tuan Putri..” “aku siap mendengar apapun hasilnya…tolong jawab dengan jujur..” pinta Deok Man. Han Hye Jin merasa sangat dilematis. Ia sudah sepakat dengan Bi Dam untuk tidak memberitahukan hal yang sebenarnya dengan harapan Deok Man akan tetap semangat untuk bertahan hidup dan akan ada keajaiban untuk penyakitnya namun di sisi lain ia tahu pasti dirinya akan segera ketahuan oleh Deok Man jika ia berbohong. Ia tak bia menghindar dari tatapannya. “Han Hye Jin..baik atau buruk kabar yang kauberi..itu tak akan mengubah semangatku untuk berjuang dan menjalani pengobatan…jadi jawablah..” “Baik Tuan Putri saya akan menjawabnya..” Han Hye Jin membulatkan tekadnya untuk menjawab. “ada kemajuan dalam kondisi kesehatan Tuan Putri…sekarang detak jantung dan denyut nadi lebih stabil…Tuan Putri kelihatan lebih sehat…tapi untuk masalah penyakit..maafkan hamba.. hamba sendiri juga tidak tahu apakah sudah ada kemajuan yang berarti atau belum..karena seperti yang Tuan Putri tahu ini adalah pengobatan yang memakan waktu yang lama…” “Han Hye Jin…” “Ya Tuan Putri..” jawabnya. Deok Man mengusap perutnya lalu menatap Han Hye Jin. “jika nanti waktuku melahirkan tiba..kumohon..jika situasi membuatmu harus memilih kumohon dahulukan keselamatan anak-anakku lebih dari nyawaku sendiri..mereka mempunyai masa depan yang menanti mereka…aku memohon padamu..” Han Hye Jin bisa melihat ketegaran yang luar biasa dari mata pasiennya itu. Deok Man tersenyum membelai perutnya seakan-akan ia benar-benar membelai bayi-bayinya “aku tahu penyakit ini bisa mengambil nyawaku setiap saat..tapi aku akan berjuang sekuat tenaga setidaknya sampai anak-anak ini lahir bahkan sampai mereka dewasa..sampai aku dan Bi Dam tua dan kami meninggalkan dunia ini bersama-sama....tapi jika hidupku ternyata singkat..setidaknya aku bisa melahirkan mereka ke dunia ini..bisa memberikan Bi Dam sebuah keluarga..jadi berjanjilah padaku…” katanya sambil menatap Han Hye Jin. “hamba bisa mengerti perasaan Tuan Putri…tapi yang hamba akan janjikan adalah hamba akan berusaha sekuat tenaga agar kedua bayi Tuan Putri selamat..begitu juga dengan Tuan Putri…hamba akan berusaha” katanya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Deok Man bisa melihat kesungguhan dalam setiap ucapan tabibnya itu. Deok Man tersenyum lalu menundukkan kepalanya juga “aku mohon bantuanmu Han Hye Jin.. ”
“oleh karena itu Bi Dam..jika nanti aku tak bisa bertahan… tolong jaga dan rawat anak-anak kita baik-baik…aku percaya kau bisa menjadi ayah yang baik bagi mereka..seperti kau menjadi suami yang terbaik untukku..” gumam Deok Man dalam hati sambil membelai kening suaminya itu. “mungkin aku harus membaca sesuatu agar aku bisa tidur… “ pikir Deok Man sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya pelan-pelan sehingga tidak membangunkan suaminya. “Deok Man..” Deok Man menoleh mendengar Bi Dam memanggilnya. Rupanya Bi Dam hanya mengigau. “aku hanya ingin membaca buku sebentar..” gumam Deok Man sambil membetulkan selimut Bi Dam. Ia berdiri sambil menahan pinggangnya dengan satu tangannya. Lumayan untuk sedikit mengurangi rasa nyeri di pinggangnya, lalu berjalan menuju meja