Pages

Kamis, 02 Juni 2011

The Hidden Wounds Chapter 08:The Trade Secret

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun
- Choi Si Won as Cho Si Won
- Park Daejia as Park Daejia


I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
*****************************************************************************

-07:24 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
“lewat sini..” ujar Gun Wook sambil menarik tangan Yo Won. Mereka berjalan secepat mungkin dari satu tangki ke tangki yang lain, sampai akhirnya tiba di ujung kapal. Ada 4 pintu yang sudah menanti mereka untuk dimasukki salah satunya. Di masing-masing pintu terpasang papan yang menunjukkan nama ruangan. Pintu berwarna merah kedua dari kanan memiliki papan bertuliskan “Tank’s Control Room”  dan dibawahnya tertulis “technician only”
“pintu yang itu…” tunjuk Gun Wook pada pintu merah itu. Yo Won mengangguk dan segera menekan serta mendorong handle pintu tersebut. Namun tak terbuka.
“pintunya dikunci..” ujar Yo Won. Gun Wook pun menoleh ke sekelilingnya seakan-akan sedang mencari sesuatu. Dan ia melihat ada sebuah kapak besar tergantung di tembok di atas hydrant yang bisa digunakan sewaktu-waktu jika dibutuhkan apabila terjadi kebakaran di atas kapal. Gun Wook segera berlari dan mengambil kapak itu.
“maaf permisi Wakil Direktur..” Gun Wook sudah bersiap dengan kapak di tangannya.
“traang..traang..klang..” Gun Wook memukul handle pintu dengan kapaknya itu hingga akhirnya lepas, lalu mendorong pintu dengan bahunya hingga terbuka.
“silahkan masuk Wakil Direktur…” kata Gun Wook sambil menghapus peluh dari keningnya.
Yo Won mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam, diikuti Gun Wook di belakang.
“teknologi manipulasi..apa Chul Gyu bermaksud untuk memanipulasi program pemantau tangki-tangki di kapal ini?” pikir Gun Wook. 
“tap..tap..”di bawah lampu yang bersinar remang-remang, mereka menuruni tangga besi menuju ke bawah. Semakin mereka melangkah ke dalam, suhu udara semakin dingin.
 “huuft..” Yo Won berjalan sambil meniup kedua tangannya dan mengosok-gosokkannya. Mereka pun akhirnya tiba di ujung lorong. Di sebuah ruang yang penuh dengan panel dan layar monitor.
Yo Won segera berlari menuju panel monitor yang ada untuk memeriksa jumlah minyak di masing-masing tangki. Sementara Gun Wook menatap layar monitor di hadapannya dengan tatapan terkejut. “jadi inikah yang dimaksud Kim Chul Gyu teknologi manipulasi…” gumamnya.
Yo Won pun menoleh “teknologi manipulasi?apa maksudmu” tanyanya.
Gun Wook lupa bahwa ia sedang bersama Yo Won. “ah maafkan aku Wakil Direktur…sebelum bertemu dengan WakiL Direktur, aku sempat mendengarkan ia membicarakan melalui soal teknologi manipulasi yang digunakannya..namun tidak terlalu jelas apa itu teknologi manipulasi..dan akhirnya aku mengerti apa yang dimaksud  teknologi manipulasi…”
Yo Won pun menatap Gun Wook dengan tatapan penuh tanda tanya.Gun Wook tahu bahwa Yo Won belum paham apa yang ia maksud. Gun Wook pun menunjuk layar monitor. “apa Wakil Direktur ingat apa yang digambarkan monitor di kilang minyak Daesan?” tanyanya.
“sepertinya aku ingat…sama seperti ini hanya saja ada perbedaan pada…” Yo Won terdiam sebentar menatap layar komputer, lalu menunjuk layar monitor dengan jari telunjuk kanannya. “bedanya tidak ada pipa di bawah yang menghubungkan kelima tangki ini…mungkin ini karena kapal tanker..” ujarnya.
“tebakan Wakil Direktur tepat..di kapal tanker pun seharusnya tidak ada pipa ini...pipa ini adalah alasan kenapa bisa ada selisih jumlah saat dikirim dengan yang diterima..” ujar Gun Wook.
“eh..” kedua alis Yo Won terangkat.
“Wakil Direktur bisa liat  gambar kelima titik hitam ini yang ada di dasar masingh-masing tangki?” tanya Gun Wook.
Yo Won menyipitkan matanya melihat monitor dan mengangguk “ya aku bisa melihatnya..itu titik apa?”
“itu adalah pompa Wakil Direktur..pompa ganda..” jawab Gun Wook.
“pompa berganda?bagaimana kau bisa tahu?” tanya Yo Won.
“panel monitor di sebelah sini yang menjelaskannya…” jawab Gun Wook sambil menunjuk monitor yang paling ujung.  Yo Won pun melihat monitor itu. Monitor itu menampilkan status dan kondisi dari kelima pompa.
“tentu Wakil Direktur tahu bagaimana prosedur pemeriksaan tangki kapal saat tiba di pelabuhan tujuan sebelum disalurkan ke pipa-pipa penghubung menuju tempat tujuan?”
“ya…seorang ahli bertugas memeriksa  ke semua tangki satu persatu baik melalui layar monitor maupun penggaris tangki yang dimasukkan ke dalam tangki..”
Gun Wook mengangguk “ya itulah celah yang dimanfaatkan Kim Chul Gyu…”
“tunggu sebentar…sepertinya aku sudah mengerti..” sela Yo Won. Yo Won pun melanjutkan “jadi ketika petugas akan memeriksa tangki pertama maka tangki pertama diisi dulu sampai penuh melalui pompa oleh minyak-minyak dari tangki yang lain dan begitu tangki yang lain diperiksa, maka minyak dari tangki 1 dialirkan…begitulah cara untuk menutupi selisih jumlah minyak..benarkan?”
Gun Wook sempat tertegun sesaat sebelum ia mengangguk “benar sekali Wakil Direktur…”
Yo Won pun merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan sebuah kamera digital saku “kalau begitu aku akan mengabadikannya untuk dijadikan sebagai barang bukti...”
Yo Won pun mengabadikan panel-panel monitor tersebut dalam kameranya. Gun Wook hanya  diam menatap dari belakang “daya pikirnya sangat cepat..cepat dan cerdas..” pikir Gun Wook.
Sementara itu di luar ruangan, seorang kru kapal yang bertubuh kekar melakukan pemeriksaan keliling dengan senter di tangan kirinya dan walkie talkie di tangan kanannya. “semua dalam kondisi baik..cek” katanya melalui walkie talkie. Dengan senternya, ia menyorot satu persatu pintu yang ada sampai akhirnya ia menemukan ada handle pintu tergeletak di lantai dan pintu ruang control tangki terbuka.
“boss sepertinya ada penyusup masuk..pintu ruang kontrol tangki dirusak dan terbuka…aku akan memeriksanya” ujar pria itu kepada walkie talkienya. Ia pun berjalan masuk  ke dalam.
“nah selesai…” ujar Yo Won. “apa kau bawa ponsel Shin Gun Wook-ssi?” tanya Yo Won.
“ya Wakil Direktur..untuk apa?” tanya Gun Wook seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memberikannya.
“aku ingin menelpon asistenku agar ia menghubungi polisi laut untuk menahan kapal ini..” ujar Yo Won seraya mengetikkan nomor layar ponsel Gun Wook.
“jangan sekarang Wakil Direktur…” ujar Gun Wook seraya menahan tangan Yo Won.
Yo Won pun terkejut “kenapa?”
“jika kita menelepon sekarang, pasar gelap tidak akan terungkap padahal itu adalah kunci dari semuanya…jika kita menelpon sekarang…angkatan laut serta patroli laut Republik Korea bisa tiba di sini lebih dulu sebelum kita mencapai pasar gelap…bisa saja Kim Chul Gyu berkilah saat ditangkap nanti…” jawab Gun Wook seraya melepaskan tangan Yo Won.
“kalau begitu kapan kita akan melaporkannya?apa kau sudah memperkirakannya?” tanya Yo Won
“kira-kira 15 menit lagi…dengan begitu saat mereka melakukan transaksi, pasukan patroli laut akan tiba…” ujar Gun Wook.
Yo Won mengangguk setuju “baiklah..aku akan mengikuti saranmu..”
Gun Wook membungkukkan badannya “terima kasih Wakil…”
“Heaa!!” tiba-tiba ada sebuah rantai menjerat leher Gun Wook.
“Gun Wook-ssi…” teriak Yo Won.
Rupanya kru kapal yang tadi memeriksa ruangan tadi mengambil rantai yang ada di dekat tangga dan menyerang Gun Wook dengan rantai itu.
“rupanya kalian penyusupnya..begitu kau selesai..maka wanita itu berikutnya” ujar pria itu di telinga Gun Wook.
“eergh…mun..dur Wa..Kil Di..rektur..” Gun Wook berusaha menahan rantai yang menjerat lehernya.
“le-lepaskan Gun Wook-ssi…” seru Yo Won. Ia mengambil kapak yang tadi dibawa Gun Wook dan berjalan maju. Namun tiba-tiba jantungnya berdetak dengan sangat cepat, dan seberkas kenangan muncul di kepalanya. “Ya Tuhan jangan sekarang..” gumam Yo Won. Kenangan yang membuatnya kembali mundur ke belakang, melepaskan kapak dari tangannya yang gemetar, dan  sebelum akhirnya ia terjatuh duduk. “ja..jangan cekik dia…” gumamnya gemetar. Kenangan itu perlahan kembali muncul dan semakin nyata dalam benaknya. “jangan..jangan..” gumamnya gemetar.
Gun Wook melakukan tinju dengan keras ke belakang tepat ke wajah pria penyerangnya. Kru kapal itu pun melepaskan rantainya dan mundur ke belakang dengan hidungnya yang berdarah.
“keparat kau!!” seru pria itu. Ia pun kembali menyerang Gun Wook. Gun Wook dengan sigap menghindar.  Ia merunduk dan melakukan tinju ke arah perut lawannya. Namun tak terduga tangan kanan pria itu berhasil menahannya.
“bukan hanya kau saja yang menguasai beladiri..aku pun juga bisa…” ujar pria itu. Ia menarik Gun Wook dan dengan tenaganya yang besar, ia membanting Gun Wook ke dinding. 
“urgh..” erang Gun Wook yang jatuh ke lantai setelah membentur dinding.
Pria bertubuh kekar itu pun mengalihkan pandangannya menuju Yo Won.”lumayan…sudah seminggu lamanya aku tidak berhubungan dengan wanita…” ujar pria itu dengan tampang penuh bejatnya.
“ja..jangan men..mendekat..”ujar Yo Won sambil mengambil kapak yang ada di dekatnya dan memegangnya dengan kedua tangannya yang gemetar.
Pria itu pun berjalan mendekat “kau tak akan bisa kemana-mana gadisku..”
“buaagh!!” Gun Wook melompat dan menendang pria itu hingga pria itu terjatuh ke lantai.
“Wakil Direktur, kau tidak apa-apa?” tanya Gun Wook.
Namun Yo Won hanya diam saja sambil memeluk kapak yang dipegangnya.
Pria itu pun bangun kembali “kau kali ini akan mati di tanganku!!” serunya. Ia berlari menyerang Gun Wook dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba Gun Wook merunduk dengan kedua tangannya, ia mengangkat perut pria itu kemudian menghempaskannya ke tembok yang sama dimana ia dilemparkan. Pria itu pun terlempar ke tembok dan kepalanya membentur lantai lebih dulu dan tidak bangun lagi.
Gun Wook pun mengalihkan pandangannya pada Yo Won yang masih duduk di lantai dan menghampirinya “Wakil Direktur..”
“jangan mendekat…aku baik-baik saja…” gumam Yo Won yang sekarang sudah agak tenang dan melepaskan kapak yang dipegangnya dari tangannya. Ia pun bangun dari duduknya. “maaf aku tak bisa membantumu tadi..” gumamnya dengan kepala tertunduk.
“tidak apa-apa Wakil Direktur…yang penting Wakil Direktur baik-baik saja..” ujar Gun Wook dengan wajah khawatir bercampur terkejut. “kenapa dia?” pikirnya.
“hei hyung..jawab..apakah kau menemukan penyusupnya…” terdengar suara dari walkie talkie yang ada di saku kru kapal yang tadi menyerang Gun Wook. “hei Hyung..jawablah…”
Gun Wook dan Yo Won pun menoleh ke arah walkie talkie itu.
“kita harus pergi dari sini sekarang…” ujar Yo Won.
“ya Wakil Direktur…” jawab Gun Wook. Yo Won pun berlari menuju tangga diikuti Gun Wook. “apa yang sebenarnya dialaminya tadi?” pikir Gun Wook seraya menatap punggung Yo Won.
Mereka pun tiba di luar ruangan. Yo Won menoleh ke sekelilingnya, mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
“lebih baik kita bersembunyi di sini…”  ujar Gun Wook yang sudah berada tak jauh dari sana, sambil menunjuk terpal yang menutupi kotak-kotak kayu besar.
Yo Won pun masuk duluan ke bawah terpal diikuti Gun Wook. Kali ini Yo Won mengambil jarak antara dirinya dan Gun Wook.
“huuft…” Gun Wook menghela napas panjang. Ia melirik jam tangan digitalnya yang menunjukkan jam 7:32 PM.
“sebentar lagi…” gumam Gun Wook.
Mereka pun duduk dalam diam tanpa kata-kata. Gun Wook merasa bahwa Yo Won tak ingin membicarakan hal itu tadi makanya ia pun diam dan kembali fokus pada rencana berikutnya.
“Shin Gun Wook-ssi, kau berdarah..” gumam Lee Yo Won sambil menyinari kepala Gun Wook dengan sinar dari layar kameranya. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jaketnya dan menghapus darah yang mengalir dari bibir Gun Wook pelan-pelan.
“terima kasih Wakil Direktur..” gumam Gun Wook.
“seharusnya aku yang berterima kasih..kau sudah menolongku…dan aku minta maaf karena malah menyusahkanmu tadi padahal ada senjata di tanganku tapi tak bisa berbuat apa-apa…”
Gun Wook tersenyum menggelengkan kepalanya “sudah menjadi kewajiban seorang pria untuk melindungi wanita…”
Yo Won pun tersenyum dan kembali fokus pada luka di bibir Gun Wook. Ia menghapus darah yang ada sampai bersih.
“drap..drap..drap..” terdengar suara derap kaki segerombolan orang.
Gun Wook pun segera menarik ke bawah  kain terpalnya dan menggeser tubuhnya semakin ke tengah. Ia dan Yo Won duduk berdua dalam gelap gulita.

Kelima kru kapal yang berbadan besar-besar itu masuk ke dalam ruang kontrol tangki. Mereka pun kaget melihat kondisi teman mereka yang tidak sadarkan diri.
“ia masih bernafas…” salah satu dari mereka yang berkaos abu-abu sendiri memeriksanya.
“hyung…hyung..bangunlah…” ujar yang lain. Namun teman mereka itu belum juga membuka matanya.
“pelakunya pasti adalah seorang yang ahli beladiri..bisa jadi dia adalah polisi atau mata-mata dari gang lain…” kata yang berkaos abu-abu itu.
“lalu apakah kita harus melaporkannya pada boss?” tanya yang berbadan paling kecil dibandingkan yang lain.
Pria yang berkaos abu-abu itu pun diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk “kau katakan pada boss bahwa aku dan yang lainnya sedang mencari pelakunya dan akan membunuhnya…kita bunuh keparat itu..”
“baik…” jawab yang lain.
“periksa sebelah sini..” 2 orang dari gerombolan kru kapal memeriksa sisi kapal tempat dimana muatan-muatan kapal lainnya yang disimpan dalam kotak-kotak kayu berada. Dengan menggunakan senter, mereka menyoroti satu per satu celah yang ada.
Mereka pun tiba di depan deretan peti kayu yang ditutupi sebuah terpal biru yang berukuran sangat lebar. Salah satu dari mereka memberikan isyarat untuk memeriksanya. Mereka pun menyibakkan terpal itu lalu menyorot yang ada di bawahnya dengan senter namun nihil.
Salah satu dari mereka mengambil walkie talkienya dan melapor “hyung, di sisi timur laut nihil...copy” lalu mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.
“huuft…” Gun Wook menghela napas panjang. Ia dan Yo Won berhasil masuk ke dalam sebuah peti yang panjang. Peti yang hanya berisi jerami saja.  Yo Won yang duduk di seberangnya pun ikut menghela napas lega.
Gun Wook melirik lagi  jam tangannya kemudian mengambil ponsel dari sakunya dan memberikannya kepada Yo Won. “Wakil Direktur sudah saatnya…” gumamnya.
Yo Won menerima ponsel itu dan segera menekan angka-angka yang muncul di layar.
“tuut..tuutt…” terdengar nada sambung. “Nona Yuri tolong angkat teleponnya…” pikir Yo Won.

-07:38 PM, Seoul-
“kakak, aku melihat aksimu sungguh luar biasa, di tikungan terakhir kau berhasil menyalip Johannsen yang memimpin sejak awal…” ujar Soo Hyun sambil mengiris daging steak dengan pisau dan garpu di tangannya.
Si Won hanya tertawa terkekeh sambil menyuap steak ke dalam mulutnya.
Yuri dan Daejia, istri Si Won hanya tersenyum mendengar perbicangan seru kedua kakak beradik itu.
“kak pasti jantungmu dag dig dug ya melihat aksi kak Si Won di sirkuit?” tanya Yuri pada Daejia yang duduk di depannya.
Daejia hanya tersenyum lalu mencubit pipi suaminya. “bukan dag dig dug lagi tapi sudah hampir mau copot…”
“aduh..aduh..” seru Si Won yang sedang menguyah daging steak.
Yuri dan Soo Hyun pun tertawa.
“drrt..drrt…” ponsel Yuri yang ada di dalam tas bergetar.
“maaf ya…” Yuri mengambil ponselnya dan heran melihat nomor yang menelponnya “nomor siapa ini?” pikirnya.  Lalu ia menekan tombol berwarna hijau “hallo..”
“Nona Yuri, ini aku…ambil pena dan notesmu” terdengar suara Yo Won.
Yuri pun terkejut “astaga..selamat malam Wakil Direktur..Wakil Direktur dimana?Bibi Sohwa menelponku mencarimu…” sembari menelpon ia segera mengambil pena dan notesnya
Suara Yo Won samar-samar terdengar. “nanti saja aku jelaskan..sekarang aku ingin minta tolong kepadamu untuk menelpon polisi laut Republik Korea…catat ini katakan pada mereka untuk tiba di  titik 35°N 27°N 126.5°E and 120°E dalam waktu 30 menit lagi..ada transaksi pasar gelap di titik itu….terimakasih Nona Yuri…tut..tut..tut..” telepon pun terputus.
“halo..halo…Wakil Direktur??” ujar Yuri. Ia pun menghubungi nomor yang tadi menelponnya namun tidak tersambung.
“ada apa?” tanya Soo Hyun.
“Wakil Direktur memintaku menelpon  ke polisi laut Republik Korea..untuk tiba di titik ini…” ia menunjukkan koordinat yang ditulisnya di notesnya “dalam waktu 30 menit..katanya akan ada transaksi pasar gelap di sana…”
“transaksi pasar gelap?” Soo Hyun pun segera mengambil notes itu “tunggu…kalau tidak salah ini koordinat di sekitar Laut Cina Timur…lalu apa Nona Lee mengatakan dirinya dimana?”
“tidak…tapi samar-samar..aku bisa mendengar suara deburan ombak laut…” jawab Yuri. Tiba-tiba Yuri menepuk keningnya “astaga…jangan-jangan Wakil Direktur menyelidiki kapal pengangkut minyak itu sendiri…dan sekarang ada di..atas kapal..”
Soo Hyun pun berdiri dari tempat duduknya “kalau begitu aku akan menghubungi temanku yang bekerja di polisi kelautan…akan kupastikan ia tiba di sana dalam 30 menit…”
“aku ikut…”ujar Yuri.
“apakah sesuatu yang buruk terjadi?” tanya Si Won.
“kakak maafkan kami tapi kami harus pergi sekarang…ada hal darurat yang terjadi…” ujar Soo Hyun seraya membungkukkan badannya kepada kakak dan kakak iparnya.
“maafkan kami dan terima kasih atas makan malamnya..” Yuri pun ikut membungkukkan badan.
“tak apa-apa…kalau ternyata kalian perlu bantuan..kalian bisa telepon kami…” ujar Si Won
“apa perlu kami antar?” tanya Daejia.
“ah terima kasih kakak ipar…tapi kami tidak mau merepotkan..” ujar Soo Hyun yang sekali lagi membungkukkan badan. “kami permisi dulu…”
-07:42 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
“hallo..hallo..Nona Yuri?” seru Yo Won pada ponselnya. Ia melihat layar ponsel itu dan terpampang tulisan “no coverage” “sinyalnya tak ada…” ujar Yo Won.
“kita sudah ada di wilayah laut Internasional kalau begitu…” ujar Gun Wook.
Yo Won menatap ponsel Gun Wook berharap tulisan no coverage itu hilang. Namun sia-sia, tulisan itu tak mau menghilang, ia pun mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
“aku yakin pasti Nona Shin segea melaksanakan perintah Wakil Direktur, dia asisten yang cerdas dan cekatan…percayalah padanya..” ujar Gun Wook.
“ya..aku juga percaya padanya..” gumam Yo Won.
Gun Wook mendorong sedikit tutup peti di atasnya dan mengintip keluar. “aku akan keluar sebentar…Wakil Direktur tunggu saja di sini sebentar..” ujar Gun Wook.
Yo Won menarik tangan Gun Wook “eh..aku ikut..”
Gun Wook perlahan melepaskan tangan Yo Won darinya “aku hanya memeriksa di sekitar sini dan akan segera kembali…Wakil Direktur tunggu saja di sini sebentar…” Yo Won pun akhirnya duduk kembali ke tempatnya dan hanya bisa diam melihat Gun Wook pergi keluar dan menutup kembali petinya.
“fiuuh..” Gun Wook sudah berada di luar kotak dan sekarang mengendap-endap keluar dari terpal yang menutup dirinya. “aman…” Gun Wook menoleh ke sekelilingnya dari balik tembok.
-07:44 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
“KALIAN BODOH SEMUA!!!” bentak Kim Chul Gyu pada anak buahnya. Para anak buahnya hanya diam dengan kepala tertunduk. “lalu apakah Jae Hee sudah sadar?apa ia sudah mengatakan siapa pelakunya?” tanyanya.
“Jae Hee hanya mengatakan pelakunya adalah laki-laki dan perempuan boss…setelah itu ia tidak sadarkan diri lagi..luka di kepalanya terlalu parah…” sahut salah seorang anak buahnya.
“persetan dengan luka di kepalanya!! cari kedua orang itu sampai dapat…bawa mereka ke hadapanku!!” bentak Chul Gyu sambil memunggungi anak buahnya.
“baik boss…” jawab anak buahnya yang kemudian segera membubarkan diri.
“seorang laki-laki dan perempuan?siapa mereka?sialan…” pikir Chul Gyu
-07:45 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
“sepertinya kapal ini sudah mulai memasukki wilayah pasar gelap…” gumam Gun Wook begitu melihat kapal-kapal yang melintas di samping kapalnya. Beberapa dari kapal tersebut ada yang berhenti dan membentuk kelompok. Gun Wook tahu pasti sedang terjadi transaksi di dalamnya.
Gun Wook pun kembali berlari dari satu tangki ke tangki lain. “set..” ia melihat bayangan orang lewat. “hanya satu..” pikir Gun Wook.
“tangki 4 clear..copy…” ujar seorang kru kapal kepada walkie talkie di tangannya.
Gun Wook mengendap-endap di belakangnya lalu mendekap leher kru kapal itu dan mematahkan lehernya hingga tak sadarkan diri.  Ia menyeret tubuh kru kapal itu sampai ke bawah tangga tangki dan mengambil walkie talkienya. “tangki 3 clear..copy..” terdengar balasan dari walkie talkie. “berarti berikutnya tangki 3…” gumam Gun Wook.
 -07:58 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
“Gun Wook-ssi kenapa belum juga kembali?” pikir Yo Won seraya menatap jam tangannya.Yo Won duduk menyandarkan dirinya pada sisi peti di belakangnya. “aku pergi atau tidak..” pikirnya. Setelah diam sejenak ia pun bangun dari duduknya, membuka penutup peti, dan keluar dari sana.
Yo Won menoleh ke kanan dan ke kiri. “wooong..” terdengar suara sirine yang memekakan telinga. Yo Won pun terkejut dan segera menutup kedua telinganya. Buru-buru ia sembunyi di balik celah tembok yang ada. “ada apa ini?” pikir Yo Won.
“wooong…” Gun Wook yang baru saja menjatuhkan kru kapal yang ada di tangki 4 pun juga terkejut mendengar suara sirine yang bergema. Ia melirik jam tangannya “08:00 PM…apakah mereka sudah tiba?” pikir Gun Wook.
“semua kru harap siap-siap membongkar muatan kapal…bawa peti-peti kayu tersebut ke tengah..” terdengar suara dari walkie talkie.
“astaga..Lee Yo Won…” pikir Gun Wook. Ia segera berlari ke arah tempat peti dimana Yo Won dan dirinya tadi bersembunyi.
Yo Won mendengar dari kejauhan suara derap langkah kaki. Ia pun memutuskan untuk keluar dari celah persembunyiannya dan berlari ke belakang. Bersembunyi di antara mesin-mesin penggulung rantai kapal yang berukuran besar-besar.
Gun Wook berlari secepat yang ia bisa, namun langkahnya terhenti mendadak begitu melihat, peti-peti dimana tempatnya bersembunyi tadi telah dibawa oleh forklift-forklift yang hilir mudik mengangkut peti.
“sial..” pikir Gun Wook. Begitu forklift-forklift itu pergi membawa peti, Gun Wook segera berlari dan memeriksa peti yang ada namun bukan itu peti yang iacari karea kesemua peti itu terpaku.
Yo Won diam-diam mengintip dari tempatnya bersembunyi. “itu Gun Wook…” pikirnya. “Gun..” Namun sebelum nama Gun Wook terucap dari mulutnya, sebuah tangan besar sudah membekapnya. Yo Won pun meronta-ronta, namun pria yang membekapnya itu memukul ulu hatinya hingga akhirnya Yo Won pun pingsan.     

  Gun Wook berlari dari satu ke tangki lain, mengejar forklift-forklift tadi. “hei..aku berhasil menemukan perempuannya…” terdengar dari suara walkie talkienya.  Langkah Gun Wook pun terhenti. ”bagus…bawa dia ke tengah..siapa tahu tamu kita tertarik padanya…” terdengar suara dari walkie talkie yang Gun Wook kenali sebagai suara Kim Chul Gyu. Mendegar itu, Gun Wook pun kembali berlari, sambil mengeluarkan pistol miliknya dari balik jaketnya.
-08:03 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
“welcome to our ship, Mr. Chang and friends…” sambut Kim Chul Gyu pada rombongan tamunya. Di belakang Mr. Chang, ada barisan laki-laki yang kesemuanya mengenakan t-shirt putih dan tato naga di lengan kanannya. Tentu saja tangan mereka tidak kosong, masing-masing dari mereka membawa bat baseball, tongkat, bahkan pistol.
“jadi Chul Gyu menjual minyak ini kepada triad Hongkong?” gumam Gun Wook yang baru saja tiba di atas tangki nomor 1. “ tapi dimana Yo Won?” pikirnya.
“our customer has told me, that this is the last transaction for this month is that right?” tanya Mr. Chang.
“unfortunately I answer yes..but we will make a transaction again after some problems in Korea are solved..” jawab Chul Gyu.
“okay..I think we can start the transaction now..as usual, you give me the oil first and then I’ll give the money…” ujar Mr Chang seraya menunjukkan 4 koper besi yang ada di belakangnya.
Chul Gyu  mengangguk kemudian memanggil anak buahnya. “segera kau salurkan minyak ke kapal sebelah seperti biasa…” perintahnya. “baik boss..” jawab anak buahnya itu.
“boss, aku membawa perempuannya…” terdengar suara dari bawah tangki tempat Gun Wook berada. Gun Wook segera mencari asal suara itu. Dilihatnya seorang kru kapal bertubuh besar menggendong Yo Won yang pingsan dengan kedua tangannya.
“Yo Won…” gumam Gun Wook.
Chul Gyu pun terkejut begitu melihat siapa yang dibawa oleh anak buahnya “Wakil Direktur?”
“who is that beautiful woman?” tanya Mr. Chang.
Chul Gyu pun berbohong “no one..she is just a slut..she tried to escape from me..” 
Mendengar perkataan Chul Gyu, Gun Wook pun melepas peredam dari pistolnya. “klok..” rupanya kakinya tak sengaja menendang sebuah botol pelumnas. Gun Wook mengambil botol plastik itu dan mengocoknya. “ini bisa dipakai..” gumamnya.  Kemudian ia diam-diam turun ke bawah dan bersiap dengan pistol di tangan kanannya. Dari balik tangki, ia mendengarkan  pembicaraan Chul Gyu.
Mr. Chang menatap Yo Won “she is a beautiful woman..can you give her for me?I’ll give additional money for you…”
“eh…”   Chul Gyu pun terkejut dengan penawaran Mr. Chang. Ia tergiur oleh imbalan uang ditambah lagi ia tidak perlu susah-susah mencari cara untuk menyingkirkan Lee Yo Won.
“ugh..” Yo Won perlahan mulai membuka matanya. “dimana aku?”pikirnya. Ia melihat semua mata tertuju padanya dan mata Kim Chul Gyu. Menyadari itu semua,  Ia pun segera bangun dan melompat dari gendongan kru kapal yang menangkapnya namun pria itu berhasil menahannya. “lepaskan!!” gertak Yo Won.
“I accept your deal..” ujar Chul Gyu seraya mengulurkan tangan untuk jabat tangan. Mr.Chang pun tersenyum dan menyuruh anak buahnya memberikan sebuah amplop kepada Chul Gyu. Dengan wajah tamak, Chul Gyu segera memeriksa isi amplopnya. Satu amplop penuh uang dengan mata uang US Dollar.
Mr. Chang pun tersenyum “100,000 USD cash…bring me that woman to me…”
Salah seorang bawahan Mr. Chang memegang kedua tangan Yo Won dengan erat-erat di belakang.
Yo Won meronta-ronta “who are you?let me go!!”
“ini saatnya..” Gun Wook pun keluar dari persembunyiannya dan melempar botol pelumnas itu ke udara tepat ke atas Mr. Chang dan para bawahannya, kemudian menembak botol itu dengan pistonya.
“BANG!” botol itu pun mengeluarkan semburan api di udara. Mr. Chang, Kim Chul Gyu, serta para bawahan mereka pun terkejut dan menghindar. Gun Wook segera berlari ke tengah sambil menembakkan pistolnya ke kaki pria yang menyekap Yo Won. Yo Won pun berhasil diselamatkannya.


-08:13 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
“Gun Wook-ssi..” seru Yo Won. Sambil mendekap Yo Won di bawah jaketnya, ia berlari menembak para bawahan Chul Gyu dan Mr. Chang yang menyerang dan menembakkinya.
“dor!!” lengan kiri Gun Wook terkena peluru. Gun Wook pun menembakkan serangan balasan sambil berlari menuju balik tembok.
“hah..hah..” nafas Gun Wook terengah-engah. Ia pun menoleh ke kiri “Wakil Direktur baik-baik saja kan?maaf tadi aku terlalu lama..” Namun perhatian Yo Won tertuju pada lengan kiri Gun Wook yang berdarah. “Gun Wook-ssi, tanganmu tertembak…” ujar Yo Won yang sudah mengeluarkan sapu tangannya untuk menahan darah yang keluar dari luka tembaknya.
Gun Wook pun sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali fokus pada bawahan Mr. Chang dan Chul Gyu yang sedang berjalan mendekat dan menembakki dia.
“dor!dor!ctaak..”Melihat peluru pistonya habis, Gun Wook pun mengeluarkan cartridge peluru yang terselip di pinggangnya lalu mengisi pistolnya yang sudah kehabisan peluru.
Pāishè zhè xiǎozi!!!” seru Mr. Chang seraya menahan darah dari wajahnya yang terluka akibat percikan api yang tadi Gun Wook buat. Chul Gyu pun hanya bisa diam gemetar. Lalu salah dua orang dari bawahan Mr. Chang datang dengan membawa senjata AK-47 di tangan mereka. Kemudian melangkah maju, ke arah tempat Gun Wook dan Yo Won bersembunyi.
“sial..” pikir Gun Wook begitu melihat senjata yang dipegang anak buah Mr. Chang. Gun Wook pun menoleh kepada Yo Won yang baru saja selesai membebat luka tembak Gun Wook dengan sapu tangannya. “Wakil Direktur..pergilah bersembunyi ke dalam…aku akan menahan mereka..sebentar lagi pasukan patroli laut akan datang…” ujar Gun Wook.
“tidak..aku akan terus berada di sini…” jawab Yo Won.
“ini demi keselamatan Wakil Direktur..” ujar Gun Wook.
 “dor!dor!dor!dor!dor!” serentetan peluru berdesing. Gun Wook pun tak bisa melakukan serangan balasan.    
Gun Wook merunduk dan melakukan serangan balasan “dor!dor!” dan kedua tembakannya itu tepat mengenai kedua bawahan Mr. Chang yang dari tadi menembakkinya.
“dor!” pistol Gun Wook terlepas dari tangannya akibat ditembak oleh Chul Gyu yang sekarang sudah memegang pistol.
“mati kau keparat!” seru Chul Gyu. “dor!dor!” Chul Gyu berjalan mendekat sambil menembak. Gun Wook pun hanya bisa bersandar di balik dinding sambil menunggu timing yang tepat untuk mengambil pistolnya kembali.
“Wakil Direktur sekarang aku sudah tidak punya senjata untuk melindungimu…cepatlah kau pergi, kau harus menyelamatkan dirimu sendiri…kau bisa mencari bawahan yang lebih baik dariku…” ujar Gun Wook.
“aku tidak akanmeninggalkanmu…” sahut Yo Won.
Gun Wook pun menoleh.
“tidak peduli kau adalah bawahanku atau aku atasanmu…aku tidak mungkin meninggalkanmu terluka sendirian di sini…jika kau mau pergi..maka kau harus ikut denganku atau aku tetap bersamamu di sini..” ujar Yo Won.
Gun Wook pun hanya bisa diam menatap tatapan keras dari Yo Won.
“brrr….brrrr…brrr…” terdengar suara helikopter dari atas. Gun Wook dan Yo Won pun menoleh ke atas.
“this is Republic of Korea Navy…raise your hands!” terdengar suara dari megaphone.
“akhirnya mereka datang…terima kasih Tuhan…” gumam Yo Won seraya bersandar di dinding.
Mr. Chang dan para bawahannya pun panik, begitu juga dengan Kim Chul Gyu dengan para bawahannya. Mereka berusaha untuk kabur, namun rupanya Angkatan Laut Republik Korea sudah menyiagakan kapal-kapalnya di samping kapal Chul Gyu dan Mr. Chang.
Pasukan Angkatan Laut pun turun dari atas Helikopter melalui tali-tali yang dijulurkan ke bawah.
“raise your hands!” seru para pasukan Angkatan Laut seraya mengarahkan senjata kepada Mr. Chang, Chul Gyu serta para bawahan mereka.
Gun Wook dan Yo Won pun keluar dari persembunyian mereka seraya mengangkat tangan mereka.
Salah seorang pasukan Angkatan Laut menghampirinya “apakah anda Nona Lee Yo Won?kami diperintahkan untuk menolong Nona Lee Yo Won.”
Yo Won pun mengangguk “ya..saya Lee Yo Won..”
“lalu pria ini?apa dia salah satu dari mereka?” tanya prajurit itu.
“bukan dia penolong saya…Shim Gun Wook..” jawab Yo Won. Gun Wook yang berdiri di samping Yo Won hanya diam sambil menahan pendarahan dari lengan kirinya.
Mr. Chang, Chul Gyu serta para bawahan mereka pun digiring ke dalam kapal pasukan Angkatan Laut Republik Korea, sementara Gun Wook dan Yo Won dibawa dengan helikopter.
“aargh..” erang Gun Wook yang sedang berbaring begitu peluru dari lengannya diambil oleh salah seorang dokter prajurit. Yo Won yang duduk tak jauh darinya hanya menatapnya dengan pilu. Gun Wook pun membisikkan sesuatu pada dokter prajurit itu. Dokter itu pun mengangguk.
Tak lama kemudian, seorang prajurit menghampiri Yo Won seraya membawa botol minuman.
“perjalanan masih panjang, Nona..silahkan minum ini, agar tubuh Nona  tidak kelelahan…” kata prajurit itu.
Yo Won pun tanpa ragu menerima botol itu lalu meminumnya. “terima kasih..” jawabnya. Ia pun kembali menatap Gun Wook yang sekarang menatapnya juga. Perlahan wajah Gun Wook pun kabur dari matanya, rasanya matanya semakin berat dan berat dan menjadi gelap. Kedua matanya terpejam. Yo Won pun duduk tertidur.
Gun Wook pun ikut memejamkan matanya. “hari yang melelahkan..” gumamnya.


     


7 komentar:

  1. J'rien biver2 Juni 2011 13.22

    Wuih kerèn bgt......
    Sist miya, knpa2 sminggu c5 1 chapter si?? Banyakin scene'a yo won s5 gun wook dund...
    Mksih...;-)

    BalasHapus
  2. J'rien biver2 Juni 2011 13.25

    Eh 5f slah ktik, angka 2'a gg ada,..
    Sering2 nge-post dund..

    BalasHapus
  3. thanks yaa for reading..iya soalnya jadwal kuliah aye sangat padat jam 6.30 udh di kampus n jam 5.30 sore baru keluar dari senin-jumat jadi otomatis pasti agak susah buat fokus ke sini apalagi ini bener" ngebangun dari awal..kalo dulu pas ngetik OFSC aku masih SMA n jadi waktu luangnya banyak...jadi harap maklum n sabar ^^

    BalasHapus
  4. J'rien biver4 Juni 2011 14.34

    oh.. bgto.. okeylah,, sngat memahami kesibukan anak kuliah...
    yg pting trus lanjut'in crita'a...

    BalasHapus
  5. kereeen bgt... Seru abiz...ky
    lg nntn film2 action... Aduh
    penasaran minuman apa yg
    diberikn pd Yo Won, koq Yo
    Won jd tdr...? Intinya
    penasaran sma kelanjtnnya,
    n apa ini awal dr kdekatn GW
    n YW?. . . . :D
    owh iya slm knl miya :D

    BalasHapus
  6. juliana dewy9 Juni 2011 11.23

    duuuhhh ga sabar liat chap slanjutnya....,
    oh ya chap yg ini keren bangetttt!! lanjut terus ya mbak....

    BalasHapus
  7. hallo salam kenal juga ^^
    iya Yowonnya emang sengaja dikasih obat tidur supaya istirahat hhe...kalo soal chapter 9 sedang dalam proses pengerjaan diusahakan minggu atau senin dipost ^^ terima kasih yaa

    BalasHapus