Pages

Sabtu, 07 Mei 2011

The Hidden Wounds Chapter 06: Behind Them




genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

- May 6th 2009, 11:15 AM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“Nona Yuri, apakah setelah jam makan siang jadwalku kosong?” tanya Yo Won yang baru saja selesai menandatangani berkas yang tadi dibawakan Yuri.

Yuri pun segera memeriksa tabbynya “setelah makan siang, akan ada presentasi dari Manager Divisi Marketing dan Sponsorship mengenai rencana perusahaan untuk ikut serta dalam kompetisi F1 yang akan dibuka di Sirkuit Yeongnam nanti…dan setelah itu jadwal Wakil Direktur kosong…” Yo Won hanya mengangguk kepalanya lalu melirik jam tangannya.

“apakah Wakil Direktur ingin melakukan sesuatu?” tanya Yuri.

“sebenarnya aku ingin pergi ke Pelabuhan Gyeonggi…” jawab Yo Won.

“mwo?Pelabuhan Gyeonggi?untuk apa?” Yuri terkejut mendengarnya.

“aku ingin mengetahui apakah jumlah minyak di kapal tanker dari Daesan jumlahnya sama dengan saat dikirim..sebelum diekspor, kapal tanker harus transit lebih dulu di Pelabuhan Gyeonggi itu diperiksa…lalu baru berangkat ke Terusan Suez dan kemudian tiba di Eropa..oleh karena itu aku ingin memastikan sendiri apakah ada penyelundupan atau tidak saat tiba di Gyeonggi…pastinya mereka menyimpan catatan muatan barang setiap kapal yang sebelum-sebelumnya…” jawab Yo Won.

“hmm..kalau Wakil Direktur ingin ke sana, saya akan memasukkannya ke dalam jadwal Wakil Direktur dan menyiapkan supir untuk ke sana…”  ujar Yuri seraya memainkan tabbynya.

“terima kasih Nona Yuri..” jawab Yo Won.

“hei Gun Wook?” kau tidak makan siang?” tanya salah seorang staff Divisi Produksi, rekan kerja laki-laki Gun Wook menghampiri meja Gun Wook.

“ya nanti aku akan menyusul..” jawab Gun Wook.

“kau sedang browsing tentang apa?” tanya temannya sambil menunjuk layar komputer Gun Wook.

“ah..aku hanya ingin membaca berita internasional saja sambil menunggu email dari manager penanggung jawab Kilang di Rusia…” jawab Gun Wook.

“oke..kalau begitu aku dan yang lain duluan…” jawab rekan kerjanya itu, lalu ia keluar dari ruangan Divisi Produksi diikuti rekan kerja Gun Wook yang lain.
Gun Wook kembali membaca tulisan-tulisan yang muncul di situs berita yang dibacanya. “Pasar Gelap di Laut Cina Selatan, Surga bagi Para Pemberontak.” Sebuah artikel berita dari website stasiun televisi  SBC yang ditulis oleh Choi Soo Hyun. Gun Wook mengklik link artikel tersebut dan kemudian membacanya. 
Begitu selesai membacanya, ia segera membuka ponselnya dan kemudian memasukkan lokasi Laut Cina Selatan ke dalam peta yang ada di ponselnya. Ia pun bersandar pada kursinya sambil menatap layar komputernya yang sudah dimatikan
“jika aku berhasil membongkar ini..maka akan semakin mudah aku menghancurkan dia..” gumamnya pada wajahnya yang tercermin kaca layar komputer.
    
-03:10 PM Gyeonggi Harbor Complex, Gyeonggido-

“blaam..blaamm…” Yo Won dan Yuri berjalan keluar dari mobil Hyundai Equuz hitam yang membawa mereka. Sekarang mereka berada di tempat parkir Pelabuhan Gyeonggi. “kita harus bisa bertemu dengan Kepala Gudang Pelabuhan Tae Wang…” ujar Yo Won.

“tadi kata penjaga gerbang…kita cukup berjalan lurus sampai ujung dan belok ke kanan dan berjalan menuju Gudang
Pelabuhan nomor 10..” jawab Yuri sambil membuka notesnya. Kali ini tabbynya ditinggal di mobil karena habis baterai.

“baiklah ayo kita jalan..” ujar Yo Won.

“maaf Nona Lee, apakah tidak sebaiknya saya menemani Nona…Pelabuhan barang seperti ini bukanlah tempat dimana para wanita umumnya berada..” ujar Jo Min Shik yang juga ikut keluar dari mobil.

Yo Won hanya tersenyum “kami hanya pergi sebentar Paman…sebaiknya Paman menunggu di sini saja…”

“tenang saja Paman…aku sabuk hitam taekwondo..” seru Yuri sambil memamerkan lengannya. Jo Min Shik hanya bisa menghela napas panjang dan tersenyum “baiklah saya akan menunggu nona di sini…”
Yo Won hanya tertawa melihat gaya assistannya itu dan berjalan diikuti Yuri. 

“UOOONG!!” terdengar suara mesin-mesin pemindah container yang tersusun melintas di atas kepala Yo Won dan Yuri.  Para pekerja pelabuhan yang melintas dekat mereka laki-laki menatap Yo Won dan Yuri dengan heran. “hei lihat ada wanita di sini…sungguh pemandangan langka…” celetuk salah seorang dari mereka yang diikuti tawa yang lain, meskipun begitu Yo Won tetap berjalan dengan percaya diri diikuti Yuri yang sedang mengamati ke sekeliling pelabuhan.

“ah itu dia gudang pelabuhan nomor 10..” Yuri menunjuk pada sebuah bangunan besar berbentuk seperti hangar pesawat hanya saja ini di atas air dengan angka 10 terpampang pada dindingnya yang berwarna kelabu.

-03:30 PM Gyeonggi Harbor Storage No. 10, Gyeonggido-

“ya tenang saja Manager Ju…saya sudah melakukan persiapan semaksimal mungkin…” seru Kim Chul Gyu yang sudah menelepon dengan ponselnya. Lalu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berjalan menuju pojokkan tempat peti-peti dan drum minyak diletakkan. “mengenai oplosannya sudah disiapkan juga…” bisik Chul Gyu.

“hei lihat..ada dua wanita cantik berjalan ke sini…” seru salah seorang pekerja pelabuhan dari jendela lantai atas gudang. Para pekerja yang lain pun ikut berlarian ke jendela.”wah..wah jarang sekali kita kedatangan wanita..” Kim Chul Gyu yang baru saja mematikan ponselnya pun ikut bergabung bersama rekan-rekan kerjanya. “ada apa?ada apa?” ujarnya sambil berusaha menembus keramaian. “waah..cantiknya…” gumam Chul Gyu.

“hei..hei apa yang kalian lihat?” Seorang pria dengan nama Son Jong Hwan dibordir di seragamnya memukul kepala para pekerja dengan koran yang digulung. Ia pun melihat ke jendela. Matanya terbelalak begitu melihat siapa yang datang

“astaga...” pikirnya. Ia pun segera menghadap ke arah para pekerjanya “segera bersiap rapikan tempat ini!!Wakil Direktur Lee datang!!” serunya. Ia segera mengenakan topi biru dengan logo Tae Wang dan berlari menuruni tangga. Begitu mengetahui siapa kedua wanita itu, Chul Gyu pun menelan ludah. “gawat..jangan-jangan mereka ingin menyelidiki masalah pengiriman minyak…aku harus sembunyi…”
Yo Won dan Yuri berjalan masuk ke dalam gudang pelabuhan.

“tang!tang!tang!” terdengar suara derap langkah kaki banyak orang menuruni tangga besi. Puluhan pekerja gudang pelabuhan berlarian menuju lantai dasar, tempat dimana Yo Won dan Yuri berdiri.

“selamat datang Wakil Direktur…” ujar Son Jong Hwan dengan napas agak terengah-engah. Bersama dengan para pekerja yang berbaris, ia memberi hormat kepada Yo Won.

“ah apakah anda Kepala Gudang Pelabuhan ini?” tanya Yo Won.
Son Jong Hwan mengangguk dan membungkukkan badan “saya Son Jong Hwan, Kepala Gudang Pelabuhan Nomor 10 Gyeonggi..”

“ah syukurlah kalau begitu…sebenarnya kami bermaksud datang untuk meminta data terkait pengiriman kapal dari Kilang 1 Daesan dan Kilang 3 Ulsan..bisakah kami meminta data terbarunya sekarang?” tanya Yo Won.

“tentu…silahkan lewat sini..” ujar Son Jong Hwan sambil mempersilahkan Yo Won dan Yuri naik ke atas.

“sial…sial..rupanya dia turun tangan sendiri untuk mengatasi masalah ini…” geram Chul Gyu dari balik peti dan drum minyak. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan bersiap untuk menelpon. Namun tangannya terhenti ketika akan menekan tombol call pada nama Manager Ju yang terpampang di layar. Kemudian ia pun tersenyum lebar

“daripada aku menelponnya lebih baik aku saja yang mengerjai mereka agar mereka tidak lagi datang ke sini…” gumamnya. Ia pun segera keluar dari tempat persembunyiannya dan sambil mengendap-endap berjalan keluar.

-03:40 PM Uiwang, Gyeonggido-

“Hallo…Senior Kang..maafkan aku sepertinya hari ini aku tak bisa membawa laporan dari lab ke kantor hari ini mobilku tiba-tiba mogok tak jauh dari lab..” kata Gun Wook yang sedang menelpon dengan ponselnya di dalam mobilnya yang mati, di tepi jalan raya.

“ah..tidak apa-apa…kau bawa saja hasilnya besok…sekarang kau bawa mobilmu ke bengkel…kau perlu nomor Derek mobil?aku punya bengkel langganan..” jawab lawan bicaranya itu.

“ah terima kasih Senior…aku juga sudah menelpon derek mobil dan sekarang sedang menunggunya..maaf telah merepotkanmu…” jawab Gun Wook.

“oh untunglah kau sudah menelponnya..ya..ya..tidak apa-apa…kutunggu hasil labnya besok..” kata rekan kerjanya itu.
baik senior Kang..terima kasih banyak..”

“ya..sama-sama..sampai besok..” “tut..tut..tut..”  telepon pun terputus.

Gun Wook tersenyum tipis menatap ponselnya lalu memutar kunci mobilnya yang sudah terpasang pada kemudinya.
“brrm..brrm..” mobil SUV infiniti FX hitamnya pun menyala. Gun Wook segera memacu mobilnya menuju jalan raya.

-03:42 PM Gyeonggi Harbor Storage No. 10, Gyeonggido-

“ini datanya…” Son Jong Hwan menyerahkan sebuah file holder kepada Yo Won. Yo Won pun segera membukanya dan membacanya bersama dengan Yuri.

“angka-angka ini apakah benar-benar murni bahwa muatan yang dibawa ke semuanya adalah hasil dari Kilang 1 Daesan dan Kilang 3 Ulsan?” tanya Yo Won.

Son Jong Hwan pun nampak bingung dengan maksud pertanyaan itu. “tentu saja Wakil Direktur, kami melakukan prosedur pemeriksaan sesuai dengan peraturan yang berlaku…kami melihat dari kedalaman tangki yang diisi dengan minyak lalu memeriksa juga kandungan isinya..apakah sesuai dengan yang dipesan atau tidak..” jawabnya.
Yo Won dan Yuri pun yang duduk bersebelahan saling bertukar pandangan. “ah kalau begitu apakah kami bisa bertemu Kim Chul Gyu?” tanya Yuri.

“Kim Chul Gyu?saya akan segera memanggilnya. Son Jong Hwan pun berjalan keluar dair ruangannya. “hei panggil Kim Chul Gyu ke ruanganku!!”serunya dari pelataran tangga. Para pekerja pun pada bergantian menoleh ke sekeliling mereka dan mulai memanggil-manggil nama Kim Chul Gyu. “Kim Chul Gyunya tidak ada…” seru salah seorang pekerja dari bawah.

“apa?bukankah tadi dia ada di sini?” pikir Son Jong Hwan. Ia pun kembali masuk dalam ruangannya.

“maaf Wakil Direktur..sepertinya Kim Chul Gyu sedang keluar…mungkin hari senin nanti saya bisa meminta dia datang ke kantor pusat untuk menemui Wakil Direktur..” ujar Son Jong Hwan.

“ah tidak perlu…aku hanya ingin menanyakan sesuatu saja…” jawab Yo Won. Kemudian ia pun berdiri dari tempat duduknya.

“kalau begitu kami pamit undur diri…kamu harap kedatangan kami yang mendadak tidak menganggu aktivitas kerja di sini…”  ujar Yo Won.

“ah…seharusnya saya yang meminta maaf kepada Wakil Direktur dan asisstannya karena kondisi kantor yang berantakan seperti ini…” ujar Song Jong Hwan sambil membungkukkan badan. Kemudian ia mengantarkan Yo Won dan Yuri sampai keluar gudang pelabuhan.

“jika benar datanya demikian..berarti penyimpangan datanya bisa terjadi di pelabuhan akhir atau di sepanjang perjalanan…” ujar Yuri dengan gaya sambil berpikir.

“aku sudah meminta data dari kantor cabang yang di Jerman…katanya pihaknya sempat bertengkar dengan pihak gudang pelabuhan mengenai masalah ini…pihak pelabuhan ngotot bahwa hasilnya sama sesuai dengan pesanan dan mereka bersikeras tidak melakukan penggelapan hasil ataupun penyelundupan dan menuduh pihak kantor cabang yang melakukan kesalahan hitung atau yang melakukan penyelundupan…tapi pihak kantor cabang bilang bahwa begitu mereka mengukur kembali minyak yang dikeluarkan dari truk pembawanya..hasilnya berkurang... ” sahut Yo Won.

“masalah ini seperti benang kusut saling terikat satu sama lain sehingga sulit menemukan pangkalnya…” ujar Yuri.

Yo Won menarik napas dalam-dalam “ya..oleh karena itu aku ingin meluruskan benang kusut ini…”

Yuri pun mengepalkan tangan kanannya “aku Shin Yuri akan selalu berusaha segenap tenaga membatu Wakil
Direktur..Hwaiting!!” serunya pada Yo Won.

Yo Won pun pun tertawa “terima kasih ya Nona Yuri…”

Mereka mendadak berhenti berjalan. “lho kok jalannya ditutup?kenapa ada peti kemas di sini?” seru Yuri.
Yo Won menoleh ke kanan. Ada gang yang cukup besar di antara peti-peti kemas yang cukup untuk dilalui orang dewasa. “sepertinya kita  bisa lewat sini…” katanya. Yo Won dan Yuri pun berjalan masuk ke dalam gang itu.

Sementara itu dari atas ruang pengendali transtainer yang tinggi, Kim Chul Gyu hanya tersenyum lebar melihat 2 titik hitam kecil berjalan masuk di antara celah-celah peti kemas. “pelabuhan bukanlah tempat untuk para wanita seperti kalian…” gumamnya.

“peti kemas ini panjang sekali…” komentar Yuri sambil melihat peti kemas yang ada di kanan dan kirinya. Mereka pun terus berjalan sambil mencari celah untuk keluar sampai akhirnya mereka melihat ada pertigaan dengan 1 jalan keluar lurus di depan. “itu dia…” seru Yuri. Mereka pun berjalan menuju ke sana namun dari gang-gang yang lain muncul 6 laki-laki berpakaian urakan layaknya preman.

“wah..wah..rupanya ada dua wanita cantik tersesat di sini..” ujar salah satu dari mereka yang berpakaian kaos hitam. Mereka pun berjalan maju mendekat.

Yuri segera berdiri di depan bossnya dan memasang kuda-kuda “kalian mau apa hah?” serunya.

“nona Yuri…” gumam Yo Won di belakang.

“kami menginginkan kalian nona-nona cantik…ayo teman-teman…” sahut salah seorang mereka yang bertumbuh paling gempal.  Mereka kemudian berlari menuju Yo Won dan Yuri.

“Wakil Direktur berlindung di belakangku…” ujar Yuri. “heaaa!!” ia berlari ke depan, melompat dan melakukan tendangan. 3 dari geromblan itu pun jatuh ke belakang.

“Wakil Direktur ayo kita lari…” seru Yuri sambil menarik tangan Yo Won kemudian berlari.

“kejar mereka!!” seru para gerombolan itu.

Yo Won dan Yuri berlari melintasi gang yang ada.  Yo Won menoleh ke belakang, para gerombolan itu masih mengejar mereka.