bundar. Tapi ternyata tak ada satu buku pun di meja bundarnya. Deok Man ingat tadi ia meninggalkan bukunya di ruang baca. “baiklah..aku akan mengambil buku dari ruang baca…” gumamnya sambil berjalan keluar dari kamarnya pelan-pelan. Ia berjalan perlahan-lahan menuju ruang baca. Semua orang sudah tertidur dan ia tidak mau mereka sampai terbangun. “sraak..” ia menggeser pintu ruang baca pelan-pelan. Sebisa mungkin mengurangi suara bising. “hmm buku apa ya..” gumam Deok Man sambil memilih-milih buku dari rak. “aakh..” Ia merasakan rasa sakit yang amat sangat dari dalam perutnya. Rasa sakitnya berbeda dengan rasa sakit saat bayinya menendang dan jauh lebih sakit daripada sekedar kram perut. Ia bersandar pada rak buku sambil menahan perutnya. Mencoba untuk rileks dan tenang. Ia bersandar sebentar pada rak bukunya. “huuf..” gumamnya sambil menghapus peluh dari keningnya. Menahan rasa nyeri di pinggangnya yang semakin menjadi-jadi. “kurasa aku harus kembali ke kamar..”gumamnya terengah-engah sambil menahan rasa sakit di perutnya yang semakin lama semakin bertambah sakit dan intens. “waktunya sudah tiba..” gumamnya sambil berusaha berjalan ke kamarnya
“Deok Man…” Menyadari istrinya tidak ada sisinya, Bi Dam terbangun dari tidurnya. Tak ada siapapun di kamar selain dirinya. “Deok Man?dimana kau?” Ia segera bangun dari tidurnya untuk mencari istrinya. Ia berjalan keluar dari kamarnya. “Deok Man?” panggilnya. “aku di sini..aakh..” sahut Deok Man dari ujung lorong rumahnya. Mendengar Deok Man mengaduh, Bi Dam segera berlari menghampiri istrinya. “Deok Man kau baik-baik saja?apa yang kau lakukan di sini?” tanya Bi Dam khawatir sambil berusaha memapah istrinya. Deok Man terdiam. Ia menggenggam tangan Bi Dam sangat erat menunggu rasa sakit akibat kontraksinya lewat. “Deok Man?” tanya Bi Dam. Kontraksinya pun lewat dan Deok Man menghela napas dalam-dalam. “ini waktunya Bi Dam..kurasa hari ini anak-anak kita akan lahir..”gumamnya terengah-engah sambil mengernyit menahan sakit. Air ketuban Deok Man pecah. Mengalir menuruni betisnya bercampur dengan sedikit darah membasahi lantai. “Soo Hye!!!pelayan!!!panggil Han Hye Jin!!” seru Bi Dam yang panik begitu melihatnya sambil berusaha memapah Deok Man berjalan menuju kamarnya.
“haduh..kenapa Han Hye Jin belum datang juga ya..” pikir Bi Dam yang berdiri di samping istrinya cemas sambil menatap pintu kamarnya berharap Han Hye Jin segera datang. Para pelayan silih berganti datang mempersiapkan segala yang diperlukan. “Bi Dam..”panggil Deok Man lirih. “ya aku di sini…” jawab Bi Dam sambil menggenggam istrinya erat-erat. “bertahanlah Deok Man..”ujar Bi Dam sambil menghapus peluh dari kening istrinya. Panik, cemas, khawatir, takut kehilangan bercampur menjadi satu dalam hati dan pikiran Bi Dam. “aakh..” teriak Deok Man. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. “sraak..” Han Hye Jin datang. Ia segera menghampiri Deok Man dan memeriksannya. “air ketubannya sudah pecah..” ujar Bi Dam. Han Hye Jin selesai memeriksannya. Muncul kekhawatiran di wajahnya. “waktunya sudah hampir tiba Tuan Putri..” kata Han Hye Jin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar