Pages

Minggu, 01 Mei 2011

The Hidden Wounds Chapter 05: The Data

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

- May 4th 2009, 09:55 AM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“BLAM” pintu menuju helipad terbuka. Yo Won dan asistennya berjalan  menuju tempat dimana helicopter perusahaan telah menunggu mereka. Gun Wook sudah berdiri di depan pintu helicopter dan memberi hormat.

“lho?dimana Manager Ju?” tanya Yuri.

“Manager Ju tidak masuk hari ini karena penyakit asam uratnya sedang kambuh dan beliau menunjuk saya mewakilinya..” jawab Gun Wook.

“baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang…” ujar Yo Won. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam helikopter. Yuri duduk di samping pilot sementara Yo Won dan Gun Wook duduk sebaris di belakang. Selama di perjalanan, Yo Won membaca beberapa berkas yang tadi dibawanya sementara Gun Wook diam-diam memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya memilih untuk memperhatikan pemandangan di luar jendela. Tempat yang mereka tuju pertama kali adalah Kilang Minyak Daesan yang berjarak 110 km di barat daya Kota Seoul.

-10:55 AM Tae Wang Petroleum corp Refinery, Daesan -

Setelah 1 jam lebih perjalanan, helikopter berhasil mendarat di kilang minyak Daesan. Kilang minyak Daesan adalah sebuah kompleks pengeboran dan pengolahan minyak yang ada di lepas pantai. Tae Wang Petroleum corp. memiliki 4 kilang minyak yang berdekatan dan kali ini yang dikunjungi Yo Won adalah kilang nomor 1. Kilang nomor 1 memiliki kapasitas untuk menghasilkan 850.000 barrel per hari dan oleh karena itu kompleks kilang minyak Daesan memberikan kontribusi sebesar 65% untuk ekspor ke beberapa negara di Eropa seperti Inggris, Swiss, dan Jerman lalu ke beberapa negara di Asia seperti Vietnam dan Thailand.

Begitu mesin helikopter dimatikan, Yo Won diikuti Gun Wook dan Yuri pun turun. Mereka disambut oleh Kepala Penanggung Jawab Kilang nomor 1, Manager Baek Sung Min yang baru saja menginjak usia 45 tahun beserta staffnya.

“selamat datang Wakil Direktur Lee..” Baek Sung Min memberi hormat. Para staffnya membagikan helm putih kepada Yo Won, Yuri dan Gun Wook. Perlengkapan yang para pekerja dan tamu wajib pakai selama berada di sana.

“suatu kehormatan kami mendapatkan kunjungan dari pusat..” ujar Baek Sung Min yang berjalan di sampan Yo Won.

Yo Won hanya tersenyum kemudian berjalan melihat-lihat sekeliling kilang. Mereka memilih untuk mengunjungi rig pengeboran. Rig pengeboran ini adalah sebuah bangunan di tengah kilang minyak yang melakukan pengeboran, dimana minyak mentah dari dalam disedot dan kemudian dialirkan melalui sebuah pipa besar ke tempat penyimpanan sebelum akhirnya diolah menjadi bensin, minyak diesel, pelumas, dll.

“Manager Baek, apakah pernah dalam selama pengoperasian, produksi kilang menurun.?” tanya Yo Won.

“hanya sekali Wakil Direktur, saat pipa mengalami penyumbatan akibat lumpur minyak yang kental di tahun 2004…setelah itu tidak pernah ada penurunan yang berarti… para ahli menyimpulkan kinerja produksi rata-rata kilang ini adalah 850.000 barrel setiap harinya…dan itulah yang dihasilkan rig ini setiap hari…” jawab Baek Sung Min sambil menatap rig di hadapannya dengan penuh rasa bangga.

“apakah kami bisa melihat oil storagenya?” Gun Wook yang dari tadi mengamati LCD yang terpampang pada rig  yang berfungsi sebagai monitor kerja rig, tiba-tiba bertanya.

Yo Won dan Baek Sung Min pun menoleh ke arahnya. “tentu..tentu saja sebentar lagi kita menuju ke sana…setelah meilhat tempat pengilangan…” jawab Baek Sung Min.

Rombongan kemudian berjalan meninggalkan rig dan menuju area pengilangan. 5 tabung raksasa berdiri dengan kokohnya serta beberapa tabung yang lebih ramping dan tinggi dengan kobaran api pada puncaknya menyambut mereka.  Baek Sung Min pun mulai menjelaskan kinerja dan kondisi serta pengembangan pada tabung-tabung tersebut. Yo Won mengamati dengan serius apa yang disampaikan oleh Baek Sung Min sembari memperhatikan laporan tertulis mengenai tabung-tabung tersebut yang dibawakan oleh salah satu staff Baek Sung Min.

Yuri pun yang berdiri di dekat Yo Won berbisik “apakah Wakil Direktur lelah?saya bisa meminta break sebentar?”

Yo Won pun tersenyum menggeleng “aku baik-baik saja Nona Yuri…silahkan dilanjutkan kembali…”

Dari pengilangan minyak mereka berjalan turun ke bawah menuju oil storage, tempat yang dimaksud oleh Gun Wook tadi. Mereka berjalan berdampingan dengan pipa-pipa besar menuju ke bawah, memasuki lorong sampai tiba di sebuah pintu besi berwarna merah.

“ini dia oil storagenya..” kata Baek Sung Min. “disinilah tempat dimana minyak yang sudah diolah ditampung..”

“apakah tidak ada laporan tertulis mengenai pemasukkan dan pengeluaran minyak ke gudang?” tanya Yo Won.

“mengenai itu..” Baek Sung Min nampak ragu dalam menjawab.

Gun Wook pun berjalan dan berdiri di samping Yo Won “setahun yang lalu, Tae Wang Petroleum corp. membeli dan memasang automatic oil refining, distribution, and storage monitor di seluruh kilang minyaknya tak terkecuali kilang minyak ini bukan?seharusnya dengan itu membuat laporan tertulis lebih mudah..”

“ya..benar sekali…oleh karena itu kami tak pernah membuat laporan tertulis karena adanya alat ini serta tak ada masalah dalam pengilangan jadi laporan hanya ada berupa soft copy yang selalu dikirim ke kantor pusat setiap bulan…oleh karena itu saya mohon maaf Wakil Direktur jika saya tidak membuatkanya secara tertulis…” Baek Sung Min bersama staffnya pun membungkukkan badan.

“ah kalau begitu kita lihat saja soft copynya di sini?” tiba-tiba Yuri mengemukakan ide.

“kurasa itu ide bagus…apakah Manager Baek bisa menunjukkannya pada kami sekarang?” tanya Yo Won.

“tentu saja..lewat sini..” kata Baek Sung Min seraya menunjukkan jalan.

Mereka berjalan menaiki tangga-tangga dari besi sampai tiba di lantai atas dimana angin laut sudah menyambut mereka. Kemudian mereka pun mengikuti Baek Sung Min yang berjalan masuk melewati pintu ganda. Mereka masuk ke dalam ruang pusat kontrol kilang yang dipenuhi oleh layar komputer dalam ukuran kecil dan besar dan di tengah ruangan ada 4 TV yang tergantung menghadap keempat penjuru yang menayangkan berita internasional dan update harga pasar dunia. Staff-staff dan karyawan yang berjalan hilir mudik dengan headset di telinga mereka pun berhenti melakukan kegiatan mereka dan memberi hormat pada Baek Sung Min dan Yo Won tentu saja. 

“Nona Yoon, tolong kau tampilkan laporan oil storage selama 1 tahun…tampilkan di komputer nomor 1..” ujar Baek Sung Min yang sudah memasang headset pada telinga kanannya. “baik Manager..” jawab wanita yang bernama Nona Yoon yang duduk tak jauh dari sana. Tak lama kemudian di layar monitor yang ada di depan Baek Sung Min menampilkan tabel dengan judul automatic oil refining, distribution, and storage monitor report.

“ini adalah laporan pengeluaran dan pemasukkan per bulan…namun jika Wakil Direktur ingin memeriksa lebih detail tentu saja bisa..tak hanya data harian bahkan jam maupun menit dapat dihasilkan oleh alat ini termasuk kadar karbon dan senyawa lainnya dalam minyak..” Baek Sung Min dengan penuh semangat menjelaskan. Yuri kemudian mengambil alih tempat duduknya dan mengoperasikan komputer itu. Ia tahu apa yang harus ia cari.

Salah seorang staff Baek Sung Min berjalan menghampiri managernya dan membisikkan sesuatu.  Baek Sung Min pun memeriksa arlojinya dan menepuk keningnya.

“astaga! Sudah pukul 12 lewat...hampir saya melupakan jam makan siang Wakil Direktur…saya sudah menyiapkan makan siang untuk Wakil Direktur beserta para staffnya…” ujarnya.

“ah terima kasih banyak Manager Baek…”  jawab Yo Won.

“Manager Baek, bolehkah saya menanyakan sesuatu?” tanya Yuri.

“ya tentu saja..” jawab Baek Sung Min.

“mengenai waktu pengiriman…kenapa waktunya berubah menjadi 2 jam lebih awal sejak 6 bulan yang lalu?” tanya Yuri.

“oh mengenai itu secara teknis saya juga kurang memahami maksud dari Manajer Ju dari Divisi Produksi…katanya itu bertujuan agar kelancaran pengiriman lebih terjamin…tapi tak ada masalah dengan hal tersebut…” jawab Manajer Baek.

Yuri pun mengangguk mengerti, kemudian bertanya pada bossnya yang hanya dari tadi diam mengamati layar komputer. “Wakil Direktur, apakah Wakil Direktur masih ingin melihat lebih detail?”  

Yo Won pun menggelengkan kepalanya “kurasa cukup Nona Yuri…lebih baik datanya dicopy dan disimpan dalam flashdiskku..aku akan mempelajarinya lebih detail nanti karena pastinya semuanya sudah ingin makan siang bukan?” jawabnya seraya tersenyum pada semua orang yang hadir di situ.  Yuri pun segera mengcopy data tersebut dan memasukkannya ke dalam flashdisk lalu menyimpannya.

“kalau begitu mari Wakil Direktur…” Manajer Baek pun menunjukkan jalan. Mereka berjalan keluar dari ruang pusat control berjalan menuju ujung lorong yang berbentuk setengah lingkaran ini.

“wah..pemandangannya..” Yuri nampak kagum dengan apa yang dilihatnya. Kaca-kaca jendela di hadapannya menampilkan pemandangan spektakuler hamparan lautan tak berujung.

“indah..” gumam Yo Won yang kini berdiri di samping Gun Wook.

“hall ini adalah tempat terbaik yang ada di sini…biasanya kami menggunakan ruangan ini jika seandainya kami harus menunggu badai reda saat selesai jam kerja…” kata Baek Sung Min.

Hidangan-hidangan ala Korea pun sudah menanti mereka untuk disantap. Bersama dengan staff serta Manager Baek, Yo Won duduk semeja dengan Yuri dan Gun Wook.

“selamat makan..” ujar mereka bersama-sama.

 “gludug..gludug..” terdengar suara Guntur dari luar. Rupanya selama makan siang, mereka tak sadar bahwa langit semakin gelap.
“drrt..drrt…” ponsel Yuri bergetar. Yuri pun menaruh gelas jusnya dan segera mengambil ponselnya “halo…” ia bangun dari duduknya dan mengangkat teleponnya. Ekspresi di wajahnya pun berubah. Begitu selesai dengan teleponnya, ia segera berjalan menghampiri Yo Won.

“Wakil Direktur di luar sedang ada badai dan di wilayah Ulsan sedang hujan deras…oleh karena itu sepertinya perjalanan menuju Ulsan terancam ditunda karena helikopter pun tidak mungkin terbang dengan kondisi seperti ini…” kata Yuri.

Yo Won pun mengangguk mengerti “kalau begitu tolong kirimkan perintah untuk pengilangan minyak di Ulsan mengirimkan oil storage report mereka secara terperinci…sebisa mungkin dalam 30 menit ke depan sudah ada di laptopku…”

“baik Wakil Direktur..” jawab Yuri.

“rupanya Wakil Direktur sedang mengadakan kunjungan ke seluruh kompleks pengilangan ya?” tanya Manager Baek.

Yo Won pun tersenyum mengangguk.

“badai di sini biasanya memakan waktu 1-2 jam…apakah Wakil Direktur membutuhkan sesuatu sembari menunggu?” tanya Manager Baek Sung Min.

“tidak..terima kasih Manager Baek…saya dan staff saya akan menunggu di sini saja..” jawab Yo Won.

Manager Baek beserta staffnya pun satu persatu meniggalkan ruangan Hall, menyisakan Gun Wook, Yo Won, dan Yuri. Gun Wook dan Yo Won pun mulai mengeluarkan laptop mereka masing-masing sementara Yuri sedang mengoperasikan tabbynya

“saya sudah mengirimnya ulang ke email Wakil Direktur…” ujar Yuri yang barus saja selesai memainkan tabbynya.

“akan kulihat..” jawab Yo Won sambil membuka laptopnya. Ia pun segera menyalakan laptopnya dan membuka email yang masuk.

“Nona Yuri…coba kau lihat ini..” kata Yo Won sambil menunjuk layar laptopnya. Yuri pun segera melihat apa yang ditunjukkan padanya.

“semuanya sama dan tidak ada penurunan…tapi ada perubahan pengiriman namun kali ini 5 bulan yang lalu…” kata Yo Won. Yuri dan Yo Won saling bertukar pandangan. Mereka tahu bahwa mereka punya pikiran yang sama. Adanya kemungkinan penyelundupan terjadi saat pengiriman.

“Kim Chul Gyu…” gumam Gun Wook yang bangun dari duduknya.

“apa?” Yuri dan Yo Won menoleh bersamaan ke arah Gun Wook.

“bukan apa-apa…” jawab Gun Wook yang berjalan menuju pintu keluar.

“dasar orang aneh…” komentar Yuri begitu Gun Wook berjalan menjauh.

“Nona Yuri tolong kau cari profil orang yang bertanggung jawab atas pengiriman kilang ini dan kilang Ulsan…”

“baik Wakil Direktur…” jawab Yuri. Yuri pun segera mencarinya melalui database perusahaan yang dapat diakses secara khusus melalui internet. Dalam waktu singkat, ia segera menemukannya dan menyerahkan tabbynya pada Yo Won “ini datanya Wakil Direktur..Kim Chul Gyu, 32 tahun…mantan manager perusahaan jasa pengiriman barang dan logistic di Seoul…” Yo Won pun segera membacanya dengan seksama, lalu mengembalikan lagi tabby itu kepada pemiliknya.

“tolong kau kirim datanya ke emailku seperti biasa…” pinta Yo Won

“baik..Wakil Direktur…” jawab Yuri.

“aku yakin ia menyebutkan Kim Chul Gyu tadi…apa ia tahu sesuatu?”pikir Yo Won sambil menatap ke pintu keluar. Dimana siluet punggung Gun Wook tampak.

- 02:30 PM Family Restaurant, Seoul –

Manager Ju menengok ke kanan dan ke kiri, duduk dengan gelisah dan bertampang kesal. Seorang pria bertumbuh gempal dengan jaket biru dengan label nama Kim Chul Gyu di dada kirinya berhenti di depan pintu masuk restoran. “ia pasti akan marah jika aku terlambat…” kemudian ia mengintip dari kaca. “ah benar itu dia…” Ia pun masuk ke dalam dengan wajah tersenyum lebar.

“ah Manager Ju…” seru Kim Chul Gyu dengan suara dan tawa yang menggelegar berjalan menghampiri Manager Ju.

Manager Ju pun mengomel “kau?!kau bilang janji jam 2 sekarang jam berapa?dan kenapa di restoran umum seperti ini?”

“ah ya sudahlah di luar jam istirahat seperti ini siapa yang akan menemukan kita?” sahut Kim Chul Gyu dengan santai. Kemudian ia mendekatkan dirinya pada Manager Ju tapi pandangannya ke arah lain. “Manager mana komisi untukku?”

Manager Ju hanya menghela napas panjang, menahan rasa kesalnya lalu mengeluarkan amplop coklat yang tebal ke atas meja. Kedua  mata Chul Gyu langsung berbinar, kedua tangannya langsung bergerak cepat untuk mengambil amplop itu namun Manager Ju sudah lebih dulu menariknya.

“haiiss…Manager Ju kenapa kau mengerjaiku?” seru Chul Gyu

“sebelumnya ada masalah yang harus kau ketahui dan kau selesaikan…” ujar Manager Ju.

“masalah?masalah apa?” tanya Chul Gyu.

“masalah pengiriman bulan ini…dan kau harus menyelesaikannya…” sahut manager Ju.

-02:45 PM San Hao Group Building-

Tuan Hong menatap kota Seoul dair jendela ruangannya. Dari ruangannya itu ia bisa melihat ke seluruhan pemandangan kota. “tok..tok…” terdengar suara pintu ruangannya diketuk.

“masuk..” jawab Tuan Hong.

Seorang pria dengan kemeja putih dipadu dengan jas hitam berjalan masuk kemudian memberi hormat.

“apa kau sudah menyelidikinnya?apa hasilnya” tanya Tuan Hong yang masih saja berdiri menghadap jendela memunggungi pria itu.

“sudah Tuan…Tuan Muda Hong tidak terlibat dalam urusan itu…sepertinya itu adalah ulah orang dalam pihak Tae Wang sendiri…” 

Senyum lebar tercermin di wajah Tuan Hong. “benarkah?” tanyanya.

“ya Tuan…saya sudah menyelidikinya..” jawab pria itu.

“Lee Seong Gi rupanya kejatuhanmu lebih cepat daripada yang kubayangkan…” pikir Tuan Hong.

-05:24 PM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
Setelah menunggu badai berhenti, Helikopter yang membawa Yo Won, Yuri, dan Gun Wook berhasil membawa mereka pulang.

“aku harus menanyakan tentang Kim Chul Gyu padanya sepertinya ia tahu sesuatu…” pikir Yo Won yang masih duduk sambil menatap Gun Wook yang baru saja turun keluar.

“ah tunggu Shim Gun Wook-ssi…” panggil Yo Won.

Gun Wook berhenti berjalan dan menoleh.

“oppa!!”Mo Ne yang berlari memeluk punggungnya.

Gun Wook hanya diam saja tidak membalas pelukan itu.

“oppa..akhirnya kau sampai juga…sudah lebih dari setengah jam aku menunggumu…” ujar Mo Ne sambil menggelayut pada lengan Gun Wook.

“lho?Nona Hong?” celetuk Yuri begitu turun dari helikopternya.

Melihat Yo Won dan Yuri yang baru saja turun dari helikopter, Mo Ne segera membungkukkan badannya begitu juga dengan Yuri yang memberi hormat padanya.

“ah selamat sore Wakil Direktur Lee…” sapa Mo Ne.

“Nona Hong…” sapa Yo Won sambil membungkukkan badannya.

 “meskipun terlambat tapi saya ingin mengucapkan selamat datang di Seoul, Wakil Direktur Lee…” ujar Mo Ne.

“terima kasih Nona Hong…” jawab Yo Won.

“ah oppa, hari ini kita makan malam bareng ya?oppa kan sudah janji padaku…” pinta Mo Ne seraya menatapnya dan memeluk lengan Gun Wook. Gun Wook hanya menjawabnya dengan senyum tipis dan anggukkan.

“kalau begitu kami permisi Wakil Direktur Lee..” ujar Mo Ne seraya membungkukkan badannya.

Gun Wook menatap Yo Won sesaat sebelum ia membungkukkan badan lalu membalikkan badannya dan berjalan dengan Mo Ne yang memeluk lengannya.

“wah tak kusangka Gun Wook-ssi punya hubungan yang dekat dengan Nona Hong…” Yuri berkomentar.

Yo Won hanya diam memperhatikan Mo Ne dan Gun Wook berjalan menuju pintu masuk gedung.

- 06:25 PM Elbon The Table Restaurant, Gangnam-gu, Seoul-

Mo Ne asyik bercerita sambil menyantap tuna salad pesanannya. “pokoknya hari ini aku sangat senang sekali karena ayah dan ibu tidak pulang ke rumah jadi aku bisa pergi sama oppa..” Mo Ne tersenyum sambil memainkan sendoknya.

Gun Wook hanya tersenyum tipis memperhatikannya. “bisakah kau ceritakan tentang Wakil Direktur Hong?”

“tentang kakak?untuk apa?” tanya Mo Ne.

“Wakil Direktur Hong adalah atasanku..aku harus mengetahui bagaimana karakter atasanku agar aku bisa bekerja dengan baik…” jawab Gun Wook.

“ah iya benar sekali…kakakku itu banyak sekali tingkahnya…aku tak ingin oppa dibuat susah olehnya…” tutur Mo Ne.

Gun Wook pun mengeluarkan senyumnya “kalau begitu ceritakanlah padaku tentangnya…”

-08:45 PM Heritage Club, Seoul-

“ah I’m so thankful for your understanding Mr. Kareem… I promise after I solve this problem..our business will continue again…” sahut Tuan Oh yang sedang berbicara dengan ponselnya.

Hong Gi Hoon hanya duduk mendengarkan sambil meneguk vodkanya.

“haaah…syukurlah dia bisa mengerti…” ujar Tuan Oh menghela napas lega. Keringat dingin yang membanjiri keningnya dilapnya dengan sapu tangannya.

“jadi?” tanya Gi Hoon.

“jadi mereka meminta agar pengiriman terakhir ini tetap terlaksana…dan untuk itu Wakil Direktur tak perlu khawatir..saya sudah menyuap sebanyak mungkin para pengawas dermaga…saya pastikan Tuan Hong akan melewati sabtu malam nanti dengan tenang…” jawab Tuan Oh.

“baguslah kalau begitu…karena aku sendiri juga menyuap suruhan ayahku agar ia tidak menyelidikiku…kau paham resikonya kan Tuan Oh jika aku sampai terlibat…” ujar Gi Hoon dengan tatapan menusuk.

“sa..saya mengerti..oleh karena itu saya sama sekali tidak membawa nama Wakil Direktur dalam masalah ini…” jawab Tuan Oh.

Hong Gi Hoon kemudia mengambil sebuah gelas kosong, menuangkan vodkanya lalu memberikannya pada Tuan Oh.

“ah terima kasih Wakil Direktur..” jawab Tuan Oh.

“untuk nasib dan keberuntunganmu…” ujar Gi Hoon sebelum ia menegak vodkanya.

-09:00 PM , Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul –

Yo Won berjalan sambil memapah ayahnya menuju tempat tidurnya. Ia membukakan selimut agar ayahnya bisa berbaring.

“istirahatlah ayah…” kata Yo Won sambil tersenyum, menyelimuti ayahnya.

“oh ya ayah akan mengadakan pesta penyambutanmu…ayah ingin mengenalkanmu pada teman-teman ayah…” ujar Tuan Lee.

“ayah..ayah tidak perlu sampai mengadakan pesta untukku…” Yo Won tersenyum menatap ayahnya.

“ayah ingin menunjukkan pada dunia..bahwa ayah memiliki putri yang sangat cantik dan manis…” canda Tuan Lee.

Yo Won hanya bisa tersenyum lebar menggelengkan kepalanya kemudian ia meredupkan cahaya lampu meja di samping tempat tidur ayahnya. “nah sekarang ayah harus tidur..selamat tidur ayah…” ia mengecup kening ayahnya.

“selamat tidur putriku..” jawab Tuan Lee.

Yo Won kemudian beranjak dari duduknya, mematikan lampu kamar ayahnya, dan berjalan keluar dari kamar ayahnya. Ia berjalan menuju ujung lorong dimana kamarnya berada.

“blamm…” ia menutup pintu kamarnya kemudian duduk di kursi dimana meja kerjanya sudah menanti dengan beberapa berkas yang harus dibacanya, dimulai dengan map-map yang berisi data diri staff Divisi Produksi serta Kim Chul Gyu. Ia membacanya dan kemudian memilahnya. Ia memisahkan data Manager Ju dan Kim Chul Gyu dengan yang lainnya. Sampai akhirnya ia pun sampai pada map yang terakhir dengan nama Shim Gun Wook. Yo Won cukup terkejut dengan apa yang dibacanya.

“wow..seharusnya dengan riwayat pendidikan dan pengalaman seperti ini seharusnya ia bisa memperoleh jabatanyang lebih tinggi…” pikir Yo Won.

“Kim Chul Gyu..” ia teringat kejadian tadi siang dimana ia sangat yakin kalau tadi Gun Wook menyebut nama itu.

Ia membuka kembali data Kim Chul Gyu untuk mencari hubungan antara Gun Wook dengannya.“mereka sekarang tinggal di wilayah yang berbeda..Kim Chul Gyu sepertinya tidak punya riwayat tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama dan Gun Wook pun juga tidak pernah menetap di sini sejak diadopsi…dan mereka berdua bukanlah saudara ataupun kerabat…apakah ia cuma kebetulan tahu tentang Kim Chul Gyu?” gumam Yo Won. Ia menatap pas foto Gun Wook yang tercantum di situ. Sekilas tatapan Gun Wook tadi padanya terlintas di benaknya. Tatapan seakan-akan Gun Wook tadi sebenarnya tidak ingin pergi. Yo Won pun menggelengkan kepalanya “astaga apa yang kupikirkan?” lalu menutup map itu dan meletakkannya menjadi satu dengan susunan map para staff Divisi Produksi yang lain.

-09:15, Kediaman Keluarga Hong, Gangnam-gu, Seoul-

Sebuah mobil SUV Infiniti FX hitam melambat dan berhenti di depan kediaman keluarga Hong.

Mo Ne melirik tembok rumahnya. “oppa tak bisakah kita jalan-jalan lebih lama?” ujarnya dengan raut setengah cemberut.

Gun Wook menoleh “hari sudah malam…tidak baik seorang perempuan baik-baik pulang larut malam…”

Mo Ne pun menghela napas panjang dan tersenyum “meskipun singkat..tapi hari ini aku senang sekali bisa jalan-jalan dengan Oppa…dan sebagai tanda terima kasihku…” tiba-tiba Mo Ne mengecup pipi kanan Gun Wook. Dan segera mengalihkan wajahnya yang mendadak memerah. “terima kasih oppa..sampai jumpa.. “ dengan terburu-buru,ia segera turun dari mobil Gun Wook dan masuk ke kediamannya melalui pintu kecil.

Gun Wook hanya menoleh sebentar dengan tatapan datar sebelum ia kembali memacu mobilnya.

“drrrt…drrt…” ponsel di sakunya bergetar. Ia segera mengambilnya dan mengangkatnya

“aku sudah mendapatkan data-data yang kau minta dan sudah kukirim ke emailmu…” sahut lawan bicaranya itu..dan mengenai penyelundupan itu..sepertinya ada pihak asing yang terlibat..ada desas desus bahwa itu dijual untuk para pemberontak dari negara lain atau teroris…jadi aku tak mau ikut campur di dalamnya…” sahut lawan bicaranya.

“aku mengerti…pembayarannya akan kulakukan seperti biasa…” jawab Gun Wook.

“bagus..senang berbisnis denganmu…” jawab lawan bicaranya itu.

“pip..” tanpa basa basi Gun Wook mengakhiri pembicaraannya di ponselnya itu dan kembali fokus pada kemudinya.

6 komentar:

  1. waaa..makin keren aja nih ceritanya..
    H2C nunggu kelanjutan :D

    BalasHapus
  2. waah makasih yaa buat supportnya :D

    BalasHapus
  3. j'rien biver6 Mei 2011 15.54

    kpn nih crta'a berlanjut???
    dh d tgu tiap hri tp gg da yg terbaru...
    d tgu scpt'a nie..

    BalasHapus
  4. lanjut lanjut lanjut... harus lanjut....

    BalasHapus
  5. @j'rien: maaf..maaf...tugas kuliah authornya lagi menggunung (padahal udah dicicil tiap hari tetep aje >~<) jadi pengerjaan ff'nya tertunda

    BalasHapus