Pages

Minggu, 10 Juli 2011

The Hidden Wounds Chapter 12: Burden

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

- May 12th 2009,  08:20 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“maaf semuanya..aku tak bisa menjawabnya sekarang…” ujar Yuri yang sedang berhadapan dengan beberapa wartawan. Yuri memadang keluar lobby dengan cemas.

“ckiiit..” Hyundai Equuz hitam berhenti  tepat di depan lobby Tae Wang Emporium Power. Para wartawan dan reporter yang berdiri di lobby pun segera menghambur menuju ke mobil.  Beberapa anggota security pun ikut turun dan berusaha menjauhkan para wartawan dari pintu kursi penumpang mobil.

“Wakil Direktur Lee, apa benar anda melanggar peraturan OPEC dengan memakai minyak cadangan?” tanya salah seorang wartawan.

“blaam..” Yo Won keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah tegak didampingi pihak security berjalan masuk ke dalam lobby.

“Ms. Lee, is that you who give an order to use oil reserve?” desak salah seorang wartawan asing.

“Wakil Direktur Lee, San Hao Group menuduh anda sudah bermain belakang dengan Presiden OPEC, bagaimana tanggapan Anda?” tanya salah seorang wartawan yang berdiri di samping Yo Won.

Yuri segera menghampiri Yo Won yang sudah masuk di dalam lobby dan memberi hormat. Pihak security pun segera membentuk barisan ke samping menjadi pembatas antara Yo Won dengan pihak wartawan.

“Wakil Direktur, sepertinya pihak San Hao Group ingin mempermasalahkan pemakaian minyak cadangan itu…” bisik Yuri.

“aku mengerti…aku akan mengadakan konferensi pers mengenai ini…” jawab Yo Won.

“bahkan Anda dikabarkan sudah merayu bahkan menyuap Presiden OPEC, apakah itu benar?” tanya salah seorang reporter televisi.

Mendengar pertanyaan itu, Yo Won pun menoleh. Ia berjalan mendekati barisan security dan berdiri di antara mereka. “saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran para wartawan dan jurnalis sekalian di sini..namun mohon maaf saya hanya akan menjawab semua pertanyaan nanti saat saya akan mengadakan konferensi pers…terima kasih..” Yo Won pun membungkukkan badan, kemudian membalikkan badannnya  dan berjalan bersama Yuri menuju lift.

-  09:16 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul –
“Vice Director of  Tae Wang Corp. Broke OPEC Rules?Is There Any Affair Behind Them?”

Tuan Lee meremas remote tv di tangannya. Melihat putrinya dikerumuni wartawan yang meghujaninya dengan pertanyaan. Dan ia pun semakin geram ketika mendengar salah seorang menanyakan apakah benar Yo Won sudah merayu atau menyuap Presiden OPEC. Sebagai seorang ayah, ia tidak terima putrinya dituduh melakukan tindakan hina seperti itu.  

“Tuan..kendalikan emosi Anda…”  Sohwa yang berdiri di samping Tuan Lee nampak cemas. Takut tekanan darah tuannya itu akan melonjak kembali.

“hubungkan aku dengan putriku..sekarang..” ujar Tuan Lee

- 09:16 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“kami dari San Hao Group ingin meminta kejelasan dari pihak OPEC mengenai pemberian izin kepada Tae Wang Petroleum Corp. untuk menggunakan cadangan minyak mereka…” kata Hong Myung Hwan kepada para wartawan yang berdiri mengerumuninya. 

“dilaporkan harga saham Tae Wang Petroleum Corp. menurun sebesar 14 poin pada pembukaan sesi pertama pagi ini..” ujar suara pembawa berita TV.

Yo Won duduk di kursinya menatap berita itu dengan serius sementara Gun Wook duduk di sofa untuk tamu sedang bekerja dengan laptopnya.

“drrt..drrt…” ponsel Yo Won bergetar di atas meja.

Yo Won melihat siapa penelponnya dan segera mengangkatnya “halo..”

“Yo Won kamu baik-baik saja?ayah sangat khawatir padamu..biar ayah yang menggantikanmu menjelaskan semuanya kepada para wartawan itu dan juga Hong Myung Hwan itu..” ujar Tuan Lee.

Yo Won menghela napas panjang “aku baik-baik saja ayah..aku akan segera menyelesaikan masalah ini…jadi ayah jangan khawatir…semuanya akan baik-baik saja sampai kita akan pergi makan malam bersama nanti..”

“Yo Won…jangan paksakan dirimu…” ujar Tuan Lee.

“iya ayah..ayah juga harus menjaga emosi ayah hari ini…sampai ketemu nanti di rumah, ayah..” ujar Yo Won sebelum ia menutup ponselnya.

Gun Wook bangun dari duduknya seraya  membawa laptopnya dan menunjukkannya pada Yo Won hasil kerjanya di laptop itu “Wakil Direktur, videonya sudah siap…”

Yo Won mengangguk begitu melihatnya “terima kasih Shim Gun Wook-ssi..aku ingin video itu bisa ditayangkan saat konferensi pers nanti..” ujar Yo Won.

“tuut..tuut..” telepon di atas meja berbunyi.

Yo Won menekan tombol speaker phone pada telepon itu. “hallo..”

“Wakil Direktur..para wartawan sudah berkumpul dan konferensi pers akan segera dimulai 10 menit lagi..” terdengar suara Yuri dari telepon.

“ya aku akan segera turun ke bawah…” jawab Yo Won.
Ia pun segera bangun dari kursinya dan mengambil map biru yang ada di atas meja kemudian berjalan keluar ruangan diikuti Gun Wook.

“PING” mereka berdua masuk ke dalam lift yang terbuka .Yo Won berdiri di sisi kiri sementara Gun Wook di sisi kanan.

Yo Won berdiri dalam diam sambil memeluk map yang ada di tangan kirinya sementara jemari tangan kanannya bergerak tak menentu. Wajahnya bisa menunjukkan ketenangan namun tidak dengan tangannya. Hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau dirinya sedang gugup. Meskipun ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada tetapi tetap saja tanggung jawabnya atas nama baik perusahaan ayahnya itu masih terasa berat baginya. Nasib nama perusahaannya di mata Korea dan dunia sekarang bisa dibilang bergantung pada caranya menghadapi konferensi pers nanti. Yo Won pun berusaha menghentikannya dengan mengepal tangannya erat-erat. TIba-tiba ada tangan yang menggenggam tangan kanannya. Menggenggamnya dengan erat dan lembut.
Yo Won pun terkejut dan menoleh. Gun Wook sudah berdiri di sampingnya dan menggenggam erat tangannya.

“aku tidak akan melepaskannya sampai kau merasa tenang…” kata Gun Wook dengan tatapan ke depan.

Yo Won pun mengalihkan pandangannya ke bawah. Berusaha menenangkan jantungnya yang mendadak berdebar begitu keras namun hangat.

-09:19 AM , Heritage Club, Seoul –
“sraak..sraak..” Gi Hoon mengenakan jasnya dan menarik dasinya ke atas sambil menatap berita yang ditayangkan di tv. Seringai muncul di wajahnya. Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.

“Gi Hoon..” panggil Jang Se Jin yang masih dibalut selimut di atas tempat tidur.

Langkah Gi Hoon pun terhenti “kuharap kau bisa memanggilku lebih sopan nona Jang…kejadian semalam sudah berlalu saatnya kembali ke kehidupan masing-masing…” Gi Hoon pun kembali berjalan menuju pintu keluar. “BLAAM”

Air mata Jang Se Jin pun menetes 

- 09:31 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
Semua mata wartawan,reporter, dan jurnalis yang ada hadir di auditorium tempat konferensi pers tertuju pada layar proyektor yang sedang menayangkan sebuah video. 

“ because of these reasons,  I’m with another OPEC administrative members believe that Tae Wang Petroleum Corp. can restore the oil reserve in 3 months as Ms. Lee promised to us so we gave agreement for Tae Wang  Petroleum Corp..this is the end of my statement as President of OPEC..I hope this statement will help to clear the problem..thank you..” ujar Mohammad Ali Mahmed, Presiden OPEC.

Tayangan video pun selesai  dan lampu ruangan auditorium kembali dinyalakan. Yuri berjalan ke atas podium dan mengarahkan microphone di meja kepadanya “demikian video pernyataan dari OPEC mengenai persetujuan atas kebijakan ini…apakah masih ada pertanyaan? Is there any question?”

Beberapa wartawan dan jurnalis mengangkat tangannya. Dan dari kelima wartawan yang mengangkat tangan, jurnalis asing dari kantor berita internasional  yang pertama kali.

“yes, the first questioner is Mr. Watson..” panggil Yuri.

“Ms. Lee, can you show to us the reasons why  are you so confident to take this decision? You said before that we shouldn’t worry about Tae Wang Petroleum Corp.’s oil supply but we don’t know if another disaster will happen again, how can you handle that?”

Yo Won pun menyalakan microphone di hadapannya  “thank you before to Mr. Watson for the question, but I can’t promise that I can answer it completely because that is part of our company’s secret, I hope Mr. Watson will understand..won’t you, Mr.  Watson?” 

Jurnalis yang bernama Mr. Watson itu pun tersenyum.
Dengan penuh percaya diri, Yo Won pun bangun dari duduknya dan berdiri di dekat layar proyektor  “okay let us see on projector screen..The first reason why I’m so confident to make this decision is…”

- 09:45 AM, Incheon Int. Airport –
“Gi Hoon, kamu dimana?kenapa telepon ibu tidak diangkat-angkat? ” terdengar suara nyaring Nyonya Hong dari headset Bluetooth yang menempel di telinga Gi Hoon.

“Ibu katakan pada Direktur, aku akan pergi ke Uzbekistan untuk menghadiri tender..katakan padanya aku Hong Gi Hoon tak akan pulang dengan tangan hampa kali ini..” ujar Gi Hoon yang sedang berjalan sambil membawa koper besi di tangan kirinya.

“Uzbekistan?Gi Hoon tunggu…”

“ibu..teleponnya sudah dulu aku sudah akan masuk ke dalam pesawat…sampai nanti..” Gi Hoon menekan tombol off pada ponselnya dan berjalan masuk ke dalam lorong menuju pesawat yang akan membawanya ke Uzbekistan.

“Gi Hoon..Gi Hoon..” panggil Nyonya Hong melalui ponselnya. “tuut..tuut..”

Nyonya Hong nampak cemas, menatap suaminya yang sedang berdiri menatap keluar jendela “dia sedang dalam perjalanan menuju Uzbekistan..katanya ia akan menghadiri tender di sana dan tidak akan pulang dengan tangan kosong…”

Tuan Hong hanya diam saja.

“yobo..apakah kau masih marah pada putra kita?” tanya Nyonya Hong. “ia sudah berusaha dan ia mau berubah…”

“amarahku akan mereda…jika ia merebut tender itu dan membalas kekalahan memalukan yang dialaminya kemarin…” jawab Tuan Hong. Ia membalikkan badannya dan duduk di kursi kerjanya “dan aku ingin kau tidak ikut campur dan membantu anak itu…”

“aku mengerti…” jawab Nyonya Hong.

  - 12:11 PM, Seoul-
Yuri menghirup aroma fetucini yang tersaji di  hadapannya. “rasanya aroma semakin lezat setelah menyelesaikan masalah yang tadi..so delicious..”

Yo Won pun tertawa geli mendengarnya   dan mulai mengambil sumpitnya untuk menyantap sushi pesanannya.

“ah tunggu sebentar Wakil Direktur…” ujar Yuri.

“ya?” Yo Won pun nampak bingung.

Yuri mengangkat gelas lemon teanya “kita harus merayakan ini…merayakan keberhasilan Wakil Direktur..”

Yo Won hanya bisa tersenyum menahan tawa sambil mengangkat gelas teh hijau miliknya.

“cheers..” ujar Yuri sambil mengadu gelasnya dengan gelas bossnya itu kemudian menegak minumannya.

“cheers..” Yo Won ikut menegak tehnya.

“drrt..drrt..” ponsel Yuri bergetar di atas meja. “1 new email”

Yuri pun mengambil ponselnya dan membuka email yang masuk. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“pasti  Soo Hyun-ssi ya?” ledek Yo Won.

“ah…bukan..ini dari tetangga..katanya paketnya sudah sampai di rumah..” jawab Yuri.

“paket?” tanya Yo Won.

Yuri mengangguk “paket untuk hadiah besok…oh ya Wakil Direktur, bolehkah aku meminta bantuanmu?”

“bantuan?tentu saja…apa yang bisa kubantu?” jawab Yo Won.

Yuri mengeluarkan tabby miliknya dan menunjukkannya pada Yo Won “aku kurang paham dengan trend fashion..kuharap Wakil Direktur bisa membantuku memilih apa yang harus kukenakan untuk acara besok..”

- 04:55 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“cklack…” Yo Won mengunci ruangannya dan menyimpan kuncinya di dalam tasnya. Ia melirik ruangan Gun Wook yang masih kosong sejak selesai konferensi pers tadi.

“apakah Shim Gun Wook-ssi sudah pulang?”

Yuri berjalan mendekati jendela ruangan dan mengintip “sepertinya belum...mejanya belum dirapikan..”

“hmm..” Yo Won bergumam sambil menganggukan kepalanya. Ia pun teringat dengan kejadian di lift hari ini. Jantungnya pun berdetak cepat begitu mengingatnya.

“apakah Wakil Direktur butuh sesuatu?” tanya Yuri.

Yo Won pun tersadar dari lamunannya “tidak..aku hanya ingin berdiskusi tentang perbaikan kilang di Amerika..”
Yuri menekan tombol lift yang ada di dekatnya  “ooh..kalau begitu nanti akan kusampaikan agar dia bertemu Wakil Direktu besok pagi..” 

“terima kasih Nona Yuri..” jawab Yo Won.

“PING” pintu lift terbuka mengantar Yo Won dan Yuri menuju lantai dasar.

-06:10 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul- 
Yuri memandang kotak kecil berwarna hitam di tangannya dengan senyum lebar terukir di wajahnya.

“semoga ia menyukainya..”pikirnya.

“Yuri, ini filletnya mau dipakai semua?” seru Soo Hyun dari luar kamar tempat Yuri berada.

“iya..tunggu sebentar..” jawab Yuri. Ia segera menyimpan kotak kecil  itu dalam lemari, mematikan lampu kamarnya danberjalan keluar kamar menuju dapur tempat dimana Soo Hyun menunggunya dengan beberapa kantong belanja. Yuri mengambil celemeknya yang berwarna pink dan mengenakannya.

“akhirnya dipakai juga..kau terlihat manis menggunakan warna itu dibanding warna biru…bahkan dibandingkan saat kau ada di tv tadi…” canda Soo Hyun.

Yuri hanya bisa mendengus dan mengambil panci kecil dari lemari lalu mengarahkan kepada Soo Hyun  “akan kupukul kau jika meledekku lagi…”

Soo Hyun pun mengangkat kedua tangannya seakan-akan sudah menyerah sambil tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.

 Yuri pun berusaha menahan tawanya dan meletakkan pancinya di atas kompor  “Hyun tolong periksa pemanas airnya  apakah sudah betul apa belum…”

“baik Nona..” jawab Soo Hyun.  Ia tersenyum melihat Yuri yang sedang sibuk memasukkan bumbu-bumbu masakan sambil membaca  buku resep di tangannya. Lalu dengan satu gerakan mendadak, ia mengecup pipi kekasihnya itu “I love you in pink..” bisiknya lalu segera pergi meninggalkan Yuri yang protes. Wajah Yuri pun memerah. Dan tentunya bukan karena hawa panas dari masakan yang sedang dibuatnya.

“Hyun…jangan menggodaku terus…” protes Yuri.  Soo Hyun hanya tertawa dari kejauhan. Yuri pun kembali pada pancinya yang berisi kuah kari berwarna coklat

“dasar..” gumamnya sambil tersenyum.

Soo Hyun berjalan ke dalam kamar mandi dan memeriksa kotak mesin  pemanas air yang terpasang di sudut atas jendela kamar mandi. “ctak…ctak..” Soo Hyun menekan tombol mesin pemanas lalu menyalakan kran shower. Air dingin perlahan berubah menjadi hangat di tangannya. Soo Hyun pun mematikan kran shower itu dan mengeringkan tangannya dengan handuk tangan yang tergantung dekat wastafel. “pemanasnya sudah betul..” serunya.

“yaa..” sahut Yuri dari kejauhan.

“drrt..drrt..” ponsel di saku Soo Hyun bergetar. Ia pun mengambil ponselnya dan begitu melihat caller id yang terpampang di layar, ia segera mengangkatnya “hallo..”

-  06:16 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul –
Yo Won menatap cermin di meja riasnya sambil memasang anting di telinga kanannya. Anting berbentuk lingkaran kecil dari emas putih dan berhiaskan berlian-berlian kecil di sekelilingnya.

“tok..tok..” terdengar suara pintu kamarnya diketuk.

“iya..masuk..” jawab Yo Won yang baru saja selesai memasang anting untuk telinga kirinya.

“nona..apakah nona butuh bantuan?” Sohwa melangkah masuk ke dalam kamar. Ia pun menghampiri nonanya itu yang sedang duduk di depan meja rias dan ia pun sadar bahwa sepertinya nonanya itu tidak akan memerlukan bantuan darinya.

“nona terlihat sangat cantik..” kata Sohwa yang berdiri di belakang Yo Won.

Yo Won tersenyum sambil merapikan gaun A-line one shoulder berwarna coklat tua yang dikenakannya  “menurut bibi apakah ini tidak berlebihan?”  
Sohwa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

-06:17 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul-
“ibu..aku kan sudah bilang..aku tak bisa pulang ke Suwon besok…aku masih harus bekerja  di kantor sampai malam besok..” ujar Soo Hyun pada ponselnya…

“besok adalah hari spesialmu…kau tidak mau merayakannya bersama orangtuamu ini?” terdengar suara khas ibu-ibu dari telepon.

Soo Hyun pun bingung bagaimana cara membuat ibunya mengerti “ibu..bukan begitu..”

“Hyun…kau mau karinya pedas atau tidak?” seru Yuri dari luar kamar mandi.

Soo Hyun pun menutup ponselnya dengan tangannya “nanti aku ke sana…” lalu melanjutkan teleponnya lagi.

“tap..tap..tap..sraaak..” Yuri membuka pintu kamar mandi “Hyun kau mau karinya pedas atau tidak?”
Soo Hyun yang sedang mendengarkan perkataan ibunya pun terkejut. Ia pun segera membalikkan badannya, memunggungi Yuri.

“ibu sudah ya..aku masih ada pekerjaan lain..” bisik Soo Hyun pada ponselnya.

Yuri pun berjalan mendekati kekasihnya itu “Hyun?kau sedang menelpon siapa?”

“ooh jadi kamu sedang bersama perempuan itu ya sekarang?pantas ibu telepon ke apartemenmu tidak diangkat..sudah berapa kali ibu katakan supaya kamu mencari kekasih yang lain saja…masih banyak wanita yang lebih baik darinya dan lebih pantas untukmu…ah jangan-jangan kau tidak pulang besok itu karena dia juga?iya kan?” seru wanita yang dipanggil ibu ..”oleh Soo Hyun itu.

Yuri yang mendengar suara di telepon itu segera membalikkan badannya meninggalkan kamar mandi.

“Ibu..aku ingin Ibu tahu dan mengerti bahwa aku tidak pulang besok itu bukan karena Yuri…dan aku tidak akan meninggalkan Yuri bu..” ujar Soo Hyun sebelum mengakhiri pembicaraan di ponselnya.

“Yuri!tunggu!” seru Soo Hyun.

-06:18 PM, Le Meurice Restaurant, Seoul –
“aku ada janji di meja Mr.James..David James” ujar Gun Wook kepada petugas reservasi meja.

“ah..anda Tuan Shim Gun Wook?” tanya petugas reservasi.

Gun Wook mengangguk “tunjukkan padaku dimana mejanya…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar