Pages


Tampilkan postingan dengan label Our Love Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Our Love Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Januari 2011

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 26

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 26

Scene : YEOM JIN YI

Hari kelima

Istana : ruang kerja raja

“Sampai saat ini belum diketahui dimana Tuan Putri berada? Ini sudah hari kelima, apa yang sebenarnya terjadi!!” tanya Yang Mulia Raja dengan nada tinggi.

“Yang Mulia.. tenanglah, kami semua juga sangat khawatir pada Tuan Putri Deokman” balas Permaisuri menenangkan dengan wajah cemas.

“bagaimana keadaan Sangdaedung Bidam?” tanya Yang Mulia Raja pada Alcheon.

“Sangdaedung Bidam, tampak sangat terpukul dan gusar”

“aku bisa memahami keaadannya, ini pastinya penculikan bukan kebiasaan Tuan Putri membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Tapi siapa yang menculiknya dan apa motifnya” Yang Mulia Raja bertanya pada dirinya sendiri.

“apa mungkin..” Yang Mulia Raja berpikir dan mencoba menarik kesimpulan.

“mungkin apa Yang Mulia?” tanya Alcheon

“penculikan Tuan Putri, apa ada hubungannya dengan perjanjian yang akan kita ajukan ke goguryeo mengenai Saitama?”

“mengapa Yang Mulia, berkesimpulan seperti itu?”

“mungkin saja.. ini baru perkiraanku. Kapten Alcheon, panggil Kim Yongchun, dan beritahukan pada Sangdaedung bahwa sementara dia dibebastugaskan dari kewajiban perdana menteri dan mengfokuskan pada pencarian Tuan Putri Deokman”

“baik Yang Mulia, hamba permisi”

Rumah Sangdaedung

Sementara itu, Bidam sedang mondar-mandir di halaman depan rumahnya dan menatap ke arah pintu gerbang penuh harap kala mendengar pintu gerbang dibuka. Santak datang menemuinya

“Bagaimana?” tanyanya pada Santak

“Hamba sudah menyebarkan surat pemberitahuan pada para gubernur di provinsi tentang hilangnya Tuan Putri Deokman, dan mereka segera akan melakukan tindakan pencarian dan menempel pengumuman di pasar-pasar tentang hal ini berikut sketsa wajah Tuan Putri Deokman” lapor Santak.

“apa kau menyertakan juga sketsa wajah Xiou Lie?”

“ya Tuan, saya sudah menyertakannya juga… tapi Tuan?”

“apa? Ada apa?”

“Tuan.. saat saya melihat sketsa wajah Xiou Lie, saya rasa saya seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Saya juga pernah bertemu sekali dengannya saat di istana, wajahnya sangat familiar”

“apa…kau pernah melihatnya juga? Dimana? Aku juga merasa hal yang sama saat melihat wajahnya tapi aku tidak ingat dimana? Santak, coba kau ingat-ingat lagi.. tidak mungkin kau pernah melihatnya di gunung Hanggeok-san bukan, kau belum pernah kesana!”

“Hah.. nama gunungnya juga saya baru dengar, Sangdaedung”

“makanya, coba kau ingat-ingat lagi!.. mungkin bisa menjadi suatu petunjuk” perintah Bidam dengan mata penasaran dan tidak sabar. Santak mengerungkan wajahnya tanda berpikir lalu matanya berbinar tanda dia ingat sesuatu.

“jamuan---jamuan….makan malam.. saya pernah melihatnya disana sedang bermain sitar dan bernyanyi..” Santak mengernyitkan dahinya lagi tanda dia lupa.

“dimana? Jamuan makan malam dimana? Katakan!!” tanya Bidam kesal sekarang Bidam menarik kerah kimono Santak.

“eh..eh.. rumah..rumah.. bangsawan Yeomjong.. ya benar, saya pernah datang ke jamuan makan malam di rumah bangsawan Yeomjong, Sangdaedung juga hadir disana. Bangsawan Yeomjong menyajikan atraksi musik dan saya melihat Xiou Lie disana, ya sekarang saya baru ingat”

“rumah Yeomjong..” Bidam mencoba mengingat-ingat karena bukan sekali dua kali, Bidam datang ke rumah Yeomjong untuk jamuan makan malam dan Yeomjong selalu menyediakan wanita-wanita untuk para tamunya. Bidam sendiri tidak pernah tertarik untuk berhubungan dengan wanita manapun meski hanya seorang gisaeng untuk bersenang-senang. Dalam pikirannya hanya ada satu wanita dalam hidupnya yaitu Deokman.

“apa Xiou Lie adalah seorang gisaeng?” tanyanya pada Santak.

“kurasa bukan Sangdaedung, saya sekilas ingat bahwa Bangsawan Yeomjong pernah mengatakan---”


( FLASH BACK ON )

Rumah Bangsawan Yeomjong

Suasana jamuan makan malam yang dihadiri oleh para pengikut Bidam yang akhirnya jadi pemberontak, saat itu Bidam masih sangat loyal dengan para pengikutnya. Para Bangsawan bersenang-senang, menikmati hidangan dan meminum arak ditemani para gisaeng-gisaeng. Bahkan ada beberapa Bangsawan yang genit memeluk, merangkul, dan mencium para gisaeng. Bidam datang dan diikuti oleh Yeomjong di belakangnya.

“aahh.. senang sekali Bangsawan Bidam datang dan ikut bersenang-senang dengan kami disini” kata Misaeng dengan kata-kata manisnya dan dengan wajah genitnya. Bidam hanya tersenyum tipis, kemudian datang seorang gadis dengan pakaian yang bagus dengan model Tuan Putri menuangkan arak di cangkir Bidam.

“silahkan Bangsawan Bidam minum” kata Yeomjong dengan senyum penjilatnya yang sangat menyebalkan.

“ayo perkenalkan dirimu..” kata Yeomjong pada gadis itu

“selamat datang---Saryeong-Bu Bidam…nama saya Yeom Jin Yi.. semoga Saryeong-Bu Bidam menikmati jamuan yang kami sediakan” kata gadis itu lembut dan menyerahkan cangkir arak kepada Bidam, Bidam mau tidak mau melirik dan melihat wajah gadis itu / wajah Xiou Lie dan menerima cangkir dari Yeom Jin Yi, lalu meminumnya dengan senyum terima kasih.

“Bangsawan Bidam, Yeom Jin Yi sangat pandai bermain musik dan menyanyi, ayo tunjukkan bakatmu pada kami” perintah Yeomjong pada Yeom Jin Yi lalu Yeom Jin Yi memainkan sitar dan bernyanyi.

“bagaimana? Dia cantik bukan? Apa kau tertarik padanya?” tanya Yeomjong pada Bidam masih dengan senyum yang menyebalkan itu. Bidam sekilas melirik Yeom Jin Yi lalu memperlihatkan ekspresi wajah yang dingin pada Yeomjong.

“hey.. Yeomjong, apa maksud-mu? 1000 bidadari kau tawarkan padaku, aku tetap tidak tertarik. Jadi tidak perlu kau repot begini---ah sial, kalau tahu akhirnya selalu seperti ini, aku enggan datang kemari” jawab Bidam, Yeomjong pun diam tak berkutik.

“ayolah keponakanku---sampai kapan kau akan mempertahankan lajangmu itu? Sudah saatnya kau sedikit bersenang-senang dengan seorang wanita, aku tahu siapa wanita yang kau sukai dan aku juga tahu pasti akan sangat sulit bagimu mendapatkannya (aka:Deokman)” goda Misaeng.

Bidam hanya tersenyum menanggapi perkataan Misaeng

“dengarkan Misaeng-gung, pamanku---aku rasa itu bukanlah urusanmu dan ku mohon berhentilah mencampuri urusan pribadiku, jangan sampai membuatku marah” kata Bidam lembut tapi tajam dan mengancam. Air muka Misaeng pun berubah jadi kikuk.

“baiklah.. baiklah.. ayo dimakan.. ayo..” kata Misaeng salah tingkah.

Yeomjong dengan wajah gusar mendekati Santak.

“aigoo.. si Bidam itu, dasar pria yang aneh dan tidak bisa ditebak apa maunya..”

“memangnya kenapa..?” tanya Santak, Yeomjong mendelik dengan wajah kesal dan menjitak kepala Santak, Santak mengernyit sedikit.

“Pimpinanmu itu.. begitu dingin pada wanita, yang ada dipikirannya dan matanya hanya Yang Mulia Ratu Deokman saja, padahal dia tahu persis tidak akan mudah mendapatkannya, aku menawarkan anakku yang kupikir sangat cantik dibandingkan Yang Mulia, tapi tetap saja.. alih-alih melihatnya meliriknya pun tidak. Bagaimanapun caranya aku harus bisa menikahkan anakku dan Bidam” kata Yeomjong gusar.

“Memang anakmu itu cantik..?” tanya Santak polos, lagi-lagi Yeomjong mendelik dengan wajah kesal dan menjitak kepala Santak lagi tapi tidak berhasil karena Santak langsung melindungi kepalanya.

“Kau lihat gadis yang bermain sitar itu..” Yeomjong menunjuk ke arah Yeom Jin Yi. Santak melihatnya dengan seksama dan mengangguk-angguk kepalanya.

“cantik bukan..?”

“ckckck, ya.. dia cantik, berbeda sekali dengan ayahnya..” kata Santak polos dan melirik takut-takut pada Yeomjong, sekarang Yeomjong mendelik marah dan siap-siap mau menonjok Santak tapi meleset karena Santak sudah kabur lari.

( FLASH BACK OFF)

Scene : the secret revealed

Bidam memukul kepalanya dengan telapak tangannya tanda lupa sesuatu.

“Harusnya aku ingat, Xiou Lie alias Yeom Jin Yi adalah putri Yeomjong, aku begitu bodoh tidak ingat sama sekali. Kau apalagi sangat sangat bodoh---padahal Yeomjong jelas-jelas mengatakan padamu, Yeom Jin Yi itu anaknya”

“itu karena Sangdaedung tidak pernah melihat-lihat wanita dan apalagi mengingatnya” jawab Santak.

“sudahlah, yang penting kita sudah mempunyai petunjuk baru, sekarang kau segera temui Jungsae-rang dan Hanwook-rang dan sampaikan perintahku pada mereka agar mereka memeriksa rumah Yeomjong dan tanyakan mengenai Yeom Jin Yi, dimana dia tinggal, siapa koneksinya, dan latar belakangnya. Cepat!! Aku curiga mungkin dia dalang dibalik menghilangnya Deokman, aku akan memeriksa kamarnya. Pergilah!!” perintah Bidam pada Santak.

Pondokan di hutan Gwangmun (perbatasan Shilla – Saitama Goguryo)

Xiou Lie dan Bo Yong datang menemui Deokman

“Tuan Putri Shilla, bila tidak ada halangan, pesan dari kami akan sampai hari ini, berdoalah semoga keinginan kami terkabulkan dan kami tidak perlu repot-repot mengurusmu lagi. Aku ingin tahu apakah harga satu nyawamu sesuai dengan keinginan kami” kata Bo Yong.

“hanya tinggal satu urusan pribadi yang akan kita selesaikan lalu dengan senang hati aku akan membunuhmu” timpal Xiou Lie tersenyum sinis.

“siapa sebenarnya kalian? Dan apa yang kalian inginkan dariku?” tanya Deokman penasaran dengan suara sewajar mungkin untuk menyembunyikan rasa gugupnya.

“Tuan Putri Shilla atau kusebut mantan Yang Mulia Ratu Seondeok, kau orang yang telah menghancurkan impianku dan cintaku, tak sadarkah kau? Aahh---sebaiknya aku harus mengatakan padamu agar aku tidak perlu melihat wajah binggung-mu itu yang menyebalkan, juga agar kau tidak mati penasaran” kata Xiou Lie lalu dia menarik kursi didepan Deokman dan menatap Deokman tajam.

Deokman sama sekali tidak menyangka Xiou Lie begitu mengerikan dengan mata berkilat penuh dendam sehingga Deokman bertanya-tanya kesalahan besar apa yang dia pernah lakukan sehingga Xiou Lie jadi begitu membencinya.

“Namaku bukanlah Xiou Lie, namaku adalah Yeom Jin Yi dan aku adalah anak angkat dari ayahku bernama Yeom Jong. Ayahku salah satu pangeran Goguryeo Seongmin dan ibuku adalah selir raja Goguryeo Geongmin. Saat ibuku diketahui selingkuh dengan ayahku, maka Raja sangat murka dan mengusir lalu mengasingkan mereka, tapi Sang Raja rupanya tidak puas dengan hanya mengusir, dia---Raja Geongmin secara diam-diam memerintahkan pasukan untuk membunuh ayah dan ibuku. Akhirnya ayahku tewas dan untungnya ibuku berhasil lolos, aku tahu dibalik ini semua Raja melakukan konspirasi untuk melenyapkan Pangeran Seongmin yang merupakan pewaris sah kerajaan. Bisa kau bayangkan, keberhasilan Raja menyingkirkan ayahku, ternyata menyimpan dendam dan rencana tersendiri bagi ibuku. Ibuku adalah adik dari ayah angkatku Yeom Jong. Ibu dan ayah angkatku sepakat memberikan nama Yeom sebagai margaku untuk melindungiku dari sentuhan Raja Geongmin. Lalu aku dididik oleh mereka dengan kebencian terhadap Raja Geongmin. Ayah angkat mengatakan ada kesempatan untuk membalaskan dendam ibuku dengan menikahi calon raja Shilla yang berambisi menumpas Gogouryo..”

“Bidam..!, ayahmu tentu saja merencanakan kau menikah dengan Bidam” kata Deokman tiba-tiba.,

“kau pintar juga menarik kesimpulan, ayahku sangat membangga-banggakan Bidam, aku jadi penasaran seperti apa dia, lalu datang kesempatan agar aku bisa bertemu dengannya. Saat pertama kali aku melihatnya aku langsung tertarik padanya, ayahku berusaha mencari jalan agar aku bisa mendekatinya tapi tetap saja---bahkan saat aku bertemu dengannya lagi di rumahmu, dia tidak bisa mengenaliku. Sungguh mengecewakan tapi menguntungkan aku juga. Usaha dan penantianku ternyata sia-sia, ayahku mati ditangan orang yang dipujanya dan semua itu adalah kau penyebabnya. Di hari itu aku bersumpah akan membuatmu menebus semua kesalahanmu yang membuat ayahku mati dan mengambil pria yang kucintai” jelas Xiou Lie menatap tajam Deokman.

“jadi semua adalah tipu muslihatmu, masuk kerumahku menyamar sebagi pelayan dengan pura-pura menolong Pelayan Ma lalu mendekati Bidam dan membuatku mencurigai Bidam dan bertengkar dengannya dan oh---ular itu, aku yakin kau juga yang melakukannya, lalu mengapa kau tidak membunuhku atau meracuni makananku bukankah itu lebih mudah bagimu untuk kau lalukan?” tanya Deokman.

“tentu saja semua itu muslihatku, aku ingin sekali membunuhmu, tapi tampaknya aku harus bersabar lagi untuk melakukan semua itu karena kau tidak berguna bagi perjuangan kami bila kau mati..”

“apa yang kau perjuangkan?” tanya Deokman penasaran. Tapi Jin Yi hanya menatap Deokman dengan pandangan mengejek.

“Kurasa cukup informasi yang kau dapat dariku untuk hari ini” katanya lalu bangkit berdiri hendak pergi meninggalkan Deokman.

“Tunggu!! Kau harus katakan padaku apa sebenarnya mau kalian? Apa yang kalian perjuangkan?” seru Deokman kesal. Jin Yi berdecak sebal dan menatap Deokman tajam.

“Mau kami adalah---“ jawab Jin Yi.

Sabtu, 22 Januari 2011

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 25

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 25

Scene : DEOKMAN’S MISSING

Hari sudah mulai siang, sementara Deokman masih sibuk menulis laporan, kemudian pintu kantornya terbuka “sreek” yang datang ternyata Xiou Lie, Deokman heran dan terkejut.

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Deokman sinis pada Xiou Lie yang masuk dengan menunduk merasa bersalah.

“saya harus kemari dan berbicara dengan nyonya, saya mendengar nyonya bertengkar dengan tuan karena saya, saya harus menjelaskannya” jelas Xiou Lie.

“apa tuan Sangdaedung yang menyuruhmu?” selidik Deokman.

“tidak, ini kemauan saya sendiri karena saya merasa bersalah pada nyonya dan tuan. Nyonya, tuduhan nyonya pada tuan tidak benar, tuan tidak seperti yang nyonya pikirkan. Semua adalah salah saya, saya terlalu ceroboh dan saya tidak bisa menahan diri saya karena saya menyukai tuan padahal tuan dan nyonya begitu baik. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan pergi dari sini tapi sebelumnya saya harus menjelaskannya pada nyonya. Apa nyonya memaafkan kelancangan saya, saya memang patut dihukum. Saya benar-benar minta maaf, tuan begitu baik tapi saya salah mengartikannya. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi? Nyonya maafkanlah tuan, saya yang salah” jelas Xiou Lie sambil terisak-isak. Deokman terhenyak mendengar penjelasan Xiou Lie, jadi ia telah salah paham pada Bidam.

‘tentu saja Bidam tidak mungkin menghianati aku, dia mencintaiku tulus.. aku saja yang terlalu berlebihan’ pikir Deokman hatinya gembira sekaligus menyesal.

“tentu saja aku maafkan mu Xiou Lie, tapi kau sudah lancang berlaku demikian, aku bertengkar dengan Tuan Sangdaedung karenamu. Kau juga harus menjelaskan pada Tuan mengapa kau melakukan ini semua. Ayo ikut aku!” ajak Deokman.


Deokman segera menuju kantor Bidam tapi menurut pengawal Bidam masih ada rapat dengan Yang Mulia.

“maaf nyonya.. kalo boleh saya menyarankan, lebih baik nyonya dan tuan membicarakan di rumah saja karena ini kan masalah pribadi dan saya merasa sangat malu bila harus menjelaskannya disini” saran Xiou Lie.

“ya.. sebaiknya kita membicarakan di rumah saja, baiklah! Ayo kita pulang.. aku harus menyiapkan kejutan padanya sebagai tanda minta maaf dariku” kata Deokman tersenyum.

Setelah menitipkan pesan pada pengawal bahwa Deokman akan menunggu Bidam di rumah maka Deokman dan Xiou Lie keluar dari istana dan berjalan pulang.

Di tengah jalan, Xiou Lie menyarankan agar Deokman membeli hadiah kecil untuk Bidam dan Xiou Lie juga akan membeli sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk keluarga Bidam. Deokman menurut dan turun di pasar yang dilaluinya, Xiou Lie dengan ceria memilih beberapa barang-barang berupa souvenir dan Deokman tertarik untuk membeli konde rambut untuk Bidam selagi asyik memilih Deokman tidak menyadari bahwa Xiou Lie menghilang.

“itu konde yang bagus, kalau aku jadi kau, aku akan memilih itu” kata seorang wanita seusianya yang mempunyai penampilan baik seperti putri bangsawan umumnya.

“benarkah.. ini untuk suamiku, baik.. aku akan membelinya terima kasih” kata Deokman tersenyum lalu dirasakannya sesuatu yang tajam menusuk perutnya pelan. Deokman terkejut dan melihat ke bawah dan dilihatnya sebuah belati panjang ditodongkan ke perutnya.

“nyonya, sebaiknya anda menuruti perintahku untuk tidak berteriak dan mengikutiku, anda tidak mau bukan pisau ini merobek perut anda dan janin dalam kandungan nyonya ikut terluka” kata wanita itu dengan senyum yang manis tapi mematikan. Deokman mengangguk tidak berkutik dan matanya berusaha menangkap sosok Xiou Lie atau pengawalnya untuk minta pertolongan tapi Xiou Lie tidak kelihatan dan pengawalnya sekarang berada di ujung gang, Deokman tidak habis pikir ia berjalan sejauh itu menjauhi tandunya karena keasyikan melihat beberapa barang.

“ayo nyonya cepatlah jalan, maju ke depan lalu berbeloklah ke gang sebelah kanan” perintah wanita itu halus sekarang tangannya merangkul pinggang Deokman bagaikan dua sahabat yang berjalan berpelukan sedang tangan satunya tetap menodongkan belati, ujung belati mengenai perut Deokman sedikit dan terasa agak perih, takut tusukannya lebih dalam dan melukai perutnya lebih baik ia menurut.

“apa yang kau inginkan? Katakan padaku mungkin aku bisa memberikannya” kata Deokman nadanya berusaha tegar.

“ikuti saja aku, nanti aku akan memberitahukanmu apa yang aku inginkan” jawabnya.

Akhirnya mereka belok ke kanan gang dan terus berjalan menyusuri gang yang agak sempit dan sepi lalu langkahnya terhenti di sebuah gerbang kayu kusam kecil.

“ini aku!” teriaknya dari luar kemudian pintu gerbang terbuka, Deokman dipaksa masuk.

Setelah masuk dilihatnya sekitar 6 orang pria berpakaian pengawal yang wajahnya ditutupi sehingga Deokman tidak bisa mengenalinya, tanpa basa-basi wanita itu mendorongnya lalu salah satu pengawal dengan cepat membiusnya dengan sapu tangan, Deokman kontan pingsan tapi ia masih merasakan tubuhnya dimasukkan ke dalam tandu dan sayup-sayup mendengar sebuah suara wanita yang dikenalnya berkata

“bagus sekali, sekarang bawa dia!”

“xiou lie..”gumam Deokman tak jelas lalu semuanya gelap.


Scene : DEOKMAN, WHERE ARE YOU?


Bidam sudah meyelesaikan rapatnya dan sekarang ia akan menemui Deokman tapi Deokman tidak ada di kantornya, kemudian ia menerima pesan dari pengawal istana bahwa Deokman sudah pulang terlebih dahulu dari siang tadi bersama seorang wanita yang berpakaian seperti pelayan dan menunggu Sangdaedung di rumah. Bidam senang karena kemungkinan Deokman tidak marah lagi dengannya dengan segera ia menaiki kudanya dan pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Bidam segera mencari Deokman di kamarnya tapi tidak ada…

“dimana nyonya? Apa dia sudah pulang?” tanyanya pada Pelayan Ma.

“belum tuan Sangdaedung, saya tidak melihat nyonya pulang”jawab Pelayan Ma.

“lalu Xiou Lie?”

“dia juga belum datang dari pagi tadi, saya menunggunya lama. Anak itu jadi merepotkan begini. Apa tuan mau makan?”

“tidak, aku akan menunggu istriku... lalu kenapa Xiou Lie juga belum datang, apa dia kabur?” tanya Bidam, lalu diingatnya kata pengawal tadi kalau Deokman pulang bersama seorang wanita berpakaian pelayan, apakah itu Xiou Lie? Pikir Bidam bertanya-tanya.

Setelah mandi dan makan beberapa makanan kecil, Bidam menunggu Deokman dengan gelisah di halaman depan. Sampai hari menjelang malam tapi tidak ada tanda-tanda Deokman pulang, Bidam makin gelisah, lalu akhirnya berubah jadi kepanikan ketika para pengawal tandu Deokman tiba di rumah mengatakan bahwa tadi Deokman bersama Xiou Lie turun di pasar untuk membeli sesuatu tapi setelah lama menunggu Deokman tidak kunjung kembali akhirnya mereka mencarinya di sekitar pasar tapi tidak menemukan Deokman dan Xiou Lie.

“Pengawal.. cari Tuan Putri ke rumah tabib Young Ae, siapa tahu dia ada disana. Aku akan mencarinya di istana sekarang juga. Beri kabar secepatnya kalau kau menemukannya, mengerti?” perintah Bidam. Lalu dengan cepat Bidam berkuda menuju istana. Sesampainya di istana Bidam mencari Deokman keseluruh pelosok istana tapi hasilnya nihil. Ia meminta tolong Alcheon untuk mencarinya juga...

“tidak biasanya Tuan Putri seperti ini, apa ada masalah?” tanya Alcheon gusar melihat Bidam panik luar biasa mencari Deokman.

“tadi pagi aku sedikit bertengkar dengannya dan pengawal mengatakan ia menghilang di pasar? Aku sangat mengkhawatirkannya apalagi dia sedang mengandung” kata Bidam gemetar.

“sebaiknya Sangdaedung menunggunya di rumah, siapa tahu ia kembali setelah menenangkan diri lagipula Tuan Putri ditemani oleh seorang pelayan kan? Jadi Sangdaedung tidak perlu khawatir, walaupun kupikir ini diluar kebiasaan Tuan Putri yang memperlarut masalah” saran Alcheon.

“ya..kau benar, mungkin Tuan Putri hanya menenangkan diri, aku saja yang panik berlebihan. Nanti pasti ia pulang kembali” kata Bidam menghibur dirinya sendiri walau hati kecilnya berkata Deokman bukan tipe orang yang suka membuat masalah berlarut-larut tapi ia lebih menyukai agar semua masalah diselesaikan secepat mungkin.

“memangnya kalian bertengkar tentang apa? Sampai Tuan Putri marah begitu?” tanya Alcheon.

“ah.. sudahlah..kalau ada kabar tolong beritahukan aku secepatnya” jawab Bidam menghindar. Alcheon mengiyakan, Bidam pun meninggalkan istana.

Keesokan harinya, Deokman belum kembali. Bidam tertidur di halaman depan menunggu Deokman, Pelayan Ma membangunkannya dan Bidam segera pergi ke istana untuk meminta beberapa orang untuk mencari Deokman.

“apa..! Tuan Putri Deokman menghilang sejak kemarin siang” kata Yang Mulia Chunchu terkejut ketika Alcheon melaporkannya.

“ya, Sangdaedung Bidam telah meminta beberapa orang untuk mencari Tuan Putri Deokman” jawab Alcheon.

“kalau perlu kerahkan pasukan kita untuk mencarinya ke seluruh soerabeol, Tuan Putri harus ditemukan!” perintah Chunchu yang juga khawatir.

Mereka hanya mendapatkan petunjuk terakhir ketika Deokman menghilang yaitu ketika seorang pedagang asesoris mengatakan bahwa ia melihat Tuan Putri pergi bersama seorang wanita berpakaian seperti putri bangsawan dan wanita berpakaian pelayan mengikutinya dari jauh. Pencarian berhenti kala mereka menemukan rumah yang dijadikan tempat Deokman dimasukkan ke dalam tandu setelah itu nihil, tidak ada petunjuk lain.

Sampai hari berganti malam, pencarian terhadap Deokman terus berlangsung di seluruh soerabeol, rumah-rumah penduduk diperiksa tapi tidak berhasil. Bidam sudah seperti orang linglung dan raut mukanya jelas sangat kusut.


Malam hari ketiga…

AARRGHH… Bidam menjerit sekeras mungkin di pelataran depan rumahnya, air matanya menetes karena binggung, cemas, khawatir, takut dan rindu pada Deokman, karena Deokman menghilang, belum kembali, dan tidak ada kabar berita sama sekali.

“kau ada dimana Deokman..? apa yang terjadi padamu? Aku tidak sanggup membayangkan.. baru 3 hari tidak ada kau disisiku tanpa tahu bagaimana keadaanmu, aku jadi gila. Deokman..” gumam Bidam

“Deokman..DEOKMANKU!!!..”teriak Bidam memanggil nama Deokman, lalu duduk bersandar di tembok pelataran depan rumahnya sambil menangis kemudian menengadah ke atas

“Tuhan.. beri petunjuk dimana istriku berada, jagalah dia.. aku tidak sanggup hidup tanpa dirinya” diusapnya cincin dijarinya lalu dikecupnya sambil terisak.


Scene : THE KIDNAPPER

Siang hari ke empat..

Di sebuah hutan yang rimbun terdapat satu pondokan yang sudah tua dan tidak terawat, dengan tangan terikat dan mata ditutup, Deokman duduk terikat di sebuah kursi kayu menghadap sebuah meja. Beberapa hari ini ia sangat pusing, lemah dan lapar sekali, walaupun mereka memberi makan sesekali tapi tetap saja mereka membius Deokman lagi agar tetap diam. Kemudian Deokman samar-samar ia mendengar suara yang dikenalnya, Deokman memutuskan untuk pura-pura masih pingsan agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, ternyata percakapan antar 2 orang wanita…

“kau sudah mengirim orang untuk menyampaikan pesan?”

“sudah..bila sesuai rencana besok malam pesannya akan sampai di rumah Sangdaedung Shilla”

“bagus..kau sudah menyampaikan pada kurirmu kalau tertangkap dia harus mati”

“ya tenang saja, kurirku bisa dipercaya, dia tidak akan tertangkap dengan mudah”

“kau jangan meremehkan orang.. sudah kubilang Sangdaedung ini berilmu tinggi, salah satu yang terbaik di seluruh Han”

Deokman sedikit tersenyum kecil kala mereka memuji Bidam.

“Baiklah, sekarang kau lihat dia, apa sudah siuman belum, biarkan dia sadar kukira sudah waktunya kita memperkenalkan diri”

Deokman merasa salah satu dari mereka mendekat dan membuka penutup matanya, Deokman mengerjapkan matanya sedikit agar bisa menyesuaikan dengan cahaya dalam ruangan itu. Saat matanya sudah terbiasa lalu memandang ke hadapannya dilihatnya sosok penculik yang ternyata sangat dikenalnya…

“Xiou Lie..kau..kau” kata Deokman terkejut lalu melihat sosok wanita yang disebelah Xiou Lie yaitu wanita yang menculiknya kini mereka berpakaian mirip dengan wonhwa berwarna merah hanya rambut mereka terurai dengan ikat kepala dengan warna yang sama dengan pakaiannya.

“Kau.. kenapa.. apa yang terjadi?” tanya Deokman terkejut.

“Tenanglah Tuan Putri Shilla, akan aku jelaskan padamu nanti, sebaiknya kau makan dulu, kami masih membutuhkanmu dalam keadaan sehat lagipula kau kan sedang mengandung tentunya kau butuh makanan” kata Xiou Lie lembut tapi sinis. Deokman memang merasa lapar dan lemah, ia perlu makanan untuk dirinya dan bayinya.

“Bu Yong, lepaskan ikatannya biarkan dia makan dulu, dia tidak berguna kalau mati” perintah Xiou Lie pada wanita itu yang ternyata namanya Bu Yong.

Deokman langsung menyantap makanannya dengan lahap tanpa malu-malu, karena ia memerlukan kekuatan untuk dia dan bayinya jika ada kesempatan untuk melarikan diri. Xiou Lie dan Bu Yong melihat Deokman dengan sinis lalu meninggalkan Deokman dan digantikan oleh beberapa penjaga.

Malam hari keempat…

Deokman merasa tidak berdaya dan menyesal terhadap Bidam, juga kesal karena ia tidak membawa soeyobedo. Dan juga ia baru menyadari bahwa gelang pemberian Bidam sudah tidak ada lagi di tangannya.

‘Bidam pasti sangat mengkhawatirkan aku, apa yang sedang ayahmu lakukan sekarang?” gumam Deokman sambil mengelus perutnya seolah bicara dengan janin yang dikandungnya.

“ibu tidak tahu apa yang terjadi, tapi ibu yakin semua akan baik-baik saja.. besok bila orang-orang itu datang, ibu akan menanyakannya---apa mau mereka sebenarnya dan ayahmu pasti menyelamatkan kita---pasti…bersabarlah---beri ibu kekuatan, kau dan ibu harus kuat dan bertahan…Oh.. ibu sangat merindukan ayahmu.. rasanya nyaman sekali berada dalam pelukannya”gumam Deokman sambil meneteskan air mata mengingat Bidam.

Kamis, 06 Januari 2011

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 24

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 24

Scene : the CURIOSITY

Akhirnya sekarang Xiou Lie menjadi dayang Deokman dan mengikuti kemanapun Deokman pergi, Bidam pun sesekali mengajarkan Xiou Lie berlatih pedang walaupun hanya sebentar. Deokman merasa ada hal yang aneh ketika melihat Bidam dan Xiou Lie, Deokman merasa Xiou Lie menyukai Bidam karena Deokman sekilas pernah melihat Xiou Lie sering menatap Bidam dibelakang punggungnya dan tersenyum simpul, tapi ditepisnya perasaan itu, tidak mungkin begitu, tentu saja pasti Bidam menolaknya. Perlakuan Bidam pada Xiou Lie hanya sebatas tuan dan pelayan, jadi wajar bila Bidam mengajarkan sesuatu. Tapi tetap saja pikiran itu menganggunya.

Pagi hari sekali, Bidam sudah bersiap memakai pakaian Sangdaedung-nya, Deokman membantu Bidam menyiapkan sarapan. Pagi itu Bidam harus ke istana lebih awal karena Yang Mulia akan mengadakan perjalanan ke Benteng Danghang untuk menemui utusan Tang disana. Bidam hanya menyiapkan proposal perjanjian kerja sama yang akan diajukan Shilla.

“kau tidak jadi ikut dengan Yang Mulia ke benteng Danghang?”

“kukira tidak.. karena sementara urusan istana diserahkan padaku” jawab Bidam sambil sarapan cepat-cepat.

“sepertinya aku harus pergi sekarang, takut terlambat, Yang Mulia menungguku” Deokman mengangguk dan Bidam pamit pergi setelah mencium pipi Deokman dan mengelus perut Deokman.

“sampai jumpa di istana” kata Bidam sambil menaiki kudanya.

“ya.. hati-hati” jawab Deokman mengantar Bidam pergi sampai ke gerbang depan. Kemudian Deokman masuk ke kamar dan memanggil Xiou Lie. Tapi ternyata Pelayan Ma yang masuk.

“mana Xiou Lie?”

“maaf Nyonya, Xiou Lie sedang sakit.. dari subuh tadi dia mengeluh sakit perut dan dia mohon maaf tidak bisa melayani Nyonya hari ini”

“sakit perut apa…?” Pelayan Ma berbisik pada Deokman dan mengatakan bahwa Xiou Lie sakit karena datang bulan.

“ya sudah, suruh saja dia beristirahat” Deokman pun bersiap-siap hendak pergi ke istana.

Di istana…

Siang hari, Bidam mendatangi Deokman di kantornya.

“Deokman, apa dokumen yang tadi malam aku kerjakan terbawa olehmu?”

“dokumen apa?”

“dokumen yang isinya tentang persetujuan anggaran untuk pembangunan armada laut di Insadong, dokumen itu harus dikirim hari ini juga ke Insadong”

“tidak, bukankah kemarin malam kau sudah merapikannya dan memasukkan ke dalam tasmu? Apa tertinggal di rumah?”

“sepertinya aku sudah memasukkannya untuk dibawa ke istana tapi itu tidak ada dalam tasku, aahh.. sial aku harus memeriksanya di rumah segera. Aku pulang dulu untuk mencarinya”

“ya.. pulanglah” balas Deokman. Bidam keluar dari kantor Deokman sambil mengerutu kesal karena dokumennya tertinggal di rumah.

Rumah Sangdaedung

Bidam sampai di rumahnya lalu dengan segera menuju ruang kerja, dicarinya dokumen itu dan Bidam menemukannya di bawah meja, mungkin terjatuh pikirnya, meski Bidam merasa janggal. Lalu Bidam membaca sekali lagi dan dia baru ingat bahwa isi dokumen belum dia salin. Sementara Bidam menulis, lalu beberapa saat kemudian Xiou Lie mengeser pintu sambil membawa beberapa makanan kecil dan teh panas.

“Tuan , saya mendengar Tuan sudah pulang..” Bidam mendonggak dan heran melihat Xiou Lie ada di rumah.

“bukankah kau bersama istriku di istana?”

“tidak Tuan , Nyonya menyuruh saya untuk beristirahat di rumah” Bidam mengangguk dan melanjutkan pekerjaannnya.

“apa Tuan mau minum tehnya sekarang?” Bidam mengangguk tanpa melihat Xiou Lie sambil meneruskan pekerjaannya. Xiou Lie menyeduh teh dan menyerahkannya pada Bidam tetapi,

“ouch...” Bidam sontak berdiri dan menjerit kecil ketika teh panas yang dipegang Xiou Lie tumpah ke bajunya. Bidam menepis-nepis pakaiannya menahan rasa panas, sementara Xiou Lie ikut sibuk membersihkan tumpahan air teh di pakaian Bidam.

“Tuan ..Tuan .. maafkan saya.. saya ceroboh.. pasti panas.. aduh.. bagaimana ini..”celoteh Xiou Lie, Bidam tidak memperhatikan Xiou Lie malah melirik dokumen di mejanya, bagi Bidam bukan masalah pakaiannya yang terkena teh dan basah tapi ia harus segera menyelesaikan dokumen dan segera pergi ke istana,

“sudah Xiou Lie.. tidak apa.. tidak apa..sudah..” kata Bidam sambil berusaha duduk kembali, tapi Xiou Lie tidak mendengarkan Bidam, tangannya tetap saja menepis-nepis pakaian Bidam dan bergumam minta maaf. Bidam jadi tidak sabar dan memegang pundak Xiou Lie dengan kedua tangannya untuk menghentikan Xiou Lie. Xiou Lie sontak diam dan terpaku menatap Bidam…

“Tuan ..” kata Xiou Lie lirih.

------------

Deokman tiba di rumah dan turun dari tandunya, Pelayan Ma menyambut kedatangannya dari halaman samping.

“Nyonya sudah pulang”

“apa Tuan Sangdaedung masih ada di rumah?”

“saya tidak melihat Tuan Sangdaedung datang, Nyonya” jawab Pelayan Ma, tapi Deokman yakin Bidam ada di dalam karena kuda Bidam masih ada diluar, tanpa berkata apa-apa Deokman masuk ke dalam rumah dan menuju ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka lalu Deokman melihat Bidam memegang pundak Xiou Lie dan mereka saling bertatapan dan mendengar Xiou Lie berkata “Tuan ..” dengan suara yang lirih.

Deokman mengeser pintu agar terbuka lebih lebar. Mendengar suara pintu bergeser dan melihat Deokman yang datang Bidam langsung melepaskan tangannya dari pundak Xiou Lie dan Xiou Lie menunduk diam. Deokman memandang Bidam menuntut penjelasan,

“tadi aku berusaha menghentikannya untuk membersihkan pakaianku yang terkena tumpahan teh, kau lihat basah bukan” jelas Bidam sambil membentangkan tangannya memperlihatkan pakaiannya yang basah. Deokman memperhatikan pakaian Bidam dan melihatnya sesaat,

“tunggu disini, aku akan mengambilkan gantinya” kata Deokman dingin lalu segera keluar kamar. Bidam lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa menyadari bahwa Deokman sedikit kesal. Deokman datang ke ruang kerja sambil membawa pakaian Bidam yang baru dan kering.

“aku akan pergi ke istana lagi untuk menyerahkan laporan ini” kata Bidam pada Deokman yang sedang merapikan pakaian gantinya. Deokman hanya mengangguk diam tanpa bersuara.

“Deokman.. lihat aku.. kau tidak berpikiran macam-macam kan?” tanya Bidam seolah mengetahui ekspesi wajah Deokman.

“tidak.. pergilah, mereka menunggumu” balas Deokman tersenyum tipis. Bidam membalas tersenyum lega dan segera pergi.

Di sebuah rumah, di Soerabeol….

Seorang pria berpakaian rakyat biasa masuk ke dalam ruangan, dan disana duduk seorang wanita muda yang berpakaian putri bangsawan.

“Nona Bo Young..” kata si pria itu menghormat.

“Sudah kau sampaikan pesanku padanya?” tanya Bo Young.

“Sudah Nona, dia berpesan agar kita bersiap-siap dalam waktu 1 atau 2 hari ini, untuk melaksanakan apa yang telah kita rencanakan” jawab di pria tadi.

“Bagus..setelah kita berhasil, segera kirim kabar ke markas besar…aku tidak mau menunda lama dan segera lakukan persiapan, ingat jangan ada jejak sedikitpun” perintah Bo Young dengan senyum cerah yang merekah di wajahnya.

Scene : MORNING KISS

Malam itu Bidam pulang agak larut, dan melihat Deokman tidur lebih dulu. Ditatapnya wajah Deokman dengan penuh kasih sayang dan membetulkan selimut Deokman. Deokman tidur dengan pulas, lalu Bidam melihat pakaian tidurnya telah disiapkan juga makan malam untuknya yang tersedia diatas meja. Bidam pun makan dulu sebelum pergi mandi dan tidur.

“selamat pagi..” sapa Deokman yang duduk di sisi ranjang Bidam ketika Bidam membuka matanya, Bidam terkejut karena Deokman bangun terlalu pagi atau dirinya yang bangun kesiangan.

“uhhm…pagi.. apa aku kesiangan”

“tidak juga.. pasti kau sangat lelah tadi malam hingga tidurmu sangat pulas begitu” ujar Deokman tersenyum. Bidam bangun dan mengecup kening istrinya.

“ayo sarapan, pagi ini aku sangat lapar” ajak Deokman pada Bidam,

Bidam mengangguk dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Deokman menunggu di ruang makan dan merekapun sarapan bersama, setelah itu..

“ini pakaianmu, mandilah sana, aku sudah mandi pagi tadi” kata Deokman sambil menganti pakaian tidurnya dengan pakaian Tuan Putri-nya.

“baik sayang, eh.. Deokman tadi malam aku membawa buku baru untukmu, dan aku minta tolong kau carikan laporan mengenai pengeluaran militer di distrik Insadong di meja kerjaku. Aku membutuhkannya” kata Bidam sambil mengerdipkan sebelah matanya tanda merayu.

“Baik aku akan mencarikannya, pergilah mandi” Bidam pun masuk ke kamar mandi dan Deokman keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerja. Kemudian Xiou Lie masuk menuju lorong dalam kamar….

Bidam mandi dengan riang sambil bersiul-siul, ketika sudah selesai dan sedang mengeringkan rambutnya, Bidam hanya mengenakan handuk yang dililit menutupi bagian bawahnya dan masih bertelanjang dada membelakangi pintu. Lalu tiba-tiba pintu bergeser dan Xiou Lie masuk sambil membawa ember, dilemparnya ember itu ke bawah “BRAG” suara ember kayu menghantam lantai dan Xiou Lie membuka lipatan kimononya lebih terbuka sehingga sebagian pundak dan atas dadanya terlihat lalu mendekatkan dirinya ke arah Bidam, merangkulkan kelima jarinya di leher Bidam dan secara tiba-tiba Xiou Lie mencium bibir Bidam dengan penuh nafsu.. Bidam diam beberapa saat, terkejut dan terkesiap dengan tingkah Xiou Lie…

-------------

Deokman mencari dokumen yang dimaksud Bidam dan menemukannya... lalu dia mengambil dokumen itu untuk diperlihatkan pada Bidam, alih-alih salah mengambil dokumen dan Deokman menuju kamarnya tapi diurungkannya setelah mendengar “BRAG” suara ember kayu jatuh dari kamar mandi, lalu Deokman menuju kamar mandi yang pintunya terbuka, dia melihat Xiou Lie mencium Bidam dan tangan Xiou Lie bertengger di tengkuk Bidam dan Deokman tidak bisa melihat reaksi Bidam karena Bidam membelakanginya.

Dilihatnya kerah kimono Xiou Lie terbuka lebar memperlihatkan pundak dan atas`dadanya. Lalu Xiou Lie melepaskan diri segera dan memperbaiki kerah kimononya yang sedikit terbuka dan Deokman melihat Xiou Lie meneteskan air mata. Deokman tidak bisa menahan diri melihat kejadian itu dan menutup mulutnya lalu diam-diam pergi dari situ menuju kamarnya tanpa diletahui oleh Bidam...

-------------

Bidam terkejut dengan sikap Xiou Lie yang tiba-tiba menciumnya, lalu Xiou Lie melepaskan diri dan memperbaiki kerah kimononya. Xiou Lie meneteskan air mata…

“untuk apa kau melakukan hal itu..?” tanya Bidam datar dan pelan nyaris seperti bisikan, ia belum bisa menguasai dirinya karena terkejut. Xiou Lie hanya menunduk dan menangis…

“maafkan saya Tuan .. Tuan begitu baik.. saya tidak bisa menahan diri..” jawab Xiou Lie terisak lalu lari ke luar kamar mandi. Bidam melihat Xiou Lie berlari dan menghela nafas sambil mengenakan jubah mandinya, ia sangat lega tidak seorangpun yang melihatnya, semoga tidak ada yang melihatnya pikirnya...

Scene : the first argue

Bidam masuk ke kamar, dilihatnya Deokman sedang duduk menunduk dan Bidam melihat di meja sudah ada laporan yang dia minta.

“kau sudah menemukannya ya, terima kasih Deokman” kata Bidam riang, berusaha menutupi kegugupannya.

“Dia cukup cantik bukan? apa kau menyukainya?” tanya Deokman tiba-tiba suaranya datar sambil duduk tanpa menatap Bidam.

“apa? Siapa?” tanya Bidam menoleh pada Deokman binggung.

“Apa kau menyukai Xiou Lie? Kelihatannya kau begitu dekat dengannya” lanjut Deokman dingin.

“Deokman, apa maksud - mu? Kau ini kenapa?”

“bukan sekali ini aku melihatmu dengan Xiou Lie, kau sering berbicara dengannya dengan akrab seolah-olah kalian adalah teman dekat, lalu aku melihatmu ketika kau memegang pundaknya seolah kau memeluknya di ruang baca, lalu tadi aku melihat Xiou Lie menciummu dan kau diam saja.. kalau kau menyukainya kenapa kau tidak jadikan dia sebagai selirmu, itu lebih baik daripada kau bermain dibelakangku. Bukankah sudah biasa bagi seorang bangsawan sepertimu mempunyai banyak istri untuk bersenang-senang!!” nada Deokman meninggi dan menatap Bidam tajam. Bidam terkejut dengan pernyataan Deokman.

“Kau melihatnya?” sahut Bidam gugup

“Kau pikir aku tidak melihatnya, apa sering kau melakukan ini?” tanya Deokman dengan nada mencemooh.

“kau ini kenapa Deokman? kau salah paham” ujar Bidam menenangkan mencoba tersenyum lembut.

“kau malah tersenyum.. kau pikir aku main-main.. hapus senyummu itu!!” Deokman tambah sewot.

“aishh.. Deokman? tunggu akan ku panggil Xiou Lie” kata Bidam cepat-cepat lalu keluar dan berteriak memanggil Xiou Lie.

“mana Xiou Lie?” tanyanya pada Pelayan Ma.

“tuan, dia tidak ada.. dia pergi keluar tadi” jawab pelayan Ma.

“aahh.. sialan, kenapa jadi begini” ujar Bidam lalu dilihatnya Deokman keluar kamar dan bergegas hendak pergi, Bidam berlari dan meraih tangan Deokman tapi ditepis Deokman.

“aku pergi dulu ke istana, banyak pekerjaan! Aku sedang malas berdebat denganmu jadi jangan mengajak aku berbicara!” ujar Deokman lalu pergi berlalu dengan tandunya. Bidam memandang tandu Deokman dengan nanar, ini pertama kalinya sejak berumah tangga, ia bertengkar dengan Deokman, rasanya kalut sekali lalu Bidam meninju tembok di disebelahnya.

“ahh.. dimana si Xiou Lie itu, ia sumber masalahku dengan Deokman..” gumam Bidam kesal.

Deokman terdiam dalam tandunya, rasanya ia kesal sekali pada Bidam juga pada Xiou Lie, tidak mungkin Xiou Lie bisa sekurang ajar itu pada Bidam kalau Bidam tidak memberinya kesempatan.

Lalu diingatnya kala Bidam tertawa-tawa kala mengobrol dengan Xiou Lie di gazebo, ketika Bidam memperhatikan Xiou Lie berlatih pedang, ketika Bidam memegang pundak Xiou Lie di ruang baca dan terakhir kala Xiou Lie mencium Bidam dan Xiou Lie membenarkan kerah kimononya yang sedikit terbuka. Dan Deokman sudah mencium tanda-tanda bahwa Xiou Lie menyukai Bidam, apakah diam-diam Bidam juga menyukai Xiou Lie ‘Apa Bidam menghianati cintanya? Rasanya tidak mungkin, Bidam begitu mencintaiku, mengapa aku begitu cemburu dan bertengkar dengan Bidam? pikir Deokman heran.

Entahlah, dulu waktu Yushin memutuskan menikah dengan Yohmo, ia bisa mengatasinya dengan baik karena ada Bidam yang menghiburnya tapi kalau sekarang kenapa ia tidak bisa mengendalikan emosinya, rasa cemburunya, tapi yang dirasakan Deokman saat ini adalah kesal dan marah.

“Deokman..ayolah kenapa kau marah begitu, apa kau berpikir aku menyukai Xiou Lie, tidak mungkin aku menghianatimu..” kata Bidam memelas saat Bidam menemui Deokman di kantornya.

“sudahlah Bidam, apa yang kulihat dan kau katakan jauh berbeda” jawab Deokman datar dan dingin sambil sibuk membaca laporan, kemudian Santak datang dan memberitahukan Bidam bahwa Yang Mulia sudah menunggunya di Aula Wolseon. Bidam menanggapinya dengan kalut.

“pergilah..!” perintah Deokman tanpa melihat ke arah Bidam. Bidam dengan enggan pergi dan meninggalkan Deokman dengan hati kurang puas.

************



Senin, 27 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story bagian 23

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

bagian 23

Scene : SHILLA WONHWA

Istana

Mereka pun tiba di istana untuk menghadiri perayaan panen tahunan yang berlimpah di tahun ini, tanda kemakmuran bagi seluruh rakyat dan negeri Shilla. Sementara perayaan berlangsung meriah, semua pejabat beserta keluarganya diundang.

Deokman terlihat bosan dengan seluruh rangkaian acara, pada tahun kemarin ialah yang duduk di singasana kerajaan dan ‘harus' melihat semua atraksi dan menyapa formal dari podium dengan para tamu undangan, tanpa bisa beranjak dari tempatnya sedetikpun. Tapi sekarang begitu berbeda, Deokman begitu bebas memperhatikan para tamu, berbincang sedikit dengan mereka dan menikmati perayaan lebih santai. Namun lama-lama juga Deokman merasa bosan dan dia memilih keluar dari tempat acara.

Tadinya dia mau mengajak Bidam untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitar istana, menikmati indahnya malam seperti ia dan Bidam lakukan dulu waktu mereka masih tinggal di istana. Tapi diurungkannya karena Bidam rupanya sedang berbincang-bincang seru dengan beberapa pejabat istana sambil minum arak (tempat duduk untuk para undangan wanita dan pria dipisahkan). Deokman menuju taman istana sendirian sambil berpikir, tangannya dilipat ke depan dan tangan yang satunya disimpan antara hidung dan bibirnya. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya di belakangnya.

“Apa yang Tuan Putri lakukan disini? apa ada yang Tuan Putri pikirkan?” Yushin bertanya dan menatap ke arahnya.

“Aahh.. tidak, aku hanya mencari angin segar, kau sendiri mengapa ada disini?”

“aku hanya kebetulan lewat dan melihat Tuan Putri disini, aku hanya ingin menyapa Tuan Putri” Deokman mengangguk dan menatap ke depan.

“Tuan Putri, selamat atas kehamilan Tuan Putri, aku baru mendengarnya akhir-akhir ini setelah kembali dari Saitama, maaf baru mengucapkannya sekarang”

“terima kasih, Panglima Yushin. Kau begitu bekerja keras untuk Shilla dalam mencapai tujuannya, sudah seharusnya Shilla bangga memiliki Panglima seperti kau”

“ini cita-cita dan tujuan kita semua termasuk Tuan Putri sendiri..”

Deokman hanya tersenyum mendengar jawaban Yushin, kemudian mereka terdiam sejenak.

“Panglima Yushin.., aku selalu melihat dalam perayaan selalu ada gisaeng-gisaeng yang melayani para pria baik yang mempunyai kedudukan atau tidak” ujar Deokman

“hal itu kan sudah wajar, Tuan Putri, memang selalu ada yang seperti itu, mengapa Tuan Putri bertanya seperti itu, apa ada masalah dengan hal ini”

“tidak.. aku hanya berpikir. Wanita.. kupikir bila Shilla ingin selangkah lebih maju dari semua kerajaan, kita harus menempatkan wanita untuk beberapa pos penting, misalnya membentuk kembali wonhwa (hwarang khusus wanita) dan intelejen wanita. Aku yakin bila hal itu dilakukan maka Shilla akan lebih maju lagi. Bukankan Raja Jinheung menempatkan Mishil di posisi penting di kemiliteran sehingga akhirnya dia bisa menguasai seluruh pemerintahan, aku yakin wanita-wanita di Shilla mempunyai potensi yang baik dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan Shilla. Bagaimana menurutmu?”

“ide yang sangat bagus, memakai kelembutan wanita sekaligus keahliannya untuk mendorong kemajuan di militer kita. Tapi dalam pelaksanaannya tentu akan menemui banyak kesulitan”

“mengapa.. karena mereka wanita, mahkluk yang dianggap lemah dan perlu dilindungi, aku pikir dengan diangkatnya aku sebagai ratu wanita pertama di Shilla mampu membuka mata para pria agar melihat kemampuan seorang wanita tidak berbeda dengan pria. Masing-masing ada porsinya, pria dengan segala kekuatannya dan wanita dengan segala pemikirannya. Kupikir ini akan saling melengkapi, lagipula banyak juga wanita yang mampu mengangkat pedangnya dan mempunyai keahlian bela diri yang baik”

“Ya memang harus aku akui, pemikiran wanita seperti Tuan Putri selalu selangkah lebih maju, kadang-kadang aku tercenggang sendiri dan merasa malu seperti orang bodoh” jawab Yushin sambil tertawa. Deokman ikut tertawa juga.

Bidam mendengar mereka tertawa riang dan mendekatinya, entah mengapa setiap kali Deokman berada dekat dengan Yushin dan berduaan seperti ini, Bidam masih merasa tidak nyaman padahal dia sudah memiliki Deokman dan menjadi suaminya.

“Sepertinya aku kehilangan momen yang bagus” kata Bidam menghentikan tawa mereka. Bidam mengerdikan kepalanya sebagai ekspresi penasaran.

“Bidam, aku senang bertemu kau kembali... tadi aku hanya berbincang-bincang dengan Tuan Putri sekaligus mengucapkan selamat atas kehamilan Tuan Putri, kalian akan memperoleh keturunan sebentar lagi, aku turut senang” jawab Yushin.

Bidam mengangguk-angguk tersenyum tapi masih penasaran tentang apa yang mereka bicarakan, Deokman memahami ekspresi Bidam dan menjelaskan pada Bidam mengenai idenya untuk menggunakan wanita sebagai salah satu kekuatan Shilla dan kembali membentuk Wonhwa.

“Ide yang sangat bagus Deokman, aku akan menyampaikannya pada Yang Mulia raja dan berusaha mewujudkannya” kata Bidam.

“betul, akupun setuju. Tinggal menetapkan batasan-batasan peraturan maka kupikir tidak ada masalah” balas Yushin.

“Aku akan menuju tempat acara dulu, sampai jumpa lagi. Sekali lagi selamat atas kehamilannya” lanjut Yushin sambil pamit. Deokman dan Bidam mengangguk.

“dari mana kau mendapatkan ide seperti itu, Deokman”

“karena aku melihatmu dilayani oleh para gisaeng-gisaeng itu, mereka begitu mudahnya mendekati beberapa pejabat penting dan mungkin bisa mendengar pembicaraan mereka, seandainya mereka mata-mata mereka akan mendapatkan informasi yang sangat penting dengan mudah, juga karena aku melihat Xiou Lie”

“ada apa dengan Xiou Lie”

“aku melihatmu memperhatikan Xiou Lie berlatih pedang dan mencoba beberapa gerakan bela dirinya, kau pun terlihat cukup puas dengan kemampuannya. Dari situlah aku menyadari bahwa para wanita mempunyai kemampuan yang sama dengan pria di bidang apapun. Jadi berhentilah meremehkan seorang wanita”

“siapa yang meremehkan wanita, aku? Kenapa kau jadi idealis seperti ini sih?”

“bukan kepadamu, tapi pada orang-orang yang seperti itu. Kenapa kau jadi tersinggung?”

“aku tidak tersinggung, justru aku menyadari kalau aku pun bertekuk lutut di hadapan wanita sepertimu. Aku sungguh-sungguh tidak bisa berkutik di depanmu, Deokman”

“tentu saja karena aku mantan ratu Shilla kan”

“bukan itu.. tapi karena aku mencintaimu dan aku tengelam didalamnya”

“Bidam..” gumam Deokman sambil tersenyum puas dan senang karena jawaban Bidam.

Rumah Sangdaedung Malam Hari

Seseorang mengendap-endap mendekati kamar Deokman dan Bidam kemudian membuka pintunya perlahan lalu masuk. 5 menit kemudian orang itu keluar dari kamar itu dan bergegas pergi ke arah belakang rumah.


Istana : Taman Istana

“apa kau lelah? Sebaiknya kita pulang sekarang” Deokman mengangguk lalu Bidam merangkul pundak Deokman dan berjalan menuju tandu mereka, setelah mereka dalam tandu dan diangkat pergi. Bidam bertanya sesuatu

“Deokman..”

“hhmm..”

“apa kau cemburu melihatku bersama gisaeng-gisaeng itu dan juga Xiou Lie” tanya Bidam tiba-tiba dengan wajah penuh selidik.

“tidak..”

“aahh.. sungguh disayangkan, padahal aku sangat tidak nyaman ketika melihat kau dan Yushin tertawa bersama”

“astaga Bidam, kau masih seperti itu?”

“ya” jawab Bidam sambil mengangkat kedua alisnya, Deokman tersenyum sambil menyenderkan kepalanya di bahu Bidam.

“aku juga cemburu Bidam, hanya aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kau mencintaiku dan aku melawan rasa cemburuku. Tapi bila kau seperti ini berarti kau tidak mempercayai aku bahwa aku pun sungguh-sungguh mencintaimu”gumam Deokman.

“aku tahu itu, hanya saja aku begitu takut kehilangan dirimu, kehilangan cintamu” jawab Bidam, Deokman mengangkat kepalanya dan memegang pipi Bidam dengan kedua tangannya.

“jangan pernah takut lagi, jangan.. aku akan selalu mencintaimu selamanya” tegas Deokman lalu Deokman mencium bibir Bidam, Bidam terkejut karena biasanya Bidam yang memulai duluan, tapi Bidam senang dan membalas ciuman Deokman dan mendekap erat badan Deokman selama perjalanan pulang di dalam tandu.

Scene : MORNING INCIDENT

Rumah Sangdaedung Bidam : pagi hari..

“AAAWW.. !!!” Deokman menjerit, Bidam langsung bangun dengan mata setengah terpejam.

“..da..pa..?”tanya Bidam masih mengantuk.

“ini..”kata Deokman sambil memperlihatkan seekor ular kobra berukuran sedang yang bisanya lumayan mematikan. Melihat itu, Bidam langsung pulih kesadarannya dan cepat-cepat bangun dari ranjangnya,

“berikan padaku, cepat” kata Bidam sambil mengulurkan tangannya agar Deokman menyerahkan ular itu ke tangannya, Deokman menyerahkannya. Setelah itu Bidam langsung keluar dari kamar dan meminta penjaga gerbang depan untuk membuangnya ke tempat yang jauh. Bidam masuk ke kamarnya lagi lalu duduk dan meminum tehnya yang diseduhkan oleh Deokman dan berdiri disampingnya.

“aku tidak habis pikir.. kok di kamar kita bisa ada ular ya?” pikir Bidam.

“mungkin saja kan, ular itu masuk dari jendela lalu bersembunyi dan keluar saat malam tiba, untung saja aku menemukannya. Aku merasa ada sesuatu yang merayap di kakiku lalu aku terbangun dan melihat ular itu”

“itu sangat berbahaya, aku khawatir sekali”

“sudahlah.. kan tidak ada yang tergigit”

“tapi tetap saja, kalau kau tergigit bagaimana dengan kau dan anak kita” kata Bidam sambil bergidik membayangkan hal itu.

“kami baik-baik saja ayah” jawab Deokman sambil meletakkan tangan Bidam diatas perutnya, Bidam mengelus perut Deokman dengan lembut.

“sudah hampir 3 bulan kan?”

“ya.. 6 bulan lagi kita kan segera melihatnya. Rasanya aku sudah tidak sabar melihat ia lahir ke dunia”

“aku juga”

“mandilah sana nanti aku siapkan pakaianmu!” Bidam menurut dan beranjak berdiri, tapi kemudian menoleh pada Deokman.

“aku tidak menyangka istriku yang cantik dan lemah lembut ini tidak takut dengan ular” goda Bidam.

“aku malah senang bermain-main dengannya, dulu waktu tinggal di gurun aku malah langsung membunuhnya lalu mengulitinya, kau tahu empedu dan kulit ular harganya lumayan mahal” jawab Deokman tersenyum riang.

“aku lupa, istriku ini mantan hwarang dan prajurit Shilla yang berani dan tidak takut apapun”

“sudah.. cepat mandi sana” perintah Deokman pura-pura serius.

“siap komandan” jawab Bidam sambil menghormat, Deokman pun tersenyum lebar menatap ke arah punggung suaminya.

“kau salah Bidam, aku memang tidak takut apapun, tapi aku takut kehilanganmu” gumam Deokman.


Dalam perjalanan menuju istana,

“Aku akan mengajukan idemu untuk membuat laskar wanita di barisan pertahanan kita, dan rencanaku akan menambah resimen hwarang wanita di berbagai provinsi”

“Benarkah? Apa para dewan setuju?”

“Harus! Ini kan idemu, tidak ada seorangpun yang boleh melawan keinginan istriku” jawab Bidam bercanda.

“Aku serius Bidam”

“ya.. aku tahu setelah Yang Mulia memberi ijin, aku langsung akan mengadakan pemungutan suara lalu mengalokasikan keputusan ini pada menteri pertahanan dalam negeri biar mereka membuat beberapa peraturan dan system rekruitmennya. Setelah itu selesai dan berjalan lancar. aku yakin Shilla akan semakin kuat dengan hal ini”

“ya semoga, sekarang ini Shilla akan lebih maju dengan bantuan pemikiran dan tenaga para wanitanya”

“aku tidak meragukan hal itu, kau tahu di balik kesuksesan seorang pria pasti selalu ada wanita di belakangnya, entah itu ibunya atau istrinya tapi mereka selalu mendukung pria yang disayanginya sehingga si pria itu termotivasi dan menjadi sukses”

“terbalik dengan keadaanku, kesuksesanku mencapai semua ini karena kau dan pria lain di belakangku mendukungku”

“pria lain? Maksud-mu Yushin?” Bidam agak merenggut, Deokman memang sengaja ingin mengoda Bidam.

Deokman tidak menjawab dan tersenyum geli yang ditahan melihat wajah Bidam merenggut, Deokman memalingkan muka ke jendela tandu pura-pura tidak melihat Bidam

Scene : THE LAUGHTER AND SPRINKLE OF JEALOUSY

Karena hari ini adalah hari libur, Bidam dan Deokman memutuskan untuk tinggal di rumah. Bidam mengunakan waktunya untuk melihat dan mengurus kuda-kudanya dibantu oleh para pelayan pria dan Deokman sibuk mengawasi para pelayan wanita yang sedang membersihkan ruangan-ruangan dalam rumah mereka. Tidak terasa waktu sudah hampir siang, Deokman mendatangi Bidam di istal.

“Bidam, ayo istirahat dulu, aku akan menyiapkan makan siang. Kita makan siang di gazebo, bersihkan badanmu dan tunggu aku disana” suruh Deokman.

“ya sayang, sebentar lagi” jawab Bidam, Deokman segera menuju dapur.

Bidam membersihkan badannya dan menunggu makan siang datang di gazebo. Sambil menunggu Bidam berdiri menatap pemandangan di luar gazebo, kemudian Xiou Lie datang membawa nampan berisi dimsum dan teh sebagai pembuka makan siang.

“Tuan silahkan dimakan dimsumnya” kata Xiou Lie, Bidam menoleh dan duduk menghadap meja, ketika Xiou Lie hendak berbalik, Bidam memanggilnya.

“Xiou Lie tunggu”

“ya Tuan .. apa ada yang kurang?”

“tidak.. ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Kau bilang bahwa kau tinggal di gunung Hanggeok-san” Xiou Lie hanya mengangguk tanda membenarkan.

“aku merasa pernah melihatmu di suatu tempat, apakah disana?” gumam Bidam.

“Tuan pernah ke Hanggeok-san? Benarkah? Mungkin Tuan pernah melihatku disana, siapa tahu? Rasanya senang sekali bertemu dengan orang yang pernah datang ke desa saya. Tuan pernah tinggal disana bukan? Tahukah Tuan tempat yang paling indah adalah di tepi danau Hangguk, disana tempatnya sangat damai, pemandangannya indah juga airnya yang jernih dan segar sekali, dan Tuan pernah pergi ke kolam mata air panas Hangguk, oh.. nyaman sekali bila berendam disana, aku dan teman-teman seusiaku sering mandi disana, tapi jelas kami berhati-hati karena pemuda di desa kami hobinya mengintip para gadis sedang mandi” jelas Xiou Lie tanpa titik koma, Bidam jadi tertawa geli, mendengar Xiou Lie bercerita dengan antusias.

“mengapa Tuan tertawa?” tanya Xiou Lie heran.

“kau ini bicara terus tanpa berhenti, lucu sekali”

“oh.. Tuan , saya jadi malu”

“apa yang kau katakan benar, di Hangguk terdapat danau yang indah juga terdapat banyak binatang yang masih liar, aku dan guruku kadang-kadang berburu dan menikmati buruan kami di tepi danau” kata Bidam sambil menerawang membayangkan masa lalunya.

“jangan-jangan Tuan yang pernah berburu rusa peliharaan kami, aku dan kakekku suka memberi mereka makan dan membiarkan hidup bebas di alam liar tapi sayangnya selalu ada pemburu dari luar desa kami yang datang membunuh rusa-rusa kami itu. Kami selalu bersedih bila menghitung jumlah rusa kami berkurang setiap minggunya”

“kau dan kakekmu memelihara rusa dan memberi mereka makan? Rusa kan hewan liar dan tidak mungkin diberikan kandang, biasanya mereka hidup dan makan secara bebas. Kalian memilih binatang yang salah untuk dijadikan peliharaan, sungguh aneh!” Bidam makin tertawa geli mendengar kebiasaan Xiou Lie yang aneh.

“Karena kami tinggal di pinggiran hutan, kami pikir bila memelihara binatang ternak, kami takut binatang buas yang tinggal di dalam hutan akan memangsa ternak kami. Tapi Tuan, rusa sangat menyenangkan untuk diajak bermain, saya sangat menikmati bercengkrama dengan mereka” bela Xiou Lie.

Bidam tersenyum lebar, mengingat akan masa mudanya dulu bersama guru Munno, bukankah dulu juga ia juga bersifat aneh dan liar, bersedia melakukan apa saja asal bisa makan ayam kukus kesukaannya, yang jelas-jelas dilarang oleh guru Munno. Tanpa sadar Bidam tertawa sendiri menertawakan ulahnya dahulu.

“Tuan..?” sergah Xiou Lie yang heran melihat Bidam tertawa sendiri.

“ahh..yaa..aku hanya teringat masa lalu” ujar Bidam. Xiou Lie hanya menanggapi dengan membentuk huruf O sempurna di bibirnya.

“yang paling aku sukai di desamu itu adalah air terjunnya, entah mengapa aku sangat menyukai air terjun. Melihat air terjun dan mendengar suara airnya membuat aku menjadi lebih berani dan bersemangat, mungkin karena suara airnya yang keras membuat jantung berdetak lebih cepat juga” lanjut Bidam.

“benar tuan, saya juga merasakan hal itu. Bila saya merasa sedih, saya biasanya pergi kesana dan menangis keras-keras karena suara jeritan saya tertutup oleh air terjun, bila sudah demikian saya merasa lebih tenang” kata Xiou Lie dengan mata berbinar-binar.

Bidam tersenyum menatap Xiou Lie, ada sedikit kekaguman dalam diri Bidam terhadap gadis itu, Bidam merasa melihat Deokman yang dulu dalam diri Xiou Lie, juga mengingatkan ia akan masa lalunya. Bidam hanya berpikir Xiou Lie bukan hanya gadis desa biasa, tapi ada sesuatu yang lebih dari itu tapi entah apa.

“Ternyata menyenangkan juga berbincang denganmu Xiou Lie” kata Bidam, Xiou Lie sekilas tersenyum senang dipuji oleh Bidam.

“menyenangkan apa?” tiba-tiba Deokman datang, di belakangnya Pelayan Ma mengikuti bersama pelayan lain membawa makan siang mereka dan langsung menyajikannya di depan meja. Setelah semua tersaji, para pelayan termasuk Xiou Lie pamit mundur. Setelah mereka semua pergi, Deokman memulai pembicaraan.

“apa sih yang kalian bicarakan, aku melihat dari jendela dapur, kau berbicara dan tertawa-tawa dengannya, tampaknya kau senang sekali” ujar Deokman sambil menyajikan mangkuk untuk Bidam lalu diisikan nasi.

“dia, mengingatkan aku pada seorang gadis yang kukenal, gadis itu bicaranya selalu semangat, ekspresif bila sedang sedih, pintar, cantik dan mempunyai kehidupan aneh” Bidam menerima mangkuk nasinya dan membiarkan Deokman mengisinya dengan beberapa masakan.

“siapa gadis itu? Dia?” balas Deokman pendek tapi terlihat wajah Deokman dingin, Bidam tertawa ditahan.

“apa kau sedang cemburu?” goda Bidam memiringkan kepalanya ingin melihat lebih jelas ekspresi wajah Deokman.

“aku.. tidak, itu kan urusanmu, masa lalumu” jawab Deokman dingin lalu menyuap makanannya.

“selamat makan..” goda Bidam lagi seolah mengingatkan kebiasaan mereka yang lupa dikatakan Deokman ketika akan menyantap makanan. Deokman hanya acuh menanggapinya.

“kau tidak mau tahu, siapa gadis yang kumaksud? Gadis itu adalah kau, Deokman. Kan sudah pernah kukatakan padamu bahwa seumur hidupku hanya kaulah gadis yang pertama menarik perhatianku dan aku jatuh cinta padamu, dari saat itu hingga sekarang” jelas Bidam, mendengar kata-kata Bidam, Deokman pun tersenyum menahan tawa karena tadi merasa sedikit cemburu.

“tunggu dulu, bila kau bilang Xiou Lie dan aku sama-sama mempunyai kehidupan yang aneh, apa itu?”

“ya aneh.. Xiou Lie dididik oleh kakeknya seperti seorang pria, lalu kau menjalani masa remajamu menyamar sebagai pria, sama saja kan”

“itu bukan aneh namanya, mungkin kami berdua terpaksa menjalaninya karena tuntutan keadaan, lagipula gadis mana yang mau menjalani hidup seperti itu, kau ini” Deokman menjawab sambil tersenyum.

“tapi aku bersyukur kau menjalaninya, bila tidak, aku tidak akan bertemu denganmu, entah bagaimana aku jadinya” sahut Bidam tersenyum lembut dan menatap Deokman.

“ayo makan.. selamat makan..”kata Deokman tersenyum lebar, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena senang dengan jawaban Bidam tadi. Mereka pun menikmati makan siang dengan gembira.

Malam harinya, setelah mereka berendam air hangat bersama dan bersiap hendak tidur, dan saat berada mereka di atas ranjang, Bidam mengajak Deokman berbicara.

“Deokman.. aku pikir, sebaiknya kau mengambil Xiou Lie sebagai dayangmu”

“tadinya aku akan meminta Choisun sebagai dayangku pada permaisuri, mengapa kau memilih Xiou Lie?”

“karena kupikir ia cocok denganmu lagipula ia mempunyai keahlian bela diri yang bagus, sehingga aku akan lebih tenang karena ada yang menjagamu bila ada sesuatu yang terjadi”

“aku juga berpikiran sama denganmu, baiklah kalau begitu, besok aku akan mulai mengambilnya sebagai dayangku” Bidam tersenyum mengangguk. Lalu Deokman berbaring, dan Bidam menyelimutnya lalu berbaring menghadap Deokman dan membelai rambut Deokman lembut.

“Selamat tidur..” kata Deokman menoleh menatap Bidam.

“Selamat tidur anakku..” bisik Bidam lalu mengelus-elus perut Deokman beberapa saat dan tangan Bidam mulai meraba-raba dada Deokman lembut, Deokman mengerti keinginan Bidam.

“Apa kau menginginkannya?” tanya Deokman tersenyum lembut memegang erat tangan Bidam agar tetap berada di dadanya.

“apa kau memberikannya?” Bidam balik bertanya, dengan senyum lebar.

“Kemarilah..” perintah Deokman lembut, dan mendekatkan wajahnya ke arah Bidam.

~ T B C ~

Rabu, 22 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 22

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 22

Scene : SHE’S GOT GOOD SKILL

2 hari kemudian..

Saat menjelang subuh (sekitar jam ½ 5 pagi), Deokman tiba-tiba terbangun dan membangunkan Bidam.

“Bidam, maaf ya membangunkanmu, tapi aku lapar” kata Deokman saat Bidam terbangun, masih setengah mengantuk dan menguap.

“kau lapar?” tanya Bidam tersenyum kecil, Deokman mengangguk.

“baiklah kau ingin makan apa?” tanya Bidam lagi, sekarang ia berusaha untuk menghilangkan kantuknya.

“rasanya aku ingin makan bubur jagung buatanmu untuk sarapan” jawab Deokman,

Bidam hanya tersenyum mendengar permintaan Deokman, hal ini untuk keempat kalinya. Saat pertama, Deokman minta dibelikan bola-bola manisan di pasar katanya untuk mengurangi rasa mualnya.

Kedua Deokman minta buah mangga dan apel yang masih muda dan berasa asam.

Ketiga saat tengah malam, Deokman minta dibuatkan sup kacang merah pedas dengan kuah kaldu ayam yang kental.

Semua hal itu dipenuhi dan dilakukan Bidam dengan sabar dan tanpa mengeluh karena tahu Deokman sedang mengidam, lagipula permintaannya tidak aneh-aneh dan cukup wajar.

Bidam pun bangkit dari tidurnya,

“Baiklah istriku sayang, akan aku buatkan, kau tidur lagi saja ya” kata Bidam sambil mengecup kening Deokman dan Deokman pun menurut untuk mencoba tidur lagi.

Bidam pun keluar dari kamarnya menuju dapur, biasanya menjelang subuh begini, para pelayan belum bangun. Tapi saat menuju dapur dilihatnya sosok seseorang memainkan pedang kayu dan berlatih. Bidam melihat ternyata Xiou Lie yang sedang berlatih di halaman belakang lalu dia memperhatikannya cukup lama.

“caramu memegang dan memainkan pedang kayu itu cukup pandai dan terlatih, apa kau belajar dari suatu perguruan?” tanya Bidam mengagetkan Xiou Lie. Xiou Lie langsung menunduk memberi hormat dan menjawab.

“maaf Tuan, saya tidak melihat Tuan”

“kau.. ambil pedang kayu itu” Bidam menunjuk pada pedang kayu yang berjejer di papan penyimpanan pedang kayu untuk latihan.

Lalu Bidam melakukan beberapa gerakan menyerang ringan pada Xiou Lie, Xiou Lie berhasil menangkalnya. Setelah selesai Bidam, melemparkan pedang ke arah Xiou Lie dan Xiou Lie menangkapnya dengan baik.

“Bagus sekali.. simpan itu” kata Bidam sambil berlalu cuek menuju arah dapur.

Setelah menyimpan pedang Xiou Lie segera berlari menyusul Bidam di dapur. Bidam tengah mengambil bahan-bahan untuk memasak bubur.

“Tuan.. Tuan.. sedang apa disini? apa Tuan perlu sesuatu, saya akan menyiapkannya” ujar Xiou Lie.

“aahh.. bagus kau datang, kau tahu dimana Pelayan Ma menyimpan rempah bumbu masakan?” tanya Bidam pada Xiou Lie. Xiou Lie langsung mengambil bumbu itu dan menyerahkannya pada Bidam. Bidam tanpa banyak bicara, menunjuk hal ini hal itu yang harus dikerjakan Xiou Lie untuk membantunya di dapur.

“apa Tuan mau masak bubur?” tanya Xiou Lie, sibuk membawa beberapa bahan.

“kau belum menjawab pertanyaanku, kau berlatih pedang dimana?” Bidam balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Xiou Lie sebelumnya.

“oh itu.. saya diajarkan kakek saya, karena saya tinggal di gunung dan disana daerahnya rawan, banyak perampok, jadi saya diajarkan untuk mempertahankan diri” jawab Xiou Lie, sambil mulai menyisir jagung.

“kakekmu sungguh mengajarkanmu dengan baik” kata Bidam sambil memberi kode pada Xiou Lie agar mengaduk-aduk buburnya secara teratur, sambil menunggu buburnya matang, Bidam duduk di kursi dapur dan menyenderkan kepalanya pada tiang dapur, karena masih mengantuk akhirnya Bidam tertidur dengan posisi seperti itu.

Bidam tidak melihat ketika sedang tertidur Xiou Lie memperhatikan Bidam dan menatapnya terus menerus sambil mengaduk buburnya.

Bidam tiba-tiba terbangun ketika mendengar Deokman memanggil namanya.

“Bidam, kau masih ada didapur?!” suara Deokman mendekat ke arah dapur.

Dengan sekali loncatan, Bidam meraih sendok pengaduk di tangan Xiou Lie, dan langsung mengaduk buburnya ketika Deokman muncul dari pintu dapur. Ini tujuannya agar Deokman tidak tahu bahwa ia sebenarnya tertidur saat membuat bubur tadi, Bidam tidak mau Deokman merasa bahwa dia merepotkan dirinya.

“apa kau sudah selesai?” tanya Deokman riang, melihat Xiou Lie berdiri di samping Bidam.

“oh.. kau dibantu Xiou Lie, ya?” tanya Deokman lagi, Bidam hanya mengangguk tersenyum.

“tunggu aku di ruang makan, sebentar lagi siap dan sudah matang” kata Bidam sambil mencicipi buburnya dan bergumam “sudah pas”

“tidak, aku mau makan di kamar saja denganmu, ayo..biar Xiou Lie yang menyelesaikannya, Xiou Lie tolong ya?” ujar Deokman sambil mengandeng tangan Bidam dan mengajak Bidam keluar dapur.

Ketika Bidam dan Deokman keluar, mereka tidak melihat Xiou Lie mendengus sebal ke arah mereka.

SCENE : in another place

Seorang wanita berusia muda memakai pakaian mirip hwarang masuk terburu-buru ke dalam suatu ruangan, berupa kamar yang sederhana bahkan kurang terawat.

“Jenderal..” panggilnya. Pria yang dipanggil jenderal itu membalikkan badannya dan menatap wanita itu.

“Bagaimana?” tanyanya pada wanita itu.

“tahap awal telah kita laksanakan jenderal, tampaknya semua berjalan lancar, saya sudah menerima berita darinya” jawab wanita itu.

“Baiklah Bo Young, sekarang kita tinggal menunggu waktu yang tepat. Aku ingin kita tidak terburu-buru dan ingat kau harus menjaga jarak dengannya. Sedangkan keadaan disini biar aku yang menangani. Saat ini pihak raja sedang menyelidiki semua pihak yang terlibat kudeta” jawab sang jenderal.

Wanita yang dipanggil Bo Young menganggukan kepalanya tanda mengerti, menghormat dan pergi meninggalkan ruangan.

“Semoga kau berhasil Jin Yi” gumam sang Jenderal setelah pintu tertutup.

Benteng Dabeol –

Benteng Shilla yang terdekat dengan Saitama – Goguryo

“Panglima, ini daftar nama tawanan yang kita tawan dari Saitama” seorang perwira berpangkat kapten menyerahkan gulungan surat kepada Panglima Kim Yushin.

Yushin membaca gulungan surat ini dengan seksama.

“hmm.. jadi kita akhirnya berhasil memaksa mereka bahwa diantara tawanan itu ada salah satu pemimpin pemberontakan, Jenderal Wang Tae Jong beserta anak buahnya dan jumlah tawanan 50 orang” ujar Yushin sambil menyungingkan senyum tanda senang.

“apa kita akan mengirim tawanan ke Soerabeol?” tanya kapten itu.

“Kukira tidak perlu, kita hanya memindahkan mereka ke Benteng Sokham yang lebih kuat daya pertahanannya, disana terdapat 5000 prajurit dibawah pimpinan Jenderal Inhyun. Selama perjanjian Shilla dan Goguryeo belum disepakati, kita akan menahan mereka disana” kata Yushin.

“aku akan kembali ke Soerabeol, panggil Jenderal Deok Chung, dia akan kuperintahkan untuk menjaga keamanan di Saitama” perintah Yushin.

Sang kapten pun pergi melaksanakan perintah Yushin.

Scene : BIDAM WANTS

Sore hari, rumah Sangdaedung

Ruang kerja

“Kita harus cepat bersiap Bidam, sore ini perayaan panen tahunan di istana” kata Deokman sambil menutup buku yang dibacanya tanda sudah selesai, dia menatap Bidam yang sedang menulis sesuatu. Deokman mendekati Bidam dan berdiri di sampingnya, Bidam sangat serius hingga tidak menyadari kehadiran Deokman. Deokman memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang ditulis Bidam.

“kau sedang menulis apa?” tanya Deokman.

“eh.. aku hanya mencoba membukukan ilmu pedangku yang diberikan oleh guru Munno” jawab Bidam.

“benarkah?” Deokman terlihat tertarik dan mengambil buku yang sedang di tulis Bidam. Dan melihat judulnya.

“Tai-Chi?” gumam Deokman.

“ya, itu ilmu yang kupelajari sendiri dengan melihat guru Munno berlatih. Aku harap suatu hari aku bisa mengajarkan sendiri pada anakku” kata Bidam sambil mengelus perut Deokman, Deokman tersenyum sambil meletakkan buku itu di meja.

“kau belum tahu anak kita laki-laki atau perempuan, bidam” Deokman meletakkan tangannya di atas tangan Bidam.

“laki-laki atau perempuan sama saja, aku akan tetap mengajar mereka ilmu pedang, agar mereka kuat dan pintar seperti ibunya”

“agar mereka juga berilmu tinggi dan baik hati seperti ayahnya” balas Deokman, Bidam tersenyum dan mengecup perut istrinya.

“Kau mandi duluan nanti aku menyusul setelah kau selesai” saran Bidam, Deokman mengangguk dan menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit kemudian…

Deokman masuk ke kamarnya dan melihat Bidam tengah duduk.

“pergilah mandi! Aku sudah selesai nanti aku siapkan pakaian untukmu untuk perayaan nanti” perintah Deokman masih memakai jubah mandi.

“oh..hhmm..” jawab Bidam melamun, segera ia bangkit dan akan melangkah keluar kamar.

Namun niatnya untuk mandi diurungkan ketika melihat Deokman tengah menyisir rambut panjangnya.

“sini biar aku sisirkan” kata Bidam sambil meraih sisir dari tangan Deokman dan dengan lembut menyisirkan rambut istrinya.

“nanti kita terlambat” ujar Deokman mengingatkan sambil berusaha merebut sisir dari tangan Bidam tapi Bidam mengenggamnya erat.

“apakah hari ini aku sudah mengatakan padamu bahwa kau cantik” jawab Bidam seolah-olah mengindahkan perkataan Deokman sebelumnya, Deokman hanya tersenyum dan bercermin melihat bayangan dirinya dan Bidam.

Kemudian Bidam mengecup belakang leher Deokman dan menyusuri ke telinga Deokman lalu berbisik. Deokman sedikit bergidik karena geli.

“kau sangat cantik Deokman dan aku menginginkan dirimu” tangan Bidam melepaskan jubah mandi Deokman dengan sigap, sehingga Deokman kini polos tanpa berpakaian. Tangan Bidam mengusap lembut pundak Deokman dan mengecupnya, lalu membalikkan badan Deokman agar berhadapan. Bidam tersenyum penuh arti pada Deokman tanda bahwa Bidam sedang ingin bercinta dengannya.

“tapi nanti kita terlambat” protes Deokman kedua kalinya tapi Bidam keburu mencium bibirnya dan mengulumnya, suatu ciuman yang menuntut dan bernafsu hingga Deokman tidak bisa protes lagi karena lidah Bidam telah memenuhi rongga mulutnya, sehingga Deokman tidak bisa mengatakan apapun kecuali desahan pendek.

Bidam kemudian mengendong Deokman ke ranjang dan membaringkannya lalu Bidam melepaskan pakaiannya sendiri dan menempatkan dirinya diatas tubuh Deokman.

“Bidam, nanti kita terlambat” kata Deokman lembut. Tangan Bidam mulai meraba-raba bagian sensitifnya di bagian atas dan bagian bawah.

“biar mereka menunggu kita” bisiknya pelan di telinga Deokman sambil mencium dan mencumbu Deokman. Deokman pasrah atas keinginan suaminya dan membiarkan Bidam mencumbunya dirangkulnya Bidam erat-erat, kemudian mereka bercinta penuh gairah.

“sepertinya aku harus mandi lagi” gumam Deokman pada Bidam yang masih berada di atas tubuhnya berkeringat.

“ayo kita mandi bersama-sama” jawab Bidam tersenyum lebar dengan wajah jahil, Deokman mendorong lembut Bidam agar pindah ke sisinya.

“kali ini benar-benar mandi” kata Deokman pura-pura marah.

“baiklah Tuan Putri “ ujar Bidam bangkit lalu memakaikan jubah mandi pada Deokman dan dirinya lalu menarik tangan Deokman ke kamar mandi, mereka saling tertawa-tawa bahagia.

Namun mereka tidak menyadari ada sorot mata yang sinis dan penuh kebencian yang mengarah pada tingkah polah mereka, mata milik Xiou Lie.

“yuk kita berangkat” ajak Bidam ketika melihat Deokman telah selesai berhias.

Deokman mengangguk mengiyakan dan mengulurkan lengannya, lalu Bidam menyambutnya dan mengandeng Deokman. Deokman sangat cantik sekali memakai gaun Tuan Putri dengan kombinasi warna biru muda dan merah muda sedangkan Bidam memakai pakaian warna favoritnya hitam dikombinasikan dengan jubah rompi warna abu gelap.

“istriku memang paling cantik” puji Bidam, matanya terus menatap Deokman disampingnya saat mereka ada di dalam tandu, Deokman tersipu.

“kau juga sangat tampan suamiku” jawab Deokman sambil menyenderkan kepalanya di bahu Bidam. (tidak ada seorangpun yang menyangkal bahwa bidam memang sangat tampan, author tidak tahan untuk memuji), Bidam tersenyum dan mengengam tangan Deokman erat.

“benar kata orang-orang, andai seorang wanita tengah hamil, aura kecantikannya akan semakin memancar, aku benar-benar membuktikannya sendiri dengan melihatmu bahwa mereka memang benar, semakin hari kau semakin cantik Deokman. Dan aku tahu kenapa itu terjadi?” ujar Bidam.

“kenapa?” tanya Deokman penasaran.

“karena si wanita itu bahagia, membayangkan menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang akan membuat hati jadi lebih gembira, itulah sebabnya wajah calon ibu itu lebih berseri-seri” jawab Bidam.

“kau benar, aku juga merasa demikian, aku bahagia sekali” timpal Deokman.

“hanya saja tidak semua ibu seperti itu..” nada Bidam berubah getir mengingat dia malah dibuang mishil kala waktu bayi, Deokman tahu Bidam mulai meratapi lagi.

“sudahlah, kita berbeda dengan mereka, kita akan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, menyambut kehadiran mereka dengan gembira dan membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang, kita akan melakukannya, kau dan aku” tegas Deokman memegang lengan Bidam erat.

“ya, tentu saja. aku tidak mau mereka mengalami nasib yang sama seperti yang kita alami” jawab Bidam sambil mengecup kening Deokman, Deokman mengangguk tersenyum.

Rabu, 15 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 21

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 21

Scene : MORNING SICK

2 Bulan Kemudian:

Semenjak Deokman mengandung, Deokman memang tidak bernafsu makan, sedikit bau masakan atau bau yang menyengat membuatnya mual dan muntah, berkali-kali Bidam menanyakan hal ini pada Young Ae dengan wajah panik tapi jawabannya selalu sama bahwa ini adalah hal yang wajar bagi kehamilan dengan usia muda karena mengidam, nanti juga hal ini akan hilang dengan sendirinya.

Bidam dengan sabar dan penuh perhatian pada Deokman untuk menyemangati agar Deokman mau makan, walaupun demikian Deokman tetap beraktivitas dan bekerja seperti biasanya, meski Bidam sudah memperingatkannya tapi Deokman berkilah bahwa ia tidak mau selalu berdiam diri dan bermalas-malas karena hal itu membuat Deokman jadi bosan. Lagipula Deokman sudah terbiasa bekerja keras, Bidam hanya pasrah menerima jawaban Deokman.

“Kau jangan terlalu mencemaskan aku seperti itu, Bidam. Aku akan baik-baik saja, aku kan tidak sakit. Kau jadi tidak memperhatikan dirimu sendiri. Aku jadi tidak enak hati” kata Deokman suatu saat ketika mereka berjalan di istana kala mau pergi pulang.

“Tidak, kau dan anak kita sangat penting bagiku” kilah Bidam

“Tapi tetap saja, kau harus mengfokuskan pikiranmu pada pekerjaanmu, kau kan sedang mempersiapkan rencana perjanjian dengan Goguryo mengenai tawanan yang sudah Shilla tangkap di Saitama, lagipula Saitama sudah kita kuasai, kau perlu menata ulang keadaan disana” saran Deokman

“Ya.. aku juga sedang mengerjakannya. Deokman, aku pikir kau memerlukan dayang atau pelayan yang bisa mendampingimu kemana-mana sementara aku bekerja. Aku akan mencarikannya untukmu, di istana kan banyak dayang-dayang, kau bisa memilihnya salah satu” pinta Bidam

“baik, aku akan membicarakannya dengan permaisuri, sebenarnya aku enggan di ikuti seperti bayangan…” Deokman tidak jadi meneruskan kata-katanya ketika melihat raut muka Bidam berubah mau marah.

“ya.. aku akan mengambil seorang dayang, kau senang?” lanjut Deokman menyerah, mendengar Deokman berkata begitu Bidam merubah rautnya wajahnya jadi lega kembali

“aku senang..terima kasih Deokman” jawab Bidam sambil mengusap punggung Deokman.

Akhirnya mereka sampai ditandunya.

“kau pulang duluan ya.. nanti aku menyusul, aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku selesaikan” kata Bidam sambil mengantar Deokman naik tandu.

“baiklah aku tunggu kau di rumah, sampai nanti” kata Deokman

“hati-hati” balas Bidam menutup tirai tutup tandu dan menyuruh pembawa tandu untuk pergi. Setelah tandu Deokman menjauh, Bidam masuk kembali ke area istana.


Scene : NEW MAID GIRL

Di rumah Sangdaedung :

Deokman sampai dirumah dan segera keluar dari tandunya, pelayan mereka sekaligus koki mereka bernama Pelayan Ma menyambutnya bersama seorang gadis pelayan lain yang baru dilihat Deokman

“Nyonya Tuan Putri, sudah datang. Selamat datang nyonya” sambut Pelayan Ma menunduk begitu pula dengan gadis disampingnya

“Ya, Pelayan Ma. Siapa dia?” balas Deokman tersenyum dan bertanya

“Nama hamba Xiou Lie, nyonya. Saya mohon agar nyonya menerima saya bekerja disini” si gadis memperkenalkan diri

“apa Pelayan Ma tahu siapa gadis ini?” tanya Deokman pada Pelayan Ma

“ah.. nyonya, tadi saya mengalami kejadian yang mengerikan” tukas Pelayan Ma

”apa maksud-mu?” tanya Deokman

“tadi saya ke pasar dan saya dirampok, oh.. saya takut sekali karena rampok itu mengambil semua uang yang diberikan nyonya untuk belanja, karena saya tidak memberikannya lalu perampok itu mau melukai saya, saya mau dibacoknya seperti ini..” jelas Pelayan Ma sambil mengarahkan tangannya pada lehernya. Deokman mendengarkan dengan serius, lalu Pelayan Ma melanjutkan

“untung saja ada Xiou Lie, datang dan menolong saya, lalu Xiou Lie mengeluarkan pedangnya dan berkelahi dengan perampok itu tapi perampok itu kalah lalu langsung lari ketika Xiou Lie mau membawanya ke kantor polisi. Untung ada Xiou Lie, nyonya kalau tidak…” kata Pelayan Ma sambil bergidik

“syukurlah kalau Pelayan Ma selamat, sebaiknya Pelayan Ma berikan saja uangnya daripada kau celaka” ujar Deokman

“ah..tidak Nyonya, enak saja.. itu kan uang belanja selama 1 bulan, perampok itu dapat untung besar. Nanti bagaimana dengan tanggung jawab saya” kilah Pelayan Ma

“tapi nyawa lebih berharga, Pelayan Ma. Oh.. jadi kau yang menyelamatkan Pelayan Ma”

“ya Nyonya, saya tidak tega melihat seorang wanita seperti Tuan Putri Ma teraniaya begitu” jawab Xiou Lie

“lalu mengapa kau ingin bekerja disini?” tanya Deokman

“maaf Nyonya, saya sudah lancang mengajaknya kemari, tapi saya jadi tidak tega pada gadis ini setelah mendengar kisah hidupnya” tukas Pelayan Ma.

Kemudian Deokman duduk di bangku di bawah pohon persik yang ditanam di tengah halaman rumahnya.

“ceritakanlah padaku..” pinta Deokman pada Xiou Lie

“saya.. saya.. berasal dari jauh, tempat tinggal saya jauh sekali di gunung Hanggeok-san di dekat perbatasan Shilla dan Goguryeo” jelas Xiou Lie

“ya.. aku tahu nama daerah itu. Tapi aku belum pernah kesana” Deokman memotong

“betul nyonya, gadis ini yatim piatu dan hanya tinggal bersama kakeknya” timpal Pelayan Ma

“lalu.. sedang apa kau di Soerabeol?” tanya Deokman lagi

“saya sedang dalam perjalanan ke Negeri Tang. Setelah kakek saya meninggal, saya baru tahu bahwa ayah saya ternyata masih hidup dan tinggal di Negeri Tang, saya pergi untuk mencarinya, tapi ternyata dalam perjalanan bekal saya habis dan terpaksa saya tidak bisa melanjutkan perjalanan saya”

Mendengar cerita Xiou Lie, Deokman jadi teringat akan dirinya dulu yang sengaja meninggalkan padang pasir Taklamakan untuk mencari ayahnya dan sendiri menjalani perjalanan jauh, mengalami kehabisan bekal dan ditipu, Deokman jadi tersenyum kecil mengingatnya.

“Lalu kau ingin bekerja disini untuk mengumpulkan uang dan melanjutkan perjalananmu, begitu?” tanya Deokman membuat kesimpulan

“Betul nyonya, saya kasihan melihat gadis Xiou Lie, ketika saya menawarinya untuk makan sebagai tanda berterima kasih, dia langsung makan dengan lahap seperti sudah tidak makan berhari-hari” potong Pelayan Ma

“Benarkah..?” Deokman bertanya

“Pelayan Ma, saya jadi malu, jangan ceritakan hal itu pada Nyonya” tukas Xiou Lie menunduk

“Sudahlah, kau boleh bekerja disini bersama Pelayan Ma” kata Deokman

”Benarkah.. Nyonya menerima saya, saya sangat bersyukur, terima kasih Nyonya, terima kasih” seru Xiou Lie sambil setengah berloncat-loncat kegirangan. Deokman pun berdiri dan beranjak masuk rumah tapi langkahnya terhenti dan memanggil Xiou Lie,

“Xiou Lie” Deokman memanggil

“ya Nyonya” jawab Xiou Lie

“Negeri Tang sangat luas, tidak mudah mencari ayahmu bila kau tidak tahu siapa nama dan tempat tinggalnya” kata Deokman

“Saya hanya tahu namanya Hua Xing Lou, dia tinggal di kota Mingtao. Itu saja yang hamba tahu, Nyonya” jawab Xiou Lie

“Ya baiklah.. Pelayan Ma, tolong kau siapkan makan malam untuk Tuan Sangdaedung, karena sebentar lagi Tuan akan datang, dan kau Xiou Lie, mintalah petunjuk Pelayan Ma” kata Deokman lalu dia pun masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat dan mandi.

Hari menjelang malam ketika Bidam sampai dirumah, Deokman menunggu Bidam datang sambil melanjutkan membaca buku yang baru dipilihnya. Waktu luang Deokman, diisinya dengan membaca buku-buku yang dianggapnya menarik dan menambah ilmu pengetahuannya. Bidam juga suka membawakan buku-buku baru untuk Deokman baca.

“Aku pulang!” seru Bidam sambil masuk ke rumah, Deokman segera keluar dari ruang baca dan menyambutnya

“Selamat datang” jawab Deokman tersenyum

“Kau pasti lelah dan lapar kan? Mau makan atau mandi dulu?” tanya Deokman

“hhmm..mau makan dulu saja, pasti kau belum makan juga kan? karena menungguku, kasihan anak kita belum kau beri makan” kata Bidam sambil merangkul istrinya

“baiklah, kita makan dulu” balas Deokman

Lalu mereka berjalan ke ruang makan, setelah mereka duduk, Deokman memanggil Pelayan Ma dan menyuruh dia menyiapkan hidangan. Kemudian beberapa saat kemudian makan malam pun dihidangkan oleh Pelayan Ma dan Xiou Lie, Bidam melihat Xiou Lie.

“Dia siapa? pelayan baru?” tanya Bidam pada Deokman ketika Pelayan Ma dan Xiou Lie keluar dari ruang makan

“Ya.. dia baru bekerja hari ini, kau tahu tidak, kisah hidupnya unik, akan kuceritakan padamu sambil makan” Deokman lalu mengambil mangkuk nasi untuk Bidam dan mengambilkan beberapa lauk di atasnya. Lalu mereka pun makan dan Deokman pun bercerita pada Bidam tentang Xiou Lie.

“Lucu ya, jalan hidupnya hampir sama denganmu dulu. Sama-sama mencari ayahnya dan pandai berkelahi” kata Bidam pada Deokman sambil mengunyah makanannya.

“ya.. karena itu dia kuterima bekerja disini. Aku memahami perasaannya” ujar Deokman

“Rasanya aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat tapi dimana ya?” ujar Bidam sambil mengingat-ingat

“Kau bilang dia tinggal di gunung Hanggeok-san, aku juga pernah tinggal disana dengan guru Munno beberapa bulan, mungkin saja aku pernah melihatnya disana” tukas Bidam

“Mungkin, kau tanyakan saja nanti” saran Deokman

“Ah.. tidak perlu, sekarang bagaimana keadaanmu? Apa masih merasa mual?” tanya Bidam tersenyum lembut

“Sedikit, tapi malam ini aku merasa lapar, rasanya aku sanggup menghabiskan semua nasi di mangkukku ini” jawab Deokman

“Makanlah yang banyak, demi kau dan anak kita” kata Bidam sambil mengusap lembut perut Deokman.

Setelah selesai makan, maka Bidam pun mandi dan Deokman menunggunya sambil menyiapkan pakaian tidur untuk dirinya dan Bidam. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Bidam menyuruh Deokman untuk tidur lebih dulu karena ia harus menyelesaikan laporan untuk besok diserahkan pada Yang Mulia Raja.

Deokman pun menurut karena ia benar-benar mengantuk. Setelah mengucapkan selamat tidur dan mencium pipi Deokman, Bidam pun masuk ke ruang kerja.

Di ruang kerja sambil mengerjakan laporan, Bidam mengingat Xiou Lie, dan mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wajah Xiou Lie, rasanya tidak asing dan Bidam merasa dia pernah melihat Xiou Lie di suatu tempat tapi bukan di gunung Hanggeok-san.

“heh.. kenapa aku jadi mengingatnya, aneh..” gumam Bidam pada dirinya sendiri lalu melanjutkan pekerjaannya.


TBC




Sebagai gambaran mungkin inilah yang menurutku cocok untuk memerankan Xiou Lie,
(no flame pliss) ini hanya fict belaka..





















Tiffanny SNSD as Xiou Lie

Jumat, 10 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 20

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 20



Scene : THE EX-QUEEN’S NEW DUTY



Istana : Ruang kerja raja

Mereka berdua menghadap raja Chunchu dan permaisuri Bolryang



“ah..kalian sudah datang Sangdaedung Bidam dan Tuan Putri Deokman, aku mencari kalian kemarin malam tapi katanya kalian sudah meninggalkan istana dan tinggal di rumah baru, apa benar?” tanya Chunchu



“benar Yang Mulia, kami sudah merencanakan hal ini. maafkan kami bila tidak memberitahukan Yang Mulia. Ada keperluan apa Yang Mulia mencari kami?” sahut Bidam



“ah tidak, sebenarnya tidak ada yang penting, hanya saja aku menyayangkan Tuan Putri tidak tinggal di istana lagi. Padahal aku selalu ingin berdiskusi dengan Tuan Putri setiap saat” jawab Chunchu, mendengar itu Deokman tersenyum bagaimanapun Chunchu adalah keponakannya, Chunchu sudah menganggap Deokman sebagai pengganti sosok ibunya.



“Yang Mulia, anda dapat memanggil saya kapanpun bila Yang Mulia memerlukan saya, saya pasti akan membantu Yang Mulia” jawab Deokman



“aku harap Tuan Putri tidak berhenti bekerja. Aku akan menempatkan Tuan Putri sebagai menteri pertanian dan kesejahteraan rakyat yang bertugas mengurusi segala sesuatu tentang pengembangan pertanian dan stok pangan kita di berbagai daerah termasuk kesejahteraan mereka. Apa Tuan Putri bersedia?” tanya Chunchu



“tentu saja Yang Mulia, aku akan berusaha semampuku” jawab Deokman



“Sangdaedung, aku ingin kau tetap fokus ke peningkatan kekuatan militer kita, aku perlu penasihat sepertimu mengingat panglima Yushin jarang ada di tempat untuk maju ke medan perang. Kau juga tetap mempunyai akses untuk mengambil pasukan yang kau latih selama ini jika diperlukan kemudian untuk tata ad-ministrasi negara aku menyerahkannya pada pamanku, Kim Youngchun. Aku akan segera membahas tentang rencana kita untuk mengadakan invasi ke Goguryo tepatnya ke Saitama karena menurut investigasi kami keadaan disana sedang kacau karena adanya kudeta. Sangdaedung, tolong persiapkan pertemuan tentang masalah ini nanti siang” perintah Chunchu



“baik Yang Mulia” sahut Bidam



Scene : PLAN FOR NEW CONQUER



Setelah pertemuan dengan Chunchu, Bidam dan Deokman berjalan menuju ke kantornya masing-masing



“apa kau pikir rencana Yang Mulia tidak terburu-buru, karena bila benar ada kudeta disana, untuk menstabilkannya akan lebih sulit lagi, karena bila kita salah memihak pada satu kubu yang berseteru maka akibatnya akan fatal?” tanya Deokman



“kau pernah dengar istilah ‘memancing di air keruh’ kurasa itulah rencana Yang Mulia?” jawab Bidam sambil mengerutkan keningnya berpikir.



“maksud-mu?” tanya Deokman



“istriku, sepertinya kupikir kita tidak perlu menstabilkannya juga menguasai Saitama, juga tidak memihak salah satu kubu. Saat kudeta terjadi kita hanya mendekati orang-orang yang mempunyai kepentingan berbeda lalu memperburuk keadaan” sahut Bidam menerka-nerka



“oh..aku mengerti sekarang... cara yang licik memang, tapi sudahlah! Itulah mengapa aku benci politik, politik sangat menjijikan”kata Deokman dengan nada mencemooh. Bidam mengangguk mengiyakan.



“nah sudah sampai, silahkan Yang Mulia Tuan Putri masuk ke kantor barumu” kata Bidam sambil membukakan pintu, Deokman tersenyum lalu melangkah masuk.



“aku sengaja menempatkan kantormu disini agar dekat dengan bangunan Tuan Putri tinggal, jadi bila kau merasa lelah, kau bisa langsung beristirahat di kamarmu” jelas Bidam. Deokman mengangguk.



“Kalau sempat akan kuusahakan untuk makan siang bersama denganmu disini, nah.. selamat bekerja Tuan Putri Deokman, jangan terlalu lelah ya! Aku mencintaimu” lanjut Bidam lagi. Deokman tersenyum mengangguk lalu Bidam keluar dari kantor Deokman



Siangnya Deokman menerima pesan agar Deokman makan siang dahulu karena ia belum selesai mengadakan rapat dengan raja, yushin dan para petinggi perang lainnya untuk merembukkan rencana invasi ke Saitama. Kemudian Bidam masuk ke ruangan Deokman sore harinya dan membawa kue-kue kecil dan teh, dilihatnya Deokman sedang memeriksa beberapa laporan. Bidam menunggu Deokman selesai lalu memakan kue-kue itu sambil sesekali menyuapi Deokman kue. Deokman tampak serius sekali tapi juga senang karena Bidam menemaninya.



“Ya sudah selesai, ayo kita pulang!”ajak Deokman.



Selama perjalanan pulang Deokman menanyakan pada Bidam hasil pertemuannya, lalu Bidam menjelaskan bahwa kini tengah diadakan persiapan agar pasukan Shilla yang dipimpin Yushin akan berangkat ke Saitama tapi rencana mereka bukan untuk menguasai kota itu tapi membawa beberapa perwira perang yang sedang melakukan kudeta untuk ditawan.



“Hhmm…kemudian para tawanan itu akan kita jadikan senjata sebagai alat perundingan dengan Goguryo, tapi kita harus berhati-hati juga Bidam, Shilla akan dianggap terlalu ikut campur” ujar Deokman



“tepat sekali, tapi Yang Mulia berpendapat kita memang harus menunjukkan ketertarikan kita pada hal-hal yang terjadi dalam pemerintahan Goguryo maupun Baekje karena tujuan kita ingin menguasai mereka dan menjadikan mereka satu Shilla jadi kita memang harus selalu ikut campur dan dianggap menganggu kenyamanan mereka” jawab Bidam



“ya, aku tahu dengan rencana ini, kita tidak perlu mengadakan kontak senjata secara terbuka, adakalanya perundingan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih dibanding berperang mengorbankan nyawa, kemudian setelah itu apa Yang Mulia rencanakan?” tanya Deokman lagi



“Kurasa Shilla akan mengadakan beberapa perundingan politik mengenai perluasan batas wilayah Shilla dan Goguryo dan perjanjian genjatan senjata yang tentunya akan memberi keuntungan bagi ke dua belah pihak dengan menggunakan para tawanan pemberontak itu” jawab Bidam



“Rencana yang sangat bagus dan di saat yang tepat, kuharap semua dapat berjalan lancar dan berhasil” sahut Deokman sambil tersenyum.



“Kuharap juga begitu” ujar Bidam membalas senyum Deokman





Deokman menarik kesimpulan bahwa ia tidak salah memilih Chunchu sebagi penganti dirinya karena terbukti Chunchu sangat agresif sekali melakukan penyatuan 3 negara. Lalu mereka pun tiba di rumah dan beristirahat.



Scene : FINALLY…



3 minggu kemudian



Deokman terbangun dari tidurnya, sangat pusing dan perutnya mual serta badannya berkeringat. Lalu dia bangkit dari ranjangnya, dilihatnya Bidam masih terlelap tidur. Deokman ingin minum segelas air hangat sehingga ia memutuskan untuk pergi ke dapur untuk meminta segelas air hangat lalu menyuruh pelayan menyiapkan sarapan.



Saat kembali ke kamarnya tenyata Bidam sudah bangun dan menyuruh Bidam agar mandi terlebih dahulu sementara ia menyiapkan pakaian untuk dirinya dan Bidam. Bidam menuruti Deokman untuk mandi setelah ia mengecup pipi Deokman dan mengucapkan selamat pagi.



Saat membuka lemari untuk mengambil pakaian Bidam dan dirinya, Deokman merasa sangat sangat pusing, kepalanya terasa berputar dan mual di perutnya makin menjadi hingga ia tidak sanggup menahan dirinya lalu BRUG, Deokman pingsan sambil menarik pakaian dari dalam lemari hingga beberapa pakaian terbawa dan jatuh ke bawah bersamaan dengan jatuhnya Deokman.



Beberapa saat kemudian ketika Bidam kembali dari kamar mandi, sambil bersiul dan mengeringkan rambutnya lalu dilihatnya Deokman terbaring di lantai, seketika Bidam panik



“Deokman..Deokman..kau kenapa? Oh..Tuhan..PELAYAN..PELAYAN..CEPAT KESINI!!” teriak Bidam sambil memeriksa detak jantungnya ‘masih berdenyut’ lalu membopong Deokman ke ranjang dan membaringkannya



“Ya tuan..anda memanggil..” jawab pelayan



“Panggil Tabib Young Ae!! kalau dia tidak ada di tempat, kau cari tabib lain dan cepat bawa kesini, nyonya pingsan!!” perintah Bidam, pelayan itu cepat-cepat pergi.



“Deokman..Deokman.. kau kenapa?” tanya Bidam sambil memegang erat tangan Deokman lalu sesekali Bidam menepuk pipi Deokman lembut agar Deokman siuman, Deokman membuka matanya, Bidam sangat senang melihat Deokman siuman.



“aku..aku mau muntah!!” kata Deokman, lalu dengan cepat Bidam membawa bejana perunggu yang berisi bunga segar yang ditempatkan pada meja disisi ranjang mereka, bunga dan airnya dibuang ke lantai lalu Deokman benar-benar muntah ke dalam bejana itu, Bidam menepuk-nepuk punggung Deokman. Setelah selesai Bidam mengambil segelas air dan meminumkannya pada Deokman.



“apa sudah baikan? Bagaimana sekarang?” tanya Bidam masih dengan wajah panik, Bidam takut sekali penyakit Deokman kambuh, ia tidak mau Deokman menderita dan melihat Deokman sakit rasanya menyakitkan. Deokman hanya mengangguk lemah, wajahnya sangat pucat, tangannya terasa dingin berkeringat, lalu Bidam mengenggam tangan Deokman erat.



“aku sudah memanggil Young Ae, dia akan kesini memeriksamu, bersabarlah” kata Bidam lembut menatap mata Deokman. Tidak lama kemudian Young Ae datang, lalu cepat memeriksa Deokman



“aku menemukannya sudah tergeletak pingsan dilantai, setelah siuman Deokman langsung muntah, aku takut sekali..” kata Bidam menjelaskan. Young Ae memeriksa Deokman dengan teliti lalu tersenyum senang. Bidam heran kenapa Young Ae tersenyum



“Tuan Putri tidak apa-apa Tuan Sangdaedung, ini sakit biasa yang disebabkan karena Tuan Putri sedang mengandung” jawab Young Ae tersenyum pada Deokman dan Bidam. Deokman terkejut lalu tersenyum bahagia sedang Bidam masih dengan wajah binggung

“apa kau bilang..istriku mengandung? Deokmanku hamil? Anak?” tanya Bidam butuh penjelasan lebih lanjut



“ya Tuan Sangdaedung..Tuan Putri..istri Tuan Sangdaedung sedang mengandung seorang anak, sekarang kehamilannya menginjak 1 bulan, Tuan Putri pingsan karena pengaruh dari janin yang dikandungnya. Sudah biasa bila sedang hamil muda, si ibu mengalami pusing-pusing dan mual karena perubahan kondisi dalam tubuh tapi hal ini tidak berlangsung lama, paling lama gejala ini akan berakhir bila si janin sudah menginjak usia 3 atau 4 bulan jadi Tuan Sangdaedung tidak perlu khawatir” jelas Young Ae.



Lalu Young Ae memberi ramuan vitamin dan menasehati hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan, Deokman dan Bidam mendengarkan dengan seksama dan tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Setelah semua selesai Young Ae pun pamit.



“Kau sangat luar biasa Deokman, kau memberiku hadiah yang indah” puji Bidam sambil mengecup kening Deokman.



“Aku juga sangat bahagia setelah hampir 4 bulan kita menunggu akhirnya aku bisa memberikanmu seorang anak” jawab Deokman tersenyum bahagia



“aku akan pergi ke istana dan memberitahukan kabar ini pada semua orang..aku ingin seluruh dunia tahu, aku akan menjadi seorang ayah..” kata Bidam berbinar-binar kentara sekali Bidam tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya



“pergilah..” jawab Deokman sambil tertawa geli melihat tingkah Bidam



“hari ini kau istirahat di rumah, jangan kemana-mana!” perintah Bidam pada Deokman.



Deokman menganguk-angguk sambil tersenyum lalu Bidam segera berpakaian Sangdaedung dan pergi, Deokman masih mendengar teriakan Bidam di luar yang berseru



“Deokmanku hamil..aku akan menjadi seorang ayah.. yuuhuu..!!” Deokman tersenyum geli dibuatnya.



Kabar tentang kehamilan Deokman cepat tersebar ke seluruh istana, semua memberi selamat termasuk raja dan permaisuri sangat senang mendengarnya, mereka mengundang Deokman dan Bidam untuk makan siang bersama keesokan harinya, permaisuri memberi Deokman hadiah berupa kain tebal dan lembut yang bagus sekali untuk dijadikan seprai dan selimut calon bayi.