Pages


Selasa, 19 Juli 2011

The Hidden Wounds Chapter 13: Inheritance

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************


-06:22 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul-
“Yuri..tunggu..” panggil Soo Hyun.

Yuri berjalan menuju dapur dan mengaduk  kuah kari yang sedang dimasaknya tadi di atas panci.

“Yuri jangan kau pikirkan kata-kata ibuku tadi..aku meminta maaf mewakili ibuku” ujar Soo Hyun yang berdiri di samping Yuri.

“aku baik-baik saja..” jawab Yuri sambil mengaduk kuah karinya dan tidak menggubris.

“huft..” Soo Hyun menghela napas panjang lalu mematikan kompor yang sedang digunakan Yuri kemudian menarik lengan Yuri.

“Yuri aku tahu kau tidak baik-baik saja…” ujar Soo Hyun.

“aku baik-baik saja..Soo Hyun..” jawab Yuri sambil mengalihkan wajahnya dari tatapan Soo Hyun.

Soo Hyun pun mengadahkan kepala Yuri sehingga ia bisa melihat ada bekas lelehan air mata di wajah kekasihnya itu.

“sebenarnya salah aku apa Hyun sehingga ibumu begitu membenciku seperti itu?apakah selamanya akan seperti ini?kau harus berbohong terus pada ibumu setiap kali kita bersama?” tanya Yuri.

Soo Hyun pun segera memeluk erat kekasihnya itu “ini bukan salahmu Yuri…bukan salahmu..”

“kau tidak bisa selamanya berbohong pada ibumu terus Hyun dan aku pun juga tidak ingin selamanya menjadi duri dalam daging diantara kalian…jika jalan yang terbaik memang  harus mengakhiri ini semua..” jawab Yuri.

Soo Hyun pun melepaskan pelukannya kemudian menghadapkan wajahnya ke depan wajah Yuri sehingga kedua mata mereka saling bertatapan “aku memang akan mengakhiri  ini semua…”

Yuri hanya diam tercekat.

“aku akan mengakhiri ini semua dengan menikah denganmu baik dengan restu dari ibuku ataupun tidak…suka tidak suka ibu harus menerima kenyataan bahwa aku sudah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku…”

“Hyun…” gumam Yuri.

  -06:35 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
Seorang pelayan bertuksedo hitam membukakan pintu penumpang mobil Equuz hitam yang berhenti di lobby restaurant Perancis berbintang lima dimana ia bekerja, Le Meurice.

Yo Won pun keluar dari mobil diikuti Tuan Lee. Yo Won merangkul lengan ayahnya dan berjalan berdampingan menuju pintu masuk restaurant.

“Selamat malam Tuan, apakah Tuan sudah memesan tempat?” tanya seorang pelayan yang bertugas melayani reservasi di dekat pintu masuk.

“aku ada janji di meja dr. Ahn Jae Hwan..” jawab Tuan Lee.

“ia adalah tamuku..” ujar dr. Ahn Jae Hwan yang berjalan menghampiri meja layanan reservasi.

-06:40 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-

“sraak..sraak..” Gun Wook mempelajari dengan serius lembar-lembar yang sedang dipegangnya. Lembaran yang menunjukkan sederetan angka dan simbol mata uang.

“it seems like that your parents have prepared this for their children…besides money and gold, there are some properties that have been handled by us and it has been contracted for 15 years…I have to ask you if you want trust them in our bank again..” ujar seorang pria asing berambut coklat berjas kelabu yang duduk di hadapan Gun Wook.

Gun Wook pun menutup map yang dipegangnya dan mencondongkan badannya ke depan “I want to invest this money in another kind of investment…”

-06:40 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“perkenalkan ini istriku…” ujar dr. Ahn seraya memperkenalkan seorang wanita yang menghampirinya. Berbadan tinggi dan nampak ideal dalam balutan gaun berwarna hitam kemerahan meskipun sudah berusia 56 tahun.

Yo Won pun menundukkan kepalanya “Selamat malam Nyonya…saya Lee Yo Won..”

“ah ya..aku melihat konferensi persmu di tv..sungguh luar biasa..Tuan Lee putrimu sangat cerdas..” puji Nyonya Ahn.

Tuan Lee tersenyum lebar, bangga mendengar putrinya dipuji. Yo Won pun tersenyum dan menundukkan kepala “terima kasih Nyonya..”

“mari silahkan duduk..” ujar dr. Ahn senior mempersilahkan kedua tamu yang diundangnya duduk

“ah dimana putramu dr. Ahn Jeong Gun?aku tidak melihatnya” tanya Tuan Lee.

“ah maafkan dia..dia akan datang terlambat karena harus melakukan operasi di rumah sakit..” jawab dr. Ahn.

Tuan Lee mengangguk mengerti “aku harap semoga operasinya lancar…”

“ya..aku juga berharap demikian…supaya ia tidak menyesal karena ternyata Nona Lee Yo Won yang dulu selalu mengikutiku di rumahnya ternyata sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik seperti ini…”dr. Ahn mengakhiri kalimatnya dengan tawa.

Yo Won hanya tersenyum mendengarnya.


-06:45 PM, Kediaman Keluarga Hong, Gangnam-gu, Seoul-
Hong Myung Hwan duduk di ruang kerjanya, membaca beberapa lembar file yang tersimpan dalam amplop coklat besar.

“drrt..drrt..” ponsel di atas mejanya bergetar.

Ia pun segera menjawab ponselnya. “ini aku..” 

“Direktur, Tuan muda Hong Gi Hoon berhasil memenangkan tender di Uzbekistan…5 perusahaan besar dan penerbangan nasional mempercayakan supply bahan bakarnya kepada San Hao Group..tak hanya itu Pemerintah Uzbekistan juga mempercayakan salah satu pembangkit listriknya pada San Hao Group juga…dan sepertinya perwakilan pemerintah Tajikistan yang hadir juga tertarik pada presentasi Tuan muda Gi Hoon…” terdengar suara pria dari lawan bicara Tuan Hong.

“kau awasi dia terus perintahkan anak buahmu untuk terus memantaunya...aku tak ingin ada masalah yang ditimbulkan olehnya…hanya itu saja berita yang ingin kau sampaikan Sekretaris So?” tanya Tuan Hong melalui teleponnya.

“Direktur sebenarnya masih ada satu hal yang harus yang saya sampaikan…hal yang kurang menggembirakan…mengenail percobaan di laboratorium di China…” jawab Sekretaris So.

“apakah percobaannya sudah selesai?” tanya Tuan Hong.

“mengenai itu.. sudah selesai..” terdengar keraguan dalam suara sekretaris So. “hanya saja…tidak berhasil…formulanya tidak stabil sehingga ketika itu menyentuh minyak menyah terjadi ledakan….dua dari ilmuwan lab tewas dan beberapa lainnya terluka…pihak Pemerintah China sempat melakukan kunjungan…dan”

“segera bereskan dan lakukan penelitian ulang…” sela Tuan Hong tanpa basa-basi.

“ba..baik Tuan…” jawab Sekretaris So.

Tuan Hong mengakhiri pembicaraannya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia pun menyandarkan dirinya pada kursinya yang empuk. Kedua alisnya mengernyit seakan-akan sedang berpikir keras.

“tok..tok..” terdengar suara pintu diketuk.

“masuk..” jawab Tuan Hong.

Nyonya Hong membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan, menghampiri suaminya. “yeobo, makan malamnya sudah siap..”

“nanti aku akan turun ke bawah..” jawab Tuan Hong yang masih saja memasang wajah muram.

“Yeobo..apakah ada masalah?” tanya Nyonya Hong yang sekarang duduk di hadapan suaminya.

“sudah ratusan ribu kali percobaan dilakukan namun semuanya tidak membuahkan hasil…” jawab Tuan Hong tanpa menatap wajah istrinya.

Nyonya Hong menggenggam erat tangan suaminya yang ada di atas meja “yeobo…”

Tuan Hong pun bangun dari duduknya “aku tak peduli harus berapa ratusan ribu lagi percobaan itu dilakukan, berapa hektar lahan yang rusak karenanya…aku harus menemukannya…meskipun ada nyawa yang harus kukorbankan…aku tak akan membiarkan kerja kerasku selama 15 tahun berlalu sia-sia…”

Nyonya Hong yang sekarang juga berdiri berjalan mendekati suaminya.

“aku ingin Gi Hoon dan Mo Ne sekarang lebih siap dalam menjalankan bisnis ini…setelah makan malam, aku ingin bicara pada putriku..” ujar Tuan Hong.

Nyonya Hong pun mengangguk. “ya...aku akan memanggilnya..”

-07:05 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“tap..tap..” dr. Ahn Jeong Gun berjalan dengan terburu-buru melintas di antara meja, kursi serta pelayan yang berjalan hilir mudik. Sampai akhirnya, ia menemukan meja dimana ayah dan ibunya duduk. Ia pun segera menghampiri meja itu.

“selamat malam semuanya…maaf saya terlambat..” ujar Ahn Jeong Gun seraya menundukkan kepala.

“ah akhirnya kau datang juga…berikan salammu untuk Tuan Lee dan putrinya..”

Tuan Lee yang duduk memunggungi Ahn Jeong Gun pun membalikkan badannya dan tersenyum.

“selamat malam Tuan Lee..” Ahn Jeong Gun menunduk memberi hormat. Yo Won pun ikut membalikkan badannya sehingga ia bisa melihat putra sahabat baik ayahnya itu.

“k..kau..” Ahn Jeong Gun terkejut begitu melihat wajah putri sahabat baik ayahnya itu.

“dokter…” gumam Yo Won yang juga terkejut begitu melihat wajah dr. Ahn.

-07:07 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“please fill these documents…I need to match it with the real documents which I have..to prevent imposture of course..” ujar Mr. James seraya memberikan sebuah map dan pena kepada Gun Wook.
Gun Wook menatap tajam Mr. James sesaat sebelum ia mulai mengambil pena dan mengisi dokumen yang diminta.

“ah..if you are pleased, may I know how did you know that your parents have account in Bank of Switzerland?” tanya Mr. James.

Gun Wook berhenti menulis sesaat sebelum akhirnya ia menulis lagi “once..when I was a kid, I used to live in Zurich and at that time, my father had brought me to this bank for several times…so I thought my father still have an account in there…”

“ooh I see I see..15 years ago, we heard that your parents were killed because of robbery…and their children statuses were unknown until you contacted us…from this document, it said that your parents have 2 sons..if you are the oldest one so where is the younger?”

Gun Wook memegang erat penanya sehingga tulisannya pun menebal.

“where is your brother?” tanya Mr. James.

“he died…at the same day just like my parents…and tomorrow is their day..” jawab Gun Wook.

-07:10 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“hahaha…jadi kalian pernah bertemu sebelumnya…” Ahn Jae Hwan dan Tuan Lee tertawa bersama.
Yo Won yang duduk di sebelah ayahnya hanya bisa tersenyum tipis dan Ah Jeong Gun tertawa kikuk melihat tawa ayah mereka.

“bukankah aku pernah menunjukkan fotonya padamu?seharusnya kau mengenalinya bukan?”tanya Tuan Lee

Ahn Jeong Gun mengangguk “sebenarnya saat itu..aku sudah tahu kalau nona adalah Nona Lee Yo Won karena Tuan Lee pernah menunjukkan fotonya padaku…tapi aku belum mengenalkan diri padanya”

Ia menatap Yo Won yang duduk di sampingnya dan segera mengalihkan pandangannya begitu Yo Won menoleh.

“kalau begitu sekarang kalian bisa saling mengenal diri…di saat kami yang tua-tua ini membicarakan masa kejayaan kami…” canda dr. Ahn senior. “Jeong Gun…manfaatkan waktu ini sebaik-baiknya..” candanya yang kemudian diikuti gelak tawa dirinya dan Tuan Lee.

“ayah..” protes Jeong Gun.

Yo Won tersenyum menanggapi candaan itu.

“oh ya ayah hasil tes kesehatan Tuan Lee sudah keluar…” ujar dr. Ahn mencoba mengalihkan arah pembicaraan ayahnya.

Tuan Lee pun menoleh, begitu juga dengan Yo Won

“benarkah?lalu?” tanya dr. Ahn senior

Jeong Gun tersenyum “semuanya menunjukkan hasil normal…oleh karena itu, Tuan Lee sudah bisa kembali beraktivitas di kantor dengan catatan tidak boleh terlalu lelah dan stress…”

Tuan Lee pun menghela napas lega.

“syukurlah ayah..” kata Yo Won seraya menggenggam erat tangan ayahnya.

“kalau begitu hari ini kita akan merayakan kesehatan Lee Seong Gi juga..” ujar Ah Jae Hwan seraya mengangkat gelas champagnenya. Lee Seong Gi tersenyum lebar dan ikut mengangkat gelasnya, begitu juga Yo Won, Jeong Gun, dan Nyonya Ahn.  Kemudian mereka menegak minuman mereka bersama-sama yang diakhiri oleh tawa Tuan Lee dan dr. Ahn senior.

Ahn Jeong Gun pun memberanikkan dirinya untuk mengajak bicara Yo Won, sementara kedua orangtua mereka sedang bicara. “lalu kondisi kesehatan Nona Lee sendiri apakah  sudah membaik?ataukah masih kambuh?” tanyanya.

Yo Won menggelengkan kepalanya dan menatap lawan bicaranya itu “tidak…aku tidak pernah kambuh lagi setelah meminum obat dari dokter waktu itu..terima kasih atas perhatiannya..”

Jeong Gun pun menghela napas lega “syukurlah kalau begitu…ternyata itu hanya anemia ringan…jika Nona Lee sedang menghadapi banyak pekerjaan, aku menyarankan agar Nona mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi atau obat penambah zat besi supaya anemianya tidak kembali…”

Yo Won tersenyum mengangguk “akan kuingat sarannya..”

 -07:12 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
Mr. James membuka tas kopernya kemudian mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Gun Wook “I have verified your identity…please give your sign and name…birth name of course in this column…”

Gun Wook meletakkan gelas champagnennya dan mengambil pena  dan mengisi kertas itu sesuai dengan yang diminta kemudian memberikannya kepada Mr. Jamaes. “this..”

Mr. James membaca dengan seksama   kertas yang diterimanya “so…should I call you..”

“Shim Gun Wook…that’s my name…” sela Gun Wook.

“okay..Mr. Shim, I’ll start to process your inheritance and account tomorrow morning…thank you for your trust to us..”Mr. James bangun dari duduknya

Gun Wook ikut bangun dari duduknya dan mengangguk “contact me as soon as you finish it..”

“of course Mr. Shim…” Mr. James mengulurkan tangan kanannya untuk jabat tangan  Gun Wook pun ikut mengulurkan tangannya dan mereka pun berjabat tangan.

“I have to leave now…nice to meet you Mr. Shim..” ujar Mr. James.

“nice to meet you too Mr. James..” sahut Gun Wook.

Setelah jabatan tangan terlepas, Mr. James pun pergi meninggalkan Gun Wook duduk sendiri di mejanya. Ia pun mengalihkan pandangannya ke bawah dimana seorang pianis dan violis baru saja mulai memainkan sebuah lagu klasik untuk menghibur para tamu restaurant baik yang makan di sekeliling panggung maupun yangt duduk di atas. Gun Wook pun menatap sekeliling panggung sampai akhirnya tatapannya terhenti. Terhenti pada sebuah meja dimana 5 orang sedang duduk dan makan bersama.

“Lee Yo Won…” gumamnya.

-07:24 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“Canon yang indah…” kata dr. Ahn yang sedang mengiris daging steaknya sambil menatap penampilan duet antara pianis dan violis di atas panggung.

“Canon  in D major karya Johann Pachebel…lagu klasik yang paling kusukai..” sahut Yo Won yang juga sedang menikmati penampilan duet itu.

“apakah Nona Lee menyukai musik klasik?” tanya Jeong Gun.

Yo Won pun menoleh “ya…sewaktu aku kecil dan tinggal di Inggris, ada seorang pemusik jalanan memainkan sebuah lagu dengan biolanya dan baru kali itu aku mendengar lagu seindah itu…tapi waktu itu aku tidak berani menanyakan padanya itu lagu apa…”

“lalu bagaimana Nona Lee tahu itu lagu Canon?” tanya  Jeong Gun.

“ketika Guru biolaku memainkan sebuah lagu yang harus aku pelajari…dari dia aku tahu itu adalah lagu Canon…” jawab Yo Won.

Jeong Gun menatap Yo Won yang sedang menikmati penampilan duet itu. Ia tertegun sesaat sebelum ia harus mengalihkan pandangannya ke depan saat Yo Won tiba-tiba menoleh ke arahnya.

“apakah dr. Ahn juga menyukai musik klasik?” tanya Yo Won.

Jeong Gun mengangguk “ayah suka memasang musik klasik di rumah..dan aku pun diajarinya bermain piano yang menyenangkan jadi aku mulai menyukainya sejak kecil…”

 Ahn Jae Hwan mendekatkan dirinya pada sahabatnya yang sedang menikmati daging steaknya “tampaknya mereka sudah mulai akrab…” bisiknya.

Tuan Lee pun menoleh dan tertawa kecil “syukurlah…kalau mereka bisa berteman baik..”

“jika putraku menyukai putrimu…izinkan dia mendekati putrimu ya..” bisik Ahn Jae Hwan.

“benarkah?” Tuan Lee melihat putrinya yang sedang berbicara dengan putra sahabatnya itu. Dari tatapan dr. Ahn Jeong Gun pada putrinya, Tuan Lee sudah mengerti bahwa jelas putra sahabatnya itu tertarik pada putrinya.

Tuan Lee pun menoleh menghadap sahabatnya “tetapi Yo Won….memiliki kekurangan…” kepala Tuan Lee tertunduk ke bawah “kekurangan karena kesalahanku…kau tahu itu…aku tak ingin ada yang tersakiti jika ternyata Jeong Gun memang menyukai putriku..”

Ahn Jae Hwan mengangguk menepuk bahu sahabatnya“aku tahu..setiap manusia pasti memiliki kekurangan, Seong Gi-ssi…tak hanya Yo Won, kau, aku dan putraku pun juga memilikinya…semuanya butuh waktu untuk menghadapinya..begitu juga Yo Won dan Jeong Gun..tak akan ada yang tersakiti jika perasaan mereka tulus”

Tuan Lee mengangguk dan tersenyum  “semoga saja demikian…” kemudian menoleh menatap putrinya

“aku harap putriku bisa menemukan pendamping yang baik…yang setia mencintai segala kelebihan dan kekurangannya…itu harapanku sebelum aku mati…” batin Tuan Lee.

“ayah, aku ingin ke toilet sebentar..” Yo Won memberitahu ayahnya. Tuan Lee pun mengangguk. Yo Won bangun dari duduknya dan berjalan menuju tanda ‘toilet’ berada.

Seorang pelayan menghampirinya ketika ia sudah mendekati pintu toilet wanita. “maaf Nona..toilet wanitanya sedang dalam perbaikan..silahkan Nona menggunakan toilet di lantai atas..”

“oh ya..terima kasih..” jawab Yo Won.

Yo Won berjalan menaiki tangga, menelusuri lorong menuju toilet wanita.

Sementara itu dari kejauhan, Gun Wook duduk di bar sambil mengamati dengan segelas vodka di tangannya. Ia pun meletakkan gelasnya dan memanggil pelayan.

“blaam…” Yo Won berjalan keluar dari toilet. Ia pun berjalan menuju tangga  untuk turun ke bawah, namun seorang pelayan wanita datang menghampirinya.

“maaf Nona…” panggil  pelayan itu. “ini ada titipan untuk nona…” seraya menyerahkan setangkai mawar merah dengan pita hitam di tangkainya dan secarik kertas yang terlipat dua.

Yo Won menerima bunga itu dan segera membuka kertas itu. “congratulations” gumamnya membaca surat itu.

“siapa yang memberikannya?” tanya Yo Won pada pelayan.

“ah..Tuan yang di sana..” tunjuk pelayan itu ke arah pintu keluar. Yo Won menoleh ke arah yang ditunjuk, namun terlalu banyak pria yang hilir mudik membuat si pelayan pun nampak kebingungan menunjukkan siapa pengirimnya.

“ah itu dia…” tunjuk pelayan itu. Tepat pada sosok seorang pria berjas hitam dengan rambut menyentuh kerah kemeja putihnya.

“Nona Lee..” panggil Jeong Gun yang sudah berada di belakang Yo Won.

Yo Won tak bergeming dan pandangannya tetap tertuju pada arah yang ditunjuk pelayan tadi.

Jeong Gun pun ikut melihat ke arah yang sama “apakah Nona Lee melihat seseorang yang Nona kenal?”

Yo Won pun menoleh dan menggelengkan kepalanya.

Kemudian mereka pun membalikkan badannya dan berjalan bersama menuruni tangga.

“mungkinkah itu…Shim Gun Wook-ssi?” pikir Yo Won sembari berjalan menuruni tangga.

-07:40 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
Gun Wook berjalan menuruni tangga depan restaurant. “drrt…drrt..” ponsel di sakun jasnya bergetar, ia pun segera merogoh saku jasnya, mengambil ponselnya, dan menjawabnya.

“ini aku..” kata Gun Wook.

“aku sudah menemukan yang kau minta…mereka dimakamkan di pemakaman umum di Kota Cheonan…aku sudah mengirimkan detail alamatnya..” Terdengar suara berat pria yang selama ini menjadi lawan bicaranya di telepon mengirimkan informasi.

“aku mengerti…bayarannya akan kukirim nanti malam..” jawab Gun Wook singkat sebelum langsung menutup teleponnya. Ia pun segera masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu di depan lobby.

-08:40 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“terima kasih atas jamuannya..” Yo Won menundukkan kepala di hadapan keluarga Ahn.

“jangan terlalu sungkan Yo Won..” ujar Nyonya Park seraya menggenggam kedua tangan Yo Won. Yo Won tersenyum mengangguk, kemudian ia menoleh kepada Jeong Gun yang berdiri di samping ibunya. Ia menundukkan kepalanya sebelum membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu mobil.

Tiba-tiba Jeong Gun berjalan menuruni tangga “Nona..ah maksudku..Lee Yo Won-ssi..”

Yo Won pun tidak jadi masuk ke dalam mobil dan menoleh “ya?”

“jaga kesehatanmu selalu..” ujar Ahn Jeong Gun.

Yo Won tersenyum dan mengangguk “dokter juga..”

“hmm..kalau begitu, kami pulang…” ujar Tuan Lee yang sudah berdiri depan pintu mobilnya.

“ya..hati-hati..” ujar dr. Ahn senior

Yo Won pun masuk ke dalam mobil diikuti oleh ayahnya. Tuan Lee membuka jendela mobilnya dan melambai ke arah sahabatnya itu sampai akhirnya mobil melaju meninggalkan lobby restaurant.

“makan malam yang menyenangkan…” ujar Tuan Lee.

“ya ayah..” jawab Yo Won. Ia menatap bunga mawar yang dipegangnya. “benarkah itu dia?” pikirnya.

“bunga mawar yang cantik…selain memberikanmu obat, dr. Ahn Jeong Gun pun juga memberikanmu bunga…” kata Tuan Lee.

Yo Won pun menoleh “tapi ayah ini…”

“sama seperti ayahnya yang baik hati menolongku saat ayah kesulitan semasa kuliah dulu…rupanya kebaikan hatinya menurun pada putranya..” gumam Tuan Lee sambil menatap keluar jendela.

“i..iya..” Yo Won pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kata-katanya dan kembali menatap bunga mawar merah yang ada di tangannya.

- May 13th 2009,  07:18 AM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul-
 Tuan Lee terdiam menatap kalendar meja yang berdiri di meja yang ada di samping tempat tidurnya. Kemudian ia berjalan menuju rak buku yang tidak jauh dari situ. Ia mengamati rak bukunya sejenak lalu mengambil 3 buku merah tebal yang ada di sisi kirinya.  Dibalik 3 buku merah itu berada,tersimpan sebuah buku yang bersampul kulit berwarna coklat tua. Tuan Lee mengambil buku itu dan membawanya duduk di atas tempat tidurnya. Perlahan ia membuka pengait sampul buku itu dan mulai membuka halaman buku itu sampai akhirnya ia menmukan sebuah foto. Foto berwarna hitam putih sepasang pengantin dan seorang pria yang berdiri di samping mempelai pria tersenyum lebar.

“sudah 17 tahun berlalu…sejak aku membunuh kalian berdua…” gumam Tuan Lee seraya menatap foto itu.


-07:25 AM, Cheonan-
Mobil SUV hitam yang dikemudikan Gun Wook melaju cepat mengitari jalanan yang menanjak dan berliku. Kondisi jalan yang besar dan lengang mendorong Gun Wook untuk menambah kecepatan mobilnya sampai akhirnya ia menurunkan kecepatan mobilnya ketika harus berbelok ke jalan yang lebih kecil dan mematikan mesin mobilnya begitu ia tiba di depan sebuah bangunan di tengah hutan. Sebuah bangunan rumah kayu bergaya Eropa yang cukup besar dan masih berdiri kokoh meskipun cat dindingnya sudah terkelupas, kaca jendelannya banyak pecah, dan atapnya yang berlubang.
“blaam..”  Gun Wook turun dari mobilnya, menjejakkan kakinya di atas jalan yang dipenuhi oleh dedaunan kering. “aku pulang..” gumamnya.

Minggu, 10 Juli 2011

The Hidden Wounds Chapter 12: Burden

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

- May 12th 2009,  08:20 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“maaf semuanya..aku tak bisa menjawabnya sekarang…” ujar Yuri yang sedang berhadapan dengan beberapa wartawan. Yuri memadang keluar lobby dengan cemas.

“ckiiit..” Hyundai Equuz hitam berhenti  tepat di depan lobby Tae Wang Emporium Power. Para wartawan dan reporter yang berdiri di lobby pun segera menghambur menuju ke mobil.  Beberapa anggota security pun ikut turun dan berusaha menjauhkan para wartawan dari pintu kursi penumpang mobil.

“Wakil Direktur Lee, apa benar anda melanggar peraturan OPEC dengan memakai minyak cadangan?” tanya salah seorang wartawan.

“blaam..” Yo Won keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah tegak didampingi pihak security berjalan masuk ke dalam lobby.

“Ms. Lee, is that you who give an order to use oil reserve?” desak salah seorang wartawan asing.

“Wakil Direktur Lee, San Hao Group menuduh anda sudah bermain belakang dengan Presiden OPEC, bagaimana tanggapan Anda?” tanya salah seorang wartawan yang berdiri di samping Yo Won.

Yuri segera menghampiri Yo Won yang sudah masuk di dalam lobby dan memberi hormat. Pihak security pun segera membentuk barisan ke samping menjadi pembatas antara Yo Won dengan pihak wartawan.

“Wakil Direktur, sepertinya pihak San Hao Group ingin mempermasalahkan pemakaian minyak cadangan itu…” bisik Yuri.

“aku mengerti…aku akan mengadakan konferensi pers mengenai ini…” jawab Yo Won.

“bahkan Anda dikabarkan sudah merayu bahkan menyuap Presiden OPEC, apakah itu benar?” tanya salah seorang reporter televisi.

Mendengar pertanyaan itu, Yo Won pun menoleh. Ia berjalan mendekati barisan security dan berdiri di antara mereka. “saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran para wartawan dan jurnalis sekalian di sini..namun mohon maaf saya hanya akan menjawab semua pertanyaan nanti saat saya akan mengadakan konferensi pers…terima kasih..” Yo Won pun membungkukkan badan, kemudian membalikkan badannnya  dan berjalan bersama Yuri menuju lift.

-  09:16 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul –
“Vice Director of  Tae Wang Corp. Broke OPEC Rules?Is There Any Affair Behind Them?”

Tuan Lee meremas remote tv di tangannya. Melihat putrinya dikerumuni wartawan yang meghujaninya dengan pertanyaan. Dan ia pun semakin geram ketika mendengar salah seorang menanyakan apakah benar Yo Won sudah merayu atau menyuap Presiden OPEC. Sebagai seorang ayah, ia tidak terima putrinya dituduh melakukan tindakan hina seperti itu.  

“Tuan..kendalikan emosi Anda…”  Sohwa yang berdiri di samping Tuan Lee nampak cemas. Takut tekanan darah tuannya itu akan melonjak kembali.

“hubungkan aku dengan putriku..sekarang..” ujar Tuan Lee

- 09:16 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“kami dari San Hao Group ingin meminta kejelasan dari pihak OPEC mengenai pemberian izin kepada Tae Wang Petroleum Corp. untuk menggunakan cadangan minyak mereka…” kata Hong Myung Hwan kepada para wartawan yang berdiri mengerumuninya. 

“dilaporkan harga saham Tae Wang Petroleum Corp. menurun sebesar 14 poin pada pembukaan sesi pertama pagi ini..” ujar suara pembawa berita TV.

Yo Won duduk di kursinya menatap berita itu dengan serius sementara Gun Wook duduk di sofa untuk tamu sedang bekerja dengan laptopnya.

“drrt..drrt…” ponsel Yo Won bergetar di atas meja.

Yo Won melihat siapa penelponnya dan segera mengangkatnya “halo..”

“Yo Won kamu baik-baik saja?ayah sangat khawatir padamu..biar ayah yang menggantikanmu menjelaskan semuanya kepada para wartawan itu dan juga Hong Myung Hwan itu..” ujar Tuan Lee.

Yo Won menghela napas panjang “aku baik-baik saja ayah..aku akan segera menyelesaikan masalah ini…jadi ayah jangan khawatir…semuanya akan baik-baik saja sampai kita akan pergi makan malam bersama nanti..”

“Yo Won…jangan paksakan dirimu…” ujar Tuan Lee.

“iya ayah..ayah juga harus menjaga emosi ayah hari ini…sampai ketemu nanti di rumah, ayah..” ujar Yo Won sebelum ia menutup ponselnya.

Gun Wook bangun dari duduknya seraya  membawa laptopnya dan menunjukkannya pada Yo Won hasil kerjanya di laptop itu “Wakil Direktur, videonya sudah siap…”

Yo Won mengangguk begitu melihatnya “terima kasih Shim Gun Wook-ssi..aku ingin video itu bisa ditayangkan saat konferensi pers nanti..” ujar Yo Won.

“tuut..tuut..” telepon di atas meja berbunyi.

Yo Won menekan tombol speaker phone pada telepon itu. “hallo..”

“Wakil Direktur..para wartawan sudah berkumpul dan konferensi pers akan segera dimulai 10 menit lagi..” terdengar suara Yuri dari telepon.

“ya aku akan segera turun ke bawah…” jawab Yo Won.
Ia pun segera bangun dari kursinya dan mengambil map biru yang ada di atas meja kemudian berjalan keluar ruangan diikuti Gun Wook.

“PING” mereka berdua masuk ke dalam lift yang terbuka .Yo Won berdiri di sisi kiri sementara Gun Wook di sisi kanan.

Yo Won berdiri dalam diam sambil memeluk map yang ada di tangan kirinya sementara jemari tangan kanannya bergerak tak menentu. Wajahnya bisa menunjukkan ketenangan namun tidak dengan tangannya. Hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau dirinya sedang gugup. Meskipun ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada tetapi tetap saja tanggung jawabnya atas nama baik perusahaan ayahnya itu masih terasa berat baginya. Nasib nama perusahaannya di mata Korea dan dunia sekarang bisa dibilang bergantung pada caranya menghadapi konferensi pers nanti. Yo Won pun berusaha menghentikannya dengan mengepal tangannya erat-erat. TIba-tiba ada tangan yang menggenggam tangan kanannya. Menggenggamnya dengan erat dan lembut.
Yo Won pun terkejut dan menoleh. Gun Wook sudah berdiri di sampingnya dan menggenggam erat tangannya.

“aku tidak akan melepaskannya sampai kau merasa tenang…” kata Gun Wook dengan tatapan ke depan.

Yo Won pun mengalihkan pandangannya ke bawah. Berusaha menenangkan jantungnya yang mendadak berdebar begitu keras namun hangat.

-09:19 AM , Heritage Club, Seoul –
“sraak..sraak..” Gi Hoon mengenakan jasnya dan menarik dasinya ke atas sambil menatap berita yang ditayangkan di tv. Seringai muncul di wajahnya. Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.

“Gi Hoon..” panggil Jang Se Jin yang masih dibalut selimut di atas tempat tidur.

Langkah Gi Hoon pun terhenti “kuharap kau bisa memanggilku lebih sopan nona Jang…kejadian semalam sudah berlalu saatnya kembali ke kehidupan masing-masing…” Gi Hoon pun kembali berjalan menuju pintu keluar. “BLAAM”

Air mata Jang Se Jin pun menetes 

- 09:31 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
Semua mata wartawan,reporter, dan jurnalis yang ada hadir di auditorium tempat konferensi pers tertuju pada layar proyektor yang sedang menayangkan sebuah video. 

“ because of these reasons,  I’m with another OPEC administrative members believe that Tae Wang Petroleum Corp. can restore the oil reserve in 3 months as Ms. Lee promised to us so we gave agreement for Tae Wang  Petroleum Corp..this is the end of my statement as President of OPEC..I hope this statement will help to clear the problem..thank you..” ujar Mohammad Ali Mahmed, Presiden OPEC.

Tayangan video pun selesai  dan lampu ruangan auditorium kembali dinyalakan. Yuri berjalan ke atas podium dan mengarahkan microphone di meja kepadanya “demikian video pernyataan dari OPEC mengenai persetujuan atas kebijakan ini…apakah masih ada pertanyaan? Is there any question?”

Beberapa wartawan dan jurnalis mengangkat tangannya. Dan dari kelima wartawan yang mengangkat tangan, jurnalis asing dari kantor berita internasional  yang pertama kali.

“yes, the first questioner is Mr. Watson..” panggil Yuri.

“Ms. Lee, can you show to us the reasons why  are you so confident to take this decision? You said before that we shouldn’t worry about Tae Wang Petroleum Corp.’s oil supply but we don’t know if another disaster will happen again, how can you handle that?”

Yo Won pun menyalakan microphone di hadapannya  “thank you before to Mr. Watson for the question, but I can’t promise that I can answer it completely because that is part of our company’s secret, I hope Mr. Watson will understand..won’t you, Mr.  Watson?” 

Jurnalis yang bernama Mr. Watson itu pun tersenyum.
Dengan penuh percaya diri, Yo Won pun bangun dari duduknya dan berdiri di dekat layar proyektor  “okay let us see on projector screen..The first reason why I’m so confident to make this decision is…”

- 09:45 AM, Incheon Int. Airport –
“Gi Hoon, kamu dimana?kenapa telepon ibu tidak diangkat-angkat? ” terdengar suara nyaring Nyonya Hong dari headset Bluetooth yang menempel di telinga Gi Hoon.

“Ibu katakan pada Direktur, aku akan pergi ke Uzbekistan untuk menghadiri tender..katakan padanya aku Hong Gi Hoon tak akan pulang dengan tangan hampa kali ini..” ujar Gi Hoon yang sedang berjalan sambil membawa koper besi di tangan kirinya.

“Uzbekistan?Gi Hoon tunggu…”

“ibu..teleponnya sudah dulu aku sudah akan masuk ke dalam pesawat…sampai nanti..” Gi Hoon menekan tombol off pada ponselnya dan berjalan masuk ke dalam lorong menuju pesawat yang akan membawanya ke Uzbekistan.

“Gi Hoon..Gi Hoon..” panggil Nyonya Hong melalui ponselnya. “tuut..tuut..”

Nyonya Hong nampak cemas, menatap suaminya yang sedang berdiri menatap keluar jendela “dia sedang dalam perjalanan menuju Uzbekistan..katanya ia akan menghadiri tender di sana dan tidak akan pulang dengan tangan kosong…”

Tuan Hong hanya diam saja.

“yobo..apakah kau masih marah pada putra kita?” tanya Nyonya Hong. “ia sudah berusaha dan ia mau berubah…”

“amarahku akan mereda…jika ia merebut tender itu dan membalas kekalahan memalukan yang dialaminya kemarin…” jawab Tuan Hong. Ia membalikkan badannya dan duduk di kursi kerjanya “dan aku ingin kau tidak ikut campur dan membantu anak itu…”

“aku mengerti…” jawab Nyonya Hong.

  - 12:11 PM, Seoul-
Yuri menghirup aroma fetucini yang tersaji di  hadapannya. “rasanya aroma semakin lezat setelah menyelesaikan masalah yang tadi..so delicious..”

Yo Won pun tertawa geli mendengarnya   dan mulai mengambil sumpitnya untuk menyantap sushi pesanannya.

“ah tunggu sebentar Wakil Direktur…” ujar Yuri.

“ya?” Yo Won pun nampak bingung.

Yuri mengangkat gelas lemon teanya “kita harus merayakan ini…merayakan keberhasilan Wakil Direktur..”

Yo Won hanya bisa tersenyum menahan tawa sambil mengangkat gelas teh hijau miliknya.

“cheers..” ujar Yuri sambil mengadu gelasnya dengan gelas bossnya itu kemudian menegak minumannya.

“cheers..” Yo Won ikut menegak tehnya.

“drrt..drrt..” ponsel Yuri bergetar di atas meja. “1 new email”

Yuri pun mengambil ponselnya dan membuka email yang masuk. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“pasti  Soo Hyun-ssi ya?” ledek Yo Won.

“ah…bukan..ini dari tetangga..katanya paketnya sudah sampai di rumah..” jawab Yuri.

“paket?” tanya Yo Won.

Yuri mengangguk “paket untuk hadiah besok…oh ya Wakil Direktur, bolehkah aku meminta bantuanmu?”

“bantuan?tentu saja…apa yang bisa kubantu?” jawab Yo Won.

Yuri mengeluarkan tabby miliknya dan menunjukkannya pada Yo Won “aku kurang paham dengan trend fashion..kuharap Wakil Direktur bisa membantuku memilih apa yang harus kukenakan untuk acara besok..”

- 04:55 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“cklack…” Yo Won mengunci ruangannya dan menyimpan kuncinya di dalam tasnya. Ia melirik ruangan Gun Wook yang masih kosong sejak selesai konferensi pers tadi.

“apakah Shim Gun Wook-ssi sudah pulang?”

Yuri berjalan mendekati jendela ruangan dan mengintip “sepertinya belum...mejanya belum dirapikan..”

“hmm..” Yo Won bergumam sambil menganggukan kepalanya. Ia pun teringat dengan kejadian di lift hari ini. Jantungnya pun berdetak cepat begitu mengingatnya.

“apakah Wakil Direktur butuh sesuatu?” tanya Yuri.

Yo Won pun tersadar dari lamunannya “tidak..aku hanya ingin berdiskusi tentang perbaikan kilang di Amerika..”
Yuri menekan tombol lift yang ada di dekatnya  “ooh..kalau begitu nanti akan kusampaikan agar dia bertemu Wakil Direktu besok pagi..” 

“terima kasih Nona Yuri..” jawab Yo Won.

“PING” pintu lift terbuka mengantar Yo Won dan Yuri menuju lantai dasar.

-06:10 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul- 
Yuri memandang kotak kecil berwarna hitam di tangannya dengan senyum lebar terukir di wajahnya.

“semoga ia menyukainya..”pikirnya.

“Yuri, ini filletnya mau dipakai semua?” seru Soo Hyun dari luar kamar tempat Yuri berada.

“iya..tunggu sebentar..” jawab Yuri. Ia segera menyimpan kotak kecil  itu dalam lemari, mematikan lampu kamarnya danberjalan keluar kamar menuju dapur tempat dimana Soo Hyun menunggunya dengan beberapa kantong belanja. Yuri mengambil celemeknya yang berwarna pink dan mengenakannya.

“akhirnya dipakai juga..kau terlihat manis menggunakan warna itu dibanding warna biru…bahkan dibandingkan saat kau ada di tv tadi…” canda Soo Hyun.

Yuri hanya bisa mendengus dan mengambil panci kecil dari lemari lalu mengarahkan kepada Soo Hyun  “akan kupukul kau jika meledekku lagi…”

Soo Hyun pun mengangkat kedua tangannya seakan-akan sudah menyerah sambil tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.

 Yuri pun berusaha menahan tawanya dan meletakkan pancinya di atas kompor  “Hyun tolong periksa pemanas airnya  apakah sudah betul apa belum…”

“baik Nona..” jawab Soo Hyun.  Ia tersenyum melihat Yuri yang sedang sibuk memasukkan bumbu-bumbu masakan sambil membaca  buku resep di tangannya. Lalu dengan satu gerakan mendadak, ia mengecup pipi kekasihnya itu “I love you in pink..” bisiknya lalu segera pergi meninggalkan Yuri yang protes. Wajah Yuri pun memerah. Dan tentunya bukan karena hawa panas dari masakan yang sedang dibuatnya.

“Hyun…jangan menggodaku terus…” protes Yuri.  Soo Hyun hanya tertawa dari kejauhan. Yuri pun kembali pada pancinya yang berisi kuah kari berwarna coklat

“dasar..” gumamnya sambil tersenyum.

Soo Hyun berjalan ke dalam kamar mandi dan memeriksa kotak mesin  pemanas air yang terpasang di sudut atas jendela kamar mandi. “ctak…ctak..” Soo Hyun menekan tombol mesin pemanas lalu menyalakan kran shower. Air dingin perlahan berubah menjadi hangat di tangannya. Soo Hyun pun mematikan kran shower itu dan mengeringkan tangannya dengan handuk tangan yang tergantung dekat wastafel. “pemanasnya sudah betul..” serunya.

“yaa..” sahut Yuri dari kejauhan.

“drrt..drrt..” ponsel di saku Soo Hyun bergetar. Ia pun mengambil ponselnya dan begitu melihat caller id yang terpampang di layar, ia segera mengangkatnya “hallo..”

-  06:16 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul –
Yo Won menatap cermin di meja riasnya sambil memasang anting di telinga kanannya. Anting berbentuk lingkaran kecil dari emas putih dan berhiaskan berlian-berlian kecil di sekelilingnya.

“tok..tok..” terdengar suara pintu kamarnya diketuk.

“iya..masuk..” jawab Yo Won yang baru saja selesai memasang anting untuk telinga kirinya.

“nona..apakah nona butuh bantuan?” Sohwa melangkah masuk ke dalam kamar. Ia pun menghampiri nonanya itu yang sedang duduk di depan meja rias dan ia pun sadar bahwa sepertinya nonanya itu tidak akan memerlukan bantuan darinya.

“nona terlihat sangat cantik..” kata Sohwa yang berdiri di belakang Yo Won.

Yo Won tersenyum sambil merapikan gaun A-line one shoulder berwarna coklat tua yang dikenakannya  “menurut bibi apakah ini tidak berlebihan?”  
Sohwa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

-06:17 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul-
“ibu..aku kan sudah bilang..aku tak bisa pulang ke Suwon besok…aku masih harus bekerja  di kantor sampai malam besok..” ujar Soo Hyun pada ponselnya…

“besok adalah hari spesialmu…kau tidak mau merayakannya bersama orangtuamu ini?” terdengar suara khas ibu-ibu dari telepon.

Soo Hyun pun bingung bagaimana cara membuat ibunya mengerti “ibu..bukan begitu..”

“Hyun…kau mau karinya pedas atau tidak?” seru Yuri dari luar kamar mandi.

Soo Hyun pun menutup ponselnya dengan tangannya “nanti aku ke sana…” lalu melanjutkan teleponnya lagi.

“tap..tap..tap..sraaak..” Yuri membuka pintu kamar mandi “Hyun kau mau karinya pedas atau tidak?”
Soo Hyun yang sedang mendengarkan perkataan ibunya pun terkejut. Ia pun segera membalikkan badannya, memunggungi Yuri.

“ibu sudah ya..aku masih ada pekerjaan lain..” bisik Soo Hyun pada ponselnya.

Yuri pun berjalan mendekati kekasihnya itu “Hyun?kau sedang menelpon siapa?”

“ooh jadi kamu sedang bersama perempuan itu ya sekarang?pantas ibu telepon ke apartemenmu tidak diangkat..sudah berapa kali ibu katakan supaya kamu mencari kekasih yang lain saja…masih banyak wanita yang lebih baik darinya dan lebih pantas untukmu…ah jangan-jangan kau tidak pulang besok itu karena dia juga?iya kan?” seru wanita yang dipanggil ibu ..”oleh Soo Hyun itu.

Yuri yang mendengar suara di telepon itu segera membalikkan badannya meninggalkan kamar mandi.

“Ibu..aku ingin Ibu tahu dan mengerti bahwa aku tidak pulang besok itu bukan karena Yuri…dan aku tidak akan meninggalkan Yuri bu..” ujar Soo Hyun sebelum mengakhiri pembicaraan di ponselnya.

“Yuri!tunggu!” seru Soo Hyun.

-06:18 PM, Le Meurice Restaurant, Seoul –
“aku ada janji di meja Mr.James..David James” ujar Gun Wook kepada petugas reservasi meja.

“ah..anda Tuan Shim Gun Wook?” tanya petugas reservasi.

Gun Wook mengangguk “tunjukkan padaku dimana mejanya…”