Pages

Kamis, 23 Juni 2011

The Hidden Wounds Chapter 11: Higher Point

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

- 11:44 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“PING”  pintu lift lantai 60 terbuka, Gun Wook berjalan keluar dari lift. Ia mengacingkan dan merapikan jasnya kemudian berjalan menuju pintu di ujung lorong sebelah kirinya. Langkahnya tegap dengan kedua tangan terkepal keras. “tap…tap..” ia berhenti tepat di depan pintu ruang Direktur. Gun Wook menghela napas panjang sebelum ia akhirnya mengetuk pintu.

“tok..tok…” suara pintu Ruang Direktur diketuk.

“masuk…” jawab Tuan Lee yang sedang duduk sendirian di ruangannya.

“krieet..blaam..” Gun Wook membuka pintu Ruang Direktur dan menutupnya pelan-pelan.
Gun Wook menundukkan kepalanya memberi hormat.

- 11:46 AM, Seoul-
“KENAPA KITA BISA KECOLONGAN SEPERTI INI HAH??” bentak Gi Hoon yang sedang menelpon dengan ponselnya di dalam jaguar hitamnya yang dikemudikan supir.

“AKU SUDAH KATAKAN PADAMU UNTUK MEMERIKSA SEGALA SESUATUNYA!!” bentak Gi Hoon. Ia pun menutup teleponnya dan membantingnya. “AAARGH..SIAL..SIAL…” seru Gi Hoon.

 - 11:47 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
Gun Wook mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Lee yang duduk di hadapannya. Tuan Lee terdiam menatap Gun Wook. “Direktur memanggil saya?” tanya Gun Wook.

“ah iya..silahkan duduk Shim Gun Wook-ssi..” ujar Tuan Lee. Gun Wook pun duduk  di sofa hitam berhadapan dengan Lee Seong Gi.

“aku memanggilmu ke sini untuk secara pribadi mengucapkan terima kasih padamu karena sudah menolong putriku waktu itu…akan selalu kuingat budi baikmu seumur hidupku…” kata Tuan Lee.

“sama-sama Direktur..” jawab Gun Wook.

“hmm..sebelumnya apa aku pernah bertemu denganmu?sepertinya kau nampak familiar…mungkin salah satu anggota keluargamu adalah temanku?” tanya Tuan Lee.

Gun Wook pun menggelengkan kepala “tidak Direktur…ini untuk pertama kalinya saya bertemu dengan anda…”

Tuan Lee mengambil map dari meja di depannya “oh begitu..aku kira kita pernah bertemu sebelumnya…kalau begitu aku langsung ke topic pembicaraan saja…aku sudah membaca latar belakang pendidikanmu dan sepertinya kau hari ini ikut berperan dalam rencana putriku untuk menjaga pangsa pasar Tae Wang di Asia..apa kau berhasil?”

Gun Wook menyerahkan sebuah map biru “kali ini Tae Wang terpaksa harus kehilangan Vietnam, Kamboja, dan Myanmar…”

Tuan Lee menerima map itu dan membacanya  kemudian menutupnya.  “dari sini aku dapat menilai kau mempunyai kemampuan negosiasi dan kecerdikan di samping kecerdasanmu…tapi hanya ada satu yang belum bisa kupastikan…”
Gun Wook pun hanya diam memperhatikan.

“apakah kau bisa aku percaya untuk perkara yang lebi besar?” tanya Tuan Lee.

- 11:58 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“PING” Lift lantai 60 terbuka, Yo Won dan Yuri berjalan keluar dari lift.

“begitu nanti selesai makan siang, tolong hubungkan aku dengan Presiden Mohammad Ali Mahmed, aku ingin berterima kasih padanya atas pengertian OPEC kali ini..” ujar Yo Won.

“baik Wakil Direktur…” jawab Yuri.

“permisi…” gumam Gun Wook yang berjalan dengan tergesa-gesa, berpapasan dengan Yuri dan Yo Won lalu masuk ke dalam lift yang hampir menutup.

“kenapa dengan orang itu?” komentar Yuri.

Yo Won menoleh menatap pintu lift yang tertutup.

“Wakil Direktur?” panggil Yuri.

“ah iya…” Yo Won kembali menghadap ke depan dan berjalan menuju Ruang Direktur.

 “hmm..sebelumnya apa aku pernah bertemu denganmu?sepertinya kau nampak familiar…mungkinkah salah satu anggota keluargamu adalah temanku?”  Kilas balik percakapannya tadi dengan Lee Seong Gi muncul kembali.

“BANG” Gun Wook meninju dinding lift dengan tangan kanannya.

“pelan-pelan akan kubuat kau mengingat siapa diriku…” ujar Gun Wook dengan senyum tertahan

“PING” lift lantai 58 terbuka, Gun Wook pun berjalan keluar.

- 12:01 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“benarkah?Shim Gun Wook-ssi berhasil menjaga kontrak kita dengan negara-negara itu?” tanya Yo Won dengan wajah tidak percaya. Tuan Lee tersenyum mengangguk.

“terima kasih Tuhan…” gumam Yo Won tersenyum bahagia.

Tuan Lee pun ikut tersenyum melihat senyum putrinya “oleh karena itu aku memberinya jabatan baru..” 

Kebingungan pun terlukis di wajah Yo Won “jabatan baru?”

- 12:05 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“PING” Gun Wook keluar dari lift bersamaan dengan karyawan-karyawan yang lain. Lantai Dasar Tae Wang Petroleum Emporium Tower pun padat dengan karyawan-karyawan yang ingin pergi makan siang kel luar.

tiba-tiba ada tangan yang merangkul lengan Gun Wook “oppa!”

Gun Wook pun menoleh ke samping kanannya. Hong Mo Ne sudah berdiri di sampingnya tersenyum manis padanya.
Gun Wook  pun mau tidak mau pun membalas senyumnya “Nona Hong…”

“apa oppa akan pergi makan siang di luar?makan siang dimana?aku ingin ikut..” ujar Mo Ne sambil menggandeng tangan kanan Gun Wook. Gun Wook hanya bisa menghela napas panjang dan  mengangguk.

- 12:57 PM, Seoul-
Yuri dan Soo Hyun berjalan berdampingan menyebrangi jalan sambil bergandengan tangan.

“lalu bagaimana dengan kelanjutannya?apakah kau berhasil melobi Presiden OPEC itu?” tanya Soo Hyun. Yuri pun hanya diam dan menundukkan kepalanya.

Soo Hyun pun menjadi khawatir “Yuri?semuanya baik-baik saja kan?”

Tiba-tiba Yuri mendongak dan mengacungkan tanda victory sambil tersenyum puas “sukses!” serunya. Soo Hyun pun menghela napas lega dan tertawa melihat jawaban kekasihnya itu.

“pertamanya aku juga agak takut kalau akan gagal..tapi untunglah Mr. Ali Mahmed menjawab dengan baik teleconferenceku tadi…” jawab Yuri.

“kalau begitu setelah aku menjemputmu kita akan merayakannya…” ujar Soo Hyun.

Yuri pun tersenyum mengangguk. “tapi sebenarnya ada hal yang mengganjal…”

“ada hal yang mengganjal?apa itu?” tanya Soo Hyun.

“Hyun tahu kan pria yang bersama dengan Wakil Direktur waktu turun dari helikopter waktu itu?” tanya Yuri.

Soo Hyun pun berusaha mengingat-ingat “oh..pria itu…aku hanya melihatnya sekilas..tapi kenapa dengannya?”

“ia baru saja diangkat menjadi  asisten kedua oleh Direktur Lee..ia yang bertugas membantu Wakil Direktur mengawasi produksi,riset serta lapangan…” ujar Yuri.

“lalu apa kau ada masalah apa dengannya?” tanya Soo Hyun.

“aku pun juga tidak tahu…hanya saja aku merasa kami tidak akan mejadi rekan sekerja yang baik…tadi saja ia membuatku kesal…manusia yang bertampang dingin satu gedung Tae Wang..untung saja aku tidak satu ruangan dengannya..” celoteh Yuri.

Soo Hyun pun tersenyum dan merangkul kekasihnya itu “mungkin karena ia orang baru jadi kau menganggapnya begitu…”

“mungkin…” jawab Yuri.

“tapi jika ia ternyata benar-benar menyebalkan dan menyakitimu…katakan padaku…aku yang akan memberinya pelajaran..” ujar Soo Hyun.

 Yuri pun tertawa mendengarnya “setelah ini Hyun akan kemana?apakah akan meliput berita di Blue House lagi?”

Soo Hyun pun menggelengkan kepalanya “tidak setelah ini, aku akan pergi ke Heritage Club…”

“Heritage Club?bukankah di sana pers atau wartawan dilarang masuk?” tanya Yuri.

Kedua bahu Soo Hyun terangkat “anggota parlemen yang ingin kuwawancarai inginnya bertemu di sana..jadi mereka tak bisa melarangku masuk kali ini…”Yuri pun tersenyum.

“nah sudah sampai… “ ujar Soo Hyun. Langkah kaki mereka berdua pun berhenti tepat di atas trotoar di depan Tae Wang Petroleum Corp. Tower.

“aku akan menjemputmu tepat jam 5..” kata Soo Hyun.

Yuri pun tersenyum mengangguk “hati-hati yaa…”

Soo Hyun pun tersenyum lalu mengecup kening kekasihnya itu “kau juga harus jaga dirimu…”

“ya..” jawab Yuri.

Soo Hyun pun melepaskan jemarinya dari genggaman Yuri  “kalau begitu sampai nanti…”

Yuri pun melambaikan tangannya “sampai nanti…” Kim Soo Hyun membalas lambaiannya lalu membalikkan badannya dan kembali berjalan.

“hmm..” Yuri menghela napas panjang dan membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu lobby. “semangat!”

 - 05:45 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“bruuuk…” Gun Wook memindahkan sebuah kotak coklat ke atas meja dalam ruangan yang akan menjadi ruang kerjanya besok pagi.  Ruangannya memang tidak sebesar dengan ruangan divisinya, tapi bisa dikatakan cukup besar jika hanya digunakan dirinya seorang diri. Awalnya ruangan ini adalah ruangan yang digunakan untuk rapat dengan para anggota Dewan Direksi tapi akhirnya ini menjadi ruang perpustakaan kecil milik Direktur dan kemudian dibagi dua untuk dijadikan ruangan untuk Gun Wook sekarang. Gun Wook menatap setiap sudut ruang kerjanya. Senyum puas terukir di wajahnya.

- 05:57 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“blaam..” Yo Won menutup dan mengunci ruang kerjanya dan berjalan menuju lift sambil membawa tas kerjanya  dan beberapa dokumen yang harus diperiksanya. 

“PING” Lift di hadapannya membuka, Yo Won pun masuk ke dalamnya. “pip..” ia menekan tombol G, pintu lift pun bergerak menutup namun tiba-tiba membuka kembali

“Shim Gun Wook-ssi..” gumam Yo Won. Gun Wook pun memberi hormat dan berjalan masuk ke dalam lift. Ia berdiri di pojok kanan lift sementara Yo Won berada di sisi kiri.

“lho?kok tidak mau menutup?” gumam Yo Won 

Rupanya lift tidak mau menutup karena tombol tujuan belum ditekan, Gun Wook dan Yo Won bersamaan maju ke depan panel tombol dan menekan tombol G bersamaan. Yo Won bisa merasakan hembusan nafas Gun Wook  dari belakangnya dan melihat tatapan Gun Wook yang terhadapnya terpantul di dinding lift di hadapannya.  Membuat jantungnya berdebar keras dan dirinya menjadi kikuk. Sama seperti dengan yang dirasakannya sewaktu mereka berada di atas kapal.

 “pip” lift pun menutup dan meluncur ke bawah.

Gun Wook dan Yo Won pun kembali berdiri ke posisinya semula.“apakah kau merasa nyaman dengan ruangan barumu Shin Gun Wook-ssi?” tanya Yo Won yang masih agak kikuk.

“ya Wakil Direktur…” jawab Gun Wook.

“untung saja hari ini semuanya berjalan dengan baik…” ujar Yo Won sambil tersenyum pada Gun Wook.

Gun Wook pun ikut tersenyum “saya pun ikut senang Wakil Direktur…”

“PING” lift pun tiba di lantai dasar. Mereka berdua berjalan sampai ke lobby, dimana Hyundai Equuz hitam sudah menanti Yo Won.

“sampai besok Shim Gun Wook-ssi..” ujar Yo Won sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Gun Wook mengangguk “selamat jalan Wakil Direktur”
Hyundai Equuz hitam pun melaju meninggalkan lobby. Gun Wook pun berjalan ke arah yang berlawanan, ke tempat dimana motor sport hitamnya menanti.

-09:30 PM , Heritage Club, Seoul –
“APA YANG BISA KAU LAKUKAN SELAIN BERMAIN WANITA DAN MENGHAMBUR-HAMBURKAN UANG HAH?!!” bentak Tuan Hong sebelum akhirnya ia menampar pipi putranya itu. Sebuah tamparan yang meninggalkan bekas luka di bibirnya sampai sekarang.

“PRAANG!!”  Gi Hoon meremukkan gelas yang dipegangnya dan membantingnya. Terlintas dalam benaknya wajah Yo Won yang tersenyum penuh kemenangan. “ SIALAN!” serunya sambil berdiri

“braak..” seorang wanita berlari  masuk ke dalam ruangan. “Gi Hoon-ssi!apa yang terjadi?” ujarnya khawatir. Wanita itu pun terkejut melihat tangan kanan Gi Hoon yang berdarah. “tanganmu terluka…”   
Samar-samar Gi Hoon melihat bayangan wajah Yo Won dalam diri wanita yang mengkhawatirkannya itu, Jang Se Jin, kurator lukisan di Heritage Club, bawahan ibunnya.  Gi Hoon pun menggelengkan kepalanya, memastikan alam sadarnya tetap berada di tempatnya.  Tapi rupanya alcohol sudah mengalir kuat dalam darahnya

“Gi Hoon-ssi kau baik-baik saja kan?ada masalah apa?mungkin aku bisa membantumu?” ujar Jang Se Jin  seraya mengusap wajah Gi Hoon.

“aku menginginkanmu…” gumam Gi Hoon kemudian menarik wanita dan mendorongnya jatuh ke sofa dan mencium bibirnya sambil menahan kedua tangannya. “aku ingin kau jadi milikku..” bisik Gi Hoon di telinga Jang Se Jin. 
Wajah Jang Se Jin pun memerah “Gi..Gi Hoon-ssi…”  

Tanpa menunggu lama, Gi Hoon pun  menciumnya dan menciumnya lagi, membuatnya  takluk padanya sebelum mulai melucuti pakaiannya. “aku bersumpah kau akan menjadi milikku Lee Yo Won…dan akan membalas semua perbuatanmu padaku..” pikirnya.

-  09:35 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul -

“ayah, ini minumnya…” Yo Won duduk di samping tempat tidur ayahnya dan menyerahkan segelas air putih pada Tuan Lee yang baru saja menelan beberapa butir obat . Tuan Lee pun segera meminumnya hingga habis.

“setelah ayah pulang semuanya baik-baik saja kan?” tanya Tuan Lee.

Yo Won tersenyum mengangguk.Tuan Lee mengusap wajah putrinya itu “hmm..syukurlah…ayah ingin segera kembali ke kantor begitu ayah diizinkan dokter…ayah sudah menimpakan banyak masalah padamu…”

“jangan bicara begitu ayah…aku sangat senang jika bisa meringankan beban pekerjaan ayah…” ujar Yo Won seraya menggenggam tangan ayahnya.

“ayah harap dengan adanya Shim Gun Wook-ssi, ia bisa membantumu memegang produksi dan riset di samping Nona Yuri yang sudah membantumu…”

Yo Won mengangguk “kami akan bekerja keras ayah..”

“sebenarnya ayah masih menyimpan rasa penasaran pada dirinya…sepertinya ayah pernah bertemu dengannya  atau melihatnya entah kapan dan dimana..tapi ia bilang tidak..” ujar Tuan Lee.

Mendengar itu, pikiran Yo Won pun melayang pada kejadian yang dialaminya tadi di lift. Tatapan Gun Wook padanya terlintas dalam benaknya. Tatapan yang membuat jantungnya berdebar keras.

“Yo Won..Yo Won..” panggil Tuan Lee.

Yo Won pun tersadar dari lamunannya “ah iya ayah…”

“ayah hampir saja lupa untuk memberitahukanmu besok kita diundang makan malam oleh  dr. Ahn dan keluarganya..ayah harap besok kau jangan pulang terlambat..” ujar Tuan Lee.

Yo Won mengangguk “baik ayah...”

-  11:12 PM Geumcheon-gu, Seoul –
Seorang pria menggandeng putranya yang masih berusia 6 tahun “Seong Gi, kenalkan ini putraku…”

Gun Wook kecil melihat pria itu tersenyum padanya dan membungkuk  di dekat telinganya “aku akan membunuh ayah dan ibumu, nak..”  bisik pria itu di telinganya.

Gun Wook pun segera terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Ia menatap sekelilingnya.“itu hanya mimpi..” pikirnya.

Ia bangun dari kursi malas tempat dirinya tadi tertidur dan berjalan menuju kamar mandi.“splash..” Gun Wook membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran wastafel di kamar mandinya. Ia merendam wajahnya dalam air wastafel.

Seorang pria menggandeng putranya yang masih berusia 6 tahun “Seong Gi, kenalkan ini putraku…”
Lee Seong Gi yang masih muda, pun tersenyum pada anak sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya itu  “siapa namamu nak?”

Anak kecil itu menatap orang asing yang dikenalkan ayahnya itu sebentar sebelum ia membungkukkan badannya memperkenalkan diri “salam kenal paman, namaku…”

“splaash..” Gun Wook mengangkat wajahnya dari dalam air. “namaku Shim Gun Wook dan aku akan membuatmu mengingat siapa diriku..membayar semua kepercayaanmu sama seperti kau membayar kepercayaan ayahku padamu…”
Lalu dengan handuk tergantung di leher, Gun Wook berjalan keluar dari kamar mandi kembali ke ruang kerjanya yang tersembunyi di balik dinding.  Ia mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja.

“sraat..” selembar foto terjatuh dari papan tulis tempat Gun Wook menempelkan semua foto targetnya. Gun Wook mengambil foto itu. Foto Lee Yo Won yang sedang tersenyum memberikan kado kepada seorang anak negro. Senyum yang sama yang  ditunjukkan untuknya. Senyum yang tulus tanpa maksud apapun. Alih-alih Gun Wook menempelkannya di tempat semula berdampingan dengan foto Tuan Lee,ia menempelkannya di sisi papan yang masih kosong, menatapnya sejenak sebelum kemudian mematikan lampu ruang kerjanya  dan berjalan keluar.


2 komentar:

  1. waaahhhhh,,, chapter yang ini kerrreeeenn abiiisss....
    lanjut terus ya mbak!

    BalasHapus
  2. baguuusssss!!!! makin ga sabar baca chap brikut'a...

    BalasHapus