Pages


Tampilkan postingan dengan label Our Future Still Continue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Our Future Still Continue. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Bi Dam's Family
happy family!



I didn't owned this picture, it's just a fanfiction :) 

Our Future Still Continue Chapter 86 : A New Age (Ending)





5 tahun kemudian
Tepi Kota Chu-A-Gun, Shilla
“tuk..tuk…tuk..” Deok Man menaruh wortel-wortel yang sudah terpotong itu dalam mangkuk kosong, kemudian mengambil bawang bombay untuk dikupasnya. “omma..kami pulang!!” terdengar suara teriakan anak-anak dari luar. “iya…selamat datang…omma sedang di dapur…” sahut Deok Man. “tap..tap..tap..” terdengar suara langkah kaki berlari menuju dapur. “sraak..”  bocah laki-laki disusul saudara kembarnya perempuan berdiri di samping Deok Man dengan kedua tangannya tersembunyi di belakang “omma coba tebak apa yang aku dapat?” tanya Yun Ho sambil tersenyum lebar pada ommanya. Deok Man jongkok di hadapan putranya dan tersenyum menggeleng “lihat..” ujar Yun Ho. Ia menyerahkan sebuah sarang kecil yang berisi 5 telur bebek. “telur bebek?kalian tadi main di tepi sungai”tanya Deok Man. Yun Ho tersenyum menggelengkan kepalanya.  “tadi saat kami akan ke pasar, kakak menolong seorang nenek pedagang yang kehilangan kainnya, rupanya kain itu tersangkut di atas pohon..kakak mempraktekkan jurus yang diajarkan appa dan berhasil mengambilnya…dan nenek itu memberikan ini pada kami” sahut Yoo Na. “appa dan omma senang kamu mempraktekkan jurus itu untuk menolong orang..  ujar Deok Man dengan wajah gembira dan penuh rasa bangga sambil mengusap pipi tembem putranya itu. “nah sekarang giliranku…omma coba lihat lukisanku…itu gambar apa?” ujar Yoo Na penuh semangat. Deok Man membuka sebuah gulungan dan ia takjub dengan apa yang dilihatnya “omma tahu ini pemandangan di pasar kan?” jawab Deok Man. Yoo Na tersenyum lebar mengangguk “ini lukisan buatanku dan Paman Carten..”  “Paman Carten?” tanya Deok Man. “iya…Paman Carten baru saja tiba dari Tujue, ia tersesat dan tak bisa bahasa Gyerim jadi kami menolongnya…rupanya ia adalah pedangang lukisan dan ia tadi mau mengajariku membuat ini dan memintaku besok datang lagi…” jawab Yoo Na dengan rasa bangga. Mendegar cerita putrinya, Deok Man tersenyum, teringat dengan masa kecilnya sendiri dengan Paman Cartan saat masih tinggal di Gurun Taklamakan. “adiuvetis tam populo sum vobis superbus..” ujar Deok Man dalam bahasa latin yang berarti kalian sudah menolong orang-orang hari ini, omma sangat bangga pada kalian. Yun Ho dan Yoo Na mengangguk “yes!!” “Yun Ho..Yoo Na main yuk!!” terdengar suara teriakan anak-anak dari luar. “omma..bolehkah kami ikut bermain bersama mereka?” tanya Yun Ho dan Yoo Na. serempak. Deok Man tersenyum mengangguk “tapi ingat nanti saat makan siang kalian harus pulang dan jangan berantem yaa..” “baik omma…” jawab Yun Ho dan Yoo Na. Mereka berdua pun pergi keluar setelah mengecup pipi omma mereka satu persatu.  

“ini Nyonya tomat dan kentangnya…”ujar Soo Hye sambil meletakkan sekeranjang tomat dan kentang di atas meja. “terima kasih Soo Hye…Yun Ho dan Yoo Na tidak nakalkan selama menemanimu?” tanya Deok Man. “tidak Nyonya, mereka berdua sangat baik hari ini…” jawab Soo Hye. “syukurlah kalau begitu..” jawab Deok Man. Ia mulai mengupas kentang yang baru saja dicucinya. Tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang “bruk…” Deok Man menahan dirinya pada meja di hadapannya. “Nyonya..Nyonya…” ujar Soo Hye panik sambil memapah Deok Man untuk duduk. “ini Nyonya minumnya..” Soo Hye mengambilkan segelas air untuk Deok Man. “Nyonya baik-baik saja kan?” tanya Soo Hye. Deok Man tersenyum mengangguk “aku baik-baik saja…” “Nyonya terlihat pucat..Nyonya harus beristirahat…” ujar Soo Hye khawatir. “aku baik-baik saja Soo Hye..” jawab Deok Man. “saya diserahkan tanggung jawab oleh Tuan untuk selalu menjaga Nyonya selama Tuan tidak ada…jadi Nyonya harus beristirahat…” ujar Soo Hye. Deok Man pun tersenyum lebar “baiklah akan aku turuti saranmu..aku akan kembali lagi saat semuanya sudah terkupas..” “ya..serahkan saja padaku..” jawab Soo Hye. Deok Man pun berjalan keluar dari ruang dapur dan duduk di pelataran halaman samping rumahnya.    
Dari halaman rumahnya bisa terlihat hamparan lahan pertanian yang cukup luas yang sedang digarap para petani. Lahan tersebut memang miliknya dan suaminya tapi ia membebaskan penduduk sekitar untuk memanfaatkannya karena lahan itu dirasa terlalu luas jika dimilikinya sendiri. “tap..” tiba-tiba pandangannya menjadi gelap. “siapa ini?” Deok Man berusaha melepaskan tangan yang menutupi matanya namun tidak juga lepas. Ia meraba-raba tangan itu dan mengenali tangan siapa itu dari cincin yang dikenakan di jari tengahnya. “Bi Dam…” panggilnya. “aku pulang Deok Man..” gumam Bi Dam dari belakang.  “Bi Dam tolong lepaskan tanganmu..” ujar Deok Man. “hmm..maaf Nyonya tidak bisa..karena ada kejutan untukmu…” jawab Bi Dam dengan bercanda. “kejutan?” tanya Deok Man. “ya..tapi kau harus janji sesuatu..” jawab Bi Dam. “apa itu?” tanya Deok Man. “jangan coba mengintip..kau harus menutup matamu terus sampai aku memintamu membukanya..” jawab Bi Dam. “baiklah..aku janji…” Bi Dam kemudian menutup mata Deok Man dengan sehelai kain berwarna merah. “kyaa..” Deok Man menjerit kaget karena tiba-tiba Bi Dam menggendongnya “biar lebih cepat…” ujar Bi Dam sambil tersenyum lebar. Kemudian ia membawa Deok Man ke dalam sebuah tandu dan mereka pergi dengan tandu itu. “kita akan ke atas gunung ya?” tanya Deok Man saat ia merasa bahwa tandunya sedang berjalan agak menanjak. “hmmm…rahasia..” jawab Bi Dam.

Tak lama kemudian Bi Dam menggandeng tangannya, menuntun dirinya keluar dari tandu, dan kembali menggendongnya. “kita sedang berada di dalam hutan ya?” tanya Deok Man. “alasannya?” sahut Bi Dam. “karena aku merasa sejuk di tengah siang seperti ini, dari bau daun-daun yang kucium, dan suara langkah kakimu yang melewati rerumputan..” jawab Deok Man. Bi Dam tersenyum lalu mengecup pipi istrinya. “Bi Dam?” Deok Man pun bingung. “1 kecupan untuk jawaban yang benar..” jawab Bi Dam sambil tertawa kecil. “nah..sebentar lagi kita sampai..” Bi Dam berjalan keluar dari hutan dan berada di sebuah tebing gunung. Kemudian ia menuntun Deok Man untuk duduk di kursi yang telah disediakannya. Lalu ia mulai melepaskan kain penutup mata Deok Man dan berbisik “ aku harap ini tidak kalah dari gunung Taebaeksan…” Deok Man membuka matanya perlahan dan takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. Hamparan sawah yang menguning tanda akan segera panen, desa-desa kecil,  dan sebuah danau yang cukup besar serta sungai-sungai kecil. “ini luar biasa..” ujarnya. “belum lama ini aku menemukannya saat berburu dan kurasa kau akan menyukainya…” jawab Bi Dam yang berdiri di sampingnya.”sangat menyukainya…” jawab Deok Man. “kemarin saat dalam perjalanan pulang, aku bertemu Yushin di Kota Sabi…” ujar Bi Dam. “Panglima Yushin?” tanya Deok Man. “ya…ia sedang dalam perjalanan menuju Saitama… untuk mengatasi pemberontakan yang sepertinya diprovokasi oleh Goguryeo…kami pun bertukar kabar…” “Alcheon sekarang sudah memiliki anak kedua, seorang putri dan Kim Seo Hyun memutuskan untuk pensiun dan digantikkan oleh Jenderal Baek Jong…setelah itu ia menitipkan salam untukmu dan anak-anak kita…” jawab Bi Dam.

“hmm..tak terasa sudah 5 tahun  kita hidup di sini sebagai rakyat biasa…” gumam Deok Man. “apa kau merindukan Seoraboel?” tanya Bi Dam. “tentu..aku cukup lama tinggal di sana…banyak kenangan yang kumiliki di sana…tapi itu bukan berarti aku ingin kembali tinggal di sana…karena politik dan kekuasaan bisa menyeretku ke dalam masalah kembali…” Deok Man kemudian menatap suaminya “dan aku sangat bahagia berada di sini…di zaman dan tempat tinggal yang baru ini…” Bi Dam pun tersenyum lebar mendengarnya. Ia berlutut di samping istrinya dan menggenggam tangan kanannya erat-erat “aku berjanji akan melindungimu, Yun Ho, dan Yoo Na dan membahagiakan kalian bertiga…” “salah…” sela Deok Man. “salah?” tanya Bi Dam bingung. Deok Man menarik tangan Bi Dam dan meletakkannya di atas perutnya. “kita berlima…” gumam Deok Man sambil tersenyum. “Deok Man..maksudmu..kau…hamil?” tanya Bi Dam. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Deok Man menjawabnya dengan anggukan “diam-diam kemarin aku ke tempat tabib dan tabib bilang aku sudah hamil 1 bulan…”  Bi Dam mengecup kening istrinya “terima kasih Deok Man…kau selalu menjadikanku pria yang paling berbahagia di dunia ini…” “kalau begitu nanti kita berdua akan memberitahukan anak-anak bahwa mereka kan segera mempunyai adik…” ujar Deok Man.   Bi Dam mengulurkan tangannya dan Deok Man meraihnya lalu bangun dari duduknya. “kita pulang?” tanya Bi Dam. Deok Man mengangguk.  Bi Dam kembali membawa Deok Man dalam gendongannya dan berjalan kembali ke dalam hutan tempat tandu mereka sudah menanti mereka. “kami memang hidup sebagai orang biasa…tapi kebahagiaan yang kami terima sangatlah luar biasa…” pikir Deok Man sambil menatap wajah suaminya tiba-tiba ia menarik leher suaminya yang dirangkulnya dan mengecup pipinya. “Deok Man?” tanya Bi Dam. “satu kecupan hadiah dariku karena telah membawaku ke sini…” ujarnya tersenyum. Bi Dam pun tersenyum lebar “akan kutunggu kecupan yang lain di dalam tandu..” dan mereka pun tertawa.

~FIN~
It isn’t the end of all, but the new beginning for all
    A fresh start for their new life
    When everyone thinks it’s over
The Destiny just said that their future still continued
Yun Ho & Yoo Na

starring: Hwang Seok Hyeon as Yun Ho
             Kim Soo Jung as Yoo Na

date of born: Seoraboel, 11th July (Yun Ho is the eldest)
Father: Bi Dam
Mother: Deok Man

I didn't owned this picture, it's just a fanfiction :)

Our Future Still Continue Chapter 85: Baekje Fell Down


WARNING!!! NC SCENE!! buat yang masih di bawah usia 17 tahun silahkan baca yang Our Future Still Continue Chapter 85: Baekje Fell Down (cut)

Pasukan Tang berhasil tiba tepat pada waktunya, atas persetujuan Raja Muyeol, Yushin dan Jenderal Zhou Yu dari Tang membentuk aliansi Pasukan Shilla-Tang. Situasi pun berbalik, dalam waktu 3 hari Pasukan aliansi berhasil memukul mundur Pasukan Baekje dan merebut Kota Hwangsanbeol, namun untuk menembus benteng terbesar milik Kerajaan Baekje, tempat dimana Gyebaek dan pasukannya yang tersisa bertahan, butuh waktu yang lebih lama untuk menaklukannya.

2 minggu kemudian

Sore hari

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“HEAA!!” Gyebaek bersama sejumlah prajurit Baekje yang tersisa masih bertarung sekuat tenaga menghabisi prajurit-prajurit Shilla yang menyerangnya meskipun pasukan aliansi Shilla –Tang berhasil mengepung mereka.  “siapkan pemanah!!” seru Wolya.  “jangan..”ujar Yushin yang baru saja tiba. “Yushin...kita tidak bisa berlama-lama di sini…setelah ini kita harus menaklukan Istana Ungjin...”  Yushin pun turun dari kudanya dan menghunuskan pedangnya. “kau..” ujar Wolya. “kau berangkatlah ke Ungjin lebih dahulu..aku ingin menyelesaikan pertarungan kami yang tertunda dulu..” ujar Yushin. “dan ini akan menjadi pertarungan kami yang terakhir…” pikir Yushin.


Ruang Kerja Raja, Istana Ingang.
Yang Mulia Raja dengan hati-hati membubuhkan stempel kerajaan pada  surat yang baru selesai ditulisnya. “segera kau antarkan ini ke Kekaisaran Tang!” perintahnya. “ya Yang Mulia..” jawab kasim yang menerima surat itu sambil memberi hormat. “hamba mohon menghadap Yang Mulia..” seru Jenderal Baekjong dari balik pintu. “masuklah..” jawab Yang Mulia Raja. Jenderal Baekjong pun berjalan masuk dan memberi hormat kepada Yang mulia Raja. “Yang Mulia, Panglima Yushin berhasil memasukki Benteng Hwangsanbeol..hanya tinggal menunggu waktu saja kejatuhan Benteng Hwangsanbeol…” ujar Jenderal Baekjong dengan wajah penuh semangat. “kami mengucapkan selamat Yang Mulia..” ujar Kim Seo Hyun dan Kim Yong Chun serempak. “dengan kejatuhan Hwangsanbeol, maka dapat dipastikan Baekje sudah tidak memiliki kekuatan militer apa-apa lagi…” ujar Yang Mulia Raja. Ia menoleh pada pejabat yang duduk di sisi kirinya “Pejabat Kim Seo Hyun..” “ya Yang Mulia..” jawab Kim Seo Hyun. “aku ingin persediaan pangan yang dikirim ke Hwangsanbeol ditambah…aku ingin mereka bisa merayakan kemenangan mereka di sana…” “baikYang Mulia..” jawab Kim Seo Hyun. “Perdana Menteri Kim Yong Chun…” panggil Yang Mulia Raja. “ya Yang Mulia..” jawab Kim Yong Chun. “aku ingin kabar gembira ini tersebar hingga ke seluruh pelosok kerajaan dan segera kau atur pemulangan para pengungsi ke kota asal mereka…” ujar Yang Mulia Raja “baik..Yang Mulia…” jawab Kim Yong Chun.    “oh ya..apakah sudah ada kabar dari Putri Deok Man?” tanya Yang Mulia Raja. “hamba baru saja menanyakan hal tersebut kepada tabib yang bertugas tadi…dan sepertinya belum ada tanda perkembangan apa-apa..selain luka-lukanya yang sudah mulai membaik…” jawab Jenderal Baek Jong. Yang Mulia Raja menghela napas panjang  “kita semua sudah mengusahakan yang terbaik  dan kuharap yang terbaik jugalah yang akan diterima Putri Deok Man..”


Kamar Perdana Menteri Bi Dam, Istana Ingang.
“sraat..sraat..” dibantu dengan dayang-dayang, Deok Man melepas perban yang membalut badan Bi Dam dengan perlahan. “jahitannya sudah menyatu dengan kulit..” gumam Deok Man sambil menyentuh bekas jahitan di perut Bi Dam yang cukup panjang ukurannya. Luka yang terparah dibandingkan luka-luka yang dialami Bi Dam. Deok Man mengambil mangkuk putih hasil ramuan hasil tumbukan dari berbagai daun herbal dan mengoleskan ramuan berwarna hijau tua pada luka tersebut sebelum menutupnya dengan perban. “Bi Dam..sadaralah..” gumam Deok Man dengan wajah sendu sambil menatap kedua mata suaminya yang masih menutup.

“bagaimana caranya kita memberitahu pada Tuan Putri mengenai ini…jika kondisi ini terus berlanjut..” ujar salah satu tabib Istana. “kita harus memberitahukannya kepada Tuan Putri agar Tuan Putri siap jika seandainya yang terburuk terjadi …luka dalam di bagian perut Tuan Bi Dam sangatlah parah itulah penyebab Tuan Bi Dam belum juga pulih dan itu juga yang akan membawakannya kepada…kematian…” sahut tabib yang nampak lebih senior sambil mengelus-elus janggut putihnya.

“Bi Dam…kau tahu Yun Ho dan Yoo Na terus menerus menunjuk ke arahmu setiap kali mereka berada di sini menjegukmu. “omma, appa bobo..omma, appa bobo..begitu kata mereka…” ujar Deok Man. Matanya sekarang berkaca-kaca.  “aku hanya bisa tersenyum dan menjawab iya pada mereka..mereka sangat merindukanmu Bi Dam..” gumam Deok Man. Ia menundukkan kepalanya lalu mengecup kening suaminya. Air matanya pun jatuh membasahi pipi Bi Dam. “set..” jari telunjuk Bi Dam bergerak tanpa Deok Man sadari.

Malam hari.

Ruang Kerja Raja, Istana Ingang.
“Yang Mulia harus beristirahat…sudah hampi 2 minggu Yang Mulia terus bekerja sampai larut malam…biar kami berdua yang terus menunggu kabar..” ujar Kim Yong Chun. “pikiranku terlalu tegang untuk bisa tidur…para prajurit Shilla harus bertarung sepanjang hari sedangkan aku hanya duduk di sini seharian...” jawab Yang Mulia Raja. “sraak..” terdengar suara pintu dibuka dan derap kaki yang cepat. Jenderal Baek Jong segera memberi hormat. “Jenderal Baek Jong bagaiaman bisa kau begitu lancang masuk tanpa izin Yang Mulia…” tegur Kim Yong Chun. Yang Mulia mengangkat satu tangannya, memberi isyarat taka pa-apa. “ada apa Jenderal Baek Jong apakah sesuatu sudah terjadi?”tanya Yang Mulia Raja. Baek Jong mengangkat kepalanya, wajahnya penuh kegembiraan “ya Yang Mulia, Pasukan aliansi berhasil menaklukan Hwangsanbeol dan Ungjin…Pasukan Tang menangkap dan membawa Raja Uija beserta putranya dan para pejabatnya yang tersisa ke Tang untuk diselidiki mengenai pencurian senjata Tang yang dilakukan Baekje….”  Yang Mulia Raja terdiam sejenak, kabar gembira ini sangat mengejutkan dirinya “selamat Yang Mulia…Baekje menjadi wilayah kekuasaan Yang Mulia…” “segera kabarkan ini ke seluruh Kerajaan…aku ingin kita semua merayakannya malam ini…” ujar Yang Mulia Raja.    

Kamar Putri Deok Man
“uhm..” perlahan Bi Dam membuka matanya. “dimana aku?sepertinya aku kenal tempat ini” gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.  Ia merasakan ada desahan napas yang berhembus di lengan kanannya, ia menoleh dan melihat istrinya tertidur di tepi tempat tidurnya. “ugh..”  ia pun berusaha bangun dari tidurnya. “Deok Man..Deok Man..” gumam Bi Dam sambil mengusap kepala istrinya. Merasa ada yang membelai rambutnya, Deok Man pun terbangun dari tidurnya. “hei..” ujar Bi Dam tersenyum pada istrinya. “Bi..Bi Dam..” ujar Deok Man dengan wajah penuh keterkejutan sekaligus kegembiraan. Ia segera memeluk suaminya itu dengan erat. Namun Bi Dam sudah lebih dulu mengambil alih, ia menarik istrinya dalam pelukannya dan mencium bibir  dengan penuh hasrat. “aku sangat merindukanmu dan mencintai…” Bi Dam belum selesai mengatakannya namun  Deok Man sudah meletakkan jari telunjuknya di atas bibir suaminya. “kau selalu mengatakan itu lebih daulu dari aku..sekarang giliranku yang lebih dulu  mengatakannya…aku sangat mencintaimu Bi Dam…sangat…dan sangat merindukanmu…” Bi Dam tersenyum  “aku juga..sangat..sangat dan sangat mencintaimu…” ia mengecup kening istrinya. “Shilla berhasil menaklukan Baekje!!Hidup Shilla!!” seru orang-orang dari luar. “kau dengar itu?” tanya Bi Dam. Deok Man mengangguk , wajahnya  penuh dengan kebahagiaan “sepertinya Panglima Yushin dan pasukan aliansi berhasil menaklukan Baekje..” “selamat Tuan Putri…” ujar Bi Dam tersenyum. Deok Man menatap suaminya “tapi yang paling membuatku bahagia hari ini adalah melihatmu menatapku sekarang…”  “oh ya bicara mengenai Baekje aku harus mengatakan sesuatu padamu…” ujar Deok Man yang sekarang bersandar pada bahu suaminya. “apa itu?” tanya Bi Dam. “mengenai perbuatan Daemusin padaku…” ujar Deok Man.

Bi Dam pun teringat dengan apa yang sudah dilakukan Daemusin pada istrinya. Tangan kanannya pun mengepal erat, hatinya kembali panas “maafkan aku Deok Man..aku gagal..” “ia tidak meniduriku…Shin Ae sendiri yang mengatakannya padaku…ia melakukan ini agar kau emosi..dan…membenciku…” Mendengar itu hati Bi Dam menjadi sangat lega “kau tahu Deok Man..yang membuatku emosi bukanlah karena aku membencimu…tapi karena ia sudah amat sangat menyakitimu...menyerangmu, mengurungmu, hingga akhirnya ia bilang kalau ia sudah…” Bi Dam merasakan genggaman tangan Deok Man semakin erat menggenggam tangannya. “terlepas dari itu semua, aku tidak membencimu Deok Man…dan tidak akan pernah membencimu…apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu…” jawab Bi Dam.  “ Bi Dam..” gumam Deok Man sambil menatap kedua mata suaminya yang tulus tanpa kebohongan. Bi Dam mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir istrinya. “kau hanya milikku satu-satunya…” bisiknya. Deok Man tersenyum “ya…” 
Bi Dam mencium leher istrinya dan tangan kananya perlahan mulai menanggalkan pakaian tidur istrinya sementara tangan kirinya sudah menelusup jauh ke bagian bawah. Deok Man menahan tangan kanan Bi Dam “luka di perutmu belum sembuh Bi Dam…”  “ketika kau menciumku..itu sudah sembuh…” jawab Bi Dam tersenyum lalu mengecup leher istrinya “ta..tapi…aakh..” “aku merindukanmu Deok Man…tidakkah kau merindukanku?tubuhmu tak bisa berbohong..kau sudah basah..” bisik Bi Dam bercanda di telinganya.  Wajah Deok Man pun memerah  “sangat…tapi jika lukamu sakit harus berhenti…” “iya istriku…” jawab Bi Dam tersenyum. Deok Man pun menanggalkan pakaian suaminya.

Bi Dam berlutut di atas tempat tidur lalu menarik istrinya perlahan ke dalam pelukannya. Deok Man duduk tepat di atas kedua paha Bi Dam. “aaakh…” Deok Man mendesah. Bi Dam menelusuri kedua dada istrinya, menghisapnya seperti bayi yang kelaparan dan di saat yang bersamaan ia mulai memasukki Deok Man. Bi Dam melakukan gerakan naik turun yang teratur dan semakin lama semakin intens. “Deok Man…Deok Man…”  erang Bi Dam. “aakh…Bi Dam..aakh…” Bi Dam membenamkan desahan istrinya dalam mulutnya dan menciumnya lagi-lagi dan lagi hingga mereka berdua kehabisan napas. Kedua tangan Bi Dam merangkul erat-erat pinggul istrinya. “Bi Dam..aah…” Deok Man mencapai klimaksnya. Ia mendekap erat kepala suaminya dalam pelukannya. Bi Dam membaringkan Deok Man di atas tempat tidur namun Deok Man tak melepaskan pelukannya. Bi Dam pun menciumnya lagi-lagi dan lagi baik bibir, dada, leher, dan yang bisa dijangkau olehnya. Seakan-akan ia sangat merindukan istrinya. “argh..” erang Bi Dam sesaat di telinga istrinya. “aahh…” Deok Man merasakan bahwa milik Bi Dam semakin membesar dalam dirinya. Deok Man memeluk suaminya semakin erat, melingkarkan kedua kakinya di pinggang suaminya. Dan posisi itu membuatnya mendapatkan klimaks yang kedua kalinya. “aku mencintaimu Deok Man..ah..” bisik Bi Dam di telinga istrinya, bersamaan dengan itu Deok Man merasa ada sensasi kehangatan masuk dalam rahimnya. Ia menarik tubuh suaminya agar beristirahat di sisinya lalu mencium bibirnya. “aku tahu pasti perutmu tadi sakit..” gumam Deok Man sambil meletakkan tangannya di atas perut Bi Dam. Bi Dam mengenggam tangannya erat  kemudian membalik badannya agar dirinya bisa menatap istrinya“tapi rasa sakitnya tidak sehebat dengan kenikmatan yang kurasakan..” jawabnya sambil tersenyum jahil. Deok Man pun tertawa kecil. Memang begitulah Bi Dam. Memang begitulah suaminya selalu bisa membuat dirinya tertawa di saat dirinya khawatir padanya. Bi Dam mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening istrinya. “jangan khawatirkan lukaku Deok Man…sekarang tidurlah..” bisiknya sambil mendekap istrinya dalam pelukannya. “ya..selamat tidur…aku mencintaimu Bi Dam…” “ya..aku juga sangat mencintaimu Deok Man..” bisik Bi Dam.  Mereka berdua pun terlelap dalam tidur mereka.

Our Future Still Continue Chapter 85: Baekje Fell Down (cut)



Kamar Perdana Menteri Bi Dam, Istana Ingang.
“sraat..sraat..” dibantu dengan dayang-dayang, Deok Man melepas perban yang membalut badan Bi Dam dengan perlahan. “jahitannya sudah menyatu dengan kulit..” gumam Deok Man sambil menyentuh bekas jahitan di perut Bi Dam yang cukup panjang ukurannya. Luka yang terparah dibandingkan luka-luka yang dialami Bi Dam. Deok Man mengambil mangkuk mputih berhasil ramuan hasil tumbukan dari berbagai daun herbal dan mengoleskan ramuan berwarna hijau tua pada luka tersebut sebelum menutupnya dengan perban. “Bi Dam..sadaralah..” gumam Deok Man dengan wajah sendu sambil menatap kedua mata suaminya yang masih menutup.

“bagaimana caranya kita memberitahu pada Tuan Putri mengenai ini…jika kondisi ini terus berlanjut..” ujar salah satu tabib Istana. “kita harus memberitahukannya kepada Tuan Putri agar Tuan Putri siap jika seandainya yang terburuk terjadi …luka dalam di bagian perut Tuan Bi Dam sangatlah parah itulah penyebab Tuan Bi Dam belum juga pulih dan itu juga yang akan membawakannya kepada…kematian…” sahut tabib yang nampak lebih senior sambil mengelus-elus janggut putihnya.

“Bi Dam…kau tahu Yun Ho dan Yoo Na terus menerus menunjuk ke arahmu setiap kali mereka berada di sini menjegukmu. “omma, appa bobo..omma, appa bobo..begitu kata mereka…” ujar Deok Man. Matanya sekarang berkaca-kaca.  “aku hanya bisa tersenyum dan menjawab iya pada mereka..mereka sangat merindukanmu Bi Dam..” gumam Deok Man. Ia menundukkan kepalanya lalu mengecup kening suaminya. Air matanya pun jatuh membasahi pipi Bi Dam. “set..” jari telunjuk Bi Dam bergerak tanpa Deok Man sadari.

Malam hari.

Ruang Kerja Raja, Istana Ingang.
“Yang Mulia harus beristirahat…sudah hampi 2 minggu Yang Mulia terus bekerja sampai larut malam…biar kami berdua yang terus menunggu kabar..” ujar Kim Yong Chun. “pikiranku terlalu tegang untuk bisa tidur…para prajurit Shilla harus bertarung sepanjang hari sedangkan aku hanya duduk di sini seharian...” jawab Yang Mulia Raja. “sraak..” terdengar suara pintu dibuka dan derap kaki yang cepat. Jenderal Baek Jong segera memberi hormat. “Jenderal Baek Jong bagaiaman bisa kau begitu lancang masuk tanpa izin Yang Mulia…” tegur Kim Yong Chun. Yang Mulia mengangkat satu tangannya, memberi isyarat taka pa-apa. “ada apa Jenderal Baek Jong apakah sesuatu sudah terjadi?”tanya Yang Mulia Raja. Baek Jong mengangkat kepalanya, wajahnya penuh kegembiraan “ya Yang Mulia, Pasukan aliansi berhasil menaklukan Hwangsanbeol dan Ungjin…Pasukan Tang menangkap dan membawa Raja Uija beserta putranya dan para pejabatnya yang tersisa ke Tang untuk diselidiki mengenai pencurian senjata Tang yang dilakukan Baekje….”  Yang Mulia Raja terdiam sejenak, kabar gembira ini sangat mengejutkan dirinya “selamat Yang Mulia…Baekje menjadi wilayah kekuasaan Yang Mulia…” “segera kabarkan ini ke seluruh Kerajaan…aku ingin kita semua merayakannya malam ini…” ujar Yang Mulia Raja.    

Kamar Putri Deok Man
“uhm..” perlahan Bi Dam membuka matanya. “dimana aku?sepertinya aku kenal tempat ini” gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.  Ia merasakan ada desahan napas yang berhembus di lengan kanannya, ia menoleh dan melihat istrinya tertidur di tepi tempat tidurnya. “ugh..”  ia pun berusaha bangun dari tidurnya. “Deok Man..Deok Man..” gumam Bi Dam sambil mengusap kepala istrinya. Merasa ada yang membelai rambutnya, Deok Man pun terbangun dari tidurnya. “hei..” ujar Bi Dam tersenyum pada istrinya. “Bi..Bi Dam..” ujar Deok Man dengan wajah penuh keterkejutan sekaligus kegembiraan. Ia segera memeluk suaminya itu dengan erat. Namun Bi Dam sudah lebih dulu mengambil alih, ia menarik istrinya dalam pelukannya dan mencium bibir  dengan penuh hasrat. “aku sangat merindukanmu dan mencintai…” Bi Dam belum selesai mengatakannya namun  Deok Man sudah meletakkan jari telunjuknya di atas bibir suaminya. “kau selalu mengatakan itu lebih daulu dari aku..sekarang giliranku yang lebih dulu  mengatakannya…aku sangat mencintaimu Bi Dam…sangat…dan sangat merindukanmu…” Bi Dam tersenyum  “aku juga..sangat..sangat dan sangat mencintaimu…” ia mengecup kening istrinya. “Shilla berhasil menaklukan Baekje!!Hidup Shilla!!” seru orang-orang dari luar. “kau dengar itu?” tanya Bi Dam. Deok Man mengangguk , wajahnya  penuh dengan kebahagiaan “sepertinya Panglima Yushin dan pasukan aliansi berhasil menaklukan Baekje..” “selamat Tuan Putri…” ujar Bi Dam tersenyum. Deok Man menatap suaminya “tapi yang paling membuatku bahagia hari ini adalah melihatmu menatapku sekarang…”  “oh ya bicara mengenai Baekje aku harus mengatakan sesuatu padamu…” ujar Deok Man yang sekarang bersandar pada bahu suaminya. “apa itu?” tanya Bi Dam. “mengenai perbuatan Daemusin padaku…” ujar Deok Man.

Bi Dam pun teringat dengan apa yang sudah dilakukan Daemusin pada istrinya. Tangan kanannya pun mengepal erat, hatinya kembali panas “maafkan aku Deok Man..aku gagal..” “ia tidak meniduriku…Shin Ae sendiri yang mengatakannya padaku…ia melakukan ini agar kau emosi..dan…membenciku…” Mendengar itu hati Bi Dam menjadi sangat lega “kau tahu Deok Man..yang membuatku emosi bukanlah karena aku membencimu…tapi karena ia sudah amat sangat menyakitimu...menyerangmu, mengurungmu, hingga akhirnya ia bilang kalau ia sudah…” Bi Dam merasakan genggaman tangan Deok Man semakin erat menggenggam tangannya. “terlepas dari itu semua, aku tidak membencimu Deok Man…dan tidak akan pernah membencimu…apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu…” jawab Bi Dam.  “ Bi Dam..” gumam Deok Man sambil menatap kedua mata suaminya yang tulus tanpa kebohongan. Bi Dam mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir istrinya. “kau hanya milikku satu-satunya…” bisiknya. Deok Man tersenyum “ya…”  

Selasa, 29 Maret 2011

Pictures for OFSC Chapter 84: Final Encounter 

cr: MBC 
I didn't own these pictures

Our Future Still Continue Chapter 84: Final Encounter




Luar Benteng Hwangsanbeol
Yushin, Seolji,  Yesung ,dan Im Jong berkumpul di belakang barisan prajurit pertahanan garis belakang.  Posisi Pasukan Shilla semakin terpuruk dengan ditembusnya baris depan pertahanan mereka“Komandan Seol Ji berapa persediaan senjata kita yang tersisa?” tanya Yushin. “senjata yang ada hanya tinggal 5.000 anak panah, dan 6 pelontar yang tersisa..sedangkan senjata yang lain sudah habis dibawa pasukan..” jawab Seolji.  Yesung dan Im Jong pun saling bertukar pandangan. “apakah kita bertahan dengan kondisi senjata seperti ini?” pikir mereka.  Yushin pun bisa menangkapa apa yang ada di pikiran mereka. Ia pun diam sejenak berpikir mengenai langkah apa yang harus dilakukannya. Kemenangan atas Baekje nampaknya sudah semakin mustahil. “ada hal yang lebih bernilai daripada sekedar meraih kemenangan..” pikir Yushin.  Ia pun menghela napas dalam-dalam dan menatap ketiga bawahannya yang menunggu perintah darinya. “aku memerintahkan Jenderal  Yesung, Jenderal Im Jong, Komandan Seolji di bawah pimpinan  Jenderal Wolya untuk menarik 5.000 pasukan yang ada di sini ke kota-kota terdekat  wilayah Hwangsanbeol…jika pasukan Baekje berhasil mencapai sana, aku ingin kalian bisa menahannya semaksimal mungkin agar mereka tidak berhasil mencapai kota-kota lainnya yang berada dalam radius 80 ri dari sini..” Seolji, Yesung dan Im Jong pun terkejut begitu mendengar hal itu “ta..tapi Panglima..” sergah Seolji. “LAKSANAKAN!!” seru Yushin. “siap Panglima..” jawab mereka bertiga. Yushin segera  menaiki kudanya dan memacunya cepat-cepat menuju area pertempuran.

Benteng Hwangsanbeol
“HAIIKK!!” Bi Dam melangkahkan kakinya kuat-kuat.   “HEAAA!!”  Daemusin pun menebaskan pedangnya. Bi Dam berkelit merunduk. Mengetahui serangannya tidak kena, Daemusin pun membalikkan  badannya dan mengambil ancang-ancang dengan memposisikan pedangnya di samping  pipi kanannya “KALI INI KAU PASTI MATI BI DAM!!”  serunya. Bi Dam pun sudah bersiap menusuk dari bawah “ HAIKKK!!!” Bi Dam dan Daemusin pun kembali bertemu di tengah area pertarungan.
“BI DAAM!!” jerit Deok Man. Kain penutup mulutnya pun terlepas. 

Luar Benteng Hwangsanbeol
"HEAA!!" Wolya menebas satu persatu prajurit Baekje yang berusaha menyerangnya. 3 prajurit berkuda Baekje mengepungnya lalu menjebak Wolya yang berdiri di tengah dengan rantai-rantai yang mereka rentangkan. "bunuh dia!!" lima prajurit bertombak Baekje sudah siap melemparkan tombaknya ke arah Wolya. 3 buah panah melesat mengenai punggung ketiga prajurit Baekje tersebut. Wolya melihat dari kejauhan Yushinlah yang menembakkan panah-panah tersebut dari atas kudanya. Wolya pun tidak tinggal diam. Ia menarik salah satu rantai yang membelitnya sehigga salah satu pengendara kuda Baekje pun terjatuh ke bawah. “HAIIK!!” salah seorang prajurit bertombak Baekje yang tersisa menyerangnya. Wolya pun menghindar dan menarik tombak itu sambil memutar badannya lalu menusuk 2 prajurit sekaligus dengan tombak itu.  “kau baik-baik saja?” tanya Yushin yang baru saja menghabisi pasukan berkuda Baekje yang menjebak sahabatnya itu. Wolya pun mengangguk. Yushin turun dari kudanya lalu menyerahkan tali kudanya pada Wolya. “untuk apa?” tanya Wolya. “kau pergilah ke garis belakang temui Jenderal Yesung, Im Jong, dan komandan Seolji…mereka tahu apa yang harus dilakukan..” Yushin mengeluarkan pedangnya dan berjalan melewati Wolya. Wolya menahan bahu Yushin “jangan katakan kau ingin mengorbankan dirimu untuk menjadi pahlawan bagi negeri ini?!”  Yushin melepaskan tangan Wolya dari bahunya.  “aku hanya ingin melindungi Shilla..jika Gyebaek tahu aku ikut mundur, ia pasti akan memerintahkan pasukannya mengejarku…  aku, Jenderal Baek Ui dan Deok Chung  akan berusaha sebisa mungkin menahan mereka di sini dan akan menyusul kalian setelahnya…”   Wolya pun terdiam sebentar. Ia bisa memahami cara berpikir sahabatnya itu, lalu ia menaiki kudanya dan membalikkan badannya, memunggungi Yushin.  “kau!! jika kau tidak menyusul kami..akan kucabut gelarmu sebagai Panglima terhebat 3 Han!!” Yushin pun tertawa kecil  “akan kubuktikan pada wakilku bahwa itu adalah mustahil!” serunya.  Yushin pun berlari menuju area pertempuran. “tak akan kubiarkan Baekje mengambil wilayah Shilla!!” pikir Yushin. “HAIKK!!!”

Benteng Hwangsanbeol  
 “CLAAK…CLAAK” suara darah menetes jatuh ke lantai. Bi Dam dan Daemusin terdiam di tengah. Pedang Daemusin berhasil mengiris lengan kanan Bi Dam sementara Bi Dam berhasil menghujamkan  pedangnya tepat  di dada kanan Daemusin. “BI DAAM..BI DAAM…” isak Deok Man memanggil nama suaminya berulang-ulang  dari tempat duduknya. “Tu..Tuan!!”  Shin Ae yang dari tadi diam karena tegang memperhatikan pertarungan pun ikut menjerit. "SRAAT.." Bi Dam mencabut pedangnya. Daemusin pun limbung dan mundur ke belakang sebelum akhirnya jatuh duduk. “Tu..Tuan!!” Shin Ae segera berlari menghampiri tuannya itu. Bi Dam jatuh berlutut sambil bertumpu pada pedangnya “HOEEK!!” dan memuntahkan darah dari mulutnya.  Rupanya pendarahan organ dalamnya semakin parah. “BI DAAM!!” isak Deok Man. Bi Dam pun menghapus sisa darah dari mulutnya lalu menoleh menghadap istrinya dan tersenyum  “aku akan segera menjemputmu Deok Man..” gumamnya. Dengan segenap tenaganya, Ia pun berusaha untuk bangun “aku harus segera menyelesaikan ini semua…” pikirnya. Bi Dam pun berjalan mendekat ke arah  Daemusin yang sedang duduk dipapah Shin Ae. Shin Ae pun berusaha melindungi Daemusin. Ia berdiri di antara Daemusin dan Bi Dam. “Jangan!!Tuan sudah terluka cukup parah…aku mohon…ini sudah cukup kan?” isaknya. Shin Ae pun berlutut di hadapan Bi Dam dan memohon.  Melihat kondisi Daemusin yang parah lalu melihat Shin Ae yang memohon di hadapannya, ia pun menyarungkan pedangnya.  Shin Ae pun berterima kasih pada Bi Dam “te..terima ka..” “sraaaat..” sebilah pedang panjang menembus keluar dari dada kiri Shin Ae dan menusuk perut Bi Dam yang sudah terluka parah. “ugh!!” Bi Dam pun jatuh ke lantai. “Tu..Tuann..” gumam Shin Ae sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya dan rubuh. “KAU LEMAH BI DAM!!” seru Daemusin sambil tertawa. “BI DAAM!!” jerit Deok Man.

Luar Benteng Hwangsanbeol
“apa semuanya sudah siap?” tanya Wolya. “sudah Jenderal!!” jawab  Yesung, Im Jong, dan SeolJi serempak. “Jenderal apa kau benar-benar akan meninggalkan Panglima sendiri?” tanya Seolji. Wolya menoleh ke belakang, tempat dimana peperangan masih berlangsung. “tentu saja tidak…” jawab Wolya. “Jenderal?” tanya Yesung. “Seolji, tentu kau masih ingat aku pernah memintamu membuat gudang persenjataan rahasia untuk Bokyahwoe di wilayah perbatasan Goguryeo… “  Seolji pun terdiam sejenak sebelum ia menepuk jidatnya sendiri “astaga!!bagaimana aku bisa melupakannya!!” ujarnya. “apakah menurutmu senjata itu bisa dipakai?” tanya Wolya. “tentu saja!senjata buatan pengrajin di bawah bimbinganku pasti akan bertahan lama..” jawab Seolji dengan rasa bangga akan dirinya. “kalau begitu aku perintahkan pada pasukan di bawah Jenderal Im Jong dan Jenderal Yesung untuk tidak membawa persediaan senjata biar nanti pasukan tersebut menggunakan senjata dari gudang persenjataan rahasia yang dibuka Seolji..”  “baik Jenderal!” jawab Jenderal Yesung dan Im Jong serempak. “Jenderal Im Jong, aku percayakan komando kepadamu,lindungi wilayah perbatasan Shilla!!” ujar Wolya. “siap Jenderal!!” Jenderal Im Jong menundukkan kepalanya. “Seolji aku percayakan persediaan persenjataan di sana padamu..” “siap Jenderal!!” jawab Seolji. Jenderal Im Jong, Jenderal Yesung, dan Seolji pun pergi meninggalkan Wolya sendiri di garis belakang pertahanan Shilla. “Shilla bukanlah hanya tanggung jawab Yushin semata…Shilla sudah menerima penduduk Gaya..maka Shilla adalah tanggung jawabku juga..” gumam Wolya. “hah..hah..aku temukan kau Wolya!!” Wolya membalikan badannya. Dilihatnya seorang pria berpakaian bersimbol Baekje layaknya seorang jenderal besar dengan wajah tertutup sebelah oleh rambutnya. Tubuh pria itu penuh dengan cipratan darah seperti baru saja habis membantai satu batalyon pasukan. “kau..” gumam Wolya.  “ada hutang yang harus kau bayar padaku Wolya.. ” Jenderal Hodong menyeringai lebar.  

Benteng Hwangsanbeol  
“keparat kau Daemusin!!padahal dia sudah berusaha melindungimu tapi kau..” ujar Bi Dam dengan napas tersenggal-senggal sambil berusaha bangun. Daemusin mendorong mayat Shin Ae ke lantai. “aku tak butuh belas kasihan…” ujar Daemusin yang sudah menghunuskan pedangnya. “kau!!” geram Bi Dam. “CRAAT!!” darah menyembur keluar dari perut Bi Dam yang terluka. “argh!!” Bi Dam pun kembali jatuh tersungkur. “ini bukan saatnya mengasihani kematian orang lain, di saat kematianmu sudah dekat..”  ujar Daemusin sambil menyeringai lebar. Ia berjalan semakin mendekat dengan pedang di tangan kanannya.  

Luar Benteng Hwangsanbeol
“HIDUP KEJAYAAN BAEKJE!!BAEKJE!!”
Mendengar teriakan itu Yushin menoleh. “apakah Gyebaek berhasil menaklukan barisan pertahanan lagi?” pikirnya. Segerombolan prajurit berusaha menyerangnya  “HAIIIK!!” Yushin menusuk 5 orang sekaligus dengan tombak di tangannya. Lalu ia mencabut pedangnya dan melawan prajurit Baekje yang lain.  “kalian cepatlah berlindung..” ujarnya pada dua prajurit bawahannya yang terluka yang saling memapah satu dengan yang lain. “ba..baik Panglima..” ujar kedua prajurit itu. Salah seorang prajurit Shilla berlari ke arahnya dan memberi hormat “Panglima…pertahanan di wilayah barat berhasil dibentuk kembali…pasukan Jenderal Deok Chung dan Baek Ui berhasil memukul mundur Baekje di sana..” ujarnya dengan rasa gembira. “bagus… sekarang perintahkan Jenderal Deok Chung dan Jenderal Baek Ui untuk fokus ke tengah..” ujar Yushin. “siap Panglima!” jawab prajurit itu. “seperti kata Tuan Putri..meskipun kecil..harapan itu akan selalu ada…” pikir Yushin. “DEMI KEJAYAAN SHILLA!!DEMI SHILLA YANG BESAR!!” seru Yushin sambil mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi. “HEAA!!” Pasukan Shilla yang tersisa ikut berteriak dan kembali bersemangat.
“BUAAGG!!BUUAG!!” Wolya dan Hodong saling menunjukkan kepiawaian mereka melakukan beladiri dengan tangan kosong. Dengan satu sapuan kaki, Hodong berhasil menjatuhkan Wolya dan kesempatan ini digunakannya untuk mencekik lawannya itu “kau harus melunasi penghinaan yang telah kau berikan padaku!!” seru Hodong. “KA..KAU!!” geram Wolya sambil berusaha melepaskan tangan-tangan Hodong yang mencekik lehernya. Hodong mengeluarkan belati kecil dari balik lengan pakaiannya. “akan kubuat kau merasakan apa yang aku rasakan!!” ujar Hodong menyeringai.  “SRAAT…”

Menjelang pagi hari
Istana Ingang, Shilla
Yang Mulia Raja membaca berulang kali gulungan surat yang dibacanya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang telah Jenderal Baek Jong serahkan kepadanya. “SRAAK..” Pejabat Kim Seo Hyun memasukki ruangan dan memberi hormat. “Yang Mulia mereka sudah berada memasukki wilayah perbatasan Shilla dengan Hwangsanbeol..” ujar Kim Seo Hyun. Yang Mulia Raja menggulung surat yang berstempel Kekaisaran Tang itu dan meletakkannya di atas meja. “buka gerbang perbatasan!!” serunya.

Benteng Hwangsanbeol
“KAU AKAN SEGERA MATI BI DAM!!” seru Daemusin yang perlahan berjalan mendekat dengan pedang di tangan kanannya.
“BI DAAM..BI DAAM…bangunlah..” Deok Man terus menerus memanggil nama suaminya. Namun Bi Dam belum juga bangun sementara Daemusin perlahan semakin mendekat.  
“ugh..” Bi Dam berusaha membuka matanya namun rasanya sangat berat. “hosh..hosh..” sambil menahan pendarahan di perutnya iaa berusaha bertumpu pada satu tangannya untuk bangun namun lagi-lagi tersungkur ke lantai. Matanya tertuju pada istrinya yang terus menerus memanggil namanya. “Deok Man..Deok Man…” gumamnya.  Bi Dam pun mengambil pedangnya yang tergeletak di  lantai dan dengan segenap kekuatan yang tersisa, ia pun berusaha berdiri kembali. “AKU TIDAK BISA MATI BEGITU SAJA!!” serunya.
“HEAA!!!” Daemusin melancarkan serangan. Bi Dam yang masih limbung berusaha memasang kuda-kuda bertahan.
“JAB!!JAB!!”

Luar Benteng Hwangsanbeol
“ugh..” Wolya berusaha untuk bangkit berdiri dan mengambil pedangnya. Dilihatnya mayat Hodong yang tergeletak di tanah. Ia mati akibat tertusuk belatinya sendiri tepat di lehernya. Wolya bisa melihat kobaran api dan asap dari arena peperangan. “mudah-mudahan aku belum terlambat untuk membalas budiku pada Shilla..” gumam Wolya. “Jenderal…” Wolya menoleh ke belakang. Ternyata Jenderal Yesung yang memanggilnya. “Jenderal Yesung, kenapa engkau kembali?bukankah aku memerintahkan dirimu untuk..”
Dari balik punggung Jenderal Yesung, seorang pria berpakaian besi berwarna emas dengan jubah merah  berjalan menghadap Wolya dan memberi hormat padanya. Wolya melihat lambang kerajaan yang terpasang pada lengan pakaian besi pria itu. “kau?” gumam Wolya. “saya Jenderal Zhou Yu diutus oleh Kaisar Taizong untuk membentuk aliansi Tang dengan Shilla..” ujar pria itu seraya menyerahkan sebuah gulungan pada Wolya.

Benteng Hwangsanbeol
2 buah panah melesat di udara lalu menghujam Daemusin tepat pada dadanya. “ugh..”  Daemusin menyemburkan darah dari mulutnya. “HEAA!!” Bi Dam dengan sekuat tenaganya yang tersisa menusuk  Daemusin hingga akhirnya Daemusin pun jatuh berlutut dan tersungkur di lantai tanpa bisa bangkit lagi. “haah…” Bi Dam pun kehabisan tenaganya dan mulai limbung kehilangan keseimbangannya. “Tuan Perdana Menteri!!” seru Alcheon bersama kelima hwarang pengawal Deok Man. Il Woo yang masih memegang busur di tangannya bersama Alcheon dan Bi Ryu berusaha memapah Bi Dam, sementara Dae Gil, Yong Joon, dan Shi Yoon berlari menuju Deok Man dan membebaskannya dari tali-tali yang mengikatnya.
“BI DAM..” Deok Man segera berlari menuruni tangga menghampiri suaminya.
“Deok Man…” gumam Bi Dam, ia berusaha melepaskan diri dari sanggahan para hwarang dan berjalan perlahan. “Deok Man..” gumam Bi Dam tersenyum ketika berada di hadapan istrinya. Dengan tertatih-tatih, Bi Dam berjalan sebelum akhirnya ia jatuh dalam pelukan hangat istrinya. “akhirnya aku  bisa memelukmu kembali…Deok Man..” bisik Bi Dam. “Bi Dam…” bisik Deok Man. “sraat..” Deok Man merasa tubuh Bi Dam semakin berat bersandar padanya. “Bi Dam?Bi Dam?” panggil Deok Man dengan nada khawatir. “bruuk..” Tubuh Bi Dam perlahan merosot dan hampir saja  jatuh jika Alcheon dan hwarang lainnya tidak memapahnya. “Bi Dam...Bi Dam bertahanlah….sebentar lagi kita kan keluar dari sini..” ujar Deok Man sambil berusaha menahan pendarahan Bi Dam dengan tangannya dibantu yang lain. “Bi Dam..kau harus bertahan Bi Dam…kau harus bertahan..” ujar Deok Man. Namun mata Bi Dam masih menutup rapat dan tidak membuka. Air mata mengalir semakin deras membasahi pipi Deok Man. “BI DAAM..” jerit pilu Deok Man.

Kamis, 17 Maret 2011

Our Future Still Continue Chapter 83: Fight Till Death



“KEPARAT KAU DAEMUSIN!!” Bidam menyerang Daemusin sambil mengeluarkan amarahnya. Daemusin terus melompat ke belakang menangkis setiap serangan Bi Dam.  Daemusin melompat ke atas dan sekarang berdiri di atas tembok. “jika kau ingin menyalahkan orang..salahkan dirimu sendiri..” serunya sambil menyeringai.”MAJU KAU!!” Bi Dam menggeram marah.  Daemusin  melompat dari atas tembok dan melakukan serangan atas. “kau mengkhianatinya!kau gagal melindunginya!lihatlah akibat apa yang ia alami sekarang karena ULAHMU!”  “TRAANG” Bi Dam menahan laju pedang Daemusin. “AKU MENCINTAINYA!!hyaa!!” Bi Dam mementahkan pedang Daemusin. Daemusin terdorong ke belakang sedikit lalu  berlari menyerang. “TRAANG!!” Bi Dam menangkis serangan pedang Daemusin. Daemusin pun geram “KAU TAK PANTAS MEMILIKINYA!BAHKAN MENGATAKAN CINTA PADANYA!! ” Ia  melompat dan melakukan tendangan berputar. Kali ini Bi Dam tak bisa menghindar, wajahnya terkena tendangan telak dari Daemusin dan hampir saja jatuh ke tanah jika tangan kirinya tidak menahannya.  Dengan berpijak dengan tangan kirinya, Bi Dam melakukan tendangan balasan yang tepat mengenai dagu Daemusin.  Bi Dam berguling dan kembali membangun serangan. Ia berlari mengacungkan mata pedangnya ke depan, namun Daemusin tidak lengah, ia justru menarik tangan kanan Bi Dam dan memilintirnya ke belakang, Daemusin berputar ke belakang dan menyikut wajah Bi Dam dengan sikut dan tinjunya. Kemudian ia menarik tangan Bi Dam dan melakukan bantingan ke depan.  Seketika lantai berbatu itu basah karena darah Bi Dam. “hmmmmph!!!” Deok Man berteriak sekuat-kuatnya dari balik penutup mulutnya melihat suaminya tergeletak bersimbah darah.

Luar Benteng Hwangsanbeol
“TEMBAK!!” seru Baek Ui dari atas kudanya. Ratusan anak panah melesat menembus hutan yang gelap. “aargh..” terdengar suara –suara orang kesakitan dari dalam hutan.  Namun semua suara kesakitan itu hilang bersamaan dengan munculnya seruan “HABISI PASUKAN SHILLA!!”  Ribuan pasukan bertombak dan berpedang Baekje berlari keluar dari hutan menyerbu pasukan Shilla yang sudah membentuk barisan. “SERANG BAEKJE!!” Yushin berseru sambil mengangkat pedangnya lalu memacu kudanya. Diikuti seluruh pasukan Shilla, mereka bertempur melawan Baekje.

“berapa pasukan kita yang tersisa?” tanya Gyebaek yang masih berada dalam hutan. “kira-kira 68.000 Jenderal..” jawab Jenderal Hodong. “jumlah pasukan Shilla?” tanya Gyebaek lagi. “diperkirakan jumlah pasukan mereka sudah hilang lebih dari separuh Jenderal..” jawab Jenderal Hodong. Gyebaek terdiam sebentar seperti sedang memperhitungkan sesuatu “aku tak ingin jumlah pasukan kita berada di bawah 60.000…Seoraboel belum kita taklukan..”  “siap Jenderal!” jawab Jenderal Hodong. Gyebaek diikuti Hodong  kembali memacu kudanya menuju medan pertempuran yang sudah menantinya di ujung hutan. “SIAPKAN SELURUH PERSENJATAAN!SEBELUM FAJAR SHILLA HARUS DITUNDUKKAN!!” seru Gyebaek sambil memacu kudanya melewati pasukan baris belakangnya. “HIDUP BAEKJE!!”

“TRANG!!TRAANG!!” Yushin dan Jenderal Yesung beradu punggung menghadapi pasukan Baekje yang mengepung mereka berdua. “apakah kau sudah mengirim surat ke kota sekitar?” tanya Yushin “sudah Panglima..sepertinya pihak Istana sudah memrintahkan evakuasi lebih dahulu sejak kemarin..dan dipastikan sebelum fajar menyingsing seluruh penduduk kota sudah dievakuasi..” jawab Jenderal Yesung. “bagus…sebisa mungkin kita menahan mereka di sini….kita tahan mereka SAMPAI MATI!!” seru Yushin yang mulai menyerang.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“hmmph!!!”hmmph!!” Deok Man terus meronta dari kursinya. Ia berusaha memaksakan kedua pergelangan tangannya terlepas dari tali yang mengikatnya, namun yang terjadi, bukanlah tali itu terlepas, tetapi malah kedua pergelangan Deok Man terluka karenanya. “Bi Dam!!” jerit Deok Man dalam hatinya. Ia melihat suaminya perlahan bangkit dan bersiap untuk bertarung kembali. “lihatlah akibat perbuatanmu Bi Dam!!negerimu sedang berada di ambang kehancuran!!padahal Tuan Putri mempercayakannya padamu!!dan sekarang kau tak bisa melindungi Tuan Putri!KAU GAGAL!!KAU GAGAL!!” seru Daemusin. Daemusin pun menatap ke arah Deok Man “lihatlah Tuan Putri!ia menjadi kotor! Deok Man sudah kotor Bi Damkarena kebodohanmu!!!” Mendegar itu, Bi Dam segera melakukan serangan. “JANGAN PERNAH KAU SEBUT DIRINYA KOTOR!!” Ia memutar badannya dengan cepat sambil menghunuskan pedangnya. “aku hanya mengatakan kenyataan..” Daemusin menahan laju pedang Bi Dam dengan  sarung  pedang miliknya kemudian tangan kanannya menusukkan pedang tepat di lengan kanan Bi Dam. “CLAASH!!” darah membasahi lengan kanan Bi Dam. “urgh!” Bi Dam menahan rasa sakit pada lengan kanannya. Daemusin pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Setelah mencabut pedangnya dari lengan Bi Dam, serangan darinya pun  berlanjut. Dari lengan kanan turun ke perut,Daemusin menghujamkan pedangnya tepat pada perut Bi Dam. “ARRGH!” Bi Dam mengerang. Dengan panjang pedang yang ditunjang kekuatan ototnya, Daemusin mengangkat  Bi Dam dengan mata pedangnya ke atas lalu melemparkannya. “kau sudah mengambil segala yang terbaik darinya!! takhtanya harus ia tinggalkan!! unifikasi 3 kerajaan yang menjadi impiannya harus dilepaskannya!! dan sekarang kehormatannya pun hilang sudah!!” seru Daemusin. Bi Dam terbaring terlentang sambil menahan pendarahan pada perutnya. “maafkan aku Deok Man..” gumam Bi Dam.

“BANG!” badan Alcheon beradu dengan teralis besi penjara tersebut. Alcheon berniat memukul kedua tangan yang menariknya itu dengan obor di tangannya, tapi rupanya sudah ada tangan lain yang menodongkan pisau pada lehernya.  “serahkan kunci sel ini!!” terdengar suara laki-laki dari sel itu. Sel itu cukup gelap sehingga Alcheon tak bisa melihat dengan jelas tangan-tangan siap itu. Tapi yang pasti ada 3-4 orang yang ada di situ. “baiklah aku menyerah…akan kuberikan kuncinya..” jawab Alcheon sambil merba-raba saku bajunya.Meskipun pisau yang ditodongkan padanya tidak menjauh namun perlahan tangan yang menarik kerah bajunya mengendur, Alcheon pun menarik tangan yang mengacungkan pisau padanya, memukulnya hingga pisau itu terlepas dari pemegangnya,kemudian ia memukul tangan-tangan yang memegangi kakinya dengan obor di tangannya. Alcheon terlepas dan melompat ke belakang. “siapa kalian?” seru Alcheon. Namun tak ada jawaban dari sel gelap itu.  Alcheon dengan hati-hati mendekatkan obornya pada sel itu. Rupanya ada 5 laki-laki dalam sel itu. “Kepala Pengawal Alcheon…” salah seorang dari keempat orang itu mengenalinya “ka..kalian??” Alcheon terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Luar Benteng Hwangsanbeol
“heaaa!!” Baek Ui mendorong 5 tentara sekaligus dengan golok panjangnya. “jleb..” ia menarik dan menusukkan mata goloknya dari satu prajurit ke prajurit yang lain. Ia melihat para pasukan Baekje bersiap untuk menembakkan panah-panah mereka. “PASUKAN SHILLA ANGKAT PERISAI KALIAN!!” seru Baek Ui.  Namun sebelum pasukan Baekje menembakkan panah-panahnya, ribuan panah api dari arah belakang pasukan Shilla sudah mengangkasa lebih dahulu. “panah siapa itu?” pikir Baek Ui. Ia pun menoleh ke belakang. Ribuan pasukan bersenjata lengkap menuruni lembah menuju area pertempuran.  Ribuan pasukan dimana Jenderal Wolya memimpin mereka di depan.
Yushin segera memacu kudanya menuju tempat sahabatnya itu.  “apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Yushin begitu menemui Wolya. Wolya datang tidak sendiri, ia ditemani Jenderal Im Jong dan Jenderal Deok Chung serta komandannya yang setia, Seolji.  “tugas kami di Wonju sudah selesai sehingga kami bersama sebagian pasukan memutuskan pergi ke sini membantu kalian sementara yang lain menjaga perbatasan dengan Goguryeo..kita semua di sini untuk berperang melawan Baekje..” jawab Wolya dengan mantap.

Ruang Kerja Raja, Istana Ingang, Shilla
“bagaimana situasi di Hwangsanbeol?” tanya Yang Mulia Raja yang baru saja duduk di kursinya. “dari laporan yang terakhir kami terima…Panglima Yushin berserta pasukannya berhasil memperoleh kemenangan pertama, namun karena seiring berjalannya perang, perbandingan jumlah pasukan pun  menjadi semakin tidak seimbang dan Panglima Yushin juga memberikan perintah evakuasi ” jawab Kim Yong Chun. “apakah pasukan Jenderal Wolya belum juga tiba di sana?” “belum Yang Mulia…tapi kami sudah menerima kabar bahwa mereka sudah melewati kota Taejon..” Yang Mulia Raja terdiam memikirkan langkah selanjutnya yang harus diambilnya. “hamba mohon menghadap Yang Mulia..” seru Jenderal Baek Jong. “masuklah..” jawab Yang Mulia Raja. “ Jenderal Baek Jong melangkah masuk ke dalam dan memberi hormat “Yang Mulia ada kabar penting yang harus saya sampaikan..” katanya dengan wajah tegang.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“Bi Dam!!Bi Dam!!” jerit Deok Man dari balik kain penutup mulutnya. Air mata dan peluh mengalir dari wajahnya. “hhmph!!” Deok Man berusaha menarik tangannya yang terikat ke belakang pada kursi dengan sekuat tenaga. Akibatnya darah segar mengalir dari kulit pergelangan tangannya yang terluka. Shin Ae pun tidak tega melihat itu semua. Ia menghampiri Deok Man dan memintanya untuk berhenti melakukan itu. “Tuan Putri hentikanlah..tangan Tuan Putri bisa terluka..” ujar Shin Ae sambil mengelap darah dari pergelangan tangan Deok Man dengan sapu tangan. Namun Deok Man tetap nekat melakukan itu.  “hhmmph!!” Deok Man menarik dengan sekuat tenaga namun ikatan tali pada tangannya tidak juga terlepas. Tak lama kemudian Deok Man pun menangis putus asa. Mungkin dari sekian pengalaman dalam hidupnya ini akan menjadi yang terburuk dalam seumur hidupnya, melihat suami terluka parah tanpa bisa berbuat apa-apa dan dinodai oleh laki-laki lain. Air mata Deok Man mengalir semakin deras membasahi pipinya. “maafkan aku Bi Dam..aku sudah tak pantas lagi jadi istrimu..” gumamnya.

Shin Ae tidak tega melihat  kondisi Deok Man yang seperti itu. Mungkin posisi mereka sekarang adalah sebagai musuh yang berhadapan satu sama lain, tapi mereka mempunyai satu kesamaan yakni sebagai wanita. Wanita yang memiliki seorang pria yang dicintainya. “mungkin sebaiknya aku memberi tahukan kebenarannya..”  pikir Shin Ae

Luar Benteng Hwangsanbeol
“pasukan siapa itu?” geram Gyebaek. Jenderal Tae Hyun dan Jenderal Hdoong hanya diam karen tidak tahu. Seorang prajurit berlari menghadapnya “Jenderal, pasukan Shilla mendapatkan tambahan pasukan!” “tambahan pasukan?siapa yang memimpinnya?” tanya Gyebaek. “kata Jenderal Yul Gang yang berada di baris depan, pasukan itu dipimpin oleh Jenderal Wolya..” jawab prajurit itu. Mendegar itu, Hodong tiba-tiba turun dari kudanya dan menarik pakaian besi prajurit itu “Wolya katamu?!!apa kau yakin?!!”  geramnya. Prajurit itu nampak ketakutan “i..iya Jenderal..Jenderal Yul Gang sendiri yang berkata demikian..” Hodong pun melepaskannya lalu segera menaiki kudanya kembali dan memacunya menuju arena pertempuran. “Jenderal?Jenderal tidak menghentikannya?” ujar Jenderal Tae Hyun yang bingung karena  reaksi Gyebaek yang hanya membiarkan Hodong pergi bahkan menahan dirinya untuk tidak mengejar Hodong. “kau tak akan bisa menghentikan amarahnya..” ujar Gyebaek. “amarah?apakah ada hubungannya dengan Wolya dari Shilla?” tanya Jenderal Tae Hyun. “sangat erat hubungannya..” jawab Jenderal Gyebaek. “Wolya dari Shilla adalah orang yang menyebabkan luka di wajah Hodong…”

Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“Tuan Putri ada yang saya ingin beritahukan pada Tuan Putri..” Deok Man sama sekali tidak menggubris Shin Ae yang berlutut di sampingnya.  “Tuan Daemusin tidak pernah bersetubuh denganmu Tuan Putri..” Deok Man pun menoleh. Kedua alis matanya terangkat. Shin Ae mengerti bahwa Deok Man pasti bertanya “apakah benar?”  Shin Ae pun mengangguk “itu semua hanya bohong…Tuan memang melakukan sesuatu pada leher Tuan Putri...tapi ia tidak melakukan hal lain selain itu…”

 “bangunlah Bi Dam, aku tahu kau masih bisa berdiri..” seru Daemusin dengan nada mengejek. “apa kau sudah kehilangan alasan bertarungmu setelah tahu bahwa istrimu sudah kotor?” ejek Daemusin. Bi Dam dengan susah payah berusaha untuk bangun sambil menahan pendarahan pada perutnya.  “aku harus bangun..” gumam Bi Dam.  “aku sangat bahagia Bi Dam..” suara dan bayangan wajah Deok Man terngiang dalam pikirannya.  “aku ingin Yun Ho dan Yoo Na bisa tumbuh  di luar istana..bebas menenetukkan jalan hidup mereka sendiri..” ujar Deok Man sambil menyelimuti kedua anaknya.  “hhmmph!!” Deok Man yang ditutup mulutnya berusaha berteriak.  “aku ingin setelah aku pulang nanti…kita bisa seperti ini terus..” ujar Deok Man tersenyum sambil bersandar padanya.  “Deok Man…” gumam Bi Dam yang segera bangkit berdiri dan memasang kuda-kudanya untuk siap bertarung kembali. “akhirnya kau bangkit juga..” ujar Daemusin. Bi Dam sudah siap dengan kuda-kudanya  “tidak peduli apapun katamu..aku sudah bersumpah untuk melindungi Deok Man sepanjang hidupku…dan aku pasti akan membawanya kembali ke sisiku!!” serunya dengan suara lantang.  Ekspresi wajah Daemusin pun berubah menjadi penuh kekesalan “kalau begitu aku tak akan ragu lagi untuk membunuhmu!!heaa!!” Daemusin berlari menyerang Bi Dam.  Bi Dam bersiap menggeggam pedangnya erat-erat berispa menghadapi serangan “AKU BERTARUNG DEMI DEOK MAN!!” 

Luar Benteng Hwangsanbeol
“HEAA!!!!” seru Wolya sambil menebaskan pedangnya pada prajurit-prajurit Baekje yang menyerangnya
 Dengan satu gerakan memutar 5 prajurit berhasil dilumpuhkannya. “Jenderal!!Pertahanan baris tengah berhasil ditembus!!Jenderal Shin terbunuh!!”  seru seorang prajurit yang berlari menghadap Wolya.

“slaash!!” Jenderal Hodong menarik pedangnya yang menghujam perut Jenderal Shin. “dimana kau Wolya?!!” geramnya.

“Jenderal, pasukan Jenderal Hodong mulai memasukki pertahanan garis tengah…” lapor salah seorang prajurit pada Gyebaek. “Jenderal Tae Hyun, apakah jarak menuju Benteng Shilla masih jauh?” tanya Gyebaek. “kita sudah lebih dari separuh jalan Jenderal..” jawab Jenderal Tae Hyun. “bagus…perintahkan seluruh komandan untuk mengerahkan seluruh pasukan…kita akan menggempur mereka dengan kekuatan penuh…aku ingin saat fajar menyingsing 5 kota di wilayah Shilla sudah ditundukkan!!” seru Gyebaek.

Benteng Hwangsanbeol
“hah..hah…” Bi Dam dan Daemusin terengah-engah di kedua sisi yang berseberangan satu dengan yang lain. “aku senang sekali setidaknya kau punya jurus yang hebat...karena jika kau lemah, aku akan menganggap diriku pecundang karena kalah dari dirimu…” ujar Daemusin yang wajahnya nampak penuh dengan bilur sekarang.  Bi Dam hanya diam saja sambil menutup luka di perutnya dengan tangannya yang berlumuran darah.  Daemusin menatap Deok Man yang masih terikat pada kursinya, dan memainkan pedangnya lalu kembali menatap Bi Dam, mengambil ancang-ancang untuk menyerang.  Ia memegang pedangnya di samping wajahnya dan mengarahkannya kepada Bi Dam  dengan kaki kirnya selangkah di depan. Bi Dam pun bersiap dengan kuda-kuda khasnya. “kau memang benar…aku memang pernah mengkhianatinya..menyakiti perasaannya..itu suatu kenyataan yang tak akan bisa kuubah sekalipun aku menyesalinya…aku tak pernah paham mengapa ia selalu mengutamakan Shilla diatas hidupnya sendiri dan semuanya…aku berpikir dengan merebut Shilla itu berarti merebut dirinya juga sampai suatu hari aku mengetahui  bahwa dibalik itu semua  ia menyimpan impian lain yang ternyata  baginya itu adalah hal yang paling besar daripada takhta dan kekuasaan yang dimilikinya...impian mengenai kehidupan kami bersama... ” Emosi Daemusin pun terpancing “PERSETAN DENGAN MIMPIMU!!MAJU KAU!!AKU AKAN MEMBUNUHMU!! MENJADIKAN IA DAN 3 HAN INI SEBAGAI MILIKKU!!”  serunya. Bi Dam menatap istrinya. Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain. Ia pun tersenyum menatap istrinya itu.  “jangan khawatir Deok Man..kau akan segera terbebas dari sana setelah ini..” ujar Bi Dam dalam hatinya. Bi Dam melangkahkan kaki kirinya ke depan. “ada satu kenyataan yang tak bisa kau pungkiri Daemusin… Deok Man sudah menjadi istriku…meskipun kau merebutnya dan melakukan perbuatan nista padanya.. kau tak akan bisa mengubah kenyataan bahwa ia memilihku untuk menjadi seseorang yang bisa memanggil namanya…bukan dirimu…”  “TUTUP MULUTMU!! HAIIIK!!”  Daemusin berlari menuju Bi Dam. Matanya dipenuhi oleh hasrat membunuh yang berkobar. Bi Dam pun melangkahkan kakinya kuat-kuat dan ikut berlari menuju lawannya. “HEAAA!!!”

   “Guru, ajarkan aku jurus terkuat!!aku ingin menjadi lebih kuat!!” seru Bi Dam yang berusia 9 tahun. “apa yang kau ingin lakukan dengan jurus terkuat itu?” tanya Munno yang baru saja selesai melakukan meditasi. “yaa..kan guru adalah orang terkuat di tanah Shilla….semua orang mengakui kehebatanmu.. aku pun sebagai muridmu ingin juga diakui oleh orang lain…” Munno pun berdiri mengambil sebuah apel dari keranjang buah dekatnya. “keluarkan kemampuan terbaikmu dan rebut apel ini dari tanganku…aku akan menunjukkan jurus terkuat padamu…” Bi Dam pun segera mengambil kuda-kuda dan memberi hormat pada gurunya kemudian berlari menyerang. “hiaa!!” Bi Dam mengeluarkan tinjunya dan tendangannya pada gurunya. Sambil memegang apel pada tangan kanannya, Munno terus menghindari serangan Bi Dam. Ruangan pun penuh dengan teriakan Bi Dam yang berusaha mengalahkan gurunya.  Sampai matahari terbenam, Bi Dam belum juga berhasil merebut apel itu. Ia pun kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk menyerah. “kau menyerah?” tanya Munno. Bi Dam yang masih sibuk mengatur napasnya mengangguk. “guru curang…guru terus menghindar…guru tidak menunjukkan satu pun jurus padaku…” keluh Bi Dam. “itu adalah jurus terkuatku..” jawab Munno. “bohong!!” sahut Bi Dam. “baiklah jika menurutmu itu bohong..aku ingin bertanya padamu apa kau berhasil menyentuh apel ini dari tanganku?” tanya Munno. Bi Dam pun menggeleng.  “aku berhasil melindungi apel ini tanpa tersentuh olehmu..bagiku itu adalah jurus yang terkuat karena jurus-jurusmu tidak berhasil menyentuhnya…apa kau sudah membaca buku yang kusuruh kemarin?”  “sudah guru..” jawab Bi Dam. “katakan padaku apa yang kau pelajari dari buku itu mengenai kekuatan!” seru Munno. “kekuatan  dimiliki bukan untuk menunjukkan dirimu adalah yang terkuat..tetapi menunjukkan bahwa ada sesuatu yang paling penting dalam hidupmu …”  “benar sekali..tapi apa kau memahami itu?” tanya Munno. 
“ya..aku tahu aku salah…seharusnya aku tidak menggunakan kekuatan itu hanya untuk sekedar pamer…tapi bagiku diakui adalah sesuatu yang penting…” Munno menghela napas panjang  kemudian melemparkan apel itu pada Bi Dam dan berjalan keluar dari ruangan meditasinya itu. “bermeditasi dan renungkan!!jika memahaminya maka kau akan menemukan apa yang cari..” 

Mata pedang Daemusin hanya tinggal selangkah lagi dari dada kiri Bi Dam. “MATI KAU BI DAM!!” Daemusin menyeringai.
“sekarang aku mengerti guru… menjadi yang terkuat bukanlah untuk sekedar pamer ataupun ambisi semata..tetapi untuk melindungi seseorang yang kucintai dengan segenap hidupku…” pikir Bi Dam. “untuk melindungi Deok Man!”
“CLAAKK!!”