Pages

Sabtu, 19 Februari 2011

Our Future Still Continue Chapter 81: Entering The Fortress



Tengah Malam
Benteng Hwangsanbeol, Baekje
 Dengan perlahan Shin Ae melakukan tugasnya, tapi rupanya Daemusin sudah tidak sabar. Ia meminta Shin Ae agar berdiri saja di samping pintu. Shin Ae pun mengangguk menurut  dengan air mata tertahan di wajahnya. Daemusin berjalan dan duduk di sisi tempat tidur Deok Man dan berbisik padanya “maafkan aku karena harus melakukan ini padamu…tapi jika tidak begini, maka kau tak akan bisa menjadi milikku…” dengan wajah tersenyum puas lalu mencium leher Deok Man dan mulai mengoyak pakaiannya.

Luar Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“Jenderal sepertinya Kim Yushin menarik mundur pasukannya..” lapor salah seorang prajurit. “kejar mereka!!jangan sampai mereka lari!!” seru Jenderal  Yul Gang dari atas kudanya. “rupanya kau sudah di amabang kematian Kim Yushin... bukan Gybaek yang akan membunuhmu tapi aku…” pikir  Jenderal Yul Gang sambil  tersenyum puas.  “SIAPKAN PASUKAN BERKUDA!!KEJAR KIM YUSHIN!!”

“PASUKAN MUNDUR!!” seru Kim Yushin. “Panglima mereka mengejar kita dengan pasukan berkuda..” lapor salah seorang prajurit yang ikut berlari mundur bersama Yushin. Tapi ia justru dibuat kebingungan karena Yushin justru malah tersenyum dan berkata “bagus..”

“ayo cepat-cepat…” seru Kim Yushin yang berdiri di balik pohon pada pasukannya yang berlari melewatinya. “Panglima kami adalah baris terakhir…” seru sekelompok pasukan yang menghampiri Yushin.  “apakah itu masih kalian bawa?” tanya Yushin. Mereka pun mengangguk. “bagus..sekarang ayo kita pasang itu..” ujar Kim Yushin. “PASUKAN BARIS TERAKHIR MUNDUR!!” seru Yushin.

“lapor Jenderal…pasukan Jenderal Yul Gang sedang mengejar Kim Yushin…” lapor seorang prajurit Baekje. “mereka sudah sampai dimana?” tanya Gyebaek.  “hampir mencapai tepi sungai..” jawab prajurit itu. Tiba-tiba Gyebaek teringat akan pesan Daemusin padanya. “dalam situasi seperti ini…Kim Yushin akan berusaha melakukan serangan bertahap untuk menghancurkan kita..karena itu kau berhati-hatilah…” “Jenderal apakah kita tidak ikut mengejarnya?kita harus membantu pasukan Jenderal Yul Gang?” tanya Jenderal Tae Hyun.  “jangan sekarang..ada hal yang ingin kupastikan..” ujar Gyebaek.

“splash..splassh..” Yushin dan pasukannya yang terakhir berlari memasuki sungai.  Para pasukan itu membuka tasnya dan mengeluarkan gelondongan besi berduri dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan yang digunakan dalam pertempuran di Lembah Kumhwa. Mereka melemparkannya tersebar ke sungai.  “toplak..toplak..” terdengar suara derap kuda dari belakang.  “itu mereka..” seru Kim Yushin “kalian cepatlah sembunyi…dan kirim tanda kepada Jenderal Baek Ui dan Yesung untuk bergerak..” serunya. “baik Jenderal..” jawab pasukan itu.
“kejar mereka!!” seru Yul Gang sambil memacu kudanya. “baik!!” jawab pasukan berkuda yang ada di depan Yul Gang. Mereka pun memacu kudanya cepat-cepat sampai akhirnya berlari melintasi sungai yang membuat kuda mereka tak mampu lagi berlari.

Kuda mereka meringkik kesakitan begitu melintasi sungai dan menjatuhkan diri bersama dengan para penunggangnya. “aargh..” teriak para penunggangnya.  Yul Gang bernasib bagus karena ia berhasil menghentikan kudanya begitu melihat nasib para pasukan berkudanya yang ada di baris depan.  “periksa ada apa di sunga itu!!” serunya pada para prajuritnya. Para prajuritnya hanya bisa menuruti perintahnya lalu berjalan memasuki sungai. “ouch!!” salah seorang prajurit mengaduh. Ia meraba-raba di dalam air yang sekarang berwarna darah itu dan menarik sesuatu dari dalamnya. Gelondongan besi berduri. “Jenderal ini penyebabnya..” seru prajurit itu sambil menunjukkannya pada Yul Gang. “sialan kau Kim Yushin!!” geram Yul Gang dalam pikirannya. “kau coba lewat sana….pastikan di sana tak ada duri-duri sialan itu..” seru Yul Gang pada pasukannya yang ada di sisi kanannya. “dan kau lewat sini…” perintahnya pada pasukannya yang berdiri di sisi kirinya.  “KEJAR PASUKAN KIM YUSHIN DAN HABISI MEREKA!!” seru Yul Gang menyemangati pasukannya. Tapi rupanya yang dikejar sekarang berniat melakukan serangan balik. Dari hutan di seberang sungai terdengar suara terompet ditiup dan panah-panah pun melesat dari arah hutan. “SERANG MEREKA!!” seru Jenderal Shin. “SAATNYA SERANGAN BALIK!!” seru Yushin sambil mengacungkan pedangnya ke atas.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje. 
 “gyaa…” seru seorang pasukan yang baru saja ditusuk Bi Dam dengan pedangnya. Dari sebaris pasukan yang menyerangnya hanya tinggal seorang yang masih tersisa.  Karena takut, prajurit itu berusaha melarikan diri sebelum akhirnya pedang Bi Dam mengehentikan kaki kirinya melangkah “katakan dimana Deok Man?” seru Bi Dam sambil mengacungkan sisi tajam pedangnya di leher orang itu. “Deok Man??sa..saya..tidak tahu Tuan…”  jawab orang itu dengan penuh ketakutan. Bi Dam pun semakin geram   “Tuan Putri Deok Man?? Putri dari Shilla??” bentaknya. “sa..saya tidak tahu Tuan..sungguh..” ujar orang itu. Bi Dam pun bisa melihat dari mata prajurit yang ketakutan itu bahwa ia tidak berbohong. “tentu saja ia tidak tahu siapa Deok Man, Tuan Sangdadeung Bi Dam…” seru salah seorang yang berdiri di ujung lorong yang gelap. “siapa kau?!!” Bi Dam melepaskan prajurit yang ditahannya tadi. “seluruh prajurit di benteng ini haya tahu kalau aku membawa budak wanita untuk Panglima Daemusin…mereka tidak tahu identitas wanita itu sebenarnya..” jawab orang itu. Setelah dilepas Bi Dam, prajurit itu segera lari terbirit-birit. “siapa kau?!tunjukkan dirimu!!” bentak Bi Dam dengan suara lebih keras.  “kau akan mengenaliku setelah kau melihat wajahku..” orang itu berjalan maju dan cahaya obor yang menempel di dinding membuat Bi Dam bisa melihat wajah orang itu. “Bajingan!!kau mata-mata rupanya!!” seru Bi Dam. Cha Seung Won tersenyum puas melihat raut Bi Dam yang marah.
Seung Won berjalan mendekat mengitari mayat-mayat yang tergeletak di lantai.  Bi Dam sudah menggenggam erat pedang di tangannya. “dimana Deok Man?” tanyanya dengan penuh emosi. “jika bukan karena kau yang mengenalkan dirimu kepadaku..mungkin aku tak tahu dimana kau tinggal dan bagaimana wajah Tuan Putri Deok Man…”  jawab Seung Won sambil mengeluarkan pedangnya dari sarungnya. “bohong!!kau pasti sudah menyelidiki kami sebelumnya!” bentak Bi Dam. “aku ragu ketika kau menghadapi anak buahku yang menyerangmu saja..kau sampai terluka, bahkan istrimu nyaris saja terbunuh…kurasa kau bukanlah lawan yang sebanding denganku…kau lemah Bi Dam..” Seung Won melanjutkan komentarnya. Bi Dam hanya mendengus kesal “katakan padaku dimana Deok Man!!”  “malam itu ketika aku menyerang rombongannya…istrimu terlihat begitu berani sama seperti dirimu..ia menantangku duel satu lawan satu…tapi apa yang terjadi? ia kujatuhkan dengan mudahnya…” “keparat kau!!jadi kau yang menyerang dan menculiknya!!” Bi Dam segera mengeluarkan pedangnya dan berlari menyerang Seung Won. Seung Won hanya tersenyum lalu juga maju dan ikut menyerang “TRAANG!!” kedua pedang mereka beradu.

“ambilkan pedangku..” ujar Daemusin yang baru saja selesai mengenakan jubahnya.  Shin Ae bergerak maju sambil membawakan pedang dengan gagang warna coklat. Daemusin mengambilnya dari tangan Shin Ae dan menyandangnya di pinggangnya, kemudian berjalan menuju pintu.Di depan pintu, langkah Daemusin pun terhenti “setelah kau selesa, jika kau tak tahan dengan semua ini, kau bisa berangkat dengan para pengawal menuju kediamanku di Hongsong…tinggalah di sana…rumah beserta isinya adalah milikmu…lakukanlah apa yang kau suka..” kata Daemusin. Shin Ae hanya diam. “sraak..” Daemusin membuka pintu di depannya. Tiba-tiba Shin Ae bergerak maju dan memeluk Tuannya itu dari belakang. Daemusin hanya diam. Merasakan kedua tangan Shin Ae memeluk erat perutnya. “aku ingin terus berada bersama Tuan sampai kapan pun..” “jika itu memang maumu..lakukanlah..” gumam Daemusin sambil menggenggam erat tangan Shin Ae sesaat sebelum ia melepaskan kedua tangan itu dari perutnya. Ia pun melangkah keluar dari kamar itu dengan pengawalan prajurit bersenjata di depannya. “Tuan…” gumam Shin Ae.

Luar Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
Melihat serangan dari lawan, Yul Gang pun semakin geram tapi ia tak mau mengambil resiko, ia pun memilih untuk mundur.  “PASUKAN BARIS DEPAN MUNDUR!!” Namun rupanya sudah terlambat ia memberikamn komando itu, karena sebagian besar pasukannya usdah dilumat oleh pasukan Shilla.
“pasukan garis depan berhasil dipukul mundur…” Jenderal Shin melapor kepada Yushin  yang sekarang berkuda di sampingnya.  “bagus..tapi kita harus waspada..karena sepertinya rencana kita bisa dibaca oleh Baekje entah oleh Daemusin atau Gyebaek atau jenderal yang lain...tapi yang pasti pasukan baris tengah mereka pasti  sudah menunggu kita di luar hutan ini..kalian berhati-hatilah karena pasukan barisan tengah Baekje sangatlah banyak..jangan tergesa melakukan serangan..” ujar Yushin. Jenderal Shin dan Yul pun mengangguk “siap Panglima!” “PASUKAN BARIS BELAKANG!!SIAPKAN PELONTAR!!” seru Yushin.

“munduuuur!!!” seru Jenderal Yul Gang sambil memimpin pasukan Baekje yang berlarian keluar dari hutan. “apa yang terjadi? kenapa mereka mundur?” pikir Gyebaek. “PASUKAN BAEKJE BARIS DEPAN BENTUK BARISAN!!” seru Gyebaek. Mendengar perintah dari Gyebaek, para pasukan yang berlarian itu pun kemudian membentuk barisan di depan pasukan Gyebaek. “Jenderal Yul Gang!laporkan padaku apa yang terjadi!” tanya Gyebaek. Jenderal Yul Gang pun turun dari kudanya dengan kepala tertunduk. Mau tidak mau ia harus mengakui bahwa ini kesalahannya melakukan penyerangan tergesa-gesa, padahal seharusnya ia belajar dari apa yang dialami Seong Bin. “maafkan saya Jenderal..saya terlalu tergesa-gesa melakukan serangan…hampir saja saya termakan jebakan mereka” “benar sesuai dugaan Panglima..” pikir Gyebaek. Yul Gang pun sudah bersiap menerima hukuman dari Gyebaek namun yang didengarnya justru berbeda. “kembali ke kudamu, Jenderal..aku akan membagi pasukan barisan tengah menjadi dua..dan aku mempercayakan mereka kepadamu..” perintah Gyebaek. “siap Jenderal!kepercayaanmu tak akan pernah kusia-siakan!” jawab Jenderal Yul Gang sambil memberi hormat.  “PASUKAN BENTUK FORMASI BERLAPIS!!SIAPKAN BARIKADE!!” seru Gyebaek.  Tak lama kemudian dari hutan, berlarian pasukan Shilla dengan tombak dan perisai di kedua tangan mereka. “SERANG BAEKJE!!”  seru pasukan Shilla penuh semangat.

Benteng Hwangsanbeol
“TRAANG!!”  Bi Dam dan Seung Won beradu pedang di depan wajah mereka. “kalau kau ingin mencari tahu siapa yang salah, seharusnya kau menyalahkan dirimu sendiri Bi Dam…salahkan dirimu sendiri…karena kau terlalu lemah..dan karena kau bodoh..” ujar Seung Won di sela-sela duel mereka. Bi Dam pun berusaha mendorong Seung Won, tapi Seung Won berhasil berkelit dan menyerang balik hingga perut Bi Dam terluka. “rupanya kau sangat marah padaku ya?” tanya Seung Won.  Bi Dam hanya menunjukkan matanya yang penuh amarah sambil menahan perutnya yang berdarah.   Seung Won pun menertawakan Bi Dam dengan tawa khasnya. “jangan kau pedulikan dia Bi Dam..yang terpenting sekarang adalah Deok Man..kau harus segera menolong istrimu…” pikir Bi Dam berusaha meredakan emosi yang hampir saja kembali meledak. Namun emosinya benar-benar meledak begitu ia mendengar perkataan Seung Won berikutnya. “dan sekarang kau tahu Bi Dam apa yang dilakukan istrimu di sini?ia menjadi gundik Bi Dam..ia menjadi pelacur dari Daemusin…hidup nyaman dalam kurungan…dan sepertinya Daemusin senang dengan pelacur barunya itu…”  Tanpa berkata apa pun, sambil menggenggam pedang dengan kedua tangannya,  Bi Dam berlari berusaha menyerang Seung Won. Tapi Seung Won sudah bersiap menangkis serangan itu. Dengan satu serangan pedangnya dari arah bawah, “TRAANG!!” Pedang Bi Dam pun terlepas dan terpental ke atas. Seung Won pun berancang-ancang melakukan serang berikutnya untuk menebas Bi Dam. Namun Bi Dam melakukan gerakan tak terduga. Secapt angin, Ia meloncat dan meraih pedangnya di udara kemudian langsung menghujamkan pedangnya  tepat di dada Seung Won. “urrgh..” Seung Won jatuh berlutut, tak mampu berkata apa-apa selain mengeluarkan darah dari mulutnya. Bi Dam mencabut pedangnya yang sekarang berlumuran darah dari dada Seung Won. “kau boleh mengataiku apapun yang kau mau sepuasmu..tapi jangan pernah berani menghina istriku dengan mulut kotormu itu…” “bruuk..” Seung Won pun jatuh ke tengkurap ke lantai tak bernyawa.  Bi Dam pun kembali berjalan menuju pintu besi di hadapannya.

Luar Benteng Hwangsanbeol.
“MAJU!!” seru Jenderal Tae Hyun  sambil memacu kudanya. “PASUKAN PEMANAH BERSIAP!!ARAHKAN KE BARISAN BELAKANG PASUKAN SHILLA!!” seru Jenderal Hodong. Ribuan pemanah bersiap dengan panah api di pada busur mereka. “TEMBAK!!” seru Jenderal Hodong. “kali ini aku tak akan membiarkan kau meraih kemenangan Yushin…” pikir Gyebaek  “PASUKAN BAEKJE!BENTUK FORMASI MATA PANAH!!SIAPKAN PENYERANGAN FRONTAL!!”  serunya.  dua orang prajurit yang berdiri di kiri dan kanannya meniup terompet yang kemudian diikuti oleh beberapa prajurit lain dari masing-masing barisan.

Melihat panah-panah api mengangkasa, Yushin dan para jenderalnya segera menginstruksikan pasukannya untuk berlindung. Namun hujan panah api tetap saja memakan korban yang cukup banyak dari pasukan Shilla.  Yushin pun tak mau kalah. “PASUKAN PELONTAR!!TEMBAK!!” serunya.  Bola-bola api melesat ke udara dan mengenai barisan pasukan Baekje. “kita harus segera masuk dalam formasi mereka!!pimpin pasukan kalian  untuk memecah formasi Baekje…aku akan memimpin dari tengah..” ujar Yushin pada keempat jenderalnya.  “siap Panglima…” jawab keempat jenderalnya. “uoong!!” terdengar suara terompet berbunyi. “suara apa itu?”  tanya keempat Jenderal. “sepertinya pemimpin perang mereka menginstruksikan sesuatu..” ujar Yushin yang juga kaget mendengar suara itu. “tapi apapun itu kita harus siap menghadapinya..”  

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“haiik!!” Alcheon menahan serangan pedang sekelompok prajurit yang mengepung dirinya lalu mendorong pedang-pedang itu ke atas dan menebas lawan-lawanya dengan satu gerakan melingkar yang sempurna.  Lawan-lawannya pun terkapar di tanah. Alcheon menghapus peluh di keningnya tapi sepertinya itu sia-sia karena muncul lagi sekompi pasukan yang mengejarnya  “itu dia penyusupnya!!serang…”  Alcheon pun kembali ke posisi siap. “maju kalian!”  
“braak..” Bi Dam mendobrak satu persatu pintu di hadapannya. “Deok Man!!” serunya. Namun semuanya kosong atau hanya diisi pengawal yang kemudian lansung menyerangnya.  Bi Dam pun kembali menaiki tangga yang ditemuinya dan memeriksa ruangan dari setiap lantai yang diinjaknya.  Ia pun menaiki tangga. Dan kali ini hanya ada satu ruangan yang ada di ujung lorong dan itu dijaga oleh sekompi prajurit bersenjata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar