Pages


Rabu, 15 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 21

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 21

Scene : MORNING SICK

2 Bulan Kemudian:

Semenjak Deokman mengandung, Deokman memang tidak bernafsu makan, sedikit bau masakan atau bau yang menyengat membuatnya mual dan muntah, berkali-kali Bidam menanyakan hal ini pada Young Ae dengan wajah panik tapi jawabannya selalu sama bahwa ini adalah hal yang wajar bagi kehamilan dengan usia muda karena mengidam, nanti juga hal ini akan hilang dengan sendirinya.

Bidam dengan sabar dan penuh perhatian pada Deokman untuk menyemangati agar Deokman mau makan, walaupun demikian Deokman tetap beraktivitas dan bekerja seperti biasanya, meski Bidam sudah memperingatkannya tapi Deokman berkilah bahwa ia tidak mau selalu berdiam diri dan bermalas-malas karena hal itu membuat Deokman jadi bosan. Lagipula Deokman sudah terbiasa bekerja keras, Bidam hanya pasrah menerima jawaban Deokman.

“Kau jangan terlalu mencemaskan aku seperti itu, Bidam. Aku akan baik-baik saja, aku kan tidak sakit. Kau jadi tidak memperhatikan dirimu sendiri. Aku jadi tidak enak hati” kata Deokman suatu saat ketika mereka berjalan di istana kala mau pergi pulang.

“Tidak, kau dan anak kita sangat penting bagiku” kilah Bidam

“Tapi tetap saja, kau harus mengfokuskan pikiranmu pada pekerjaanmu, kau kan sedang mempersiapkan rencana perjanjian dengan Goguryo mengenai tawanan yang sudah Shilla tangkap di Saitama, lagipula Saitama sudah kita kuasai, kau perlu menata ulang keadaan disana” saran Deokman

“Ya.. aku juga sedang mengerjakannya. Deokman, aku pikir kau memerlukan dayang atau pelayan yang bisa mendampingimu kemana-mana sementara aku bekerja. Aku akan mencarikannya untukmu, di istana kan banyak dayang-dayang, kau bisa memilihnya salah satu” pinta Bidam

“baik, aku akan membicarakannya dengan permaisuri, sebenarnya aku enggan di ikuti seperti bayangan…” Deokman tidak jadi meneruskan kata-katanya ketika melihat raut muka Bidam berubah mau marah.

“ya.. aku akan mengambil seorang dayang, kau senang?” lanjut Deokman menyerah, mendengar Deokman berkata begitu Bidam merubah rautnya wajahnya jadi lega kembali

“aku senang..terima kasih Deokman” jawab Bidam sambil mengusap punggung Deokman.

Akhirnya mereka sampai ditandunya.

“kau pulang duluan ya.. nanti aku menyusul, aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku selesaikan” kata Bidam sambil mengantar Deokman naik tandu.

“baiklah aku tunggu kau di rumah, sampai nanti” kata Deokman

“hati-hati” balas Bidam menutup tirai tutup tandu dan menyuruh pembawa tandu untuk pergi. Setelah tandu Deokman menjauh, Bidam masuk kembali ke area istana.


Scene : NEW MAID GIRL

Di rumah Sangdaedung :

Deokman sampai dirumah dan segera keluar dari tandunya, pelayan mereka sekaligus koki mereka bernama Pelayan Ma menyambutnya bersama seorang gadis pelayan lain yang baru dilihat Deokman

“Nyonya Tuan Putri, sudah datang. Selamat datang nyonya” sambut Pelayan Ma menunduk begitu pula dengan gadis disampingnya

“Ya, Pelayan Ma. Siapa dia?” balas Deokman tersenyum dan bertanya

“Nama hamba Xiou Lie, nyonya. Saya mohon agar nyonya menerima saya bekerja disini” si gadis memperkenalkan diri

“apa Pelayan Ma tahu siapa gadis ini?” tanya Deokman pada Pelayan Ma

“ah.. nyonya, tadi saya mengalami kejadian yang mengerikan” tukas Pelayan Ma

”apa maksud-mu?” tanya Deokman

“tadi saya ke pasar dan saya dirampok, oh.. saya takut sekali karena rampok itu mengambil semua uang yang diberikan nyonya untuk belanja, karena saya tidak memberikannya lalu perampok itu mau melukai saya, saya mau dibacoknya seperti ini..” jelas Pelayan Ma sambil mengarahkan tangannya pada lehernya. Deokman mendengarkan dengan serius, lalu Pelayan Ma melanjutkan

“untung saja ada Xiou Lie, datang dan menolong saya, lalu Xiou Lie mengeluarkan pedangnya dan berkelahi dengan perampok itu tapi perampok itu kalah lalu langsung lari ketika Xiou Lie mau membawanya ke kantor polisi. Untung ada Xiou Lie, nyonya kalau tidak…” kata Pelayan Ma sambil bergidik

“syukurlah kalau Pelayan Ma selamat, sebaiknya Pelayan Ma berikan saja uangnya daripada kau celaka” ujar Deokman

“ah..tidak Nyonya, enak saja.. itu kan uang belanja selama 1 bulan, perampok itu dapat untung besar. Nanti bagaimana dengan tanggung jawab saya” kilah Pelayan Ma

“tapi nyawa lebih berharga, Pelayan Ma. Oh.. jadi kau yang menyelamatkan Pelayan Ma”

“ya Nyonya, saya tidak tega melihat seorang wanita seperti Tuan Putri Ma teraniaya begitu” jawab Xiou Lie

“lalu mengapa kau ingin bekerja disini?” tanya Deokman

“maaf Nyonya, saya sudah lancang mengajaknya kemari, tapi saya jadi tidak tega pada gadis ini setelah mendengar kisah hidupnya” tukas Pelayan Ma.

Kemudian Deokman duduk di bangku di bawah pohon persik yang ditanam di tengah halaman rumahnya.

“ceritakanlah padaku..” pinta Deokman pada Xiou Lie

“saya.. saya.. berasal dari jauh, tempat tinggal saya jauh sekali di gunung Hanggeok-san di dekat perbatasan Shilla dan Goguryeo” jelas Xiou Lie

“ya.. aku tahu nama daerah itu. Tapi aku belum pernah kesana” Deokman memotong

“betul nyonya, gadis ini yatim piatu dan hanya tinggal bersama kakeknya” timpal Pelayan Ma

“lalu.. sedang apa kau di Soerabeol?” tanya Deokman lagi

“saya sedang dalam perjalanan ke Negeri Tang. Setelah kakek saya meninggal, saya baru tahu bahwa ayah saya ternyata masih hidup dan tinggal di Negeri Tang, saya pergi untuk mencarinya, tapi ternyata dalam perjalanan bekal saya habis dan terpaksa saya tidak bisa melanjutkan perjalanan saya”

Mendengar cerita Xiou Lie, Deokman jadi teringat akan dirinya dulu yang sengaja meninggalkan padang pasir Taklamakan untuk mencari ayahnya dan sendiri menjalani perjalanan jauh, mengalami kehabisan bekal dan ditipu, Deokman jadi tersenyum kecil mengingatnya.

“Lalu kau ingin bekerja disini untuk mengumpulkan uang dan melanjutkan perjalananmu, begitu?” tanya Deokman membuat kesimpulan

“Betul nyonya, saya kasihan melihat gadis Xiou Lie, ketika saya menawarinya untuk makan sebagai tanda berterima kasih, dia langsung makan dengan lahap seperti sudah tidak makan berhari-hari” potong Pelayan Ma

“Benarkah..?” Deokman bertanya

“Pelayan Ma, saya jadi malu, jangan ceritakan hal itu pada Nyonya” tukas Xiou Lie menunduk

“Sudahlah, kau boleh bekerja disini bersama Pelayan Ma” kata Deokman

”Benarkah.. Nyonya menerima saya, saya sangat bersyukur, terima kasih Nyonya, terima kasih” seru Xiou Lie sambil setengah berloncat-loncat kegirangan. Deokman pun berdiri dan beranjak masuk rumah tapi langkahnya terhenti dan memanggil Xiou Lie,

“Xiou Lie” Deokman memanggil

“ya Nyonya” jawab Xiou Lie

“Negeri Tang sangat luas, tidak mudah mencari ayahmu bila kau tidak tahu siapa nama dan tempat tinggalnya” kata Deokman

“Saya hanya tahu namanya Hua Xing Lou, dia tinggal di kota Mingtao. Itu saja yang hamba tahu, Nyonya” jawab Xiou Lie

“Ya baiklah.. Pelayan Ma, tolong kau siapkan makan malam untuk Tuan Sangdaedung, karena sebentar lagi Tuan akan datang, dan kau Xiou Lie, mintalah petunjuk Pelayan Ma” kata Deokman lalu dia pun masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat dan mandi.

Hari menjelang malam ketika Bidam sampai dirumah, Deokman menunggu Bidam datang sambil melanjutkan membaca buku yang baru dipilihnya. Waktu luang Deokman, diisinya dengan membaca buku-buku yang dianggapnya menarik dan menambah ilmu pengetahuannya. Bidam juga suka membawakan buku-buku baru untuk Deokman baca.

“Aku pulang!” seru Bidam sambil masuk ke rumah, Deokman segera keluar dari ruang baca dan menyambutnya

“Selamat datang” jawab Deokman tersenyum

“Kau pasti lelah dan lapar kan? Mau makan atau mandi dulu?” tanya Deokman

“hhmm..mau makan dulu saja, pasti kau belum makan juga kan? karena menungguku, kasihan anak kita belum kau beri makan” kata Bidam sambil merangkul istrinya

“baiklah, kita makan dulu” balas Deokman

Lalu mereka berjalan ke ruang makan, setelah mereka duduk, Deokman memanggil Pelayan Ma dan menyuruh dia menyiapkan hidangan. Kemudian beberapa saat kemudian makan malam pun dihidangkan oleh Pelayan Ma dan Xiou Lie, Bidam melihat Xiou Lie.

“Dia siapa? pelayan baru?” tanya Bidam pada Deokman ketika Pelayan Ma dan Xiou Lie keluar dari ruang makan

“Ya.. dia baru bekerja hari ini, kau tahu tidak, kisah hidupnya unik, akan kuceritakan padamu sambil makan” Deokman lalu mengambil mangkuk nasi untuk Bidam dan mengambilkan beberapa lauk di atasnya. Lalu mereka pun makan dan Deokman pun bercerita pada Bidam tentang Xiou Lie.

“Lucu ya, jalan hidupnya hampir sama denganmu dulu. Sama-sama mencari ayahnya dan pandai berkelahi” kata Bidam pada Deokman sambil mengunyah makanannya.

“ya.. karena itu dia kuterima bekerja disini. Aku memahami perasaannya” ujar Deokman

“Rasanya aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat tapi dimana ya?” ujar Bidam sambil mengingat-ingat

“Kau bilang dia tinggal di gunung Hanggeok-san, aku juga pernah tinggal disana dengan guru Munno beberapa bulan, mungkin saja aku pernah melihatnya disana” tukas Bidam

“Mungkin, kau tanyakan saja nanti” saran Deokman

“Ah.. tidak perlu, sekarang bagaimana keadaanmu? Apa masih merasa mual?” tanya Bidam tersenyum lembut

“Sedikit, tapi malam ini aku merasa lapar, rasanya aku sanggup menghabiskan semua nasi di mangkukku ini” jawab Deokman

“Makanlah yang banyak, demi kau dan anak kita” kata Bidam sambil mengusap lembut perut Deokman.

Setelah selesai makan, maka Bidam pun mandi dan Deokman menunggunya sambil menyiapkan pakaian tidur untuk dirinya dan Bidam. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Bidam menyuruh Deokman untuk tidur lebih dulu karena ia harus menyelesaikan laporan untuk besok diserahkan pada Yang Mulia Raja.

Deokman pun menurut karena ia benar-benar mengantuk. Setelah mengucapkan selamat tidur dan mencium pipi Deokman, Bidam pun masuk ke ruang kerja.

Di ruang kerja sambil mengerjakan laporan, Bidam mengingat Xiou Lie, dan mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wajah Xiou Lie, rasanya tidak asing dan Bidam merasa dia pernah melihat Xiou Lie di suatu tempat tapi bukan di gunung Hanggeok-san.

“heh.. kenapa aku jadi mengingatnya, aneh..” gumam Bidam pada dirinya sendiri lalu melanjutkan pekerjaannya.


TBC




Sebagai gambaran mungkin inilah yang menurutku cocok untuk memerankan Xiou Lie,
(no flame pliss) ini hanya fict belaka..





















Tiffanny SNSD as Xiou Lie

Minggu, 12 Desember 2010

Our Future Still Continue Chapter 67 part. 02: A Terrible Night


“huft…dinginnya…untung saja hujannya sudah berhenti…” ujar Il Woo sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya di depan api unggun.  “tap..tap..”  tedengar suara langkah kaki mendekat. Shi Yoon mengambil busurnya dan siap mengambil posisi. “siapa itu?” ujarnya. Langkah kaki semakin mendekat, dan sosok yang berjalan mulai terlihat karena ada cahaya api unggun. “kau?” Il Woo  meletakkan busurnya kembali. Rupanya hanya salah satu anak laki-laki yang ada dalam rombongan tadi. “kau mau apa?malam-malam seperti ini?” tanya Il Woo. “perutku sakit..aku ingin buang air…” ujarnya sambil memegang perutnya.  “kau tidak meminta ibumu atau ayahmu menemanimu?sungai memang tak begitu jauh tapi ini sudah larut malam..bisa-bisa kau tersesat atau celaka nanti..”  tanya Il Woo. “ayah dan ibuku sudah tidur..dan mereka tak juga bangun ketika aku membangunkan mereka…”  ujar bocah itu terburu-buru, ia lalu kembali berjalan melewati Il Woo menuju sungai yang terletak lumayan jauh di belakang kemah.  “tunggu..aku akan mengantarmu..” ujar Il Woo. “cepatlah tuan..aku sudah tak tahan..” keluh anak kecil itu. Il Woo masuk ke dalam kemahnya  “Dae Gil tolong kau jaga sebentar di sini..aku mau ke sungai menemani bocah desa itu sebentar..” “yaa..” jawab Dae Gil sambil mengusap kedua matanya yang mengantuk.  

Perbatasan Wonju. Kamp Militer Goguryeo
“sraak..” seorang prajurit melangkah masuk ke dalam kemah dan memberi hormat. Eulji yang sedang menggosok pedangnya berdiri memunggunginya tidak mengacuhkannya “lapor Panglima..semua persiapan sudah siap.. dan Tuan Perdana Menteri memerintahkan agar menunggu instruksinya sebelum menyerang”  ujar prajurit itu.   Eulji memainkan pedangnya dan tiba-tiba melemparkan ke hadapan prajurit itu hingga prajurit itu harus melompat menghindari pedangnya yang menghujam ke tanah. Eulji menatap bawahannya itu dengan tatapan yang menyeramkan. Prajurit itu pun segera memberi hormat dan cepat-cepat keluar dari kemah. Eulji mengambil pedangnya lalu mengarahkannya ke peta wilayah Shilla. “akhirnya..sudah tiba saatnya aku bergerak.. Panglima terhebat bukanlah Kim Yushin atau Daemusin..tetapi aku Song Eulji dari Goguryeo..” ujarnya sebelum ia menebas peta Shilla menjadi dua.

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
Deok Man membaca kembali surat dari suaminya “kurasa sebaiknya, aku membalas suratnya setelah aku sampai di Taejon..jika ia tahu aku tidur di luar,ia pasti akan sangat khawatir..” Ia pun menyimpan suratnya  lalu menarik selimutnya untuk tidur. “selamat tidur Yun Ho..Yoo Na..dan selamat tidur Bi Dam..” gumamnya sambil memejamkan mata.
 “hei bocah kau yakin bisa sendiri?aku akan turun jika kau tak bisa…hati-hati..jangan sampai kau terpleset..” seru Il Woo dari atas tepi sungai. Namun tak ada jawaban dari bawah.   “bocah ini bisa tidak sih sebenarnya?” pikirnya. “paman..paman..tolong aku ada ular…”tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bawah.”ular?astaga..” Il Woo pun segera berlari menuruni jalan menurun berbatu yang cukup licin. “hei bocah dimana kau?” seru Il Woo sambil mengangkat obornya tinggi-tinggi. “di sini paman..” sahut bocah itu sambil melambaikan tangannya. “ah ya aku melihatmu..dimana ular..” “traang..” tiba-tiba muncul seseorang berpakaian dan penutup wajah hitam memukul Il Woo dari belakang dengan tongkat. “siapa kau?” ujar Il Woo yang menahan tongkat itu dengan kedua pergelangan tangannya. “haiik..” orang itu tiba-tiba membenturkan kepalanya dengan kepala Il Woo.

 “huuft..lama sekali Il Woo…kemana dia?” keluh Dae Gil sambil menggosok kedua tangannya. “kalau kau lelah masuklah…biar aku yang menggantikanmu..” ujar Bi Ryu yang keluar balik tenda “atau aku yang menggantikanmu..” sahut Yong Joon dari balik punggung Bi Ryu “dan aku juga..” Shi Yoon menimpali dari belakang Yong Joon. Dae Gil tersenyum menatap ketiga kompatriotnya itu “terima kasih kawan…tapi kalian berdua  juga perlu istirahat…kurasa sebentar lagi Il Woo akan kembali..”  “tap..tap..” terdengar suara langkah kaki  mendekat. Bi Ryu sudah bersiaga dengan kapaknya.”kurasa itu bocah yang tadi diantar oleh Il Woo…tapi dimana Il Woo’nya?” ujar Dae Gil. “paman..tolong..paman..” ujar bocah itu terengah-engah. “ada apa?apa yang terjadi?” ujar Yong Joon begitu ia menghampiri bocah itu. Bocah itu mengatur nafasnya sebelum ia menjelaskan semuanya "paman pemanah tadi terpeleset jatuh ke sungai karena menolongku tadi..”  "apa?"  sergah Yong Joon, Bi Ryu, Shi Yoon dan Dae Gil bersamaan. “lalu sekarang bagaimana?apa kau lihat terakhir ia terbawa kemana?” tanya Yong Joon. “sekarang ia tersangkut di tengah tak sadarkan diri..aku tak bisa menolongnya sendiri.." Shi Yoon menghela napas lega begitu mendengarnya ”huuft ..untunglah..ia tak terbawa arus..” . “kalau begitu aku saja aku yang menolongnya..” ujar Bi Ryu sambil menatap Yong Joon menunggu tanggapan darinya. Yong Joon mengangguk mengizinkan. Bi Ryu pun meletakkan golok besarnya dan mengambil obor  “ayo bocah..antarkan aku ke sana..” “baik paman..” jawab bocah itu. Bersama bocah itu, Bi Ryu berlari masuk ke dalam hutan. “aku akan menyiapkan air hangat..” ujar Shi Yoon sambil menaruh panci di atas api. Dae Gil menepuk bahu Yong Joon  “hmm..kurasa sebaiknya ku siapkan obat-obatan..dan pakaian ganti untuknya..”  “sraak..” terdengar suara pintu terbuka. “Nyonya..” Shi Yoon, Yong Joon dan Dae Gil serempak memberi hormat begitu melihat siapa yang keluar. “aku tadi mendengar..ada yang meminta tolong…apa yang terjadi?” tanya Deok Man. “Il Woo mengalami jatuh terpleset di sungai....tapi Nyonya tak perlu khawatir karena Bi Ryu sedang menolongnya …” Yong Joon mencoba menjelaskan. Deok Man lalu berjalan keluar dari gubuk dan duduk di depan api unggun. “aku akan ikut merawatnya bersama kalian..” “Nyonya..tapi..” namun sebelum Dae Gil selesai. “ini perintah..” jawab Deok Man sambil tersenyum penuh kemenangan. Shi Yoon, Yong Joon dan Dae Gil pun tak bisa berkata apa-apa lagi. “hmm.. Dae Gil..kurasa sebaiknya kau bangunkan para pengawal untuk berjaga di sekeliling, sementara kita fokus menolong Il Woo..biar aku yang menyiapkan obat-obatannya..” kata Yong Joon.  “ya akan kulakukan..” jawab Dae Gil. Ia pun segera pergi  menuju tempat peristirahatan para pengawal, sementara Yong Joon sedang mempersiapkan obat-obatan dan Deok Man memasak air bersama Shi Yoon.

“hei teman-teman..maaf bila aku mengganggu tapi..” De Gil melangkah masuk ke dalam tempat para pengawal berisitirahat. “Astaga..” Dae Gil terkejut begitu melihat pemandangan di hadapannya, para pengawal tergeletak di tanah dengan kondisi mulut berbusa putih. Ia pun segera memeriksa beberapa dari mereka, namun sudah tak ada lagi denyut nadi.  Ia pun menoleh ke sekeliling dan menyadari bahwa para penduduk desa yang menumpang bersama mereka tak ada. “kemana mereka?sial!!” ujar Dae Gil sambil meninju tanah. Ia pun segera berlari keluar “teman-teman…ada kabar buruk..” serunya sambil berlari keluar. Yong Joon dan Shi Yoon pun menoleh begitu mendengar teriakan Dae Gil. “shuut..dart..dart” beberapa panah api melesat di depannya, menancap di gubuk, dan segera membakarnya.
Yong Joon yang melihat itu segera menarik Deok Man ke belakang tumpukan barang bawaan untuk berlindung sambil membawa senjata milik Bi Ryu “lindungi Nyonya…” Shi Yoon dengan tombak di tangannya ikut berjaga di sebelah Deok Man.  Dae Gil yang berhasil menghindar dari lesatan panah pun ikut bersiaga. “apa yang terjadi?dimana para pengawal?” tanya Yong Joon. Dae Gil berusaha mengatur nafasnya dulu sebelum  “mereka sudah mati…dilihat dari mayatnya mereka diracun..” Yong Joon, Shi Yoon, dan Deok Man terkejut begitu mendengarnya “ma..mati?lalu para penduduk desa itu?kemana mereka?” tanya Yong Joon.  “mereka tak ada..aku curiga mereka juga ada di balik semua ini..” jawab Dae Gil yang sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya. “apakah mereka gerombolan perampok pedagang yang mengincar kita?” tanya Shi Yoon. “kurasa bukan..jika memang mereka perampok kurasa yang mereka incar dulu harusnya kita yang menjaga barang-barang ini di samping bukan pengawal…” jawab Dae Gil. “jika bukan pengincar harta..berarti akulah yang diincar..” ujar Deok Man tiba-tiba. “Nyonya?”  sergah Shi Yoon dan Dae Gil serempak.  “Dae Gil, Shi Yoon tidak peduli mereka adalah perampok atau bukan…yang penting kita harus melindungi Nyonya…” ujar Yong Joon “Deok Man hanya diam di tengah-tengah ketiga pengawalnya yang melindunginya. Meskipun ini bukan untuk pertama kalinya, namun perasaan takut selalu ada meskipun hanya sedikit. Dan itu semua sekarang menyatu bersama dengan perasaan bersalah dan kaget lantaran mendengar perkataan Dae Gil.  Mereka berempat menatap ke arah semak-semak tempat anak panah itu berasal.  “apakah ada barang penting yang tertinggal di dalam Nyonya?” tanya Shi Yoon. “tidak..tidak ada..” jawab Deok Man. “Bi Ryu dan Il Woo tak kunjung muncul..apa yang terjadi dengan mereka?” pikir Yong Joon. “sraak..sraak..”  semak-semak di hadapan mereka bergerak-gerak. “Dae Gil!” panggil Yong Joon.  Dae Gil pun berdiri mendekat. “jika jumlah musuh ternyata jauh lebih banyak dari kita… begitu aku memberi tanda, kau harus membawa Nyonya lari dari sini secepat mungkin..kalian bisa bersembunyi di goa-goa gunung yang tak jauh dari sini..aku dan Shi Yoon akan berusaha mencegah mereka mencapai kalian…kau mengerti?” gumam Yong Joon. “baik!” jawab Dae Gil.  Dae Gil pun segera bersiaga di samping Deok Man.  “aku tak akan meninggalkan kalian..” ujar Deok Man sambil mengambil sebuah pedang dari kotak perbekalan. “maafkan kami jika lancang, Nyonya..tapi ini adalah prinsip kami untuk melindungi Tuan kami di atas nyawa kami sendiri…” jawab Yong Joon. “srak..srak..” semak-semak di depan mereka bergerak-gerak, lalu tampak sinar api dibaliknya. “haiik..” muncul sekelompok orang berpakaian hitam dengan penutup wajah mengacungkan pedang ke arah mereka.  “bunuh semuanya!!” seru penunggang kuda hitam yang berdiri di belakang kelompok itu. Melihat jumlah lawan yang sangat tidak seimbang Yong Joon pun memberi aba-aba “Dae Gil! sekarang!!” Dae Gil pun segera  menarik tangan Deok Man dan berlari. “jangan sampai wanita itu lolos!!” seru penunggang kuda itu. “haaiiik..” seru kedua belah pihak. Dengan sekuat tenaga, Yong Joon menghempaskan lima lawannya sekaligus dengan golok besar milik Bi Ryu. “larilah..larilah sejauh mungkin..” pikirnya sambil menatap Dae Gil dan Deok Man yang berlari. Melihat Deok Man lari, penunggang kuda hitam itu berusaha mengejarnya, namun dengan tombaknya, Shi Yoon berhasil menjegal kudanya, sehingga lawannya terhempas dari kudanya. “tak akan kubiarkan kau mengejarnya..” ujar Shi Yoon.   “kau!!” geram lawannya sambil mengeluarkan pedangnya. “haaiik” mereka kemudian saling mengadu senjata masing-masing.

Secepat mungkin, Dae Gil dan Deok Man berlari ke dalam hutan, di bawah cahaya Bulan, mereka berlari melewati semak belukar dan pohon-pohon. “shuut..dart..dart..” beberapa panah melesat di samping mereka dan menancap di pepohonan. “sial!!”  gumam Dae Gil. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya ada beberapa panah yang siap menembakkan panah ke arahnya. “awas Nyonya..” Dae Gil mendorong Deok Man agar terhindar dari lesatan panah yang mengincar nyawanya.

Tengah malam.
Kamar Putri Deok Man, Istana Ingang.
“ugh..Deok Man..” gumam Bi Dam gelisah dalam tidurnya. “ctaarrr..” suara petir yang menggelegar membangunkan dirinya dari tidurnya. “oaa..oaa” tak hanya dirinya saja namun begitu juga dengan si kembar.  Bi Dam memijat-mijat kepalanya  “ugh..mimpi apa aku tadi..” Ia pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke tempat tidur  kedua anaknya. “sraak..” pintu kamar terbuka, rupanya Soo Hye ikut terbangun begitu mendengar tangisan si kembar.  “Tuan..” Soo Hye memberi hormat. “popok mereka berdua tidak basah..kurasa mereka hanya kaget karena petir tadi..” ujar Bi Dam. “ya hujan dan petir ini mengagetkan  saja bisa orang dewasa apalagi Tuan Muda dan Nona yang masih kecil..” jawab Soo Hye sambil berusaha menenangkan Yoo Na yang menangis dalam gendongannya. “kuharap di sana tidak hujan seperti ini..kuharap tak ada sesuatu yang buruk menimpa mereka..” gumam Bi Dam sambil menatap wajah istrinya yang terpajang dalam lukisan keluarga mereka. “saya harap juga begitu Tuan..” kata Soo Hye. “Deok Man..” gumam Bi Dam dalam hati.  

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
“argh” Shi Yoon mengerang kesakitan. Dua buah anak panah menghujam lengan kanan dan kaki kirinya. “traang..” dengan satu tebasan, tombaknya terlepas jauh dari tangannya. “Shi Yoon!!” seru Yong Joon berlari berusaha menolong temannya. “shuuut..dart..” sebuah panah menghujam paha kirinya sehingga ia terjatuh ke tanah. “argh” erangnya.  “kalian semua akan berakhir hari ini...” ujar orang yang menjadi lawan duel Shi Yoon sambil menunggangi kudanya kembali dan menatap Shi Yoon dan Yong Joon yang sekarang sudah ditahan dengan tatapan menghina.  “apakah wanita sudah ditemukan?” tanyanya pada bawahannya. “masih dalam pengejaran Tuan..pengawalnya yang satu lagi masih bertahan..”  “dasar bodoh!!apakah kalian sekelompok tak mampu menghadapi 1 ekor hwarang saja?” bentak penunggang kuda itu. “baiklah akan kukejar mereka..suatu kehormatan untukku untuk bisa bertemu dengan wanita peletak dasar unifikasi Shilla..” kata orang itu lagi. “kauu!!! Tak akan kubiarkan!!” seru Yong Joon sambil memberontak dan berusaha menjatuhkan penunggang kuda itu dengan pedang yang dirampasnya. Namun sebelum ia mencapai musuhnya, dirinya sudah terjatuh lenih dulu dihajar oleh kaki kuda yang menghantam dadanya. “aku tak akan jatuh untuk yang kedua kalinya..” ujar penunggang kuda itu. “urus mereka!!hiaa!!” ujar orang itu sambil memacu kudanya. “tak akan kubiarkan kau!!argh!!” seru Shi Yoon yang berusaha mengejar namun para penjaganya memukulinya dengan gagang pedang tepat di atas lukanya.  

“traang..” Deok Man menangkis pedang lawannya. “haaik..” seru Dae Gil sambil menusuk lawannya itu. “sepertinya sudah tak ada lagi..” gumam Deok Man sambil memandang sekeliling dan menghapus peluh dari keningnya. “Nyonya..nyonya tak apa-apa?” tanya Dae Gil yang sekarang berjalan dengan terpincang-pincang. Deok Man berusaha memapah Dae Gil untuk duduk “aku baik-baik saja..lukamu..aku akan mengobati lukamu dulu..”   Ada 2 anak panah yang bersarang di badan Dae Gil. Satu di lengan kanan dan yang satu lagi di betis kirinya. Dengan pelan-pelan, Deok Man mencabut panah di betisnya dulu. “uugh..” Dae Gil menggertakan giginya, menahan rasa sakit. Setelah dicabut, Deok Man membebat luka itu dengan kain ikat kepala Dae Gil sambil berharap pendarahannya akan berhenti. “toplak..toplak..” terdengar suara derap kuda mendekat. “awas!!”  Dae Gil mendorong Deok Man keras-keras. Sebuah panah melesat dan berhasil  menggores wajah Dae Gil. Penunggang kuda itu memacu kudanya semakin cepat ke arah Deok Man. “larii Nyo..” seru Dae Gil. Namun sebelum Dae Gil menyelesaikan kata-katanya, penunggang kuda itu sudah memukulnya dengan gada miliknya, Dae Gil pun terpental ke tanah tak sadarkan diri. Deok Man yang terjatuh ke tanah segera bangun dan mengambil pedangnya. “akhirnya aku bisa berhadapan denganmu..suatu kehormatan aku bisa bertemu denganmu Tuan Putri Deok Man..” kata penunggang kuda itu begitu turun dari kudanya. “apa maumu?” tanya Deok Man yang sudah bersiap dengan pedangnya. “menyerahlah Tuan Putri..aku tak ingin membuatmu merasakan sakit..” jawab orang itu sambil berjalan mendekat. “aku tak akan menyerah..tak akan pernah..” seru Deok Man.  “kalau begitu..aku tak akan segan lagi..tidak peduli kau adalah wanita..haiik..” penunggang kuda itu berlari menyerang Deok Man. Deok Man pun  bersiap-siap juga menyerang. “traang..” pedang Deok Man pun terpental dari genggamannya. “brruuk..” dan dengan  sekuat tenaga, penunggang kuda itu mendorong Deok Man hingga ia terjatuh ke tanah. Karena kepalanya terantuk dengan batu, Deok Man pun tak sadarkan diri.   Tangan kirinya mencengkram leher Deok Man erat-erat dan tangan kananya mengacunkan pedang  tepat di urat nadi lehernya.”dengan begini..tak akan ada lagi kegagalan untuk malam ini..” gumam orang itu tersenyum puas dan keji.

Benteng Bulcheon, Kota Taejon.
“tap..tap..” seorang komandan berjalan hilir mudik di dalam ruangannya. Ada masalah yang membuat dirinya tertahan di dalam ruangannya ini selarut ini. “perwira Il Jung mohon menghadap..” seru seseorang dari balik pintu ruangannya. “masuk..” ujar komandan itu. “sraak..” perwira itu pun masuk dan memberi hormat. “ “bagaimana?apakah mereka sudah tiba?” tanya komandan itu. “belum komandan..tak ada tanda-tanda rombongan mereka sudah tiba di kota ini..” jawab Il Jung. “lalu apakah pasukan yang kuminta sudah kau kirim keluar untuk mencarinya?” “sudah komandan..namun belum ada kabar mereka bertemu dengan rombongan Tuan Putri..” Komandan itu pun segera menyandangkan pedang di pinggangnya  “aku akan membentuk dan memimpin kelompok pencarian juga ..kau menjadi wakilku di sini dan tulislah surat kepada Kepala Pengawal Istana Alcheon, katakan padanya, bahwa rombongan Tuan Putri sepertinya terhalang cuaca buruk sehingga belum tiba di Taejon malam ini dan kita juga sedang melakukan pencarian terhadapnya..aku tak bisa berdiam lama-lama di sini hanya menunggu kabar..” “baik  komandan..” jawab Il Jung sambil memberi hormat kepada komandannya.

Jumat, 10 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 20

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 20



Scene : THE EX-QUEEN’S NEW DUTY



Istana : Ruang kerja raja

Mereka berdua menghadap raja Chunchu dan permaisuri Bolryang



“ah..kalian sudah datang Sangdaedung Bidam dan Tuan Putri Deokman, aku mencari kalian kemarin malam tapi katanya kalian sudah meninggalkan istana dan tinggal di rumah baru, apa benar?” tanya Chunchu



“benar Yang Mulia, kami sudah merencanakan hal ini. maafkan kami bila tidak memberitahukan Yang Mulia. Ada keperluan apa Yang Mulia mencari kami?” sahut Bidam



“ah tidak, sebenarnya tidak ada yang penting, hanya saja aku menyayangkan Tuan Putri tidak tinggal di istana lagi. Padahal aku selalu ingin berdiskusi dengan Tuan Putri setiap saat” jawab Chunchu, mendengar itu Deokman tersenyum bagaimanapun Chunchu adalah keponakannya, Chunchu sudah menganggap Deokman sebagai pengganti sosok ibunya.



“Yang Mulia, anda dapat memanggil saya kapanpun bila Yang Mulia memerlukan saya, saya pasti akan membantu Yang Mulia” jawab Deokman



“aku harap Tuan Putri tidak berhenti bekerja. Aku akan menempatkan Tuan Putri sebagai menteri pertanian dan kesejahteraan rakyat yang bertugas mengurusi segala sesuatu tentang pengembangan pertanian dan stok pangan kita di berbagai daerah termasuk kesejahteraan mereka. Apa Tuan Putri bersedia?” tanya Chunchu



“tentu saja Yang Mulia, aku akan berusaha semampuku” jawab Deokman



“Sangdaedung, aku ingin kau tetap fokus ke peningkatan kekuatan militer kita, aku perlu penasihat sepertimu mengingat panglima Yushin jarang ada di tempat untuk maju ke medan perang. Kau juga tetap mempunyai akses untuk mengambil pasukan yang kau latih selama ini jika diperlukan kemudian untuk tata ad-ministrasi negara aku menyerahkannya pada pamanku, Kim Youngchun. Aku akan segera membahas tentang rencana kita untuk mengadakan invasi ke Goguryo tepatnya ke Saitama karena menurut investigasi kami keadaan disana sedang kacau karena adanya kudeta. Sangdaedung, tolong persiapkan pertemuan tentang masalah ini nanti siang” perintah Chunchu



“baik Yang Mulia” sahut Bidam



Scene : PLAN FOR NEW CONQUER



Setelah pertemuan dengan Chunchu, Bidam dan Deokman berjalan menuju ke kantornya masing-masing



“apa kau pikir rencana Yang Mulia tidak terburu-buru, karena bila benar ada kudeta disana, untuk menstabilkannya akan lebih sulit lagi, karena bila kita salah memihak pada satu kubu yang berseteru maka akibatnya akan fatal?” tanya Deokman



“kau pernah dengar istilah ‘memancing di air keruh’ kurasa itulah rencana Yang Mulia?” jawab Bidam sambil mengerutkan keningnya berpikir.



“maksud-mu?” tanya Deokman



“istriku, sepertinya kupikir kita tidak perlu menstabilkannya juga menguasai Saitama, juga tidak memihak salah satu kubu. Saat kudeta terjadi kita hanya mendekati orang-orang yang mempunyai kepentingan berbeda lalu memperburuk keadaan” sahut Bidam menerka-nerka



“oh..aku mengerti sekarang... cara yang licik memang, tapi sudahlah! Itulah mengapa aku benci politik, politik sangat menjijikan”kata Deokman dengan nada mencemooh. Bidam mengangguk mengiyakan.



“nah sudah sampai, silahkan Yang Mulia Tuan Putri masuk ke kantor barumu” kata Bidam sambil membukakan pintu, Deokman tersenyum lalu melangkah masuk.



“aku sengaja menempatkan kantormu disini agar dekat dengan bangunan Tuan Putri tinggal, jadi bila kau merasa lelah, kau bisa langsung beristirahat di kamarmu” jelas Bidam. Deokman mengangguk.



“Kalau sempat akan kuusahakan untuk makan siang bersama denganmu disini, nah.. selamat bekerja Tuan Putri Deokman, jangan terlalu lelah ya! Aku mencintaimu” lanjut Bidam lagi. Deokman tersenyum mengangguk lalu Bidam keluar dari kantor Deokman



Siangnya Deokman menerima pesan agar Deokman makan siang dahulu karena ia belum selesai mengadakan rapat dengan raja, yushin dan para petinggi perang lainnya untuk merembukkan rencana invasi ke Saitama. Kemudian Bidam masuk ke ruangan Deokman sore harinya dan membawa kue-kue kecil dan teh, dilihatnya Deokman sedang memeriksa beberapa laporan. Bidam menunggu Deokman selesai lalu memakan kue-kue itu sambil sesekali menyuapi Deokman kue. Deokman tampak serius sekali tapi juga senang karena Bidam menemaninya.



“Ya sudah selesai, ayo kita pulang!”ajak Deokman.



Selama perjalanan pulang Deokman menanyakan pada Bidam hasil pertemuannya, lalu Bidam menjelaskan bahwa kini tengah diadakan persiapan agar pasukan Shilla yang dipimpin Yushin akan berangkat ke Saitama tapi rencana mereka bukan untuk menguasai kota itu tapi membawa beberapa perwira perang yang sedang melakukan kudeta untuk ditawan.



“Hhmm…kemudian para tawanan itu akan kita jadikan senjata sebagai alat perundingan dengan Goguryo, tapi kita harus berhati-hati juga Bidam, Shilla akan dianggap terlalu ikut campur” ujar Deokman



“tepat sekali, tapi Yang Mulia berpendapat kita memang harus menunjukkan ketertarikan kita pada hal-hal yang terjadi dalam pemerintahan Goguryo maupun Baekje karena tujuan kita ingin menguasai mereka dan menjadikan mereka satu Shilla jadi kita memang harus selalu ikut campur dan dianggap menganggu kenyamanan mereka” jawab Bidam



“ya, aku tahu dengan rencana ini, kita tidak perlu mengadakan kontak senjata secara terbuka, adakalanya perundingan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih dibanding berperang mengorbankan nyawa, kemudian setelah itu apa Yang Mulia rencanakan?” tanya Deokman lagi



“Kurasa Shilla akan mengadakan beberapa perundingan politik mengenai perluasan batas wilayah Shilla dan Goguryo dan perjanjian genjatan senjata yang tentunya akan memberi keuntungan bagi ke dua belah pihak dengan menggunakan para tawanan pemberontak itu” jawab Bidam



“Rencana yang sangat bagus dan di saat yang tepat, kuharap semua dapat berjalan lancar dan berhasil” sahut Deokman sambil tersenyum.



“Kuharap juga begitu” ujar Bidam membalas senyum Deokman





Deokman menarik kesimpulan bahwa ia tidak salah memilih Chunchu sebagi penganti dirinya karena terbukti Chunchu sangat agresif sekali melakukan penyatuan 3 negara. Lalu mereka pun tiba di rumah dan beristirahat.



Scene : FINALLY…



3 minggu kemudian



Deokman terbangun dari tidurnya, sangat pusing dan perutnya mual serta badannya berkeringat. Lalu dia bangkit dari ranjangnya, dilihatnya Bidam masih terlelap tidur. Deokman ingin minum segelas air hangat sehingga ia memutuskan untuk pergi ke dapur untuk meminta segelas air hangat lalu menyuruh pelayan menyiapkan sarapan.



Saat kembali ke kamarnya tenyata Bidam sudah bangun dan menyuruh Bidam agar mandi terlebih dahulu sementara ia menyiapkan pakaian untuk dirinya dan Bidam. Bidam menuruti Deokman untuk mandi setelah ia mengecup pipi Deokman dan mengucapkan selamat pagi.



Saat membuka lemari untuk mengambil pakaian Bidam dan dirinya, Deokman merasa sangat sangat pusing, kepalanya terasa berputar dan mual di perutnya makin menjadi hingga ia tidak sanggup menahan dirinya lalu BRUG, Deokman pingsan sambil menarik pakaian dari dalam lemari hingga beberapa pakaian terbawa dan jatuh ke bawah bersamaan dengan jatuhnya Deokman.



Beberapa saat kemudian ketika Bidam kembali dari kamar mandi, sambil bersiul dan mengeringkan rambutnya lalu dilihatnya Deokman terbaring di lantai, seketika Bidam panik



“Deokman..Deokman..kau kenapa? Oh..Tuhan..PELAYAN..PELAYAN..CEPAT KESINI!!” teriak Bidam sambil memeriksa detak jantungnya ‘masih berdenyut’ lalu membopong Deokman ke ranjang dan membaringkannya



“Ya tuan..anda memanggil..” jawab pelayan



“Panggil Tabib Young Ae!! kalau dia tidak ada di tempat, kau cari tabib lain dan cepat bawa kesini, nyonya pingsan!!” perintah Bidam, pelayan itu cepat-cepat pergi.



“Deokman..Deokman.. kau kenapa?” tanya Bidam sambil memegang erat tangan Deokman lalu sesekali Bidam menepuk pipi Deokman lembut agar Deokman siuman, Deokman membuka matanya, Bidam sangat senang melihat Deokman siuman.



“aku..aku mau muntah!!” kata Deokman, lalu dengan cepat Bidam membawa bejana perunggu yang berisi bunga segar yang ditempatkan pada meja disisi ranjang mereka, bunga dan airnya dibuang ke lantai lalu Deokman benar-benar muntah ke dalam bejana itu, Bidam menepuk-nepuk punggung Deokman. Setelah selesai Bidam mengambil segelas air dan meminumkannya pada Deokman.



“apa sudah baikan? Bagaimana sekarang?” tanya Bidam masih dengan wajah panik, Bidam takut sekali penyakit Deokman kambuh, ia tidak mau Deokman menderita dan melihat Deokman sakit rasanya menyakitkan. Deokman hanya mengangguk lemah, wajahnya sangat pucat, tangannya terasa dingin berkeringat, lalu Bidam mengenggam tangan Deokman erat.



“aku sudah memanggil Young Ae, dia akan kesini memeriksamu, bersabarlah” kata Bidam lembut menatap mata Deokman. Tidak lama kemudian Young Ae datang, lalu cepat memeriksa Deokman



“aku menemukannya sudah tergeletak pingsan dilantai, setelah siuman Deokman langsung muntah, aku takut sekali..” kata Bidam menjelaskan. Young Ae memeriksa Deokman dengan teliti lalu tersenyum senang. Bidam heran kenapa Young Ae tersenyum



“Tuan Putri tidak apa-apa Tuan Sangdaedung, ini sakit biasa yang disebabkan karena Tuan Putri sedang mengandung” jawab Young Ae tersenyum pada Deokman dan Bidam. Deokman terkejut lalu tersenyum bahagia sedang Bidam masih dengan wajah binggung

“apa kau bilang..istriku mengandung? Deokmanku hamil? Anak?” tanya Bidam butuh penjelasan lebih lanjut



“ya Tuan Sangdaedung..Tuan Putri..istri Tuan Sangdaedung sedang mengandung seorang anak, sekarang kehamilannya menginjak 1 bulan, Tuan Putri pingsan karena pengaruh dari janin yang dikandungnya. Sudah biasa bila sedang hamil muda, si ibu mengalami pusing-pusing dan mual karena perubahan kondisi dalam tubuh tapi hal ini tidak berlangsung lama, paling lama gejala ini akan berakhir bila si janin sudah menginjak usia 3 atau 4 bulan jadi Tuan Sangdaedung tidak perlu khawatir” jelas Young Ae.



Lalu Young Ae memberi ramuan vitamin dan menasehati hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan, Deokman dan Bidam mendengarkan dengan seksama dan tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Setelah semua selesai Young Ae pun pamit.



“Kau sangat luar biasa Deokman, kau memberiku hadiah yang indah” puji Bidam sambil mengecup kening Deokman.



“Aku juga sangat bahagia setelah hampir 4 bulan kita menunggu akhirnya aku bisa memberikanmu seorang anak” jawab Deokman tersenyum bahagia



“aku akan pergi ke istana dan memberitahukan kabar ini pada semua orang..aku ingin seluruh dunia tahu, aku akan menjadi seorang ayah..” kata Bidam berbinar-binar kentara sekali Bidam tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya



“pergilah..” jawab Deokman sambil tertawa geli melihat tingkah Bidam



“hari ini kau istirahat di rumah, jangan kemana-mana!” perintah Bidam pada Deokman.



Deokman menganguk-angguk sambil tersenyum lalu Bidam segera berpakaian Sangdaedung dan pergi, Deokman masih mendengar teriakan Bidam di luar yang berseru



“Deokmanku hamil..aku akan menjadi seorang ayah.. yuuhuu..!!” Deokman tersenyum geli dibuatnya.



Kabar tentang kehamilan Deokman cepat tersebar ke seluruh istana, semua memberi selamat termasuk raja dan permaisuri sangat senang mendengarnya, mereka mengundang Deokman dan Bidam untuk makan siang bersama keesokan harinya, permaisuri memberi Deokman hadiah berupa kain tebal dan lembut yang bagus sekali untuk dijadikan seprai dan selimut calon bayi.



FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 19

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 19



Scene : OUR DREAM HOUSE



Menjelang sore di istana, Bidam tengah berjalan berdampingan dengan Deokman



“kukira sekarang waktunya kita pergi” kata Bidam



“kemana?” tanya Deokman



Tanpa menjawab, Bidam menarik tangan Deokman agar masuk dalam tandu, dalam tandu Bidam mengeluarkan sapu tangan dan meminta Deokman agar menutup matanya dengan sapu tangan itu karena ia akan mengajak Deokman ke suatu tempat dan Deokman tidak boleh membukanya sebelum sampai di tujuan. Deokman binggung tapi ia menurut saja.



Beberapa waktu kemudian, tandupun berhenti di depan gerbang kayu kokoh berwarna merah lalu Bidam menuntun Deokman masuk ke dalam gerbang, Bidam menghentikan langkahnya dan berdiri di belakang Deokman lalu membukakan penutup mata Deokman. Deokman mengerjap-gerjapkan matanya dan melihat ke sekelilingnya ternyata dia berada di sebuah halaman rumah yang kokoh dan indah yang didominasi warna merah pada kusen-kusen kayunya, di tengahnya halaman ditanami pohon persik yang rindang yang dikelilingi oleh bunga-bunga aster warna-warni.



“kau mau masuk atau hanya berdiri disini?” tanya Bidam tersenyum melihat Deokman terpesona.



“rumah kita..” gumam Deokman



“tentu saja aku mau masuk!” jawab Deokman. Bidam mengulurkan lengannya dan Deokman mengandeng pada lengan Bidam erat.



“kau belum melihat bagian tengah rumah ini, aku harap kau menyukainya” kata Bidam



Lalu mereka sampai di tengah rumah, rumah itu terdiri dari 3 bangunan utama membentuk huruf U di tengahnya terdapat taman yang lumayan luas yang ditanami pohon cemara berukuran kecil yang membentuk barisan lalu berbagai tanaman perdu dan bunga disekeliling jalan setapak menuju sebuah kolam ikan yang dihuni ikan-ikan koi warna emas, merah, kuning yang hidup riang bersama ikan hias lainnya, di ujung jalan setapak terdapat anak-anak tangga lalu disambung jembatan kayu kecil, dibawah jembatan tersebut adalah kolam ikan, yang menghubungkan dengan bangunan gazebo yang kokoh kayu-kayunya dicat warna hitam, warna favorit Bidam, dalam gazebo tersebut terdapat bangku yang panjang tempat bersantai dan meja dihadapannya namun yang menarik adalah pemandangan dalam gazebo, disini mereka bisa melihat areal pesawahan lalu sungai kecil di sisinya dan bukit-bukit pegunungan yang indah di ujung pesawahan karena letak gazebo cukup tinggi untuk melihat semua itu.



Di bagian samping kanan ada miniature tebing yang dialiri air hingga mirip air terjun mini yang mengalir ke kolam ikan. Tebing ini sekaligus menutup area dalam rumah dengan halaman depan.



“kukira ini akan jadi tempat favoritku Bidam, ini sangat luar biasa, sangat indah!” puji Deokman berseri-seri kagum dengan taman buatan Bidam.



“kupikir juga begitu, aku senang kau menyukainya, ayo kita ke ruangan lain” ajak Bidam.



Lalu mereka menuju bangunan di seberang taman dan memasuki lorong dalam.

Lalu Bidam menunjukkan kamar tidur mereka yang nyaman. Deokman senang melihatnya diperhatikan seksama sekeliling ruangan dan mencoba duduk di ranjang yang empuk yang dilapisi seprai dan selimut yang hangat.



“kau mau lihat isi lemarinya?” kata Bidam, Deokman lalu membuka lemari di dalamnya terdapat beberapa potong pakaian Deokman yang dia belum pernah pakai sebelumnya lalu pakaian Bidam yang dinominasi warna hitam tentunya.



“pakaian ini.. kau yang membuatnya?” tanya Deokman kagum, dia tidak menyangka Bidam membuat beberapa pakaian untuknya



“bukan aku yang membuatnya tapi tukang jahit, aku tidak bisa membuat pakaian wanita, aku hanya membeli bahan-bahannya saja tapi sebelumnya aku minta maaf, aku terpaksa mencuri satu bajumu agar ukurannya cocok denganmu” kata Bidam tersenyum lebar, Deokman tertawa geli mendengarnya



“nanti akan kuhukum kau karena pencurian itu” canda Deokman tersenyum lebar.



Bangunan ini yang berada di seberang gazebo adalah bangunan utama yang terdiri dari kamar Deokman & Bidam lalu 2 kamar mandi dan 2 kamar kosong yang dibuat Bidam untuk kamar anak-anak mereka kelak. Kamar-kamar ini berada pisahkan dengan bagian teras bangunan oleh lorong dalam



Saat memasuki ruang baca dan ruang kerja,



“ini ruang kerja kau dan aku, aku sengaja menempatkan 2 meja disini jadi kita bisa bekerja bersama-sama di ruangan ini. Aku juga telah memindahkan beberapa buku kesukaanmu juga membeli beberapa buku untuk menambah koleksi kita. Bagaimana nyonya apa ada yang kurang atau yang nyonya tidak sukai?”jelas Bidam sambil tersenyum lebar



“Bidam..aku..aku..tidak menyangka kau menyiapkan ini begitu sempurna, bahkan ini sama sekali di luar bayanganku. Aku sangat senang dan bahagia. Kau sangat luar biasa”puji Deokman riang



“apa benar kau telah membangun rumah ini sejak lama?”tanya Deokman lagi, Bidam tersenyum kecil agak tersipu



“benar, selama ini aku menyiapkan rumah impianku, selama aku membangunnya yang kuingat hanya dirimu, berandai-andai tinggal dan hidup di rumah ini bersama membangun keluarga…terjadi begitu saja…seandainya pun kita tidak bisa bersama, aku akan tetap memberikannya untukmu, walaupun kau tak memerlukannya karena kau tinggal di istana tapi aku tetap selalu mengharapkanmu..”ujar Bidam pelan. Deokman merasa tidak enak hati karena ucapan Bidam.



“impianmu dan impianku sama Bidam, aku sangat menghargainya, aku mencintaimu..” gumam Deokman, lalu Deokman memeluk Bidam. Bidam tersenyum bahagia kini dia dapat mewujudkan impiannya untuk membangun keluarga dengan wanita yang selalu dia harapkan dan sangat dicintainya itu.



Malam itu setelah mandi, mereka menikmati makan malam pertama di rumah mereka, Bidam dan Deokman memutuskan untuk pergi ke gazebo, menikmati suara gemericik air dan bulan purnama yang bulat sempurna, mereka saling berbincang-bincang santai, malam semakin dingin dan Bidam mengajak Deokman untuk masuk ke kamar, saat Deokman berdiri Bidam dengan sigap mengendong Deokman dalam pelukannya.



“kita akan menikmati malam pertama di rumah baru kita”bisik Bidam, Deokman hanya tersipu.



Bidam membaringkan Deokman dan dengan perlahan Bidam mulai mengecup bibir Deokman. Deokman membalas dengan merangkul leher Bidam dan memejamkan mata.

Malam yang dingin itu berubah menjadi hangat.. sangat hangat.



Scene : THEIR FIRST MORNING



Keesokan paginya, Deokman masih terlelap saat Bidam bangun, tangan Deokman diletakan di atas dada Bidam, Bidam memandang wajah Deokman lalu dengan hati-hati mengecup kepala Deokman, Deokman perlahan membuka matanya dan tersenyum memegang pipi Bidam lembut



“selamat pagi”sapa Deokman



“selamat pagi istriku, apa tidurmu nyenyak semalam?” tanya bidam pelan sambil mengelus rambut Deokman, Deokman mempererat pelukannya dan menghela nafas



“kau membuatku nyaman Bidam, dimanapun itu asalkan bersamamu aku akan selalu tidur lelap” jawab Deokman, Bidam tersenyum.



“kau mau sarapan apa? Aku akan memasak untukmu”tanya Bidam



“benarkah? Aku sangat rindu masakanmu seperti dulu, aku ingin makan apapun yang kau masak” jawab Deokman.



Deokman memang pintar dalam segala hal tapi untuk urusan masak ia agak kurang mahir dibandingkan Bidam. Pernah dulu waktu dalam pelarian, Deokman memasak untuk yushin dan Bidam, hasilnya membuat mereka sakit perut, diiringi dengan candaan mereka, Deokman bersumpah tidak mau masak lagi, lebih baik dia membaca buku katanya atau bermain catur dan membiarkan Bidam yang memasak untuk mereka.

Karena Bidam sering memasak untuk munno dan sering bepergian jadi variasi masakannya cukup banyak lagipula semua masakannya enak-enak dan Deokman menyukainya. Bukan salah Deokman tidak bisa memasak karena hampir seluruh masa remaja dan dewasanya tidak pernah menyentuh dapur, ia harus menjalani kehidupan keras, menyamar jadi laki-laki dan nando.



“baiklah, sudah lama juga aku tidak memasak, aku berharap masakanku enak” ujar Bidam bangkit meraih pakaiannya dan memakainya.



Deokman tersenyum geli, mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Setelah Bidam keluar kamar, Deokman pun bangun memakai kimono dan menyuruh pelayan menyiapkan air hangat untuk mandi.



Setelah Deokman mandi dan tengah berdandan, Bidam datang dan mengatakan ia sudah selesai memasak, Deokman menyuruhnya untuk mandi dulu lalu sarapan bersama-sama.



“Ayo makanlah”kata Bidam sambil mengambil beberapa lauk dan disimpan di mangkok Deokman, Deokman tersenyum



“Selamat makan” balas Deokman mulai menyuap makanannya, Bidam langsung makan dengan lahap dan makan dengan porsi besar



“Pelan-pelan, nanti tersedak” Deokman memperingatkan kala Bidam mulai batuk-batuk kecil dan mengambilkan Bidam minum, Bidam minum dengan terburu-buru. Deokman memperhatikan tingkah Bidam dengan geli



“kau ini…nafsu makanmu sangat besar, juga nafsu ‘itu’”gumam Deokman sambil tertawa geli



“apa..?” tanya Bidam sambil menelan makanan di mulutnya



“nafsu ‘itu’ apa?”



“ah.. tidak lupakan” jawab Deokman tersenyum malu, Bidam mengerti apa yang dimaksud Deokman



“nafsu makanku memang besar dan makanku juga banyak itu karena bawaan lahir, tapi kalau nafsu ‘itu’ itu semua karena salahmu” jawab Bidam cuek tapi memasang wajah jahilnya



“salahku.. kenapa itu bisa salahku?”tanya Deokman gusar



“karena ku selalu terlihat cantik dan menarik di setiap waktu, itu menyebabkan aku selalu bergairah melihatmu” jawab Bidam sambil tersenyum lebar.



“masa sih.. hhmm…Coba kau bilang hal itu kalau aku sudah tua, keriput dan peyot, apakah kau tetap akan mengatakan hal yang sama” goda Deokman



“tentu saja, sampai kapanpun, bila kita bersama sampai tua nanti, bagiku kau adalah yang tercantik dan terindah di dunia ini, mataku hanya selalu melihatmu sebagai wanita yang terbaik yang pernah kutemui” jawab Bidam sungguh-sungguh



“aku percaya padamu, Bidam. Kau juga pria yang selalu kucintai seumur hidupku”



“harus itu..” balas Bidam pendek mengangguk-angguk serius. Deokman hanya tersenyum simpul lalu meneruskan makannya. Deokman juga makan sangat lahap dan tak henti-hentinya memuji masakan Bidam. Kemudian mereka berdua bersiap-siap ke istana menghadap raja.



FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 18

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 18



Scene : the box of past memories


Sehari sebelum penurunan tahta : Kamar tidur tuan putri

“barang-barangmu sudah aku simpan di rumah kita, kalau ada yang lain lagi nanti akan kusuruh pelayan mengangkutnya” kata Bidam sambil memasangkan topi Sangdaedungnya



“tinggal barang-barang kecil saja, hanya kotak itu, aku akan membawanya sendiri” jawab Deokman sambil menunjuk kotak warna hijau yang berada di atas meja pajangan.



“kotak apa itu?” Bidam melirik penasaran



“oh ini..” jawab Deokman sambil tertawa kecil menunjukkan kotak pada Bidam



“ini isinya adalah barang-barang yang berharga untukku..lihatlah” kata Deokman tersenyum senang. Dalam kotak itu ada barang-barang masa lalu Deokman seperti kaca pembesar. Surat dari munno, buku kepahlawanan dari paman Cartan, kalender Daimingli, dll, dan Soeyoeb-do. Deokman melihat barang-barang itu sambil terkenang akan masa lalunya dulu,Bidam memperhatikannya dengan seksama



“kau tahu setiap barang-barang yang ada disini selalu berhubungan denganmu, kau ingat kaca pembesar ini pernah kau gunakan waktu kau menjadi peramal palsu “ kata Deokman tertawa kecil, Bidam juga ikut tertawa



“ya, itu pertama kalinya aku bertemu dengan mishil” Bidam berhenti tertawa dan hanya tersenyum tipis, mengingat mishil masih menyesakkan dadanya.



“dan ini..” lanjut Bidam sambil mengambil soeyeob-do



“karena belati inilah, aku berubah pikiran dari menukarmu dengan segerobak obat lalu menyelamatkanmu kembali dan juga menyelamatkan nyawamu dari panah mishil“ kata Bidam bergidik membayangkan andai dia tidak menyelamatkan Deokman, mungkin saat ini ia tidak akan menemukan cintanya, begitu menyedihkan pikirnya



“Bidam, kau selalu ada kala aku membutuhkan pertolongan dan bantuanmu. Andai tidak ada kau disisiku dari awal perjuanganku aku mungkin tidak akan sampai ke titik ini. Kau bagaikan hadiah dari langit untukku, caramu mencintaiku begitu tulus dan hangat. Aku sangat berterima kasih padamu” kata Deokman tatapannya beralih dari Soeyoeb-do ke mata Bidam yang hangat.



“selama hidupku hanya kaulah orang yang menganggapku ada, orang yang memahamiku, mempercayaiku, menghargaiku dan mengendalikanku. Aku sangat membutuhkanmu, Deokman kaulah orang yang pertama mengucapkan terima kasih padaku, caramu memperlakukan aku dan mencintaiku mengubah semua jalan hidupku, akulah yang seharusnya berterima kasih padamu” balas Bidam



“semua ini terjadi memang karena takdir yang menentukan, kau dan aku saling mencintai dan membutuhkan, itu adalah anugerah yang luar biasa” jawab Deokman memeluk Bidam erat dan disudahi dengan kecupan Bidam di keningnya

.

“jadi nanti malam kita tidur disini, apa kau sudah mengosongkan kamar Yang Mulia?” tanya Bidam



“aku memang sudah membereskannya, mulai besok aku adalah tuan putri” ujar Deokman

“hmm.. pikir-pikir aku hebat juga, bisa menikah dengan ratu shilla juga dengan tuan putri shilla” canda Bidam. Deokman hanya tertawa kecil



“jangan lupa kau juga anak seorang raja shilla berarti kau juga seorang pangeran” balas Deokman, Bidam tertawa



“baiklah Yang Mulia dan calon Tuan Putri, pangeranmu permisi dulu, nanti malam kita bertemu lagi” kata Bidam membungkuk serendah mungkin, Deokman tertawa geli melihatnya dan mengangguk-angguk. Bidam pun pergi.



Scene: You are my choice



Malam hari : Kamar tidur Tuan Putri

Deokman mencoba menunggu Bidam sambil membaca buku, yang saat ini tengah sibuk mempersiapkan penurunan sekaligus penyerahan tahta dari Deokman ke Chunchu, tapi matanya mengantuk sekali ia pun tertidur di meja di atas buku yang dibacanya.

Bidam datang agak larut, ia melihat Deokman tertidur dan tersenyum, Bidam mengangkat Deokman hati-hati dan mengendongnya ke kasur. Dibaringkannya Deokman lembut dan diselimuti, dipandangnya Deokman, lalu dikecup keningnya



“Selamat tidur Deokman, aku mencintaimu” bisik Bidam



“Aku juga mencintaimu Bidam” balas Deokman berbisik matanya tetap terpejam, Bidam heran ternyata Deokman belum tertidur, Deokman tersenyum memandang Bidam.



“Aku pikir kau tertidur” kata Bidam



“Tadinya, tapi aku terbangun” balas Deokman, lalu Deokman bangkit duduk



“bagaimana persiapan besok?” tanya Deokman



“aku rasa semua sudah dipersiapkan, beberapa utusan tamu sudah datang dan mereka akan hadir, kau bagaimana?”



“aku.. rasanya aku sudah tidak sabar menunggu besok. Kau tahu kala penobatan menjadi ratu aku merasa sangat tegang dan gugup juga merasa takut. Dalam satu hari semua berubah, aku bukan menjadi deokman lagi tapi jadi seorang penguasa, mempercayai orang tapi tidak boleh mempercayainya, menanggung kesepian seorang diri, bahkan orang-orang disekitarku pun berubah mereka memandangku sebagai obyek berkuasa bukan sebagai manusia. Tapi kau datang sebagai Bidam dan tetap memandangku sebagai deokman, aku mempercayaimu dan hanya kau yang dapat membunuh rasa sepiku. Aku rela melepaskan apa yang menjadi impian orang banyak yaitu menjadi penguasa karena memilih hidup bersamamu, mencintaimu sebagai deokman” jawab Deokman tanpa menatap Bidam pikirannya menerawang.



“apa kau menyesal?” tanya Bidam, Deokman menoleh dan menatap Bidam dalam-dalam



“mengapa kau bertanya begitu? Menurutmu mana yang akan kau pilih antara cinta dan kekuasaan, memilih hangatnya kebersamaan atau dinginnya kesepian, kehidupan bebas atau hidup terbelenggu, saling mempercayai atau saling mencurigai. Semua telah kulalui dan kurasa sudah cukup, jalan cintalah yang kupilih, aku telah menetapkan pilihanku, pilihanku untuk bersamamu dan mencintaimu” jawab Deokman, Bidam tersenyum senang mendengar jawaban Deokman. Kemudian ia mengecup pipi Deokman



“hidupku milikmu deokman, aku bukan apa-apa tanpamu” bisik bidam. Deokman menolehkan kepalanya lalu tersenyum pada Bidam, mereka pun berciuman sebelum akhirnya mereka tertidur.



Upacara Penurunan Tahta

Akhirnya upacara penurunan tahta Deokman terlaksana dengan meriah, Ratu Shilla Seondeok turun tahta dan digantikan dengan Raja Shilla Chunchu dengan gelar Raja Muyeol, Raja Shilla ke 28. Raut muka Deokman tampak lega sekali akhirnya beban yang selama ini ditanggung di pundaknya lepas, ia memilih untuk mundur dan hidup bersama Bidam membayangkan hal ini Deokman terus tersenyum bahagia.

Setelah memimpin upacara lalu Bidam sebagai Sangdaedung mempersilahkan para tamu dan undangan memberikan selamat pada raja baru lalu dilanjutkan dengan berbagai sajian makanan dan atraksi yang menarik.

Kamis, 09 Desember 2010

WASPADA PLAGIATOR!!

Dalam rangka mewaspadai kasus plagiator yang merebak di beberapa blog ff (untuk info lebih lengkap bisa di cek ke http://superjuniorff2010.wordpress.com/2010/06/19/you-must-know/#more-10616 ), Saya Miyakozuka T. selaku administrator (yg empunya blog ^^) mewakili Miloke selaku author Our Love Story, ier nam gil sebagai author FF Bideok raining, dan saya sendiri sebagai author Our Future Still Continue menyatakan bahwa kami menentang keras segala bentuk plagiat dalam bentuk apapun juga baik yang dilakukan oleh pihak kami sendiri atau pihak lain. Oleh karena itu kami mohon bantuan dari para pembaca semua untuk ikut serta memerangi para plagiator, bila menemukan fanfic atau cerita yang ternyata memiliki kemiripan yang amat sangat (jalan cerita,nama tokoh,latar,dll.), para pembaca bisa melaporkannya kepada kami disini.
Apabila para pembaca ingin menyimpannya sebagai file pribadi atau berbagi bersama teman-teman yang lain, kami dengan sangat senang hati mengizinkan dengan ketentuan, nama author jangan lupa dicantumkan di bawah judul yang tidak diubah ok?

atas perhatian, dukungan dan kerjasamanya, saya Miyakozuka T. mewakili para author di sini mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Jujur bagi saya dan teman-teman author, ff dan para pembaca sudah seperti keluarga dan bagian dari kehidupan kami. Sekali lagi terima kasih ^^

Penulis OFSC & Admimistrator




Miyakozuka T.




p.s: segala bentuk kesamaan yang muncul di ff yang ada di sini hanyalah kebetulan belaka tanpa ada unsur kesengajaan sama sekali.

Senin, 06 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 17

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 17



Scene : GIVE ME YOUR PAIN



Di dalam ruangan rumah sakit, Bidam melihat beberapa dayang dan asisten tabib menunggu di salah satu kamar periksa. Bidam segera tahu kalau Deokman ada didalamnya, ia mendekati seorang dayang, mengatakan sesuatu, dayang tersebut mengangguk dan masuk ke dalam kamar.



“maafkan hamba Yang Mulia, tuan Sangdaedung ada disini. Ia ingin melihat Yang Mulia, apa dia dipersilahkan masuk?” tanyanya pada Deokman yang sedang di akupuntur oleh asisten wanita tabib Lee di beberapa titik nadi. Lengannya ditusuk beberapa dengan jarum akupuntur. Deokman terkejut mendengar Bidam ada disini



“kenapa Bidam disini? Apa dia sudah tahu?” pikirnya heran, tapi Deokman segera menguasai keadaan dengan anggunnya Deokman bertanya pada tabib Lee



“apa sudah selesai?” saat melihat asisten wanita tabib Lee sedang mencabuti jarum di lengannya



“ya Yang Mulia, sedikit lagi hanya beberapa titik di leher Yang Mulia” jawab Tabib Lee. Deokman menghela nafas



“baiklah, suruh Sangdaedung masuk” perintahnya pada dayang tersebut, tidak berapa lama kemudian Bidam masuk, dilihatnya Deokman tengah diperiksa nadinya oleh tabib Lee sendiri lalu dia menyuruh asistennya menusukkan jarum di titik nadi yang ditunjukkan tabib Lee. Deokman mengernyitkan sedikit kala jarum menusuk nadi di lehernya sementara dayang yang lain mengelap keringat di dahi Deokman. Bidam tidak berkata apa-apa hanya menyaksikan dan menatap Deokman dengan tatapan kasihan dan sedih.



“sudah selesai Yang Mulia” kata tabib Lee lalu seorang dayang menyajikan obat.



“berapa lama lagi Yang Mulia menjalani pengobatan ini?” tanya Bidam datar pada tabib Lee



“melihat denyut nadi Yang Mulia berangsur-angsur normal dan baik, saya kira untuk akupuntur dapat dilakukan sebanyak 2 kali lagi, tuan Sangdaedung” jawab Tabib Lee. Deokman terlihat lega mendengarnya



“Baiklah, kalian semua keluarlah, aku akan berbicara dengan Sangdaedung” kata Deokman. Semua beringsut mundur dan pergi. Setelah semua keluar, Bidam mendekati dan duduk di samping Deokman, ditatapnya Deokman dengan penuh sayang lalu dilapnya dahi dan leher Deokman yang masih berpeluh



“apakah itu sakit?” tanya Bidam pelan, Deokman menunduk



“kau tidak marah padaku?” balas Deokman



“Deokman, aku mungkin tidak memahami maksud-mu menyembunyikan penyakitmu padaku, untuk itu aku berhak dapat penjelasan darimu bukan? Aku tidak mungkin marah padamu setelah melihat kau sakit seperti ini. Deokman, aku ingin kau tahu aku sangat menyayangimu, aku tidak mau melihatmu menderita” kata Bidam sambil merangkul pundak Deokman, Deokman menyenderkan kepalanya di bahu Bidam.



“aku tahu kau wanita yang kuat tapi aku ingin selalu ada disampingmu, aku ingin kita berdua melaluinya bersama” lanjut Bidam mengusap lembut pundak Deokman



“maafkan aku Bidam, aku menyembunyikannya darimu karena aku tidak mau membuatmu khawatir dan membuatmu berubah padaku kala kau tahu tentang penyakitku ini. Aku sudah lama mengetahuinya karena ini adalah penyakit keturunan yang kapanpun bisa kambuh” jawab Deokman sedih



“Harusnya aku tahu waktu itu kau mengeluh sakit padaku tapi aku malah …ini karena aku kan? Aku yang membuatmu jadi sakit begini, karena perbuatanku, kebodohanku, karena pemberontakan itu, ini semua salahku!!” kata Bidam gusar lalu ia berdiri tiba-tiba dan berlutut di depan Deokman



“Andai saja..aku tidak berbuat bodoh, kau tidak akan kambuh, kau akan baik-baik saja, aku penyebabnya, aku sangat bersalah padamu, aku tidak pantas kau maafkan” kata Bidam sambil menatap Deokman, suaranya tercekat menahan tangis tapi sia-sia tetes air matanya tidak dapat ditahan jatuh begitu saja di pipinya. Deokman memegang tangan Bidam erat lalu diletakkan di atas pangkuannya



“inilah mengapa aku tidak mau mengatakannya padamu, kau akan menyalahkan dirimu sendiri, aku tidak mau kau begitu, aku mohon jangan lagi kau merasa bersalah” jawab Deokman ibu jarinya menghapus air mata Bidam lembut



“karena aku kau jadi menderita, andai saja aku bisa menanggung sakitmu, aku rela” ujar Bidam, Deokman menarik tangan Bidam dan diletakkan didadanya sambil tersenyum



“kau adalah jantung keduaku, kau yang membuat jantung ini berdegup kencang karena sentuhanmu juga berdenyut tenang karena cintamu, Bidam selama kau disisiku jantung ini akan baik-baik saja jadi tetaplah disisiku” jawab Deokman lembut lalu menarik pundak Bidam agar Bidam kembali duduk disampingnya. Deokman menatap Bidam



“berjanjilah kau tidak akan menyalahkan diri sendiri lagi karena ini menyakitkan bagiku” kata Deokman sambil tersenyum lembut. Bidam balas tersenyum dan mengangguk pelan.



“aku janji..akan menurutimu..tapi aku juga mohon sebaiknya kau menggantikan tabib Lee dengan tabib wanita yang benar-benar mampu mengobatimu” kata Bidam, Deokman heran



“memangnya kenapa dengan tabib Lee?” tanya Deokman



“Tabib Lee memang mempunyai kemampuan untuk mengobatimu, tapi tetap saja bagiku terlihat canggung karena bukan dia sendiri yang menusukkan jarum di nadimu tapi asisten wanitanya, itu membuatku khawatir bila ternyata dia melakukan kesalahan, tentu akan berakibat fatal. Karena ini menyangkut kau, aku benar-benar khawatir, deokman. Juga karena aku punya alasan pribadi” papar Bidam



“alasan pribadi? Apa itu?”



“aku merasa darahku naik melihat kau disentuh pria lain selain aku, aku merasa tersiksa” jawab Bidam malu, Deokman tersenyum simpul mendengar kecemburuan Bidam



“ya ampun dia kan cuma tabib yang mengobatiku” jawab Deokman geli,



“tetap saja, aku tak rela..” balas Bidam



“memang ada tabib wanita yang sehandal tabib istana yang bisa mengobatiku?” tanya Deokman



“aku mengenal seorang tabib wanita yang ilmu pengobatannya tinggi, dia adalah sahabat guruku.Tapi sebelumnya aku harus tanya dia dulu apa dia benar-benar bisa mengobatimu. Kalau dia tidak kompeten yah terpaksa aku menahan diriku” jawab Bidam



“terserah kau saja, aku akan menurut pada suamiku yang pencemburu” balas Deokman bercanda. Bidam tertawa mendengar jawaban Deokman.



“kau ini masih belum berubah Bidam, kau sangat polos dan apa adanya, aku menyukainya” Deokman tertawa. Bidam senang karena melihat Deokman ceria lagi



“aku mencintaimu Deokman” bisik Bidam sambil mengecup kening Deokman. Lalu Deokman bersiap-siap dan mereka pergi meninggalkan rumah sakit.



SCENE : LIKE A FOOL..



Kamar ratu..

Bidam memenuhi janjinya untuk mengganti tabib Lee dengan tabib wanita bernama Young Ae. Dia tabib terkenal dan terbaik di Soerabeol yang kebetulan juga adalah sahabat Munno dan mengenal Bidam, Bidam juga sangat tahu kapasitasnya.



“Sebelum hamba kemari untuk bertemu Yang Mulia, saya sudah mendiskusikan penyakit Yang Mulia dengan Tabib Lee dan langsung membaca riwayat pengobatan Yang Mulia segera setelah Tuan Sangdaedung meminta hamba untuk menangani Yang Mulia, juga ramuan obat Yang Mulia selalu minum. Tabib Lee telah melakukan hal yang terbaik bagi penyakit Yang Mulia” papar Young Ae



“Jadi bagaimana keadaan Yang Mulia sekarang, Young Ae?” tanya Bidam



Lalu Young Ae memeriksa seluruh nadi Deokman di beberapa titik nadi penting dan merasakan setiap denyutannya. Setelah memeriksa denyut nadi Deokman



“Kukira tabib istana benar Yang Mulia, akhir-akhir ini jantung Yang Mulia berdetak sangat teratur dan tidak menunjukkan gejala-gejala khusus. Jadi saya menyimpulkan Yang Mulia sehat” kata Young Ae, Deokman sangat lega mendengarnya



“Young Ae, benarkah sudah tidak apa-apa? Apa penyakitnya sudah sembuh” tanya Bidam lagi



“Andai dikatakan sembuh tidak juga Sangdaedung, hanya saja kondisi Yang Mulia lebih baik dari sebelumnya dan jika kondisi seperti ini dipertahankan dan Yang Mulia tidak mengalami stress berat, Yang Mulia bisa hamil dan mengandung anak” jawab Young Ae meyakinkan,

Deokman secara refleks memegang perutnya sambil tersenyum heran ketika mendengar jawaban Young Ae, rasanya ia tidak percaya dengan pendengarannya ketika Young Ae mengatakan ia bisa mengandung seorang anak.



“Benarkah? Tapi Tabib Lee bilang.. bahwa rahimku akan kering sehingga aku tidak bisa hamil” timpal Deokman



“Betul Yang Mulia, pada saat pengobatan obat itu akan menimbulkan efek samping namum efek itu akan memudar dengan sendirinya seiring dengan berkurangnya dosis yang tabib berikan. Sehingga rahim Yang Mulia dapat berfungsi normal dan dapat menerima calon janin”



“Benarkah, aku sangat senang mendengarkan, aku kira aku tidak bisa memberikan keturunan pada suamiku” sahut Deokman ceria



“tunggu.. sebenarnya apa yang sedang kau dan Yang Mulia bicarakan ini?” tanya Bidam pada Young Ae, lalu ia cepat-cepat melanjutkan



“Yang Mulia sudah mengetahui sebelumnya bahwa ada efek samping dari obat Yang Mulia minum, dan Yang Mulia tidak memberitahukan aku sama sekali” sergah Bidam gusar, Bidam merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa sama sekali tentang kondisi Deokman, istrinya. Bidam mengeleng-gelengkan kepalanya pada Deokman tanda ia kecewa.



“Bidam..” sahut Deokman pelan berusaha menenangkan Bidam, tapi Bidam mengacuhkannya.



“Young Ae katakan padaku, apa yang terjadi bila ternyata Yang Mulia hamil saat sedang menjalani terapi” tanya Bidam dengan nada tidak sabar. Young Ae hanya memandang Deokman dengan pandangan ’bagaimana ini Yang Mulia, apa aku harus menjawabnya’



“Young Ae, aku bertanya padamu sebagai suami Yang Mulia” sergah Bidam lagi seolah bisa membaca keragu-raguan Young Ae.



“Sangdaedung, bila Yang Mulia hamil saat sedang terapi, Yang Mulia akan mengalami keguguran dan tentunya akan memperburuk kondisi Yang Mulia” jawab Young Ae



“begitu ya..” ujar Bidam pelan, tapi mata Bidam menatap Deokman dengan pandangan menyelidiki.



“Bidam..” panggil Deokman pelan, pada Bidam yang berjalan mondar mandir gelisah setelah Young Ae pergi meninggalkan mereka berdua. Bidam pun duduk berhadapan dengan Deokman di meja bundar.



“harusnya kau mengatakan padaku dari awal Deokman, mengapa kau sembunyikan hal itu dariku, aku bisa menahan diriku untuk tidak..”



“Bidam..!” potong Deokman tenang tapi tajam.



“kumohon berhentilah mempermasalahkan hal itu, apa kau mau kita membahasnya terus.. bukankah Young Ae sudah mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, dan mengatakan bahwa aku dapat mengandung seorang anak darimu, apa kau tidak bahagia mendengarnya” lanjut Deokman,



“Deokman, aku.. merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentangmu, itulah sebabnya aku gusar. Aku pikir kita saling berbagi, Deokman” jawab Bidam



“aku akan selalu berbagi apapun denganmu, aku janji.. Bidam, aku minta maaf tentang hal ini. Tapi sekarang aku lega bahwa keinginan kita untuk membangun sebuah keluarga dapat terwujud, aku sangat bahagia. Kau tidak mau merusak kebahagianku bukan?” Deokman bertanya pada Bidam sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangannya ke arah Bidam, membuat Bidam luluh.



“aku..memang tidak bisa marah padamu, Deokman. Aku maafkan kau..” jawab Bidam tersenyum lebar dan mengenggam tangan Deokman erat.