Pages

Senin, 14 Februari 2011

Our Future Still Continue Chapter 80: Battle Begins




Ruang Kerja Perdana Menteri, Istana Ingang, Shilla.
“apakah pasukan penjaga Seoraboel sudah siap?” tanya Kim Yong Chun. Baek Jong mengangguk “sudah… dalam jarak  92 ri, 5.000 pasukan sudah ditempatkan untuk melindungi Seoraboel..” “dan proses evakuasi penduduk di wilayah perbatasan?” “sudah..hampir seluruhnya dievakuasi ke kota-kota yang cukup jauh dari wilayah perang…tapi ada sedikit masalah..” ujar Baek Jong. “apa itu?” tanya Kim Yong Chun “para bangsawan menanyakan bagaiaman caranya membawa seluruh kekayaan dan keluarga mereka?” Kim Yong Chun menghela napas panjang  “di saat seperti ini mereka masih saja memikirkan harta…untuk itu nanti aku yang bicara pada mereka..” Lalu Kim Yong Chun menatap Kim Seo Hyun yang duduk di sisi kanannya. “lalu bagaimana dengan tempat persembunyian Yang Mulia?apakah sudah siap?” “sudah…hanya tinggal menunggu kedatangan Yang Mulia Raja saja..” jawab Kim Seo Hyun. “tapi bukankah Yang Mulia memutuskan untuk menetap di Seoraboel?” sahut Baek Jong. “aku akan berusaha membujuknya..kita tidak bisa menggantungkan diri pada harapan kecil bahwa Panglima Kim Yushin bisa memenangkan pertempuran tidak seimbang ini…setidaknya sekalipun Seoraboel jatuh..jangan sampai takhta ikut jatuh ke tangan Baekje…” ujar Kim Yong Chun. Kim Seo Hyun dan Baek Jong mengangguk mengerti.  Kim Yong Chun pun bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya diikuti Jenderal Baek Jong.

“aku sungguh tak habis pikir, di saat seperti ini para bangsawan itu masih memikirkan harta mereka…” ujar Kim Yong Chun.  Namun Baek Jong hanya diam saja. Kim Yong Chun menghentikan langkahnya  “apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Baek Jong pun tersadar dari lamunannya “oh tidak..” “jujurlah…kau tak akan bisa memikirkan negara jika kau masih mempunyai pikiran di tempat lain..” ujar Kim Yong Chun. ”maafkan saya Tuan Perdana Menteri..hanya saja saya sedang memikirkan istri dan keluarga saya..” jawab Baek Jong   “apakah ada masalah?” tanya Kim Yong Chun “saya hanya bingung jika nanti kemungkinan yang terburuk terjadi, saya harus mempercayakan istri dan anak-anak saya kepada siapa?Dae Jia  bilang ia bisa menjaga dirinya sendiri dan anak-anak..akan tetapi tetap saja..” “bukankah Nyonya Dae Jia sedang mengandung?” tanya Kim Yong Chun. Baek Jong mengangguk “kedua orang tua Dae Jia sudah tiada..dan ia adalah putri tunggal begitu juga saya…saya pun tak ingin melarikan dir dari kewajiban saya sebagai kepala pengawal..hanya saja tak ada yang menjaganya..” Kim Yong Chun tersenyum dan menepuk bahu Baek Jong  “kau ajak istri dan anak-anakmu ke kediamanku nanti malam…mereka bisa ikut mengungsi bersama istri dan anak-anakku nanti..istriku dan putra-putraku yang dewasa bisa menjaga mereka…” Baek Jong nampak sungkan dan ragu “tetapi Tuan apakah itu tidak..”  “janganlah sungkan…kau sudah berjuang demi negara ini..dan kau harus menerima tawaranku…”  Baek Jong pun segera membungkukkan badannya “ terima kasih Tuan Perdana Menteri..kebaikanmu akan kuingat seumur hidupku..”

 Siang hari
Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“kondisinya cukup lemah..tapi syukurlah tidak demam…mungkin sebentar lagi ia akan sadar..” ujar tabib sambil memeriksa kening dan denyut nadi Deok Man. “syukurlah Tuan Putri..” gumam Shin Ae.  Daemusin hanya terdiam menatap Deok Man yang terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya. “hamba mohon menghadap Panglima..” seru seseorang dari balik pintu. “masuklah..” jawab Daemusin. Seorang prajurit masuk dan memberi hormat “keenam jenderal menunggu Panglima untuk hadir di ruang pertemuan..katanya ada pergerakan dari Pasukan Shilla..” Daemusin terdiam sejenak menatap Deok Man sebelum akhirnya berjalan  keluar meninggalkan kamar Deok Man.
“sraaak..” Daemusin melangkah masuk ke dalam ruang pertemuan. Keenam Jenderal berdiri dan memberi hormat kepadanya. Daemusin pun duduk di tengah “ada pergerakan apa lagi dari Shilla?” “5.000 pasukan Shilla mendirikan kemah dalam radius 46 ri dari benteng ini…mereka melanggar batas wilayah yang disepakati Baekje-Shilla sebelumnya…” jawab Gyebaek.  “hmm..bukankah mereka baru pindah saja ke benteng yang ditinggalkan itu?Benteng Jinju kah?” tanya Daemusin. “ya Panglima..” jawab Gyebaek. “kita harus menyerang kemah itu…mereka sudah lancang melanggar batas wilayah Baekje..” ujar Tae Hyun. Jenderal Hodong berdiri dari duduknya. Jenderal  yang mengenakan topeng merah  untuk menutupi separuh wajahnya yang terluka akibat perang sebelumnya.  “izinkan saya untuk menyerang kemah itu…” serunya. “adakah jenderal yang memimpin pasukan di kemah itu?” tanya Daemusin. “menurut laporan yang memimpin adalah Jenderal Baek Ui, Panglima..” jawab Jenderal Hodong “hmm...pengendara kuda terbaik di Shilla ya..” Daemusin tersenyum kecil mendengarnya.  “kurasa tenagamu lebih dibutuhkan untuk mendampingi Jenderal Gyebaek nanti, Jenderal Hodong…” Hodong pun nampak kecewa dan duduk kembali di tempat. “Jenderal  Seong Bin!” panggil Daemusin. “ya..Panglima..” jawab Seong Bin.  “kudengar kau keberatan dengan terpilihnya Gyebaek menjadi pemimpin perang ini?” tanya Daemusin sambil menatap lurus  Seong Bin. Seong Bin pun nampak panik  “ti..tidak Panglima..itu tidak benar..justru saya mendukung terpilihnya Jenderal Gyebaek menjadi pemimpin perang..” “kalian tahu…kemenangan tak akan bisa dicapai jika tidak ada kesatuan antara pemimpin dan anak buahnya…” “kami mengerti Panglima..” jawab keenam jenderal tersebut. “kalau begitu Jenderal Seong Bin tunjukkan padaku kesetiaan dan kemampuanmu terhadap Baekje…mungkin aku bisa membuat pertimbangan ulang mengenai posisimu..bawa pasukan 6.0000 pasukan Wa dan 4.000 pasukanmu, hancurkan kemah itu dan habisi mereka sampai tak tersisa..” “baik Panglima..” jawab Seong Bin sambil memberi hormat lalu pergi melangkah keluar. “Jenderal Tae Hyun, Jenderal Hodong, Jenderal  Yul Gang!” panggil Daemusin. “siap Panglima!” jawab merek serempak. “sebentar lagi 10.000 pasukan yang tersisa akan tiba..aku perintahkan kepada kalian untuk membagi rata pasukan itu di antara kalian dan bersiap untuk pertempuran nanti malam..”   “baik Panglima!” jawab mereka. Lalu mereka pun berdiri memberi hormat dan pergi keluar dari ruangan itu.   “kurasa akan lebih baik jika hanya kalian berlima yang berperang untuk Baekje nanti malam..” ujar Daemusin. “maksud Panglima, kabar yang tadi itu..” namun belum selesai Gyebaek berbicara, Daemusin sudah bangun dari duduknya dan memotong pembicaraannya “buktikan pada mereka Gyebaek..bahwa aku tidak salah menunjukmu memimpin Baekje berperang nanti malam..” Gyebaek mengangguk “siap Panglima!” Lalu Daemusin berjalan keluar meninggalkan ruangan pertemuan itu.


Wilayah perbatasan Baekje-Shilla (15 km dari Hwangsanbeol)
Baek Ui sudah bersiap di atas kudanya sambil memberikan komando dari sana. “jenderal..jenderal..”salah seorang prajurit berlari-lari tergopoh-gopoh. “ada apa?” tanya Baek Ui. “Jenderal..mereka sudah keluar dari Benteng dan menuju ke sini!!” Mendengar itu, Baek Ui segera menyerukan perintah “PASUKAN BERSIAP!!!”
Seong Bin bersama 10.000 pasukannya mengejar pasukan Baek Ui yang telah meninggalkan kemah. “bunuh merek semua!!!” seru Seong Bin. Baek Ui dan pasukannya berusaha menghindar dari pengejar mereka.  Mereka menerobos hutan di depan mereka. “baguslah mereka masih mengejar..” ujar Baek Ui sambil menoleh ke belakang. “hiaa.." ia memacu kudanya lebih cepat. Menuntun pasukannya dan pengejarnya menuju medan pertempuran yang sebenarnya.


Lembah Kumhwa (16 km dari Hwangsanbeol)
“sraak..sraaak..” para pasukan berkuda sibuk hilir mudik dengan dedaunan panjang yang diseret oleh kuda mereka.Debu dan pasir coklat berhembus memenuhi  udara. Baek Ui dan pasukannya muncul menerobos debu dan pasir tebal di hadapan mereka. Begitu juga Seong Bin yang masih ngotot mengejar mereka. Mendadak Baek Ui beserta pasukannya berbelok ke arah  kanan dan bersamaan dengan itu ribuan anak panah menyerbu menghujam Seong Bin dan pasukannya. Seong Bin berhasil dan sebagian besar pasukannya berhasil selamat sementara yang lain tidak. Begitu debu dan pasir yang berhembus di udara surut, Seong Bin dan pasukannya yang selamat baru menyadari bahwa sekarang mereka sudah terkepung. Mereka sudah terjebak di tengah lingkaran pasukan Shilla yang mengepung mereka. “bentuk formasi lingkaran!!” seru Seong Bin. Para pasukan Seong Bin segera membentuk formasi lingkaran, dengan Seong Bin berada di tengah. “MAJU!!”  seru Seong Bin. Pasukan Shilla pun mencoba merapatkan lingkaran dan membongkar formasi lingkaran pasukan Seong Bin namun tak berhasil karena rapatnya pertahana perisai pasukan Seong Bin. Dengan kompak pasukan berperisai bergantian keluar dan masuk dengan pasukan bertombak Seong Bin yang bertugas menyerang pasukan Shilla.   Bi Dam, Yushin bersama kedua jenderalnya  melihat dari luar lingkaran “Panglima..kurasa kita bisa menggunakan itu..”   ujar Yesung.  Yushin mengangguk “Jenderal Yesung dan Jenderal Baek Ui majulah ke sana…bongkar formasi mereka” “baik Panglima..” jawab Im Jong dan Shin serempak.

Seong Bin bisa melihat Yushin yang berdiri menatapnya dari kejauhan “hei Yushin!!turunlah kalau berani!!” serunya.  Dengan tombak panjang di tangannya, Seong Bin menikam prajurit Shilla yang mencoba  mendekati formasi lingkarannnya. “plak..plak..” Baek Ui dan Yesung memacu kudanya memasuki arena pertempuran. Mereka berdua menarik rantai yang terseret di tanah lalu mengelilingi formasi lingkaran Seong Bin ke arah yang berlawanan. Lalu Baek Ui dan Yesung  menarik rantai itu, dan dari tanah muncul gelondongan besi berduri yang terpasang pada rantai yang terseret di tanah. Baek Ui dan Yesung memacu kudanya ke arah  yang berlawanan sehingga rantai itu mengikat formasi lingkaran Seong Bin dan memecah formasi lingkaran itu dengan gelondongan besi berduri.  Formasi itu pun akhirnya pecah. “hancurkan mereka!!jangan sampai mereka membentuk formasi lagi!!!” teriak Baek Ui sambil mengacungkan golok panjangnya ke atas. Ribuan pasukan Shilla pun segera menyerbu pasukan Baekje itu tanpa ampun. “heaa!!” Seong Bin dengan dua pedang di tangannya menebas setiap pasukan Shilla yang mencoba menyerangnya. Melihat bahwa kemampuan Seong Bin , Yesung pun memutuskan untuk maju melawannya “haiiik!!”  Ia berlari dengan mata pedang tertuju pada Seong Bin. “traang!!” Dengan kedua pedangnya Seong Bin menahan serangan Yesung. Mereka pun terlibat dalam duel sengit dan saling menunjukkan ilmu pedang masing-masing. Yesung bisa saja menjatuhkan Seong Bin namun Seong Bin lebih dulu menghindar dan melemparkan pasir yang digenggamnya ke arah Yesung. “bruuk” Seong Bin menendang Yesung yang tak bisa melihat jatuh ke tanah. “haiiik!! mati kau!!” seru Seong Bin sambil mengambil ancang-ancang untuk menghujamkan pedangnya. “traang!!”  Golok panjang Baek Ui mencegah itu semua terjadi. 

“sekarang lawanmu adalah aku..” ujar Baek Ui. “kau!!jahanam Baek Ui yang menjebakku!!mati kau!!” seru Seong Bin sambil menarik pedangnya yang tertahan golok panjang Baek Ui. Setiap senjata memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Golok panjang Baek Ui memang memiliki wilayah serang yang lebih luas namun juga membatasi macam bentuk serangannya. Dan dua pedang Seong Bin lebih ringan dan bisa digunakan untuk bertahan dan menyerang dengan baik meskipun jangkauan serangnya tidak sejauh golok panjang.  “akan kubunuh kau!!lalu panglimamu!!” seru Seong Bin penuh emosi.  Ia berusaha mematahkan golok panjang Seong Bin. Namun Baek Ui tidak diam begitu saja. Ia menarik ke belakang golok panjangnya ke belakang, dan Seong Bin melihat ini sebagai kesempatan untuk menyerangnya. “haiiik!!mati kau!!!” seru Seong Bin sambil mengarahkan kedua mata pedangnya ke depan. Namun rupanya ini juga dimanfaatkan Baek Ui. Dengan satu gerakan memutar cepat, Ia menarik golok panjangnya kuat-kuat dan menebas Seong Bin.  Seong Bin pun terkapar di tanah tak bernyawa. “huft..tak akan kubiarkan kau menghancurkan partenerku!!” gumam Baek Ui menatap mayat Seong Bin.

“Baek Ui..” Yesung berjalan ke arahnya. “kau tak apa-apa?” tanya Yesung. Baek Ui menggelengkan kepala. Para pasukan Seong Bin yang sudah kehilangan pemimpinnya mencoba untuk kabur . Namun Yesung bersama pasukan di bawah komandonya tidak membiarkannya. Setelah selesa membunuh prajurit Baekje yang terakhir, Yesung mengangkat pedangnya begitu juga Baek Ui. Para pasukan Shilla pun bersorak gembira. Yushin tersenyum melihat kegembiraan para prajuritnya. Tapi masih kekhawatiran di wajahnya. “tampaknya Daemusin menguji kita..” ujar Bi Dam. Yushin mengangguk “sebagian besar dari pasukan yang dibawa ke sini adalah pasukan Wa…” jawab Yushin. Bi Dam mengangguk “tapi setidaknya jumlah pasukan mereka sudah berkurang…sedikit meringankan beban kita untuk perang nanti malam…” “mengenai perang nanti malam…apakah kau sudah siap?” tanya Yushin sambil menatap Bi Dam yang berdiri di sampingnya. “lebih dari siap..bahkan nyawaku sudah siap untuk dikorbankan…” jawab Bi Dam sambil menggenggam erat pedangnya.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“ada apa?kenapa wajah kalian seperti itu?” tanya Daemusin begitu duduk di tempat duduknya. “pasukan Jenderal Seong Bin gagal menaklukan pasukan Shilla..” jawab Jenderal Tae Hyun agak takut. Daemusin sama sekali tidak menunjukkan keterkejutannya sama sekali dan hanya berkata “bibit yang busuk sebaiknya dipisahkan dan dibuang sebelum ditanam bersama bibit…” Kelima jenderal di situ terdiam. Mereka mengintrospeksi diri mereka masing-masing. “lalu bagaimana bisa mereka dikalahkan?” tanya  Daemusin. “mereka memancing pasukan Jenderal Seong Bin sampai ke Lembah Kumhwa..selebihnya kami tidak tahu karena tak ada satu pun pasukan yang tersisa kembali...” “hmm..10.000 pasukan hilang sudah rupanya..” komentar Daemusin santai. Ia bangun dari tempat duduknya dan menunjuk pada peta di belakang. “ada pepatah mengatakan jangan menjala ikan yang banyak sekaligus dengan jala yang kecil…inilah pepatah yang berlaku untuk Shilla sekarang…” ujar Daemusin. Lalu ia menoleh menghadap kepada jendera-jenderalnya yang sekarang berjumlah 5 orang. “jika ini memang keinginan mreka..kita akan berikan mereka ikan yang banyak agar mereka tenggelam!!persiapkan segalanya!!hancurkan mereka nanti malam!!” serunya.  “siap Panglima!!” jawab kelima jenderal itu serempak.

Sore hari.
Benteng Jinju (20 km dari Hwangsanbeol), Shilla.
“Panglima..pasukan Baekje sudah mulai bersiap..penduduk kota Hwangsanbeol mulai diungsikan..” ujar salah seorang prajurit melapor kepada Yushin. “rupanya mereka memutuskan untuk benar-benar bertempur habis-habisan kali ini..” sahut Baek Ui. “baiklah kita berangkat sekarang…kita laksanakan rencana yang sudah kita buat tadi..LAKSANAKAN!!” “siap Panglima!!” jawab Baek Ui, Shin, Yul, dan Yesung serempak. Yushin pun menoleh ke arah Bi Dam dan Alcheon “kalian harus bergerak cepat sebelum gerbang kota Hwangsanbeol ditutup..” Bi Dam dan Alcheon pun mengangguk.

Wilayah Luar  Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
Hari sudah mulai gelap, para pasukan Baekje sudah bersiap-siap  di luar benteng membentuk formasi yang dibuat oleh Daemusin.  “PASUKAN BERSIAP!!!” seru Gyebaek dari tengah. “PASUKAN TIMUR SIAP!!” sahut Jenderal Hodong yang menggantikan posisi Seong Bin. “PASUKAN BARAT SIAP!!” seru Jenderal Tae Hyun. “PASUKAN BARIS DEPAN SIAP!!” seru Jenderal Yul Gang dari baris depan.  Gyebaek duduk di atas kudanya sambil menunggu tanda dimulainya perang. Menunggu serangan awal dari lawan. Genderang perang pun dibunyikan.

Malam hari.
Wilayah perbatasan Shilla-Baekje (6 km dari Hwangsanbeol)
“sepertinya mereka sudah bersiap…” ujar Jenderal Shin. Puluhan ribu titik obor menyala dari depan Benteng Hwangsanbeol.  “ini sudah saatnya kita bergerak…kita harus berusaha membendung serangan mereka…buat mereka sebisa mungkin agar tidak sampai merebut kota-kota di belakang garis wilayah ini..” “baik Panglima!!” jawab keempat jenderal serempak.  Jenderal Shin dan Jenderal Yul segera menaiki kuda mereka dan menuju barisan depan.  Bi Dam dan Alcheon pun ikut menaiki kudanya. “kalian juga berhati-hatilah..” ujar Yushin. Bi Dam dan Alcheon mengangguk kemudian segera memacu kudanya mengikuti rombongan pasukan Jenderal Shin dan Jenderal Yul.

Wilayah Luar  Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“Jenderal…mereka sudah mulai bergerak!!” seru salah seorang prajurit baris depan. Jenderal Yul Gang pun segera menyerukan tanda “MUSUH SUDAH BERGERAK!!SEMUANYA BERSIAP!!”  para pasukan yang dipimpin Yul Gang sudah mengangkat perisainya ke atas kepala guna menghindari panah yang jatuh.

 “PASUKAN CROSSBOW DAN BERTOMBAK SIAP!!” Jenderal Yul menyerukan komando. Jenderal Shin juga ikut memberikan komando pada pasukannya  “SIAPKAN PANAH KALIAN!!”. Pasukannya pun segera bersiap dengan persenjataan mereka.  Ribuan panah api sudah siap untuk ditembakkan. “TEMBAK!!” serunya.

Ribuan panah api melesat ke udara dan menghujam pasukan Baekje, namun mereka sudah bersiap dengan perisai mereka. Hanya sedikit dari mereka yang terkena hujan panah itu. Tapi itu membuat mereka lengah dari serangan berikutnya.

“PASUKAN CROSSBOW TEMBAK!!PASUKAN BERTOMBAK MAJU!!” seru Jenderal Yul. “aku akan segera menjemputmu Deok Man..” gumam Bi Dam sambil melihat cincin milik istrinya yang sekarang tergantung di lehernya bersama Seoyopdo. Lalu ia menoleh kepada Alcheon yang ada disebelahnya “Alcheon..saatnya kita pergi..” Alcheon mengangguk. Mereka segera ikut bergabung dengan rombongan pasukan tombak . Menyelinap di antara mereka menuju kota Hwangsanbeol.
Salah seorang prajurit berlari tergopoh-gopoh menghadap Yushin “Panglima…Jenderal Yul dan Jenderal Shin sudah bergerak maju…” Yushin mengangguk Lalu menoleh ke arah kedua jenderalnya, Baek Ui dan Yesung “kalian berdua bersiaplah..aku akan segera maju..” Baek Ui dan Yesung pun mengangguk. “hiaa..” Yushin memacu kudanya.


Gerbang Kota Hwangsanbeol.
“sraak..sraak..” Bi Dam dan Alcheon berjalan menyelinap di antara semak-semak. Mereka berhenti sejenak untuk melihat situasi didepan gerbang kota. “gerbang benar-benar dijaga ketat dan pastinya segera ditutup..kita harus segera bergerak cepat..” bisik Bi Dam. Alcheon mengangguk “kita bisa manfaatkan gerobak itu..” tunjuknya pada sebuah gerobak milik rombongan pedagang yang ikut mengantri pada barisan yang ingin masuk ke dalam kota. Bi Dam mengangguk “jika kita terpisah, kita bertemu di tempat kita bersembunyi di pepohonan waktu itu..” Sambil memperhatikan prajurit penjaga yang berjaga di sekitar barisan rombongan, Bi Dam dan Alcheon menyelinap ke dalam gerobak salah satu rombongan itu. 

“berhenti!!” seru prajurit penjaga gerbang kota.  Rombongan saudagar itu pun berhenti. “ada apa Tuan?” tanya seorang laki-laki tua yang sepertinya pemimpin dari rombongan pedagang itu. “belum lama ini ada seorang penyusup masuk kemari…kami diperintahkan untuk memeriksa setiap orang yang masuk ke sini..” jawab prajurit penjaga itu. “ba..baiklah..kalau begitu..” jawab laki-laki tua itu. “Hyeopso Baekchung periksa semuanya!!kalian kan yang mengenali wajah penyusup itu?” perintah prajurit itu. “si..siap..” jawab prajurit yang bernama Hyeopso dan Baekchung itu.
Jantung Bi Dam dan Alcheon berdebar keras. “periksa semuanya dengan teliti!!” seru suara orang dari balik gerobak. Bi Dam meringkuk di balik kotak yang memuat berbagai macam kain. “Alcheon, aku ada ide..bantu aku..”  bisik Bi Dam.


Wilayah Luar Benteng Hwangsanbeol, Baekje
Lengah dalam mengantisipasi serangan lawan, membuat pasukan Baekje bertumbangan. Melihat pasukannya bertumbangan, Jenderal Yul Gang pun menyerukan perintah  kepada pasukannya yang masih bertahan “MAJU!!”  Mendengar seruan Yul Gang, Gyebaek pun mengambil langkah berikutnya “SEMUA PASUKAN MAJU!!” serunya. 

“PASUKAN BERTOMBAK MAJU!!” seru Kim Yushin yang sekarang berada di belakang Jenderal Shin dan Yul. Jenderal Shin dan Yul menoleh ke belakang. “kalian berpencar sekarang…aku ingin mereka percaya bahwa akulah yang memimpin pasukan ini..” ujar Kim Yushin. Shin Dan Yulpun mengangguk dan mereka berpencar ke arah yang berbeda.

Gerbang Kota Hwangsanbeol.
“sraak..”kain penutup gerobak disibakkan.  “kain-kain ini berantakan sekali..” komentar salah satu prajurit yang memeriksa. “mu..mungkin karena guncangan di jalan Tuan..jadinya agak sedikit berantakan..” jawab pemimpin rombongan itu.  “tapi bisa saja ini dijadikan tempat persembunyian penyusup..” prajurit itu menghunuskan pedangnya dan menatap tumpukan kain itu dengan seksama “Tu..Tuan jangan…” pemimpin rombongan dagang itu memohon.  Namun prajurit itu tak peduli lalu menusuk-nusuk tumpukan kain itu. Namun nihil hasilnya. “hei!! komandan meminta kita segera menutup pintu gerbangnya!!” terdengar suara teriakan dari arah gerbang. “Tu..Tuan..tolong izinkan kami masuk..kami tak membawa penyusup..anak-anakku masihkecil..kasihani kami..” pemimpin rombongan dagang itu hampir menangis memohon.   Prajurit itu pun menyarungkan pedangnya. “ setelah rombongan ini masuk tututp gerbangnya!!!” serunya. “te..terima kasih Tuan..” ujar pemimpin rombongan dagang itu.  Mendengar  itu barisan orang yang mengantri di rombongan dagang itu berusaha untuk menyerobot untuk masuk. Terjadi kekacauan di depan gerbang kota. Para prajurit bersenjata segera membentuk barikade. “kalian cepat masuklah!!” teriak prajurit penjaga itu. “ba..baik Tuan..” jawab pemimpin rombongan dagang itu. Ia dan rombongannya segera masuk ke dalam kota.  “huuuft..” terdengar suara hela nafas lega dari dalam kotak yang ada dalam gerobak pembawa kain tadi.

“bruuk..” Bi Dam dan Alcheon mengangkat kotak yang tadi mereka gunakan untuk bersembunyi. Lalu diam-diam menyelinap keluar dari gerobak dan bersembunyi di balik tumpukan barang-barang pengungsi. “huft..hampir saja..” gumam Alcheon. Bi Dam menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri. “ayo kita jalan!!” gumamnya.

Dengan mengendap-endap, Bi Dam dan Alcheon  berjalan menuju pintu air, tempat aliran air sungai masuk ke dalam Benteng.  “aku akan berjaga..” gumam Alcheon.  Bi Dam pun dengan ujung gagang pedangnya berusaha membuka gembok yang mengunci pintu air itu. “traang..traaang..” “Bi Dam..sepertinya ada prajurit..kau harus cepat..”  Bi Dam pun semakin keras memukul gembok itu “traaang..” akhirnya terbuka juga. Mereka pun segera masuk ke dalam dan menutup pintu itu.

Wilayah Luar Benteng Hwangsanbeol, Baekje
Pertempuran sengit antara pasukan Shilla dengan Baekje pun tak terelakan. Keunggulan jumlah yang cukup jauh membuat pasukan Shilla terdesak mundur. “haiik!!” Yushin menebas setiap pasukan Baekje yang mencoba menjatuhkannya.  Dilihatnya dari kejauhan Gyebaek bersama pasukan yang dipimpinnya dan kondisi pasukannya sendiri yang sudah berjatuhan, membuat Yushin meneriakkan komando “MUNDUR SEMUA SAMPAI KE HUTAN!!”
“MUNDUR SEMUA” Mendengar teriakan Yushin, Baek Ui dan Yesung pun saling menatap dan mengangguk. Ini saatnya mereka bergerak. Mereka pun memacu kudanya cepat-cepat sambil memimpin pasukan berpakaian gelap di belakang mereka.

BENTENG HWANGSANBEOL
“gelap sekali..aku tak bisa melihat apa-apa di depan..” bisik Alcheon. “rasakan saja aliran airnya…air ini akan menuntun kita ke dalam benteng..” gumam Bi Dam sambil meraba-raba air yang berada di bawah lututnya. “itu ada cahaya di sana..” ujar Alcheon.  “kecipak..kecipuk..” mereka berjalan pelan-pelan menuju cahaya itu.Mereka tiba di sebuah teralis besi kotak.  “sepertinya kita ada didalam kamar mandi prajurit..” ujar Alcheon. “klang..” ia membuka gerendel pintu itu dan satu persatu mereka keluar dari sana. “ayo kita keluar dari sini..” ujar Bi Dam.

Mereka berjalan mengendap-endap keluar.  Terdengar suara derap langkah prajurit yang hilir mudik ke sana kemari. Namun baru saja, mereka akan keluar dari lorong menuju lapangan tengah Benteng, salah seorang prajurit memergoki mereka dar belakang “hei siapa kalian…PENYUSUP!!” Bi Dam pun segera bergerak cepat, dengan satu tebasan pedang, ia membungkam prajurit itu. Namun sepertinya ada prajurit lain yang menyadari kegaduhan ganjil itu. “Bi Dam kau pergi saja duluan..biar aku yang membereskannya…waktu kita tidak banyak..”  ujar Alcheon. Bi Dam pun mengangguk dan segera pergi meninggalkan Alcheon.

Daemusin berdiri di pelataran, melihat titik-titik api dan mendegar seruan-seruan yang terjadi di luar bentengnya. Wajahnya nampak puas melihat itu semua. “tap..tap..” terdengar suara langkah kaki dari belakang dan terhenti cukup dekat dengan Daemusin. “Tuan Panglima…ada laporan penting..” ujar Bangsawan Seung Won sambil memberi hormat. Daemusin pun menoleh “laporan penting apa?” Seung Won menelan ludahnya dulu sebelum berbicara. Ia merasa takut untuk mengatakan ini sampai-sampai tak berani menatap Daemusin.  “prajurit penjaga wilayah luar..menemukan gembok pintu air telah dirusak..sepertinya ada penyusup masuk..te..tetapi saya sudah meminta prajurit penjaga Benteng untuk berpatroli di dalam Benteng dan memeriksa setiap saluran air dalam Benteng..” Tapi justru reaksi Daemusin sangat berbeda dari yang dipikirnya. Ia malah tertawa “tentu saja seekor tikus pasti berusaha untuk masuk ke sini jika aku menyimpan makanan yang lezat di sini..” Seung Won pun nampak bingung dengan reaksi Daemusin itu dan berusaha ikut tertawa “i..iya Tuan…itu hanya tikus…saya akan segera membunuhnya..”  Daemusin pun tertawa semakin keras “jangan sampai aku mendengar kau justru malah dibunuh tikus itu..perketat penjagaan di sini..aku tak ingin tikus itu melengang dengan mudahnya masuk ke dalam sini….setidaknya berikan 1-2 luka padanya jika kau mampu..atau kau akan menjadi pecundang yang lebih buruk daripada seekor tikus..”  Daemusin lalu berjalan masuk ke dalam. “ba..baik Tuan..” jawab Seung Won sambil meberi hormat. “sebentar lagi semuanya akan menjadi milikku..” gumam Daemusin.

“minumlah teh hangat ini Tuan Putri…mungkin ini tak bisa menenangkan pikiran Tuan Putri..tapi setidaknya membuat badan Tuan Putri merasa lebih baik” ujar Shin Ae.  Setelah dibujuk, akhirnya Deok Man menegak tehnya juga. “izinkan aku keluar Shin Ae..aku ingin melihat pasukan negeriku…” ujar Deok Man memohon. “maafkan saya Tuan Putri..tapi saya tidak izinkan Tuan Panglima untuk membawa Tuan Putri keluar..bahkan untuk masuk ke sini saja sulit..” jawab Shin Ae. “tapi kau benarkan tentang kabar kemenangan di Lembah Kumhwa itu..itu bukan kabar bohong kan?” tanya Deok Man. Shin Ae tersenyum mengangguk “itu benar Tuan Putri...” “syukurlah..setidaknya..Panglima Yushin punya kekuatan moral lebih untuk menghadapi ini...” “tapi cukup sampai di sini saja kabar gembiranya Tuan Putri..”  ujar Daemusin yang tiba-tiba masuk. Deok Man hanya diam saja menatapnya. “perang baru berjalan sebentar..tapi Yushin sudah menarik mundur pasukannya..” ujar Daemusin.  Deok Man hanya diam saja. Lalu seorang prajurit  datang menghadap Daemusin dan melapor  “Panglima…penyusup berhasil membunuh 5 penjaga di lantai bawah…dan sepertinya ia menuju ke sini…” Deok Man mendengar pembicaraan itu dan berteriak “Bi Dam!!”   “rupanya Seung Won memang tidak berguna…” geram Daemusin dengan wajah  setengah kesal. “Shin Ae apakah kau sudah melaksanakan perintahku?” tanya Daemusin. “su..sudah Tuan..sebentar lagi obatnya akan bereaksi..”jawab Shin Ae. “o..obat? apa maksud kalian?” tanya Deok Man. Tiba-tiba Deok Man merasa kepalanya pening dan sangat berat. Pandangannya menjadi kabur.  “ma..maafkan saya Tuan Putri…tapi saya tidak bisa menolka perintah Tuan Daemusin..” ujar Shin Ae. “kalian..” Badan Deok Man pu rubuh di atas ranjangnya.  Daemusin pun tersenyum puas “Shin Ae lakukan perintahku selanjutnya…”   Shin Ae pun menatap Deok Man yang tak sadarkan diri dengan wajah sedih. “maafkan saya Tuan Putri..tapi saya tidak bisa menolak keinginan Tuan Panglima..” gumamnya sambil membuka pakaian Deok Man.

“itu dia bangunannya..” gumam Bi Dam dari balik jendela.Sekarang ia berada dalam ruangan tempat istirahat prajurit.  Ia menoleh ke belakang dan yang ada hanya mayat-mayat bergulingan dan tetesan darah yang mengalir dari pedangnya dan lukanya. “hanya luka kecil..” ujar Bi Dam sambil memeriksa luka di lengan kirinya. Ia pun kembali berlari keluar dari pintu menuju bangunan yang ditujunya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar