Pages

Kamis, 17 Maret 2011

Our Future Still Continue Chapter 83: Fight Till Death



“KEPARAT KAU DAEMUSIN!!” Bidam menyerang Daemusin sambil mengeluarkan amarahnya. Daemusin terus melompat ke belakang menangkis setiap serangan Bi Dam.  Daemusin melompat ke atas dan sekarang berdiri di atas tembok. “jika kau ingin menyalahkan orang..salahkan dirimu sendiri..” serunya sambil menyeringai.”MAJU KAU!!” Bi Dam menggeram marah.  Daemusin  melompat dari atas tembok dan melakukan serangan atas. “kau mengkhianatinya!kau gagal melindunginya!lihatlah akibat apa yang ia alami sekarang karena ULAHMU!”  “TRAANG” Bi Dam menahan laju pedang Daemusin. “AKU MENCINTAINYA!!hyaa!!” Bi Dam mementahkan pedang Daemusin. Daemusin terdorong ke belakang sedikit lalu  berlari menyerang. “TRAANG!!” Bi Dam menangkis serangan pedang Daemusin. Daemusin pun geram “KAU TAK PANTAS MEMILIKINYA!BAHKAN MENGATAKAN CINTA PADANYA!! ” Ia  melompat dan melakukan tendangan berputar. Kali ini Bi Dam tak bisa menghindar, wajahnya terkena tendangan telak dari Daemusin dan hampir saja jatuh ke tanah jika tangan kirinya tidak menahannya.  Dengan berpijak dengan tangan kirinya, Bi Dam melakukan tendangan balasan yang tepat mengenai dagu Daemusin.  Bi Dam berguling dan kembali membangun serangan. Ia berlari mengacungkan mata pedangnya ke depan, namun Daemusin tidak lengah, ia justru menarik tangan kanan Bi Dam dan memilintirnya ke belakang, Daemusin berputar ke belakang dan menyikut wajah Bi Dam dengan sikut dan tinjunya. Kemudian ia menarik tangan Bi Dam dan melakukan bantingan ke depan.  Seketika lantai berbatu itu basah karena darah Bi Dam. “hmmmmph!!!” Deok Man berteriak sekuat-kuatnya dari balik penutup mulutnya melihat suaminya tergeletak bersimbah darah.

Luar Benteng Hwangsanbeol
“TEMBAK!!” seru Baek Ui dari atas kudanya. Ratusan anak panah melesat menembus hutan yang gelap. “aargh..” terdengar suara –suara orang kesakitan dari dalam hutan.  Namun semua suara kesakitan itu hilang bersamaan dengan munculnya seruan “HABISI PASUKAN SHILLA!!”  Ribuan pasukan bertombak dan berpedang Baekje berlari keluar dari hutan menyerbu pasukan Shilla yang sudah membentuk barisan. “SERANG BAEKJE!!” Yushin berseru sambil mengangkat pedangnya lalu memacu kudanya. Diikuti seluruh pasukan Shilla, mereka bertempur melawan Baekje.

“berapa pasukan kita yang tersisa?” tanya Gyebaek yang masih berada dalam hutan. “kira-kira 68.000 Jenderal..” jawab Jenderal Hodong. “jumlah pasukan Shilla?” tanya Gyebaek lagi. “diperkirakan jumlah pasukan mereka sudah hilang lebih dari separuh Jenderal..” jawab Jenderal Hodong. Gyebaek terdiam sebentar seperti sedang memperhitungkan sesuatu “aku tak ingin jumlah pasukan kita berada di bawah 60.000…Seoraboel belum kita taklukan..”  “siap Jenderal!” jawab Jenderal Hodong. Gyebaek diikuti Hodong  kembali memacu kudanya menuju medan pertempuran yang sudah menantinya di ujung hutan. “SIAPKAN SELURUH PERSENJATAAN!SEBELUM FAJAR SHILLA HARUS DITUNDUKKAN!!” seru Gyebaek sambil memacu kudanya melewati pasukan baris belakangnya. “HIDUP BAEKJE!!”

“TRANG!!TRAANG!!” Yushin dan Jenderal Yesung beradu punggung menghadapi pasukan Baekje yang mengepung mereka berdua. “apakah kau sudah mengirim surat ke kota sekitar?” tanya Yushin “sudah Panglima..sepertinya pihak Istana sudah memrintahkan evakuasi lebih dahulu sejak kemarin..dan dipastikan sebelum fajar menyingsing seluruh penduduk kota sudah dievakuasi..” jawab Jenderal Yesung. “bagus…sebisa mungkin kita menahan mereka di sini….kita tahan mereka SAMPAI MATI!!” seru Yushin yang mulai menyerang.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“hmmph!!!”hmmph!!” Deok Man terus meronta dari kursinya. Ia berusaha memaksakan kedua pergelangan tangannya terlepas dari tali yang mengikatnya, namun yang terjadi, bukanlah tali itu terlepas, tetapi malah kedua pergelangan Deok Man terluka karenanya. “Bi Dam!!” jerit Deok Man dalam hatinya. Ia melihat suaminya perlahan bangkit dan bersiap untuk bertarung kembali. “lihatlah akibat perbuatanmu Bi Dam!!negerimu sedang berada di ambang kehancuran!!padahal Tuan Putri mempercayakannya padamu!!dan sekarang kau tak bisa melindungi Tuan Putri!KAU GAGAL!!KAU GAGAL!!” seru Daemusin. Daemusin pun menatap ke arah Deok Man “lihatlah Tuan Putri!ia menjadi kotor! Deok Man sudah kotor Bi Damkarena kebodohanmu!!!” Mendegar itu, Bi Dam segera melakukan serangan. “JANGAN PERNAH KAU SEBUT DIRINYA KOTOR!!” Ia memutar badannya dengan cepat sambil menghunuskan pedangnya. “aku hanya mengatakan kenyataan..” Daemusin menahan laju pedang Bi Dam dengan  sarung  pedang miliknya kemudian tangan kanannya menusukkan pedang tepat di lengan kanan Bi Dam. “CLAASH!!” darah membasahi lengan kanan Bi Dam. “urgh!” Bi Dam menahan rasa sakit pada lengan kanannya. Daemusin pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Setelah mencabut pedangnya dari lengan Bi Dam, serangan darinya pun  berlanjut. Dari lengan kanan turun ke perut,Daemusin menghujamkan pedangnya tepat pada perut Bi Dam. “ARRGH!” Bi Dam mengerang. Dengan panjang pedang yang ditunjang kekuatan ototnya, Daemusin mengangkat  Bi Dam dengan mata pedangnya ke atas lalu melemparkannya. “kau sudah mengambil segala yang terbaik darinya!! takhtanya harus ia tinggalkan!! unifikasi 3 kerajaan yang menjadi impiannya harus dilepaskannya!! dan sekarang kehormatannya pun hilang sudah!!” seru Daemusin. Bi Dam terbaring terlentang sambil menahan pendarahan pada perutnya. “maafkan aku Deok Man..” gumam Bi Dam.

“BANG!” badan Alcheon beradu dengan teralis besi penjara tersebut. Alcheon berniat memukul kedua tangan yang menariknya itu dengan obor di tangannya, tapi rupanya sudah ada tangan lain yang menodongkan pisau pada lehernya.  “serahkan kunci sel ini!!” terdengar suara laki-laki dari sel itu. Sel itu cukup gelap sehingga Alcheon tak bisa melihat dengan jelas tangan-tangan siap itu. Tapi yang pasti ada 3-4 orang yang ada di situ. “baiklah aku menyerah…akan kuberikan kuncinya..” jawab Alcheon sambil merba-raba saku bajunya.Meskipun pisau yang ditodongkan padanya tidak menjauh namun perlahan tangan yang menarik kerah bajunya mengendur, Alcheon pun menarik tangan yang mengacungkan pisau padanya, memukulnya hingga pisau itu terlepas dari pemegangnya,kemudian ia memukul tangan-tangan yang memegangi kakinya dengan obor di tangannya. Alcheon terlepas dan melompat ke belakang. “siapa kalian?” seru Alcheon. Namun tak ada jawaban dari sel gelap itu.  Alcheon dengan hati-hati mendekatkan obornya pada sel itu. Rupanya ada 5 laki-laki dalam sel itu. “Kepala Pengawal Alcheon…” salah seorang dari keempat orang itu mengenalinya “ka..kalian??” Alcheon terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Luar Benteng Hwangsanbeol
“heaaa!!” Baek Ui mendorong 5 tentara sekaligus dengan golok panjangnya. “jleb..” ia menarik dan menusukkan mata goloknya dari satu prajurit ke prajurit yang lain. Ia melihat para pasukan Baekje bersiap untuk menembakkan panah-panah mereka. “PASUKAN SHILLA ANGKAT PERISAI KALIAN!!” seru Baek Ui.  Namun sebelum pasukan Baekje menembakkan panah-panahnya, ribuan panah api dari arah belakang pasukan Shilla sudah mengangkasa lebih dahulu. “panah siapa itu?” pikir Baek Ui. Ia pun menoleh ke belakang. Ribuan pasukan bersenjata lengkap menuruni lembah menuju area pertempuran.  Ribuan pasukan dimana Jenderal Wolya memimpin mereka di depan.
Yushin segera memacu kudanya menuju tempat sahabatnya itu.  “apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Yushin begitu menemui Wolya. Wolya datang tidak sendiri, ia ditemani Jenderal Im Jong dan Jenderal Deok Chung serta komandannya yang setia, Seolji.  “tugas kami di Wonju sudah selesai sehingga kami bersama sebagian pasukan memutuskan pergi ke sini membantu kalian sementara yang lain menjaga perbatasan dengan Goguryeo..kita semua di sini untuk berperang melawan Baekje..” jawab Wolya dengan mantap.

Ruang Kerja Raja, Istana Ingang, Shilla
“bagaimana situasi di Hwangsanbeol?” tanya Yang Mulia Raja yang baru saja duduk di kursinya. “dari laporan yang terakhir kami terima…Panglima Yushin berserta pasukannya berhasil memperoleh kemenangan pertama, namun karena seiring berjalannya perang, perbandingan jumlah pasukan pun  menjadi semakin tidak seimbang dan Panglima Yushin juga memberikan perintah evakuasi ” jawab Kim Yong Chun. “apakah pasukan Jenderal Wolya belum juga tiba di sana?” “belum Yang Mulia…tapi kami sudah menerima kabar bahwa mereka sudah melewati kota Taejon..” Yang Mulia Raja terdiam memikirkan langkah selanjutnya yang harus diambilnya. “hamba mohon menghadap Yang Mulia..” seru Jenderal Baek Jong. “masuklah..” jawab Yang Mulia Raja. “ Jenderal Baek Jong melangkah masuk ke dalam dan memberi hormat “Yang Mulia ada kabar penting yang harus saya sampaikan..” katanya dengan wajah tegang.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“Bi Dam!!Bi Dam!!” jerit Deok Man dari balik kain penutup mulutnya. Air mata dan peluh mengalir dari wajahnya. “hhmph!!” Deok Man berusaha menarik tangannya yang terikat ke belakang pada kursi dengan sekuat tenaga. Akibatnya darah segar mengalir dari kulit pergelangan tangannya yang terluka. Shin Ae pun tidak tega melihat itu semua. Ia menghampiri Deok Man dan memintanya untuk berhenti melakukan itu. “Tuan Putri hentikanlah..tangan Tuan Putri bisa terluka..” ujar Shin Ae sambil mengelap darah dari pergelangan tangan Deok Man dengan sapu tangan. Namun Deok Man tetap nekat melakukan itu.  “hhmmph!!” Deok Man menarik dengan sekuat tenaga namun ikatan tali pada tangannya tidak juga terlepas. Tak lama kemudian Deok Man pun menangis putus asa. Mungkin dari sekian pengalaman dalam hidupnya ini akan menjadi yang terburuk dalam seumur hidupnya, melihat suami terluka parah tanpa bisa berbuat apa-apa dan dinodai oleh laki-laki lain. Air mata Deok Man mengalir semakin deras membasahi pipinya. “maafkan aku Bi Dam..aku sudah tak pantas lagi jadi istrimu..” gumamnya.

Shin Ae tidak tega melihat  kondisi Deok Man yang seperti itu. Mungkin posisi mereka sekarang adalah sebagai musuh yang berhadapan satu sama lain, tapi mereka mempunyai satu kesamaan yakni sebagai wanita. Wanita yang memiliki seorang pria yang dicintainya. “mungkin sebaiknya aku memberi tahukan kebenarannya..”  pikir Shin Ae

Luar Benteng Hwangsanbeol
“pasukan siapa itu?” geram Gyebaek. Jenderal Tae Hyun dan Jenderal Hdoong hanya diam karen tidak tahu. Seorang prajurit berlari menghadapnya “Jenderal, pasukan Shilla mendapatkan tambahan pasukan!” “tambahan pasukan?siapa yang memimpinnya?” tanya Gyebaek. “kata Jenderal Yul Gang yang berada di baris depan, pasukan itu dipimpin oleh Jenderal Wolya..” jawab prajurit itu. Mendegar itu, Hodong tiba-tiba turun dari kudanya dan menarik pakaian besi prajurit itu “Wolya katamu?!!apa kau yakin?!!”  geramnya. Prajurit itu nampak ketakutan “i..iya Jenderal..Jenderal Yul Gang sendiri yang berkata demikian..” Hodong pun melepaskannya lalu segera menaiki kudanya kembali dan memacunya menuju arena pertempuran. “Jenderal?Jenderal tidak menghentikannya?” ujar Jenderal Tae Hyun yang bingung karena  reaksi Gyebaek yang hanya membiarkan Hodong pergi bahkan menahan dirinya untuk tidak mengejar Hodong. “kau tak akan bisa menghentikan amarahnya..” ujar Gyebaek. “amarah?apakah ada hubungannya dengan Wolya dari Shilla?” tanya Jenderal Tae Hyun. “sangat erat hubungannya..” jawab Jenderal Gyebaek. “Wolya dari Shilla adalah orang yang menyebabkan luka di wajah Hodong…”

Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“Tuan Putri ada yang saya ingin beritahukan pada Tuan Putri..” Deok Man sama sekali tidak menggubris Shin Ae yang berlutut di sampingnya.  “Tuan Daemusin tidak pernah bersetubuh denganmu Tuan Putri..” Deok Man pun menoleh. Kedua alis matanya terangkat. Shin Ae mengerti bahwa Deok Man pasti bertanya “apakah benar?”  Shin Ae pun mengangguk “itu semua hanya bohong…Tuan memang melakukan sesuatu pada leher Tuan Putri...tapi ia tidak melakukan hal lain selain itu…”

 “bangunlah Bi Dam, aku tahu kau masih bisa berdiri..” seru Daemusin dengan nada mengejek. “apa kau sudah kehilangan alasan bertarungmu setelah tahu bahwa istrimu sudah kotor?” ejek Daemusin. Bi Dam dengan susah payah berusaha untuk bangun sambil menahan pendarahan pada perutnya.  “aku harus bangun..” gumam Bi Dam.  “aku sangat bahagia Bi Dam..” suara dan bayangan wajah Deok Man terngiang dalam pikirannya.  “aku ingin Yun Ho dan Yoo Na bisa tumbuh  di luar istana..bebas menenetukkan jalan hidup mereka sendiri..” ujar Deok Man sambil menyelimuti kedua anaknya.  “hhmmph!!” Deok Man yang ditutup mulutnya berusaha berteriak.  “aku ingin setelah aku pulang nanti…kita bisa seperti ini terus..” ujar Deok Man tersenyum sambil bersandar padanya.  “Deok Man…” gumam Bi Dam yang segera bangkit berdiri dan memasang kuda-kudanya untuk siap bertarung kembali. “akhirnya kau bangkit juga..” ujar Daemusin. Bi Dam sudah siap dengan kuda-kudanya  “tidak peduli apapun katamu..aku sudah bersumpah untuk melindungi Deok Man sepanjang hidupku…dan aku pasti akan membawanya kembali ke sisiku!!” serunya dengan suara lantang.  Ekspresi wajah Daemusin pun berubah menjadi penuh kekesalan “kalau begitu aku tak akan ragu lagi untuk membunuhmu!!heaa!!” Daemusin berlari menyerang Bi Dam.  Bi Dam bersiap menggeggam pedangnya erat-erat berispa menghadapi serangan “AKU BERTARUNG DEMI DEOK MAN!!” 

Luar Benteng Hwangsanbeol
“HEAA!!!!” seru Wolya sambil menebaskan pedangnya pada prajurit-prajurit Baekje yang menyerangnya
 Dengan satu gerakan memutar 5 prajurit berhasil dilumpuhkannya. “Jenderal!!Pertahanan baris tengah berhasil ditembus!!Jenderal Shin terbunuh!!”  seru seorang prajurit yang berlari menghadap Wolya.

“slaash!!” Jenderal Hodong menarik pedangnya yang menghujam perut Jenderal Shin. “dimana kau Wolya?!!” geramnya.

“Jenderal, pasukan Jenderal Hodong mulai memasukki pertahanan garis tengah…” lapor salah seorang prajurit pada Gyebaek. “Jenderal Tae Hyun, apakah jarak menuju Benteng Shilla masih jauh?” tanya Gyebaek. “kita sudah lebih dari separuh jalan Jenderal..” jawab Jenderal Tae Hyun. “bagus…perintahkan seluruh komandan untuk mengerahkan seluruh pasukan…kita akan menggempur mereka dengan kekuatan penuh…aku ingin saat fajar menyingsing 5 kota di wilayah Shilla sudah ditundukkan!!” seru Gyebaek.

Benteng Hwangsanbeol
“hah..hah…” Bi Dam dan Daemusin terengah-engah di kedua sisi yang berseberangan satu dengan yang lain. “aku senang sekali setidaknya kau punya jurus yang hebat...karena jika kau lemah, aku akan menganggap diriku pecundang karena kalah dari dirimu…” ujar Daemusin yang wajahnya nampak penuh dengan bilur sekarang.  Bi Dam hanya diam saja sambil menutup luka di perutnya dengan tangannya yang berlumuran darah.  Daemusin menatap Deok Man yang masih terikat pada kursinya, dan memainkan pedangnya lalu kembali menatap Bi Dam, mengambil ancang-ancang untuk menyerang.  Ia memegang pedangnya di samping wajahnya dan mengarahkannya kepada Bi Dam  dengan kaki kirnya selangkah di depan. Bi Dam pun bersiap dengan kuda-kuda khasnya. “kau memang benar…aku memang pernah mengkhianatinya..menyakiti perasaannya..itu suatu kenyataan yang tak akan bisa kuubah sekalipun aku menyesalinya…aku tak pernah paham mengapa ia selalu mengutamakan Shilla diatas hidupnya sendiri dan semuanya…aku berpikir dengan merebut Shilla itu berarti merebut dirinya juga sampai suatu hari aku mengetahui  bahwa dibalik itu semua  ia menyimpan impian lain yang ternyata  baginya itu adalah hal yang paling besar daripada takhta dan kekuasaan yang dimilikinya...impian mengenai kehidupan kami bersama... ” Emosi Daemusin pun terpancing “PERSETAN DENGAN MIMPIMU!!MAJU KAU!!AKU AKAN MEMBUNUHMU!! MENJADIKAN IA DAN 3 HAN INI SEBAGAI MILIKKU!!”  serunya. Bi Dam menatap istrinya. Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain. Ia pun tersenyum menatap istrinya itu.  “jangan khawatir Deok Man..kau akan segera terbebas dari sana setelah ini..” ujar Bi Dam dalam hatinya. Bi Dam melangkahkan kaki kirinya ke depan. “ada satu kenyataan yang tak bisa kau pungkiri Daemusin… Deok Man sudah menjadi istriku…meskipun kau merebutnya dan melakukan perbuatan nista padanya.. kau tak akan bisa mengubah kenyataan bahwa ia memilihku untuk menjadi seseorang yang bisa memanggil namanya…bukan dirimu…”  “TUTUP MULUTMU!! HAIIIK!!”  Daemusin berlari menuju Bi Dam. Matanya dipenuhi oleh hasrat membunuh yang berkobar. Bi Dam pun melangkahkan kakinya kuat-kuat dan ikut berlari menuju lawannya. “HEAAA!!!”

   “Guru, ajarkan aku jurus terkuat!!aku ingin menjadi lebih kuat!!” seru Bi Dam yang berusia 9 tahun. “apa yang kau ingin lakukan dengan jurus terkuat itu?” tanya Munno yang baru saja selesai melakukan meditasi. “yaa..kan guru adalah orang terkuat di tanah Shilla….semua orang mengakui kehebatanmu.. aku pun sebagai muridmu ingin juga diakui oleh orang lain…” Munno pun berdiri mengambil sebuah apel dari keranjang buah dekatnya. “keluarkan kemampuan terbaikmu dan rebut apel ini dari tanganku…aku akan menunjukkan jurus terkuat padamu…” Bi Dam pun segera mengambil kuda-kuda dan memberi hormat pada gurunya kemudian berlari menyerang. “hiaa!!” Bi Dam mengeluarkan tinjunya dan tendangannya pada gurunya. Sambil memegang apel pada tangan kanannya, Munno terus menghindari serangan Bi Dam. Ruangan pun penuh dengan teriakan Bi Dam yang berusaha mengalahkan gurunya.  Sampai matahari terbenam, Bi Dam belum juga berhasil merebut apel itu. Ia pun kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk menyerah. “kau menyerah?” tanya Munno. Bi Dam yang masih sibuk mengatur napasnya mengangguk. “guru curang…guru terus menghindar…guru tidak menunjukkan satu pun jurus padaku…” keluh Bi Dam. “itu adalah jurus terkuatku..” jawab Munno. “bohong!!” sahut Bi Dam. “baiklah jika menurutmu itu bohong..aku ingin bertanya padamu apa kau berhasil menyentuh apel ini dari tanganku?” tanya Munno. Bi Dam pun menggeleng.  “aku berhasil melindungi apel ini tanpa tersentuh olehmu..bagiku itu adalah jurus yang terkuat karena jurus-jurusmu tidak berhasil menyentuhnya…apa kau sudah membaca buku yang kusuruh kemarin?”  “sudah guru..” jawab Bi Dam. “katakan padaku apa yang kau pelajari dari buku itu mengenai kekuatan!” seru Munno. “kekuatan  dimiliki bukan untuk menunjukkan dirimu adalah yang terkuat..tetapi menunjukkan bahwa ada sesuatu yang paling penting dalam hidupmu …”  “benar sekali..tapi apa kau memahami itu?” tanya Munno. 
“ya..aku tahu aku salah…seharusnya aku tidak menggunakan kekuatan itu hanya untuk sekedar pamer…tapi bagiku diakui adalah sesuatu yang penting…” Munno menghela napas panjang  kemudian melemparkan apel itu pada Bi Dam dan berjalan keluar dari ruangan meditasinya itu. “bermeditasi dan renungkan!!jika memahaminya maka kau akan menemukan apa yang cari..” 

Mata pedang Daemusin hanya tinggal selangkah lagi dari dada kiri Bi Dam. “MATI KAU BI DAM!!” Daemusin menyeringai.
“sekarang aku mengerti guru… menjadi yang terkuat bukanlah untuk sekedar pamer ataupun ambisi semata..tetapi untuk melindungi seseorang yang kucintai dengan segenap hidupku…” pikir Bi Dam. “untuk melindungi Deok Man!”
“CLAAKK!!”

3 komentar:

  1. duh deg degan bacanya,,,
    dah gx sabar baca chap berikutna...

    lanjut terus ya mbak miya...!

    BalasHapus
  2. siip ^^d minggu ini pasti bakal aku post lanjutannya :)

    BalasHapus
  3. ceritanya semakin seru ajha,,,


    bidam ayo berjuang...!!!!!

    BalasHapus