“mau kemana kau nona?aku tak akan membiarkanmu lari!!” seru salah seorang dari gerombolan itu dengan kebejatan tercermin di wajahnya.

“dug..dug..dug..” Yo Won bisa merasakan jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Keringat dingin mengaliri wajahnya. “Ya Tuhan jangan sekarang..” gumamnya gemetar.

“sraaat…” Kedua kaki Yuri melesat di atas pasir saat berbelok. Namun ternyata yang menanti mereka adalah tembok. Para pengejar mereka pun tertawa puas begitu melihat Yo Won dan Yuri terjebak.

“Wakil Direktur…apa Wakil Direktur baik-baik saja?wajah Wakil Direktur pucat sekali…” tanya Yuri dengan khawatir.

“ya..aku baik-baik saja..” jawab Yo Won sambil menyembunyikan kedua tangannya yang gemetar di belakang.
Para gerombolan itu berjalan mendekat. “ternyata kalian memilih mengejar kami..baiklah kalau kalian lebih memilih untuk menerima tendanganku lagi..” bentak Yuri.
Para gerombolan itu hanya tersenyum lebar.

“Wakil Direktur..begitu aku mulai menghajar mereka Wakil Direktur harus lari…” ujar Yuri sambil memasang kuda-kudanya

“nona Yuri…aku tak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini…”

“Hentikan!!” terdengar suara laki-laki dari belakang tembok. Kemudian dari atas tembok melesat bayangan manusia dan mendarat tepat di antara gerombolan. “sraaat…” suara sepatu yang menyapu pasir di jalan.

“Hyun!!” seru Yuri.

“lawan kalian adalah aku…” seru Choi Soo Hyun.

“sialan…maju semua!!” seru pria bertumbuh gempal. Para gerombolan itu pun berlari menuju Soo Hyun.

-04:15 PM Uiwang, Gyeonggido-

Dari dalam mobilnya, Gun Wook duduk diam dengan mata mengawasi orang-orang yang keluar masuk pemandian umum yang berada tak jauh dari mobilnya.

“aku sudah menyelidiki alamat rekening tujuan transfer Ju Bae Ho namun setelah kuselidiki rupanya identitas yang digunakan untuk rekening itu adalah identitas orang yang sudah meninggal." ia teringat akan percakapan di ponsel yang barusan ia lakukan. 

Sambil melihat foto di tangannya, ia mengamati wajah-wajah orang-orang yang keluar masuk. “itu mereka…” gumamnya begitu melihat 3 orang pria dengan tato bergambar jangkar kapal di lengan kanan mereka yang kekar. Ketiga pria itu berjalan masuk ke dalam pemandian umum itu. Gun Wook kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju pemandian umum itu. Gun Wook membayar sejumlah uang pada penjaga pemandian umum yang duduk di meja tengah kemudian mengambil baskom kecil yang berisi handuk, shampoo, dan sabun lalu berjalan menuju ruang ganti pria. Hanya ada dirinya dan 3 orang pria bertato itu. Gun Wook memilih untuk bergnati pakaian di lorong loker yang berbeda dengan mereka


“kalian tahu apa reaksi istriku begitu melihat uang yang kuberikan padanya pada hari ini?ia langsung memelukku dengan gembira dan mengajakku bercinta…” seru salah seorang dari mereka yang berambut cepak. Teman-temannya pun menertawakannya.

“sayang setelah ini kita harus kembali hidup susah…gara-gara seorang wanita yang menyusahkan, Chul Gyu harus menghentikan bisnisnya itu..” sahut salah seorang pria yang mengenakan anting di telinga kanannya.

“hah ya sudahlah yang penting sekarang kita bersenang-senang..toh Chul Gyu sendiri pastinya akan mengusahakan bisnisnya kembali berjalan..ia kan juga memperoleh uang yang banyak dari sini..” sahut temannya yang baru saja selesai melepaskan celananya.  Setelah selesai menanggalkan pakaian mereka dan mengenakan handuk di pinggang, merekapun berjalan ke arah ruang pemandian.

-04:23 PM Gyeonggi Harbor Storage No. 10, Gyeonggido-

“lari!!” seru para gerombolan itu sambil berlari memapah teman mereka yang terluka. “sial..” gumam Soo Hyun menghapus darah dari pipinya. Ia pun segera menghampiri Yuri dan Yo Won “kalian tidak apa?untung saja tadi reporter dan kameramenku sempat melihat kalian berlari-lari..dan aku mendegar teriakanmu…” ujar Soo Hyun yang masih terengah-engah.

“ya..aku baik-baik saja tapi sepertinya Wakil Direktur..” jawab Yuri sambil menatap Yo Won dengan wajah khawatir. Yo Won menggenggam erat lengannya seakan-akan takut jika ia melepaskannya ia akan jatuh. “Wakil Direktur, anda baik-baik saja kan?” tanya Yuri dengan khawatir.

Yo Won menarik  napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “ya aku baik-baik saja…”  jawabnya sambil menatap Soo Hyun dan Yuri. Ia pun perlahan melepaskan genggaman tangannya dan kemudian tersenyum dan membungkukkan badannya “aku baik-baik saja hanya sedikit kelelahan…terima kasih karena telah menolongku…”

“kalau begitu lebih baik kita segera kembali ke mobil agar Wakil Direktur bisa beristirahat…” ujar Yuri yang masih khawatir.

-09:15 PM Uiwang, Gyeonggido-

Gun Wook berjalan keluar dari sebuah bar karaoke dan masuk ke dalam mobilnya yang diparkir tak jauh dari sana. Ia mengeluarkan ponselnya dan memasukkan sederet nomor lalu menelepon.

“kau sudah tentukan senjata yang cocok?” terdengar suara lawan bicaranya menyahut.

“aku menginginkan Colt M1991AI lengkap dengan peredamnya dikirim malam ini juga..”

“pelurunya?” tanya lawan bicaranya

“dua catridge cukup untuk besok..” jawab Gun Wook.

-  09:16 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul –

Yo Won sedang duduk di meja kerjanya sambil menelepon, dengan laptop di hadapannya menampilkan data-data diri orang-orang.

“Wakil Direktur…lebih baik besok kita kirim beberapa orang dari yang kurekomendasikan itu ke sana untuk menyelidikinya diam-diam…orang-orang ini dulu adalah kepercayaan Direktur Lee jika harus menyelidiki dan menilai sesuatu…jadi pastinya bisa dipercaya..” terdengar suara Yuri dari telepon tersebut.

“saranmu akan kupertimbangkan Nona Yuri…nanti akan kuberitahu mengenai keputusanku besok pagi..terima kasih Nona Yuri atas data-datanya dan maaf karena telah merepotkanmu malam-malam begini…” jawab Yo Won yang sedang mempelajari data-data yang baru saja dikirim Yuri via email.

“Wakil Direktur tidak perlu sungkan seperti itu..justru saya merasa bersalah karena saya tidak menjadwal kegiatan Wakil Direktur dengan baik sehingga Wakil Direktur bisa kelelahan seperti tadi..maafkan saya..” ujar Yuri dengan nada penuh rasa bersalah.

“sudahlah tidak perlu dipikirkan lagi…staminaku memang tidak begitu bagus…kalau begitu selamat beristirahat Nona Yuri…selamat berakhir pekan besok…” kata Yo Won sambil tersenyum.

“sama-sama Wakil Direktur…selamat malam..” balas Yuri.

Telepon pun terputus. Yo Won meletakkan telepon cordlessnya di meja dan kembali fokus pada laptopnya.
“apakah sebaiknya aku mengikuti saran Yuri atau menyelidikinya sendiri?” pikir Yo Won.
Terngiang kembali dalam benaknya kejadian buruk yang menimpanya di pelabuhan tadi siang. Ketika segerombolan laki-laki mengejar dirinya dan asistennya.

“aku akan lebih berhati-hati besok...” gumam Yo Won sambil memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“mau kabur kemana kau?..aku tak akan membiarkanmu lari?” tiba-tiba terngiang suara seorang pria. Suara yang berbeda dengan suara pria yang tadi mengejarnya tadi siang. Dan terlintas dalam benaknya sebuah bayangan hitam sedang mengejarnya-ngejarnya. Lalu sebuah seringai yang sangat jahat. “dug..dug..dug..” jantung Yo Won mendadak berdetak cepat. Kedua tangannya gemetar. Keringat dingin mengalir membasahi keningnya.

“nona Yo Won!!” So Hwa yang berdiri di depan pintu segera meletakkan nampannya yang membawa segelas susu dan berlari memeluk Yo Won.

“nona..nona tenanglah…” ujar So Hwa yang sekarang sudah memeluk nonanya itu dari belakang.

“bibi…kenapa itu selalu muncul dalam benakku bi..kenapa…bahkan di saat penting seperti ini itu terus menghantuiku…” gumam Yo Won gemetar sambil memeluk kedua lengan bibinya yang memeluknya.

So Hwa hanya bisa memeluk Yo Won dengan mata yang berkaca-kaca “tenanglah nona…itu tak akan kembali terjadi…”

-09:23 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul-  

Yuri meletakkan telepon rumahnya ke tempatnya semula kemudian kembali menatap laptopnya.
“bagaimana?” tanya Soo Hyun yang sekarang duduk di sampingnya. Duduk di atas karpet berwarna hijau muda di ruang keluarga apartemen Yuri.

“Wakil Direktur bilang ia akan mempertimbangkan usulanku…” jawab Yuri yang baru saja mengklik icon turn off.

Soo Hyun menuangkan teh ke dalam mug lalu menyerahkannya kepada Yuri. “untuk sementara ini kusarankan kau dan Nona Lee jangan pergi ke pelabuhan itu..siapa tahu gerombolan itu akan balas dendam dan ada anggota pemberontak asing atau sindikat black market yang mengganggu kalian…”

“mwo?pemberontak asing di Pelabuhan Barang Republik Korea?” kedua alis Yuri terangkat.

Soo Hyun terdiam sebentar seakan-akan mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berbicara “itu baru dugaan…sebenarnya tadi diam-diam aku juga sedang menyelidikinya tadi di sana…berkaitan dengan masalah pemberontak asing dan black market…”

Yuri pun  segera menarik tangannya yang dari tadi digenggam Soo Hyun “mwo?bukankah tadi Hyun di sana untuk meliput mengenai masalah impor dari Jepang?jadi Hyun selama ini diam-diam sudah keluar masuk dalam black market dan mencari informasi di sana?!” Yuri pun segera bangun dari duduknya

Soo Hyun segera mengenggam tangan Yuri “dengarkan aku dulu…aku tahu kau pasti tidak akan menyukai ini tapi jika aku berhasil mengungkapnya maka negara ini akan terbebas dari ancaman perompakkan…kau tahu kenapa akhir-akhir ini kapal kita sering dibajak?itu semua karena adanya kerjasama dari pihak dalam..oleh karena itu aku ingin menyelidikinya..”
Yuri tetap saja berdiri memunggungi kekasihnya itu.

“Hyun tahukan kenapa sekarang aku hanya tinggal sendiri?” tanya Yuri.

“Yuri…” gumam Soo Hyun.

“ibuku sudah meninggal sejak kecil..aku dan ayah tidak punya sanak keluarga lain…ayahku yang kuyakini bekerja sebagai wartawan koran ternyata adalah seorang mata-mata negara…dan begitu aku menyadarinya ternyata ayah sudah tak bernyawa karena diam-diam menyelidiki mata-mata Korea Utara setahun yang lalu…dan sekarang kau diam-diam menyelidiki hal yang sama bahayanya…bagaimana nanti jika…” Yuri berdiri dengan kedua tangan terkepal gemetar.

Soo Hyun memeluk kekasihnya itu dari belakang “itu tak akan terjadi…aku tidak bergerak sendirian…kami bergerak dalam sebuah tim…dan kami tidak melakukan hal-hal yang bahaya yang seperti kau yang pikirkan..kami hanya menyelidiki sesuai dengan prosedur jurnalis bukan militer maupun mata-mata…” Kemudian ia memutar badan Yuri sehingga ia bisa melihat wajah Yuri yang sudah berlinang air mata. Dengan kedua jempolnya, ia menghapus air mata Yuri yang sudah berjatuhan kemudian mendekapnya dalam pelukannya.

“aku tak mau ditinggal sendirian lagi..” isak Yuri.

“aku berjanji akan selalu di sisimu Yuri.…” gumam Soo Hyun sambil memeluk kekasihnya itu dengan erat.

1 komentar: