Pages

Sabtu, 07 Agustus 2010

Chapter 41 part. 02: Can I be a Good Father?

“Yang kedua adalah Shilla menjalin kerjasama dengan Kekaisaran Tang…Shilla dan Tang mempunyai musuh yang sama…” ujar Bi Dam. “tapi bukankah hubungan diplomatik kita dengan Tang kurang begitu baik terutama sejak ada kejadian waktu itu..” kata Yushin. ”aku tahu… baik kita maupun Tang belum ada yang membahas hubungan diplomatik lagi selain tentang perdagangan..sejak saat itu..“ Sekilas kejadian itu terulang lagi dalam kilasan ingatannya. Karena ulah para pengikutnya yang bersekongkol dengan utusan Tang, Bi Dam nyaris saja dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Menukar pernikahan Deok Man yang kala itu menjadi Ratu dengan sejumlah bantuan bala tentara dari Kekaisaran Tang. “karena bukan pihak kita maupun Tang yang bersalah..kita sudah berusaha menjelaskannya melalui utusan ..namun mereka belum mengirim balasannya..” jawab Yushin. “tapi cepat atau lambat baik Shilla maupun Tang harus membuka kerjasama kembali…jika rumor ini juga terdengar di sana mereka pun akan berpikiran sama..kita harus menunggu kebijakan Tang dalam hal ini…kita harus menunggu kondisi dimana kita dan Tang dalam posisi sama-sama saling membutuhkan..” Yushin mengangguk setuju “ dan selama kita dalam proses menunggu..aku akan mengusahakan rencana yang pertama kali kau sebutkan terlaksana..dan pengembangan senjata dipercepat..” lalu ia bangkit dari duduknya. Bi Dam ikut berdiri dari duduknya dan berjalan di sampingnya “jangan paksakan dirimu kawan…lebih baik kau menguasai daerah yang bisa kau kuasai dulu daripada kau kehilangan semuanya nanti..” Yushin mengangguk. Lalu mereka berdua berjalan meninggalkan ruang kerja Bi Dam.
“Bi Dam..aku sudah dengar kondisi dan penyakit Tuan Putri… kuharap ada sesuatu yang bisa kubantu..mungkin aku bisa bantu carikan obat atau tabib terbaik..” ujar Yushin dengan nada muram. Bi Dam menepuk pundak kawannya itu dan tersenyum “yang paling penting jangan sampai wajah murammu terlihat olehnya… kau tahukan ia paling tidak suka jika orang terlalu khawatir padanya..” katanya. “aku juga sedang berjuang mengupayakan segala sesuatu yang terbaik untuknya..dan terima kasih untuk tawarannya..” “Bi Dam..aku tahu dan yakin hanya kaulah yang bisa mengerti dan mencintai Tuan Putri seutuhnya..baik sebagai penguasa maupun sebagai wanita…aku bersyukur bahwa kaulah yang dipilih Tuan Putri menjadi pendamping hidupnya..aku doakan kebahagiaan kalian..” kata Yushin dalam hati kecilnya
Lalu mereka berdua berjalan menuju halaman.
Halaman Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
“ayo sini lempar bolanya ke bibi..” kata Deok Man yang duduk di kursinya sambil menunggu operan bola dari Hyun Wo. Hyun Wo melemparnya dengan pas dan Deok Man menangkapnya, lalu mengoperkannya kepada Soo Hye. Hyu Wo pun mengejar Soo Hye berusaha mengambil bolanya. Deok Man tertawa bahagia melihat Soo Hye kewalahan dikejar Hyun Wo. “Hyun Woo..” panggil Yushin. “ayah..” seru Hyun Wo lalu berlari ke arah Yushin.. “kau tidak nakal kan?” tanya Yushin. Hyun Wo menggeleng.
“kamu senang ya bermain di sini?” tanya Bi Dam sambil mengusap kepalanya. Hyun Wo tersenyum mengangguk. Bi Dam menggandeng tangan Hyun Wo dan mereka bertiga berjalan menuju gazebo, tempat dimana Deok Man sudah duduk dan menunggu mereka. “maafkan kelakuan anak hamba Tuan Putri jika ia tadi nakal..” kata Yushin. Deok Man menggeleng “ia tidak nakal kok..ia anak yang manis..iya kan Hyun Wo?” tanyanya sambil mengusap pipi Hyun Wo. Hyun Wo tersenyum nyegir mengangguk. Lalu tak lama kemudian Soo Hye datang membawa kue-kue dan minum dan menghidangkannya di atas meja dalam gazebo. Bi Dam mempersilahkan Yushin dan Hyun Wo duduk dan menikmati hidangannya. Karena masih kecil, Hyun Wo belum bisa mencapai tempat duduknya yang tinggi, oleh karenanya Yushin memangkunya. “Hyun Wo berapa usiamu sekarang?” tanya Bi Dam. “5 tahun paman..” jawab Hyun Wo. “ayo Hyun Wo dimakan kuenya..” kata Deok Man sambil tersenyum. “terima kasih Bibi..selamat makan..” jawab Hyun Wo lalu mulai menyantap kuenya dengan lahap. “Hyun wo..” tegur Yushin. Bi Dam dan Deok Man tertawa melihatnya. “tak perlu sungkan Yushin…”kata Bi Dam. Lalu mereka bertiga mulai menyantap hidangannya sambil mengobrol.
Setelah beberapa kemudian dan hari mulai gelap, Yushin dan putranya pamit undur diri. “terima kasih atas jamuannya Tuan Putri…Bi Dam..” katanya sambil memberi hormat. Di sampingnya, Hyun Wo sambil memeluk bolanya ikut memberi hormat, “terima kasih Bibi..Paman atas jamuannya..” Deok Man tertawa melihatnya “ia benar-benar mengikutimu Panglima Yushin..kapan-kapan Hyun Wo main ke sini lagi ya..” Hyun Wo tersenyum nyengir mengangguk. Lalu mereka berdua masuk ke dalam tandunya dan berangkat pulang. Deok Man dan Bi Dam berjalan berdampingan masuk ke dalam kediamannya. Mereka duduk di ruang makan sambil menunggu makan malam dihidangkan. Bi Dam duduk termenung diam. “Bi Dam?” panggil Deok Man yang duduk di hadapannya. “ah iya..” jawab Bi Dam. “kau sedang memikirkan apa?apa ada masalah?” tanya Deok Man sambil duduk mendekat. Bi Dam diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu “entah mengapa aku merasa ragu..dan takut gagal..” jawabnya. “takut gagal?” tanya Deok Man. “iya aku takut kalau aku tidak bisa menjadi ayah yang baik..menjadi ayah yang baik seperti Yushin…takut tidak bisa memberikan teladan yang baik untuk anak-anak kita…” “Bi Dam..” panggil Deok Man. “akhirnya aku mengerti kenapa guru bisa sangat begitu shock ketika tahu aku meracuni orang-orang desa itu… sempat terbayang dalam pikiranku bagaimana jika nanti anak kita juga berbuat demikian…aku pasti akan lebih shock dari guru..aku telah gagal mengatur pengikutku..aku takut aku juga akan gagal menjadi kepala keluarga dan teladan bagi anak-anak..takut sifat-sifat burukku akan muncul dalam diri anak-anak kita.. apakah aku bisa menjadi ayah yang baik seperti Yushin..” Deok Man menggengam salah satu tangan Bi Dam dan meletakkannya di atas perutnya “aku dan anak-anak kita percaya kau pasti bisa menjadi ayah yang baik, ayah yang bertanggung jawab, ayah yang akan menyayangi dan melindungi keluarganya dengan sepenuh hati…” “Deok Man…” “mungkin ada beberapa teladan yang bisa kau contoh dari orang lain namun kau tak perlu menjadi orang lain utnuk menjadi ayah yang baik..cukup menjadi dirimu sendiri…aku yakin kau akan menjadi ayah baik sama seperti kau yang sudah menjadi suami yang terbaik bagiku..dan ketika kau melakukan kesalahan aku akan mengingatkanmu..dan begitu juga sebaliknya..kau juga akan mengingatkanku untuk menjadi ibu yang baik..kita berdua akan berusaha menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita” Bi Dam mengecup kening istrinya “terima kasih Deok Man..” lalu mengusap perutnya “kita berdua akan menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita..” gumamnya. Deok Man tersenyum mengangguk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar