Pages


Senin, 06 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 16

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 16

Scene : RED DOT

Kamar tidur ratu

“Deokman, ini kenapa?” tanya Bidam sambil menunjuk leher Deokman yang terdapat titik merah kecil di beberapa titik di lehernya, hal ini diketahui Bidam saat Bidam mengecup leher Deokman. Deokman terkejut mendengar pertanyaan Bidam

“oh..beberapa hari ini aku merasa agak gatal-gatal di badanku, entahlah mungkin aku salah makan atau menderita alergi tertentu” jawab Deokman tenang

“kau alergi apa? Setahuku kau tidak pantang makan apapun Deokman” tanya Bidam

“nanti aku tanyakan pada tabib” jawab Deokman cepat-cepat

“di tanganmu juga ada titik merah, aku memperhatikannya” kata bidam lagi sambil memperhatikan lengan Deokman, lengan kimononya ditarik ke atas. Deokman hanya memperhatikan diam.

“sepertinya merah ini bukan karena gatal tapi seperti bekas tusukan jarum, aku tahu sedikit tentang akupuntur, apa ini karena akupuntur?” tanya Bidam menatap mata Deokman menyelidiki

“bukan..ini hanya gatal” jawab Deokman tegas

“sudahlah kita tidur ya, aku mengantuk sekali..” lanjut Deokman membalikkan tubuhnya memunggungi Bidam.

Bidam menurut dan memeluk Deokman dari belakang walaupun ia masih sangat penasaran, dan masih bertanya-tanya kenapa Deokman seperti menutup-nutupi sesuatu. Ia enggan bertanya lagi karena sepertinya Deokman tidak mau membahas hal itu.

Deokman tidak tidur dan ia sama sekali tidak mengantuk, matanya berkaca-kaca.

“Selamat tidur Deokman, aku mencintaimu” bisik Bidam, kata-kata yang selalu dia ucapkan untuk mengantar tidur Deokman.

<>

Deokman mengingat kata-kata tabib Lee

“tabib lee, apa ada kemungkinan aku akan sembuh?” tanya Deokman

“mohon maaf Yang Mulia, saya tidak bisa menjawabnya, karena penyakit yang mulia berhubungan dengan jantung, organ yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia” jawab Tabib Lee

“Lalu untuk apa pengobatan yang sedang aku jalani ini?”

“Pengobatan ini dilakukan untuk mempelancar aliran darah yang masuk ke jantung juga membuat jantung Yang Mulia berdetak dengan teratur dan kuat. Apa Yang Mulia akhir-akhir ini pada saat berbaring masih merasakan sesak pada dada Yang Mulia”

“tidak, aku bahkan bisa tertidur lebih nyaman sekarang, dan jantungku sudah mulai berdegup agak tenang padahal biasanya selalu berdebar keras”

“itu tandanya obat yang saya berikan sudah mulai bereaksi, Yang Mulia. Hanya saja..”

“Hanya saja apa?”

“Mohon maaf Yang Mulia, bila hamba lancang. Mengingat bahwa Yang Mulia sudah menikah sekarang, obat yang saya berikan akan menimbulkan efek samping”

“efek samping? Katakanlah apa itu?”

“Selama pengobatan berlangsung, obat yang saya berikan akan membuat rahim Yang Mulia, menjadi kering sehingga Yang Mulia tidak bisa mengandung seorang anak. Maafkan saya Yang Mulia?”

“Apa?, aku tidak akan bisa hamil dan mengandung? Itu yang kau maksudkan?”

“Ya Yang Mulia”

<>

Deokman pun diam tak menjawab ucapan selamat tidur dari Bidam, hanya air matanya menetes. Mengingat kata-kata Tabib Lee itu.

‘maafkan aku Bidam, aku harus sembuh dan menjalani semua ini. Aku harap kau mengerti dan tidak kecewa padaku’ kata Deokman dalam hati.

Merasakan tangan Bidam melingkari perutnya hangat dan nafas Bidam yang berhembus di rambutnya, membuat Deokman merasa bersalah karena ia belum mampu memberikan Bidam sesuatu yang diharapkan pasangan yang sudah menikah, yaitu seorang anak dalam kandungannya.

Scene : Why she’s lie to me

“Ah..sialan, dokumen itu tertinggal di kamar” gerutu Bidam gusar di kantornya ketika ia mulai mau menulis laporan. Bidam terpaksa kembali ke istana ingang, ke kamar ratu.

Saat ia melewati ruang makan dilihatnya dayang yang waktu itu menyajikan nampan pada Deokman sedang membereskan nampan dan cangkir, yang ia yakini bahwa itu adalah bekas minuman Deokman.

“apa ini?” tanya bidam pada dayang itu sambil mengambil cangkir lalu menciumi baunya dan mencicipi sisa obat ditangannya, rasanya sangat pahit getir.

“aneh biasanya Deokman meminum herbal vitamin tapi rasanya tidak pahit begini, ini pasti ramuan obat, memangnya Deokman sedang sakit?” gumam Bidam bertanya-tanya.

Bidam menanyakan pada dayang itu obat apa ini tapi dayang tersebut tampak gugup dan ketakutan lalu ia mengelengkan kepalanya. Bidam kesal karena dayang tidak menjawab

“kau tahu aku ini siapa heh! Aku suami Yang Mulia dan Sangdaedung negeri ini, aku berhak tahu Yang Mulia sakit apa? dan ini obat apa? kau harus menjawabnya!” bentak Bidam kesal. Dayang hanya mengelengkan kepala menunduk tidak berani menjawab

“ampun tuan Sangdaedung, hamba tidak bisa menjawabnya, hamba takut Yang Mulia ratu akan murka. Bila tuan Sangdaedung memaksa, saya rela dihukum mati tuan. Silahkan Sangdaedung menghukum hamba” kata dayang itu menghiba. Bidam tahu bila ia memaksa dan menghukum dayang maka akan timbul konflik dengan Deokman.

“Baiklah aku tidak akan bertanya padamu tentang obat apa ini. Kau hanya perlu menjawab sejak kapan Yang Mulia minum obat ini? Pertanyaanku tidak bertentangan dengan perintah Yang Mulia bukan?” selidik Bidam. Dayang dengan ragu-ragu menjawab

“Yang Mulia minum obat ini sesudah jatuh sakit sejak dimulainya pemberontakan itu” jawab dayang takut-takut menunduk. Mendengar jawaban dayang, Bidam terhenyak kaget memegang kursi untuk menahan badannya yang limbung

“jadi Deokman sakit karena pemberontakan itu, karena aku? dia harus menderita seperti ini, harus menjalani akupuntur dan menyembunyikannya dariku?” pikir Bidam penuh sesal, Bidam mulai menyalahkan dirinya sendiri

‘seharusnya aku tahu, Deokman ini adalah salahku..salahku’ Bidam membatin.

Dengan gelisah dan terburu-buru Bidam segera menyelesaikan pekerjaannya. Ada sesuatu yang lebih penting yaitu berbicara dengan Deokman. Segera ia mencari Deokman ke seluruh istana tapi ia tidak menemukannya, Bidam mulai panic karena setahunya hari ini Deokman tidak mempunyai jadwal ke luar istana

‘apa Deokman ada urusan mendadak? Tapi pasti ia akan bilang padaku” pikir Bidam. Lalu ia menemui Chunchu dan menanyakan dimana Deokman.

“tidak aku tidak tahu Yang Mulia ada dimana, aku di ruanganku sepanjang hari ini. Jadwal keluar istana baru besok itupun hanya ke kantor riset saja” jawab Chunchu pasti.

“lalu kau ada dimana, Deokman?” gumam Bidam sambil berkeliling istana. Lalu Santak datang

“Sangdaedung, kata salah seorang penjaga istana, ia melihat Yang Mulia menuju ke rumah sakit istana” kata santak. Tanpa mengucapkan apa-apa Bidam bergegas menuju rumah sakit istana, dan benarlah dia melihat Alcheon sedang berdiri di depan pintu rumah sakit.

“Kapten Alcheon!!” serunya mendekati Alcheon yang terlihat terkejut kala melihat Bidam memanggilnya dan mendekatinya.

“ApaYang Mulia ada disini? Sedang ada urusan apa?” tanya Bidam. Alcheon terlihat kikuk dan tengah-tengah mencari jawaban pertanyaan Bidam, tapi ia tidak menemukan alasan yang tepat, yang keluar hanya kata-kata eh..eh.. tidak jelas.

“Bagaimana pengobatan Yang Mulia, apa berjalan lancar?” pancing Bidam

“eh.. jadi Sangdaedung sudah tahu. Yang Mulia sudah menceritakan padamu?” sahut Alcheon dengan wajah lega karena ia tidak perlu mencari jawaban bohong. Bidam mengangguk pelan.

“aku sangat mengkhawatirkannya” kata Bidam sambil melirik ke arah rumah sakit

“semua karena salahku” lanjut Bidam lagi

“Sangdaedung jangan merasa begitu karena sampai sekarang penyakit Yang Mulia tidak pernah kambuh lagi. Yang Mulia sepertinya sedang semangat melakukan pengobatan, Yang Mulia pernah mengatakan padaku sekarang tengah dilakukan pengembangan untuk pengobatan penyakit jantung. Memang tidak akan sembuh setidaknya penyakitnya tidak bertambah parah seperti raja Jinpyeong. Sangdaedung harus selalu mendukungnya” kata Alcheon lancar dan polos tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipancing Bidam.

DEG, Bidam sangat terkejut mendengar kata-kata Alcheon

‘jadi kau sakit jantung Deokman’ batin Bidam sedih, rasanya ia ingin menjerit putus asa

‘kenapa harus kau?’ tanyanya lagi dalam hati. Bidam menekan suaranya sedatar mungkin

“jadi Raja Jinpyeong meninggal karena penyakit itu?” tanyanya pada Alcheon, tetap saja suara tercekat Bidam yang keluar

“ya” jawab Alcheon tanpa curiga.

“aku akan masuk dulu” sahut Bidam berjalan memasuki rumah sakit.



Sabtu, 04 Desember 2010


Our Future Still Continue Chapter 67 part. 01: Rainy Day




Keesokan harinya

Pagi hari.
Kota Kumi, Shilla.
“bruuk..” “huft ini kotak yang terakhir..” ujar Il Woo sambil menghapus peluh dari keningnya. “apakah sudah semuanya?” tanya Yong Joon. “sudah..aku sudah memeriksa semuanya..kereta dan gerobak yang mengangkut pun sudah siap..” jawab Bi Ryu.  “apakah Nyonya sudah siap?’tanya Yong Joon pada Shi Yoon yang sedang mengasah ujung tombaknya. “Nyonya masih berada di kamarnya..mungkin sebentar lagi keluar..” jawabnya “sepertinya sekarang Nyonya sedang menulis surat..karena ia meminjam merpati pengantar surat dariku tadi..” sahut Dae Gil. “plak..plak..” terlihat merpati hitam terbang dari jendela kamar Deok Man. “tuh kan benar..” timpal Dae Gil. “sraak..” Deok Man melangkah keluar dari kamarnya dan menghampiri kelima hwarang itu. Yong Joon dan temannya segera bersiap dan memberi hormat padanya. “apakah semua sudah siap?” tanya Deok Man. “sudah..Nyonya..jika Nyonya mau, kita bisa berangkat sekarang..” jawab Yong Joon. “baiklah..kita berangkat..” ujar Deok Man sebelum masuk ke dalam tandunya. Yong Joon menaiki kudanya dan keempat hwarang lainnya berdiri di kedua sisi tandu. “berangkat..” seru Yong Joon memimpin rombongan.

Istana Ingang, Shilla
Yang Mulia Raja sedang berada dalam ruang kerjanya, bersama Bi Dam, Kim Yong Chun, dan Kim Seo Hyun. Mereka berempat sedang membahas kebijakan yang akan mereka buat selanjutnya. “hasil penjualan panen dan perdagangan tahun ini sangat bagus, kurasa tahun ini anggaran pertahanan negara bisa ditingkatkan…3x lipat mungkin..” “saya rasa juga begitu Yang Mulia…bagian pengembangan senjata dan pelatihan militer sangat memerlukan tambahan anggaran..ini proposal mereka…”ujar Kim Seo Hyun sambil menyerahkan 2 gulungan proposal. “jika kunaikkan 2x lipat apakah tak ada masalah Perdana Menteri Bi Dam?” tanya Yang Mulia Raja. ”saya rasa tidak akan masalah Yang Mulia…anggaran untuk sektor pendidikan masih sangat mencukupi, begitu juga dengan sektor pertanian, anggarannya sudah lebih dari cukup untuk dana cadangan jika seandainya terjadi gagal panen…” jawab Bi Dam. “lalu Pejabat Kim Yong Chun, bagaimana dengan tanggapan rakyat dan para bangsawan?apakah ada masalah dengan kebijakan yang sudah dikeluarkan sebelumnya?” tanya Yang Mulia Raja. “rakyat sangat puas dengan hasil panen tahun ini dan kestabilan harga di pasar…hanya saja mereka sedikit waswas dengan berita penyerangan di Wonju oleh Goguryeo..lalu dari para bangsawan,  juga tidak ada masalah dengan mereka..saya dan Perdana Menteri Bi Dam selalu mengawasi  mereka…mereka mengaku cukup puas dengan kebijakan ini, meskipun mereka juga berharap agar mereka bisa diberi keleluasaan lebih agar mereka bisa memperoleh keuntungan lebih besar..” Yang Mulia Raja menghela napas “hmm..mereka sepertinya belum benar-benar bisa merelakan kenyataan bahwa mereka itu harus berbagi terhadap yang kekurangan…kuharap kau dan Perdana Menteri selalu mengawasi mereka…apalagi mereka punya keinginan seperti ini…akan tetapi jangan sampai menimbulkan berprasangka buruk terhadap mereka..” “baik Yang Mulia..” jawab Bi Dam dan Kim Yong Chun serempak. “hamba memohon menghadap Yang Mulia..”  ujar seseorang dari balik pintu. “masuklah..” ujar Yang Mulia Raja. Seorang kurir  melangkah masuk lalu memberi hormat. “maaf Yang Mulia..Panglima Yushin mengirim surat untuk Yang Mulia..” ujar kurir itu sambil menyerahkan sebuah gulungan kepada Yang Mulia Raja. Yang Mulia Raja menerimanya dan segera membacanya “Panglima Yushin mengirim 4000 pasukan ke wilayah dekat perbatasan Shilla Baekje untuk apa?” komentarnya begitu selesai membaca surat itu. “maaf Yang Mulia, hamba kurang begitu paham..tapi sepertinya Tuan Panglima curiga terhadap aktivitas Baekje..”  jawab kurir itu. “ya..aku sudah mendengar cerita penyebab invansi Goguryeo dan gejolak politik yang terjadi di Baekje..kurasa jika ada kegiatan militer mungkin akan lebih ke arah  rencana kudeta terhadap Uija Baekje daripada invansi ke Shilla..dibandingkan dulu, sekarang, Pasukan Baekje tertinggal di bawah kita..”   “maaf Yang Mulia izinkan saya berbicara..” ujar Bi Dam. “ya Perdana Menteri?” “bukannya saya bermaksud untuk menyalahkan pendapat Yang Mulia…Panglima Yushin dan saya sependapat, rasanya jika lebih baik Shilla berjaga-jaga Yang Mulia jika terjadi situasi terburuk.. jika ternyata Raja Baekje berubah pikiran dan melihat ini sebagai suatu kesempatan emas lalu menyerang Shilla tiba mungkin jumlah pasukan mereka tidak seberapa tapi di saat seperti ini mungkin saja mereka bisa merebut 1-2 kota dari Shilla…saya rasa kita harus melihat segala kemungkinan meskipun fokus kita sekarang adalah Goguryeo..” “hmm..ya aku mengerti..kuakui kalian jauh lebih berpengalaman di medan perang dibanding aku…kurasa insting kalian sudah sangat terasah..aku percaya pada kalian..tapi kuharap agar fokus kalian pada Goguryeo dulu yang sudah jelas menyerang kita..” jawab Yang Mulia Raja. “baik Yang Mulia..”  jawab Bi Dam.

Kota Hongsong, Baekje.
“hamba mohon menghadap Tuan Panglima..” ujar seseorang dari balik pintu. “masuk..”  jawab Daemusin yang baru saja selesai berpakaian. Seorang kasim melangkah masuk lalu memberi hormat “Tuan…ada surat untuk Tuan..”  ujarnya sambil menyerahkan sebuah amplop merah untuk tuannya. Daemusin mengambil surat itu dan meminta kasimnya keluar sebelum ia membacanya. Seringai penuh kepuasan nampak di wajahnya begitu ia membaca surat itu. Tiba-tiba seorang wanita memeluknya dari belakang. “ada apa Shin Ae?” tanya Daemusin sambil menarik tangan wanita itu dan membalik badan untuk menatapnya. “aku ingin ikut pergi bersama Tuan..bolehkah aku ikut?aku akan mendampingi Tuan meskipun harus ke medan perang…” ujar wanita yang bernama Shin Ae itu memohon.  Daemusin hanya terdiam menatapnya lalu merangkulnya sehingga ia  bersandar di bahunya. “aku memang hanya bisa melayani dan mencintai Tuan..tidak seperti para jenderal yang bisa bertarung untuk Tuan..” Daemusin hanya diam saja mengusap rambut wanita yang sangat mencintainya itu.

Siang hari.
Kamar Putri Deokman, Istana Ingang.

Setelah selesai menyuapi putirnya, Bi Dam menemani si kembar bermain di tempat bermain mereka. “appa?” Yoo Na merangkak mendekat dan memberikan sebuah gelang kecil kepada ayahnya. Bi Dam tersenyum  menerimanya lalu mengusap kepala putrinya “terima kasih putriku…” “hamba mohon menghadap Tuan Perdana Menteri..” ujar seseorang dari balik pintu. “masuk..” ujar Bi Dam seraya berjalan menuju ruang depan. “sraak..” seorang kasim melangkah masuk dan memberi hormat. “ada apa?” tanya  Bi Dam. “ada surat untuk Tuan..yang dibawa merpati hitam..” ujar kasim itu sambil menyerahkan suratnya. “Biasanya Bi Ryu mengirim surat malam hari dan hanya sekali..astaga jangan-jangan mereka..” pikir Bi Dam dan langsung membuka surat itu cepat-cepat. Dan kekhawatiran itu sirna begitu ia melihat isi surat itu.

Selamat pagi suami dan kedua anakku…
Saat ini, aku sedang berada di penginapan kota Kumi dan akan segera berangkat ke Kota Taejon… aku dan yang lain baik-baik saja di sini…kalian sendiri bagaimana?Yun Ho , Yoo Na?kalian tidak nakal kan selama omma pergi...baik-baiklah kalian sama appa di sana… lalu bagaimana kabar suamiku yang sangat kucintai? kuharap anak-anak tidak membuatmu pusing, Bi Dam… jangan lupa untuk makan dan beristirahat …dan jangan terlalu mengkhawatirkan aku…percayalah..aku akan segera pulang dan kembali ke sisimu dan anak-anak…aku di sini sangat merindukanmu dan anak-anak…hampa rasanya, melewati hari-hariku tanpa kau di sisiku dan tanpa mendengar celoteh dan tangis anak-anak.. seperti ada bagian dari hatiku yang hilang…tapi aku tahu bahwa aku akan segera menemukannya kembali..kembali bersama kalian…jaga diri kalian baik-baik..
Yun Ho, Yoo Na…omma sangat menyayangi kalian…
Bi Dam...
 aku sangat mencintaimu..
Deokman

“aku juga sangat mencintai dan merindukanmu Deok Man..” gumam Bi Dam sambil tersenyum menatap suratnya. “appa?” panggil anak-anaknya. “ya..” Bi Dam segera menghampiri kedua anaknya lalu mengecup kening mereka satu persatu. “omma bilang omma sangat menyayangi kalian…kalian juga sangat menyayangi omma kan?” gumamnya sambil mengangguk menatap kedua anaknya. Kedua anak itu diam sejenak menatap ayahnya sebelum akhirnya mereka mengangguk. Bi Dam tersenyum lebar lalu mengusap kepala mereka berdua “meskipun mereka belum bisa mengatakannya, tetapi mereka juga sangat menyayangimu Deok Man..” gumamnya dalam hati.  Lalu ia berjalan menuju meja bundar untuk menulis surat balasan

Sore hari
Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
“huuft.. hujannya deras sekali…untung saja kita menemukan gubuk ini..lumayan untuk tempat berteduh..” ujar  Dae Gil sambil menggosok kedua tangannya yang kedinginan. “semoga saja sebentar hujannya berhenti..kalau tidak bisa-bisa kita bermalam di luar kali ini..” sahut Il Woo. Shi Yoon meletakkan tombaknya “yah..aku pun juga berharap demikian…kuharap Tuan Putri bisa beristirahat di penginapan  kota Taejon…”  “mau dimanapun kita akan menginap..kita harus lebih waspada sekarang..sekarang kita berada sangat dekat dengan perbatasan dengan Baekje begitu jugajika kita tiba di Taejon nanti…ingat perintah Perdana Menteri untuk kita mengenai ini..” sahut Yong Joon.  “sraak..” pintu gubuk terbuka.  “kalian masuklah..hujan semakin lebat…atau kalian berjaga bersama yang lain di samping yang lebih luas.. ” ujar Deok Man.  “maaf Nyonya..tapi lebih baik kami di sini saja..” ujar Yong Joon mewakili teman-temannya.  “srak..srak..” terdengar suara dari  arah semak-semak di depan gubuk tempat mereka berteduh. Il  Woo menyiapkan busurnya, Bi Ryu, Dae Gil,  dan Shi Yoon menyiapkan senjata mereka. “pengawal..bersiap!!” seru Yong Joon memerintahkan pengawal yang lain. “Nyonya..masuklah..” ujar Bi Ryu. Deok Man hanya terdiam di balik punggung Yong Joon, penasaran dengan apa yang ada di semak-semak itu. “srak..srak..” suaranya semakin mendekat.  Lalu dari balik semak munculah beberapa laki-laki berpakaian lusuh sambil menarik gerobak yang membawa tumpukan jerami tebal, diikuti dengan beberapa wanita yang juga berpakaian kumal sambil menggendong anak kecil. Mereka nampak takut begitu melihat pasukan  “siapa kalian?” seru Il Woo sambil mengarahkan panahnya ke arah orang-orang itu. Salah satu pria dari rombongan itu menjawab sambil menggigil menahan dingin “ka..kami..hanya penduduk biasa Tuan..dari Desa Kumi..kami sedang dalam perjalanan  ke desa Chun’an dekat Kota Taejon..”  Deok Man meletakkan tangannya di atas busur Il Woo dan golok besar Bi Ryu. “Nyonya?” gumam Bi Ryu dan Il Woo. Meminta mereka untuk menaruhnya. Hatinya tergerak oleh belas kasihan melihat rombongan itu. Deok Man melangkah keluar dari gubuk itu dan berjalan menghampiri rombongan itu, dengan sigap Dae Gil segera memayunginya “kalian masuklah berteduh di sini..kami tidak akan menyakiti kalian…” para anggota rombongan itu saling  memandang ragu satu sama lain. “kasihan anak-anak kalian..mereka masih kecil..” Deok Man menambahkan. Lalu mereka semua menundukkan kepala kepada Deok Man “kami sangat berterima kasih Nyonya…”

Malam hari.
Kamar Putri Deok Man, Istana Ingang. Shilla
Sejak sore hingga malam, hujan disertai petir turun tak kunjung henti.  “ctarrr..” suara petir mengagetkan Yun Ho dan Yoo Na yang sedang bermain ditemani Soo Hye. Spontan mereka pun menangis. Bi Dam yang sedang membaca laporan, segera meletakkan laporannya dan menghampiri mereka. Soo Hye menggendong Yun Ho dan Bi Dam menggendong Yoo Na. “sst…sayang..itu hanya petir..” gumamnya menenangkan Yoo Na. Hujan pun semakin deras disertai angin.  “semoga di sana cuacanya cerah..” gumamnya sambil menatap jendela.

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
Ternyata hingga malam, hujan tak berhenti mengguyur, sehingga Deok Man dan yang lainnya terpaksa menginap di gubuk. Gubuk itu terdiri dari 2 bangunan yakni bangunan rumah dan kandang hewan ternak yang kosong.Meskipun bangunannya sudah tua terbengkalai namun cukup lumayan untuk tempat berteduh di tengah hujan deras seperti ini. Bangunan rumah ukurannya sangat kecil, Deok Man yang akan beristirahat di sana. Tempat kandang hewan cukup luas sehingga para pengawal selain hwarang dan beserta rombongan pengungsi berteduh di sana. Para hwarang membangun kemah untuk tempat mereka istirahat karena tidak mungkin mereka akan berisitirahat 1 ruangan dengan Deok Man sedangkan kandang ternak juga sudah penuh.    “kurasa itu sudah cukup untuk menutup atap yang bocor..” ujar Deok Man sambil menatap ke arah  langit-langit yang sedang ditambal jerami oleh Dae Gil. “hup.” Dae Gil pun melompat turun dari kotak-kotak barang yang tadi disusunnya.  “terima kasih Dae Gil..” ujar Deok Man. Dae Gil hanya menunduk memberi hormat “selamat beristirahat Tuan Putri..” . “plak..plak..” terdengar suara kepakan sayap burung dari luar. “saya rasa itu adalah burung pengantar surat..” ujar Dae Gil. Ia berjalan keluar sebentar, lalu kembali ke dalam sambil membawa seekor merpati hitam. “surat ini sepertinya untuk Nyonya..” katanya sambil memberikan kertas surat kepada Deok Man.  “ya kurasa ini untukku..” ujar Deok Man begitu melihat namanya tertulis di bagian luar surat itu. “kalau begitu selamat beristirahat Nyonya…” Dae Gil memberi hormat lagi sebelum meninggalkan ruangan. Deok Man pun segera duduk dan membuka suratnya.

Aku bingung aku harus mengucapkan salam apa tapi kupikir surat ini pasti baru sampai kepadamu malam ini jadi kuucapkan
Selamat malam istriku yang cantik
Aku sangat senang mendengar kau baik-baik saja…aku dan anak-anak di sini baik-baik saja..Yun Ho dan Yoo Na sangat merindukanmu..bahkan terkadang mereka tak henti-hentinya memanggil ommanya dan menunjuk-nunjuk lukisan wajahmu… kuharap kau di sana baik-baik selalu..jangan paksakan dirimu untuk melakukan perjalanan  jika kau lelah, istirahat dan makanlah yang cukup …kami di sini akan bersabar dan setia menunggumu...
Kau tahu, hari ini ketika aku bilang pada anak-anak bahwa kau sangat menyayangi mereka dan bertanya apakah mereka juga menyayangi ommanya, mereka mengangguk Deok Man..mereka juga sangat menyayangimu meskipun mereka belum bisa mengatakannya..
Dan jika kau bertanya mengenaiku…aku hanya bisa menjawab aku sangat merindukanmu Deok Man…kau mungkin baru saja pergi selama 3 hari namun bagiku rasanya seperti berabad-abad lamanya…tak ada hal yang lain yang kuinginkan selain kepulanganmu dengan selamat kembali ke sisiku...meskipun suaraku tak bisa kudengar namun kuharap tulisan ini bisa menyampaikan perasaanku padamu…aku mencintaimu Deok Man..sangat mencintaimu… 
Jaga dirimu baik-baik di sana…
Bi Dam.

Air mata Deok Man menetes begitu selesai membacanya. Kebahagiaan dan rasa rindu yang amat sangat mengalir membasahi pipinya.  

“setelah makan yang pedas tadi, aku menjadi haus..” gumam salah satu pengawal yang sedang duduk-duduk di ruang kandang “aku juga..” sahut pengawal yang lain. “ini Tuan silahkan minumnya…setelah makan yang pedas, tenggorokan akan menjadi sakit jika meminum air hanya sedikit..” ujar salah seorang laki-laki penduduk Desa Kumi sambil membawa nampan berisi gelas-gelas air. Para pengawal itu dan 9 temannya  segera meminumnya. “aah..segarnya..” ujar salah seorang pengawal. “kau membawa jerami segitu banyak untuk apa?” tanyanya sambil menunjuk ketiga gerobak yang berisi jerami. “itu untuk kami pakai di desa Chun’an..lagipula anak-anak juga bisa beristirahat di sana jika lelah..” jawab laki-laki itu. Tak lama kemudian seorang pengawal mulai mengeluh “haduh kenapa aku jadi mengantuk seperti ini ya?” “iya..aku juga..”keluh yang lainnya. Para rombongan itu hanya tersenyum menatap para pengawal yang mulai bertumbangan ke tanah satu per satu. “kau!..kau memasukkan ap…pa..”  ujar pengawal yang terakhir pingsan sebelum ia tak sadarkan diri. Para anggota rombongan itu saling menatap satu sama lain dan mengangguk, seakan-akan mereka sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan setelah ini.

Istana Chang’an, Wei.
“Perwira Er Wu mohon menghadap Tuan Putri..” ujar seorang kasim dari balik pintu ruang kerja Putri Huang Shi. “masuklah..” jawab Huang Shi yang sedang membaca laporan di hadapannya. “sraak..” Er Wu segera melangkah masuk dengan terburu-buru “gawat Tuan Putri..ini gawat..” ujarnya. “ada apa?apa kau sudah mendapat kabar dari mata-mata?” tanya Putri Huang Shi. “ya Tuan Putri..” Er Wu segera menyerahkan dua buah gulungan kepadanya. Huang Shi menerimanya dan segera membaca gulungannya yang pertama. “apa kau sudah menanyakannya langsung kepada pamanku?” tanya Huang Shi. “sudah Tuan Putri..saya sudah bertanya langsung pada beliau..dan beliau meminta ini agar dirahasiakan…”  jika benar senjata itu dicuri berarti yang kemarin itu pelakunya adalah...” “ya Tuan Putri saya juga berpikir demikian…  tak hanya itu..mata-mata kita juga menemukan sesuatu yang mengejutkan..”  Huang Shi pun segera membaca gulungan yang satu lagi. “i..ini…berarti saat Yeon Gaesomun berkunjung ke sini beberapa bulan yang lalu, mungkinkah mereka…” Er Wu mengerti maksud Huang Shi “ya Tuan Putri dan pada pertemuan mereka yang terakhir di perbatasan Wei bulan lalu, mereka menyamar…namun rupanya ada mata-mata kita mengenalinya…”  “kalau begitu..segera siapkan pengantar surat  tercepat yang kita miliki…aku akan segera mengirim surat untuknya memberitahukan hal ini..” ujar Huang Shi. “baik Tuan Putri..” jawab Er Wu sambil memberi hormat lalu pergi keluar ruangan. “semoga saja ini belum terlambat..” gumam Huang Shi.

Kamis, 02 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 15

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 15

Scene : WHAT A SECRET?

Ruang makan ratu

Saat sarapan, Chunchu datang menemui Deokman dan Bidam, Deokman lalu mengajak Chunchu untuk sarapan bersama-sama.

“Aku ingin memberikan selamat secara pribadi padamu Sangdaedung” kata Chunchu disela-sela makannya.

“Terima kasih, Pangeran Chunchu” jawab Bidam

“Kau tentunya lega sekarang, kini namamu telah baik kembali. Semua mengelu-elukanmu sebagai pahlawan, keberhasilanmu merebut Benteng Daia, juga membongkar penyelundupan besi serta membantu Panglima Yushin merebut kota Baeksong. Tentunya Shilla bangga mempunyai perdana menteri yang kompeten seperti anda” ujar Chunchu tulus.

“Anda terlalu berlebihan Pangeran, semua saya lakukan karena cinta saya pada negeri ini dan pada Yang Mulia, kelak bila anda naik tahta, bila diperlukan, saya pun dengan senang hati akan melakukan hal sama, demi terwujudnya cita-cita Shilla” kata Bidam merendah.

“Chunchu..karena kau ada disini, aku sekalian akan menyuruh kau mempersiapkan diri untuk naik tahta. Aku akan segera meletakkan tahta ini dan hidup biasa bersama Bidam” kata Deokman penuh keyakinan. Bidam dan Chunchu terkejut karena tidak menyangka akan secepat itu.

“Yang Mulia, anda yakin..! maksud saya, saya tahu rencana Yang Mulia untuk turun tahta tapi saya tidak menyangka akan secepat ini karena saat ini kita baru satu langkah melakukan unifikasi dan itupun masih terlalu dini untuk dikatakan berhasil” kata Chunchu

“Ya, aku tahu. Unifikasi ini bukan semudah membalikkan telapak tangan tapi memerlukan waktu yang cukup panjang, aku percaya kau bisa meneruskannya. Sedangkan aku.. aku memilih untuk mendukungmu dari belakang juga Bidam yang akan selalu membantumu” jawab Deokman.

Hal itu diamini Bidam dengan mengangguk. Beberapa saat kemudian, salah satu dayang membawa nampan. Deokman melihatnya dan mengetahui isi dari nampan itu, kemudian dengan satu delikan mata Deokman, dayang tersebut langsung mundur tidak jadi menyajikan nampan itu di meja. Bidam melihat kejadiaan itu tapi tidak bertanya pada Deokman, karena ia belum yakin apa yang terjadi.

“Sebaiknya kita mulai bekerja hari ini” kata Deokman menyudahi sarapannya dengan nada mengusir.

Bidam dan Chunchu mengerti lalu mereka pamit mundur. Bidam mengisyaratkan agar Chunchu jalan lebih dulu, setelah Chunchu berlalu, Bidam samar-samar mendengar suara Deokman memarahi dayang itu

“sudah kubilang, nanti saja! bila aku sendirian” kata Deokman

“maafkan hamba Yang Mulia, hamba tidak tahu Sangdaedung sudah kembali, maafkan hamba” jawab dayang tersebut.

Bidam jadi penasaran ‘kenapa Deokman jadi sewot begitu, memang nampan itu isinya apa? Mengapa disajikan kalau tidak ada aku?” tanya Bidam dalam hati lalu Bidam pergi karena Deokman akan keluar dari ruangan. Tidak enak kalau ketahuan, kalau ia menguping Deokman.

Scene : BUILD ME A COMFY HOUSE

Tempat favorit Deokman

Kasim mengumumkan bahwa Sangdaedung Bidam dating

“kau datang” kata Deokman menoleh dan tersenyum

“apa Yang Mulia memikirkan sesuatu?” tanya Bidam

“hmm..hanya sedikit yang kupikirkan yaitu penanganan untuk menghindari ketidakpuasan para bangsawan agar masalah penyelundupan tidak terjadi lagi di kemudian hari”

“sebagai seorang pemimpin, memang tidak mudah untuk berusaha memuaskan keinginan semua pihak, Yang Mulia. Ada kalanya jika kau merasa telah bersikap bijaksana dan adil pada semua pihak tapi segelintir orang menganggap kau tidak bijaksana dan adil malah menganggap kau otoriter dan pemilih. Yang Mulia harus ingat rakyat bagaikan anak kecil yang selalu merengek tidak hentinya sampai semua keinginannya terpenuhi, tapi sifat manusia selalu tidak pernah puas akan sesuatu. Tapi kau selalu berusaha memenangkan hati semua orang, itu yang membuatmu berbeda dengan penguasa yang lain, kau bagaikan ingin merangkul semuanya dalam dekapanmu dan melimpahkan mereka dengan kasih sayang” kata Bidam berusaha menghibur Deokman.

“aku teringat seseorang yang pernah mengatakan hal ini padaku tentang rakyat bagaikan anak kecil yang merengek-rengek” jawab Deokman sambil tersenyum, tentu saja dia mengingat Mishil.

“benarkah, siapa?” tanya Bidam, Deokman hanya tersenyum menoleh pada Bidam, bagaimanapun Bidam adalah anak Mishil kadangkala Deokman selalu melihat pemikiran Mishil sama dengan pemikiran Bidam. Tapi Deokman memilih tidak menjawab pertanyaan Bidam dan melanjutkan perbincangannya.

“aku berharap sampai saat ini tidak ada yang meresahkanku, aku sangat senang karena rakyat bisa hidup tenteram dan tenang. Tidak ada hal yang sangat mengangguku ini karena kau ada di sisiku, aku bisa bertukar pikiran dengan mu, membicarakan semua masalah yang terjadi lalu mencari solusi yang tepat. Aku merasa bersyukur memilikimu” lanjut Deokman, Bidam tersenyum mendengarnya.

“apa Yang Mulia benar-benar yakin dengan keputusanmu untuk secepatnya turun tahta? Aku bersedia menunggu kalau Yang Mulia benar-benar siap” tanya Bidam

“apa kau keberatan bila aku melepaskan kedudukanku? menjadi tuan putri lagi? Atau kau tidak mau kita menjalani hidup sebagai suami istri biasa?” selidik Deokman.

“bukan begitu Yang Mulia, aku hanya khawatir bila Yang Mulia merasa menyesal mengingat perjuangan Yang Mulia untuk sampai ke titik ini... aku tidak mau hal itu terjadi” kata Bidam tenang lalu melanjutkan

”justru aku sangat ingin kita menjalani hidup sebagai pasangan suami istri normal lebih dari apapun. Aku sudah tidak tahan melihat kau kadang-kadang tertekan dan berpikir keras sebagai seoprang penguasa. Aku sangat mengkhawatirkanmu karena aku menyayangimu Yang Mulia” Deokman kembali tersenyum mendengar jawaban Bidam

“setelah turun nanti Yang Mulia mau kita tinggal dimana?” tanya Bidam

“rasanya aku sudah bosan tinggal di lingkungan istana, aku ingin tinggal diluar istana, di sebuah rumah yang nyaman untuk tinggal dan membangun sebuah keluarga” jawab Deokman

“aku sudah menduga, Yang Mulia pasti meminta hal itu. Sebenarnya aku telah menyiapkan sebuah rumah yang menurutku sih cukup nyaman, aku hanya tinggal merapikannya dan menata ruang-ruangnya agar kau lebih nyaman tinggal disana. Apa Yang Mulia mau ikut menatanya? Agar sesuai dengan selera Yang Mulia” jawab Bidam

“tidak aku serahkan padamu saja, aku ingin itu jadi kejutan bagiku. Lagipula aku percaya kau pasti punya selera yang bagus!” kata Deokman puas

“Baiklah tapi nanti Yang Mulia jangan protes ya, kalau ada yang tidak disukai, janji?!” canda Bidam. Deokman mengangguk tersenyum begitu juga Bidam.

“Sebelum penyerahan tahta, Chunchu memintaku untuk memberikan izin karena dia akan mengadakan perjalan ke Negeri Sui menemui beberapa kerabatnya dan mempererat hubungan Shilla dan Sui” kata Deokman

“Aku mengerti, setelah menjadi raja, meluangkan waktu untuk pergi kesana tentu akan lebih sulit” jawab Bidam

“Aku akan mengadakan rapat dewan mengenai rencana Yang Mulia dan segera setelah Pangeran Chunchu kembali, aku akan langsung menetapkan waktu yang tepat dan mempersiapkan segalanya” lanjut Bidam

“Baiklah.. bagiku lebih cepat lebih baik” Deokman tersenyum pada Bidam, Bidam membalasnya.

Lalu mereka memandang kedepan menatap Soerabeol seluas mata memandang, membayangkan masa depan nanti yang akan mereka jalani.

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 14

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 14


WARNING RATED 17+

udah diperingatkan ya jadi jangan komplain..


Scene : I‘m BACK TO HOLD YOU TIGHT

“Apa benar yang kau katakan itu, Sangdaedung telah kembali?” tanya Deokman pada Alcheon perlu kepastian, saat itu Deokman sedang berada di tempat favoritnya.

“Ya Yang Mulia” jelas Alcheon.

“aku akan menemuinya” kata Deokman sambil berlalu cepat menuju istana ingang ‘dia pasti menunggu di kamarku’ pikir Deokman tapi kata penjaga Bidam tidak masuk ke kamar ratu. ‘lalu dimana dia, oh.. dia ada di kamar tidurnya’ pikir Deokman.

Deokman dengan bergegas menuju kamar Bidam. Dan benar saja Bidam ada disana, Bidam mulai melepaskan baju zirahnya tapi ‘sreek’ pintu terbuka dan dilihatnya Deokman berjalan cepat menuju ke arahnya.

“Bidam..kau disini.. kau sudah kembali..” kata Deokman cepat-cepat sambil memeluknya, Bidam yg masih berpakaian perang lengkap balas menyambutnya dan mereka berpelukan erat seakan-akan tidak mau dipisahkan lagi.

“Deokman.., aku sangat rindu padamu, aku sangat bahagia melihatmu lagi” balas Bidam sambil melepaskan pelukannya pelan lalu mencium kening Deokman

“bagaimana kabarmu ratuku? kau baik-baik saja kan?” tanya Bidam

“aku baik-baik saja, kau bagaimana? Aku mendengar kau terluka, benarkah?” balas Deokman, Bidam mengangguk tersenyum, raut wajahnya Deokman berubah cemas

“tapi sepertinya sudah sembuh sekarang, kau tidak perlu cemas” jawab Bidam

“tetap saja, aku khawatir” kata Deokman, Bidam tersenyum

“mengapa kau disini? Aku pikir kau akan segera menemuiku” tanya Deokman

“tadinya begitu tapi aku putuskan untuk membersihkan badanku dulu sebelum memenemuimu” jawab Bidam

“begitu ya.. baiklah, aku akan mengadakan pertemuan di wolseon sekarang mengenai kedatanganmu dari medan perang juga keberhasilanmu membongkar penyelundupan itu, tapi sebelumnya izinkan aku melakukan tugas sebagai seorang istri” kata Deokman sambil melepaskan satu persatu baju zirah Bidam, Bidam hanya tersenyum bahagia dan memperhatikan Deokman melepaskan pakaiannya.

Setelah Bidam bertelanjang dada, otot-otot perut dan tangannya berbentuk karena sering berlatih

“badanmu penuh luka dan memar Bidam, apakah ini luka yang dulu? Kau terluka di tempat yang sama, tampaknya lukanya semakin lebar” kata Deokman prihatin sambil memperhatikan beberapa luka dan memar di tubuh Bidam, terutama luka di bahu Bidam yang masih terbebat perban.

“ini cuma luka-luka kecil tidak apa-apa kok” jawab Bidam, lalu Deokman memeluk Bidam pelan dan Bidam merasakan ada tetes air yang hangat didadanya

“Deokman kau kenapa?” tanya Bidam sambil mengangkat lembut dagu deokman dan menatapnya

“bagaimanapun aku seorang wanita Bidam, seorang istri yang sedih ketika melihat tubuh suaminya penuh luka dan memar karena berperang, tapi saat kau memerlukan perhatianku aku tidak bisa melakukannya karena aku bukan istri biasa, aku harus melakukan tugasku sebagai raja, padahal aku ingin sekali membasuh, membersihkan, dan mengobati luka-lukamu” jawab Deokman sedih air matanya masih menetes. Bidam menatap Deokman lembut dan menghapus air mata Deokman dengan jarinya tangannya

“kau masih bisa melakukannya nanti, bila kau sudah menyelesaikan tugasmu, kau istri yang baik Deokman, aku sangat mencintaimu” kata Bidam lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Deokman cukup lama dengan penuh kerinduan.

Setelah itu Deokman berkata

“kau bersiaplah, aku akan menyambutmu di aula wolseon” Bidam menganggukkan kepalanya lalu Deokman keluar dari kamar Bidam.

Kamar tidur ratu..

Malamnya, Deokman memenuhi janjinya untuk membersihkan dan mengobati luka-luka Bidam, dengan hati-hati dan penuh kasih sayang Deokman melakukannya, Bidam memperhatikan dan menikmati semua perlakuan Deokman. Ketika Deokman selesai mengobati luka Bidam yang ada di punggungnya, Deokman memeluk tubuh Bidam dari belakang

“Bidam..kau tahu aku sangat merindukanmu, saat kau tak ada di sampingku rasanya aku kembali sendirian. Tidak ada yang menemaniku saat sepi, tak ada yang menghiburku kala gundah. Aku takut sesuatu terjadi padamu” gumam Deokman lirih dan memeluk Bidam erat. Air matanya bergulir membasahi punggung Bidam entahlah kenapa ia sangat ingin menangis dan merasa sedih, kemudian Bidam membalikkan badannya. Ditatapnya mata Deokman teduh, kemudian ia mengelus rambut Deokman dan memegang erat tangan Deokman.

“Aku juga sangat merindukanmu deokmanku, di dunia ini aku hanya memilikimu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku selalu memikirkan dirimu saat aku jauh disisimu dan selalu mengingatmu karena aku sangat mencintaimu” balas Bidam.

Deokman membenamkan kepalanya ke dada Bidam, menangis sejadi-jadinya menumpahkan curahan hatinya pada Bidam, sekarang ia merasa menjadi wanita yang rapuh di depan Bidam, sebagai wanita yang rindu pada suaminya, bukan sebagai wanita penguasa yang kuat dan tegar. Bidam memeluk Deokman erat, membiarkan wanita itu menangis sepuasnya

“aku akan selalu ada disisimu, melindungimu, dan membuatmu nyaman ada disampingku, aku janji deokman. Kau harus percaya padaku” bisik Bidam sambil mencium kepala istrinya, Deokman mengangguk lemah tanpa bersuara masih dalam dekapan Bidam. Kemudian Deokman mengangkat kepalanya dan menatap Bidam tersenyum, disentuhnya pipi Bidam lembut tanda dia sudah lebih lega sekarang. Bidam tersenyum membalas.

Lalu mereka berciuman lembut dan tanpa melepaskan ciuman, mereka menanggalkan pakaian masing-masing.

Tangan Bidam menelusuri seluruh tubuh Deokman dan mulai mmeraba ke arah dada dan bagian bawah lalu mencium bibir Deokman, menulusuri leher dan bagian dadanya.

“aahh…Bidam..” desah Deokman ketika ciuman Bidam mulai mengarah menuju perut dan menulusuri ke bawahnya, tangan Deokman memegang erat pundak Bidam.

“aku sangat menginginkanmu…” bisik Bidam saat Bidam kembali ke atas menghadap wajah Deokman, Deokman tersenyum membalasnya dan memejamkan mata ketika Bidam mulai menyerangnya kembali dengan bibirnya lalu mereka saling menikmati setiap kecupan, sentuhan, rangkulan dan ciuman yang menjelajahi setiap bagian dari tubuh mereka tanpa ada satupun yang terlewatkan, seolah malam ini adalah sebagai pelampiasan kerinduan mereka selama beberapa minggu tidak bertemu dan bercinta penuh cinta dan gairah.

Bidam mengerang pelan ketika dia merasakan sudah mencapai orgasme sesaat setelah Deokman pun mengalami hal yang sama. Mereka berdua bertatapan dan tersenyum.

“Aku mencintaimu Deokmanku” bisik Bidam di telinga Deokman setelah percintaan mereka, nafas Bidam terasa panas memburu di telinganya, Deokman membalasnya sambil mengecup pipi Bidam

“aku juga Bidam”. Lalu mereka tidur berpelukan erat.

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 13

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 13

SCENE : FEMINIME GUY

Jungsae-rang berhasil menahan mereka, air muka Han SangJi kelihatan ketakutan ketika Jungsae-rang mengacungkan pedang ke arah mereka. Jungsae-rang merasa menang sesaat dan menjadi lengah karena mengira lawannya tak berkutik tapi dia salah, dengan gerakan cepat Han SangJi membentangkan kipasnya dan menyingkirkan pedang Jungsae-rang tiba-tiba, sehingga pedang Jungsae-rang terpental, lalu dengan gerakan cepat Han SangJi menyapu kakinya pada kaki Jungsae-rang sehingga Jungsae-rang terjatuh mendaratkan bokongnya di tanah.

Jungsae-rang yang masih terkejut dengan gerakan Han SangJi, mundur beringsut mencoba menghindari serangan kaki Han SangJi, ternyata pria kemayu ini cukup mempunyai ilmu silat dan memakai kipas sebagai senjatanya. Jungsae-rang akhirnya bisa berdiri dan memasang kuda-kuda tapi Han SangJi melemparkan kipasnya alih-alih boomerang ke arah dada Jungsae-rang dan mengenainya, lalu dengan salto di udara, Han SangJi menendang dengan kakinya sehingga Jungsae-rang mundur beberapa langkah sambil menahan dadanya kesakitan. Han SangJi berjalan pelan kemudian mengambil kipasnya dari atas tanah juga mengambil pedang Jungsae-rang lalu mendekati Jungsae-rang sambil mengacungkan pedangnya dengan gerakan mau menghabisi nyawa Jungsae-rang. Lalu dengan suara kemayu khasnya

“ah.. sayang sekali aku harus membunuhmu, aku menyukaimu. Tapi kita berada di posisi yang berlawanan” ujar Han SangJi dengan senyum genitnya, Jungsae-rang mengerutkan mulutnya menahan sakit sekaligus geli mendengar perkataan Han SangJi. Hampir saja pedang akan menyabet kepala Jungsae-rang ketika

“trang” pedang Bidam menahan laju pedang Han SangJi untuk membunuh Jungsae-rang.

Dua pria tampan dengan dua karakter yang jauh berbeda saling berhadapan dan menatap tajam, Bidam dengan tatapan dinginnya yang khas serta Han SangJi dengan tatapan genitnya sambil terus menyungingkan senyum seperti wanita penggoda. Bidam memulai menyerang duluan tapi Han SangJi berhasil menghindar, tangan kiri Han SangJi memegang kipas dan tangan kanannya memegang pedang, setelah beberapa gerakan saling serang, Bidam berhasil melayangkan kakinya di punggung Han SangJi kala salto di udara, tapi Han SangJi kembali berbalik dan melakukan salto balasan sambil menyabetkan kipasnya pada bahu Bidam yang tak terlindungi karena Bidam memakai baju penyusup, luka lama Bidam terbuka kembali saat terluka karena serangan Bojong. Bidam secara refleks mengaduh karena darah mengucur dari bahunya..

Jungsae-rang terkejut, Han SangJi tersenyum puas.

Sementara Bidam dan Han SangJi berkelahi, pasukan bantuan yang dikirim Deokman datang. Lalu dengan mudah mereka menyergap dan menangkap para penyelundup.

“Sangdaedung!” seru Jungsae-rang ketika melihat Bidam terluka, Jungsae-rang segera menyongsong Bidam, dan menatap geram pada Han SangJi lalu Jungsae-rang mulai menyerang dengan sekuat tenaga. Bidam melemparkan pedang ke Jungsae-rang dan Jungsae-rang menangkapnya lalu Bidam memegang lukanya. Sebenarnya Bidam bisa saja mengalahkan Han SangJi tapi ia ingin memberikan kesempatan pada Jungsae-rang untuk melawan Han SangJi dan menambah pengalaman ilmunya. Hanwook-rang berlari mendatangi Bidam dengan sikap siaga karena Jungsae-rang sedang melawan Han SangJi, Hanwook-rang ingin maju membantu Jungsae-rang tapi dihalangi Bidam.

“biarkan dia, Jungsae-rang pasti bisa mengatasinya” tapi perkiraan Bidam salah.

Han SangJi bukan lawan sebanding bagi Jungsae-rang dengan dua senjata ditangan Han SangJi yaitu kipas dan pedang, Han SangJi berhasil melukai Jungsae-rang dengan menyabetkan pedang di paha kiri Jungsae-rang. Melihat itu Hanwook-rang maju dan menyerang Han SangJi yang belum terluka sekalipun, Bidam mendekati Jungsae-rang dan berusaha melihat lukanya

“kau tidak apa-apa?” tanya Bidam pada Jungsae-rang yang meringgis kesakitan kemudian mengelengkan kepalanya. Bidam merasa tidak sabar lalu mengambil pedang dari tangan Jungsae-rang dan mulai menyerang Han SangJi, Han SangJi berhasil menendang dada Hanwook-rang dan membuatnya mundur. Bidam maju dan mengayunkan pedangnya

“trang – trang” Bidam terus menekan Han SangJi dengan gerakan memutar angin maju ala Bidam dengan pedangnya. Han SangJi terpojok lalu membalikkan diri menyerang Bidam lewat bawah dengan kipasnya tapi Bidam sigap, kipasnya terkena pedang Bidam, lalu robek dan terlempar jauh. Rupanya kipas Han SangJi adalah senjata utamanya terbukti setelah kipasnya terlempar Han SangJi semakin mudah diserang Bidam. Akhirnya setelah beberapa serangan Han SangJi menyerah setelah pedang Bidam menyabet bahu dan lengan dan sedikit dibawah ketiaknya. Bidam menghela nafas panjang dan memandang Han SangJi yang berlutut di bawah menahan sakit lukanya.

“hhmm…aku pikir pria sepertimu tidak mempunyai keahlian pedang yang lumayan hebat, tapi ternyata aku salah, aku mengakuinya dan aku kagum padamu” kata Bidam, Han SangJi menengadah dan memandang Bidam dengan kesal tapi tersanjung karena ucapan Bidam.

Kediaman Gubernur Cholyuk : Bangsawan Han Sangmyul

“Apakah semuanya sudah diamankan?” tanya Bidam pada seorang kolonel yang melaporkan bahwa tahanan sudah dikumpulkan. Bidam tengah duduk dan diobati lukanya oleh seorang tabib walaupun agak meringgis tapi Bidam tetap menahan sakit lukanya.

“aku minta untuk Han SangJi harap dipisahkan dengan yang lainnya karena dia agak istimewa” pinta Bidam

“baik Sangdaedung”

“laporkan kerugian di pihak kita, dan juga semua data mengenai penyulundupan ini, besok pagi”

“baik Sangdaedung, hamba permisi” hormat si kolonel dan Bidam mengangguk. Kemudian datang nando yang mengantar surat dari Deokman. Bidam membacanya dan tersenyum, kemudian Bidam berbaring di tempat tidurnya sambil memeluk surat dari Deokman.

“Deokmanku, sangat lelah hari ini..aku ingin segera bertemu denganmu” gumam Bidam sambil menatap langit-langit kamarnya dan tertidur.

Besoknya, Bidam mengadakan pertemuan dengan beberapa pejabat di Cholyuk untuk membahas penyelundupan ini.

Bangsawan Han SangMyul dipindahtugaskan ke daerah yang lebih terpencil dan Han SangJi dan beberapa rekannya dibawa ke Soerabeol untuk diadili.

Bidam mempersiapkan dirinya untuk kembali ke Soerabeol, untuk bertemu dengan wanita yang sangat dia rindukan selama ini.



FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 12

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 12

SCENE : EFFECT OF DEOKMAN’S POLICY

Di suatu tempat, tepi sungai di daerah Cholyuk..

Jungsae-rang dan Hanwook-rang menemui Bidam

“Bagaimana hasil penyelidikanmu?” tanyanya pada Jungsae-rang

“Ada yang mengherankan Sangdaedung, kegiatan mereka tiba-tiba berhenti dan tidak ada aktivitas yang mencurigakan” lapor Jungsae-rang lalu Bidam menatap Hanwook-rang

“menurut pria petani itu, mereka menyerahkan hasil tambang pada seseorang bernama “Na Bi’ dan orang itu tidak pernah kelihatan karena selalu menutupi identitasnya, namum pernah si petani itu mendengar suara ‘Na Bi’ berbicara seperti seorang wanita” lapor Hanwook-rang ”hhmm...ini semakin rumit” kata Bidam berpikir sambil melipat tangan didadanya.

“Aku harap siang ini kau menerima laporanku Deokman, dan kuminta kau memberikan keputusan yang bijak mengenai masalah ini” gumam Bidam

“Baiklah.. untuk saat ini kita hanya menunggu..dan mencari petunjuk baru..laksanakanlah tugas kalian mengawasi pertambangan itu dan tempat mereka mengumpulkan besi-besi itu”

Perintah Bidam pada Jungsae-rang dan Hanwook-rang

Ruang kerja ratu…

Deokman tengah membaca laporan dari Bidam yang dikirimkan kurir, air mukanya tampak berubah keruh dan gusar, setelah selesai dia memanggil kasim,

“panggil Pangeran Chunchu, Kim Youngchun, Kim Seohyun dan Kapten Alcheon” perintah Deokman, lalu mereka semua pergi

Deokman membuka surat satu lagi yang dibungkus amplop merah dari Bidam dan membacanya

“ratuku, maafkan aku tidak segera menemuimu tapi sesuatu terjadi di cholyuk dan aku tidak mungkin diam saja, bila ini terus dibiarkan maka kita akan menghadapi pemberontakan dari para bangsawan sekali lagi. Aku sangat mengkhawatirkanmu dan aku sangat merindukanmu, aku ingin segera memelukmu dalam dekapanku. Aku akan segera menyelesaikan masalah disini lalu menemuimu. Aku mencintaimu, ratuku, deokmanku. Bidam”

Deokman membacanya sekali lagi dan tersenyum..”aku juga sangat merindukanmu, Bidam”

Deokman menuliskan balasan:

“Bidam, aku sangat menghargai setiap yang kau lakukan untuk Shilla dan untukku. Aku minta kau hanya menyelidiki siapa si penyelundup itu dan menangkapnya dan segera kembali ke Soerabeol. Untuk selanjutnya agar hal ini tidak terulang di provinsi manapun, aku akan memikirkan jalan keluarnya. Andai kau ada disini dan membantuku, semuanya akan lebih mudah. Aku juga mencintaimu, Bidam.

Setelah memerintahkan kurir itu pergi membawa surat balasan untuk Bidam. Kemudian datanglah para staff Deokman.., setelah mereka duduk,

“aku mendapat laporan dari Sangdaedung Bidam bahwa di Cholyuk ada penyelundupan bijih besi dari pertambangan liar dan Bidam sedang menyelidiki tentang hal ini. Yang aku khawatirkan adalah mereka menjual secara diam-diam pada Baekje dan Goguryo, karena bijih besi dari Cholyuk sangat baik kualitasnya” kata Deokman

“Dari pertambangan liar? Berarti di Cholyuk terdapat pertambangan lain selain yang dimiliki resmi oleh kerajaan? Selama ini supply bijih besi dari Cholyuk selalu memenuhi jumlah yang kami minta, bila mereka menyelundupkan berarti hasil pertambangan melimpah” timpal Kim Youngchun

“itulah yang kuperkirakan, aku harus menghentikan hal ini, hal ini bisa terjadi di provinsi lain bukan hanya bijih besi saja tapi hasil bumi Shilla yang lain juga hasil pertanian dan perkebunan” kata Deokman

“Para Bangsawan jelas mengadakan aksi ini untuk menutupi kerugian akibat kebijakan Yang Mulia” timpal Chunchu

“benar, aku kira sekarang saatnya juga aku harus merangkul mereka dan membuat mereka merasa tidak dirugikan” jawab Deokman

“apa Yang Mulia sarankan?” tanya Kim Seohyun

“aku akan mengadakan sistem tender atau lelang pada setiap hasil bumi yang dimiliki oleh Shilla, aku serahkan kepada pihak bangsawan untuk mengelolanya secara bebas dan memberikan kontribusi pada pihak istana sebagai gantinya, bagi siapa saja pihak bangsawan yang lolos kualifikasi yang kita tetapkan dan mampu secara keuangan maka aku akan menunjuk bangsawan itu sebagai pengelola hasil bumi dan berhak menjualnya pada pihak manapun tapi tentu saja aku akan mengeluarkan peraturan mereka tidak boleh menjual langsung pada pihak musuh” papar Deokman

“tapi nanti akan terjadi monopoli perdagangan” sergah Chunchu

“itu akan lebih baik sehingga pihak istana hanya memantau dan mengawasi satu pihak bangsawan saja sehingga lebih terkendali, bukankah lebih mudah bagi kita mengawasi satu orang daripada banyak orang” jelas Deokman

“anda betul Yang Mulia, tapi jika mereka menjual dengan harga tinggi maka bila rakyat yang membutuhkan akan kesulitan membelinya” tanya Chunchu

“kurasa tidak, selama pasokan barang ada dan permintaan sama maka harga akan stabil, seperti kasus pembelian gandum besar-besaran oleh para bangsawan pada waktu lalu, bila ini terjadi pihak istana akan turun tangan dan bukankah sudah kubilang aku akan menetapkan aturan-aturan yang kurasa tidak akan merugikan ke dua belah pihak. Bangsawan Kim Youngchun kumpulkan data-data hasil bumi yang Shilla miliki dari berbagai provinsi secara detail dan kita harus mendiskusikan penetapan peraturan system tender. Bangsawan Kim Seohyun kumpulkan data-data para bangsawan yang mempunyai kualifikasi untuk mengikuti tender ini, juga Chunchu sebaiknya kau periksa berapa banyak hasil bumi yang kita butuhkan setiap tahunnya, terutama jumlah bijih besi untuk membuat persenjataan kita” perintah Deokman

“kemudian Kapten Alcheon, segera kirim beberapa prajurit untuk membantu Sangdaedung Bidam dalam menangkap penyelundup di Cholyuk” lanjut Deokman memberi perintah

Semua mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan ratu untuk menjalankan tugas masing-masing.

“berhati-hatilah, Bidam. Cepatlah kembali” gumam Deokman.

SCENE : THE SMUGGLER AMBUSH

Ketika Bidam hendak pergi ke penginapan kecil, di tengah jalan Bidam melihat Han SangJi bersama beberapa orang yang berpakaian Bangsawan, berbicara lalu pergi ke tempat yang lebih sepi. Karena penasaran Bidam mencoba membuntuti dan mencuri dengar, Bidam bersembunyi berjongkok di balik tembok ketika mereka berbicara di lorong yang sepi

“kapan ulat-ulat itu akan siap?” kata salah seorang pria

“kita harus bersabar untuk sementara, selama kunjungannya berakhir disini” jawab suara Han SangJi karena Bidam mengenali suaranya yang mendayu-dayu

“apakah dia mengetahui sesuatu tentang ulat-ulat itu” tanya suara yang lain

“entahlah, aku tidak tahu tapi kurasa dia hanya sedang lewat saja karena ia akan segera kembali ke ibu kota setelah memenangkan perang dengan Baekje” suara Han SangJi

“mereka segera memerlukan ulat-ulat karena tawarannya bagus, sayang kalau kesempatan ini dilewatkan” suara pria lain

“aku akan segera memberi kabar kalian setelah aku mengamati situasi siang ini juga, sekarang mari berpisah” suara Han SangJi.

Bidam segera pergi dari persembunyiannya.

Kediaman Gubernur Cholyuk : Bangsawan Han Sangmyul

“ah.. untunglah kau datang putraku” sambut Bangsawan Han SangMyul pada putranya yang kemayu, Han SangJi yang baru datang

“apa ayah mencariku?” jawab Han SangJi sambil mengibaskan rambutnya. Air muka Bangsawan Han SangMyul terlihat terganggu dengan gaya putranya.

“Tuan Sangdaedung Bidam akan kembali ke Soerabeol sekarang, sebaiknya kau memberi salam perpisahan”

“Bangsawan Han SangMyul semoga dibawah kepemimpinanmu Cholyuk semakin makmur, aman dan sejahtera. Aku akan melaporkan pada Yang Mulia ratu bahwa aku puas dengan keadaan di Cholyuk” ujar Bidam

“Tuan Sangdaedung, terima kasih atas kemurahan hati anda” tukas Bangsawan Han SangMyul memberi hormat

“semoga Tuan Sangdaedung puas dengan pelayanan kami disini” timpal Han SangJi turut memberi hormat tapi terlihat jelas matanya melirik Jungsae-rang dengan genit yang berdiri di belakang Bidam, Jungsae-rang heran. Bidam membalasnya dengan mengangguk.

“ayo pergi” ajak Bidam pada Jungsae-rang dan Hanwook-rang di belakang Bidam. Jungsae-rang dan Hanwook-rang ikut memberi hormat pada bapak dan anak itu dan mereka membalasnya.

Saat Han SangJi menatap Jungsae-rang, Han SangJi menghadiahi Jungsae-rang dengan senyum manisnya tanda bahwa ia tertarik pada Jungsae-rang, Jungsae-rang sedikit bergidik kemudian berlalu menyusul Bidam yang berjalan didepannya. Hanwook-rang memperhatikan Jungsae-rang dengan sedikit geli.

“sepertinya ia tertarik padamu” goda Hanwook-rang tersenyum lebar pada Jungsae-rang ketika mereka akan menaiki kudanya masing-masing

“kau gila yah, aku masih pria normal tahu!” gerutu Jungsae-rang

“haha..tapi dia lumayan cantik” canda Hanwook-rang tertawanya makin lebar, Jungsae-rang membalas Hanwook-rang dengan meninju ringan lengan Hanwook-rang

“kalian sedang apa? Ayo pergi!” ucap Bidam tiba-tiba menghentikan candaan Jungsae-rang dan Hanwook-rang. Mereka menaiki kuda dan pergi di ikuti beberapa pengawal di belakangnya.

Setelah beberapa lama berkuda, Bidam berhenti dan menyuruh mereka turun ketika mereka mulai memasuki sebuah hutan kecil.

“ada apa Sangdaedung?” tanya Jungsae-rang sambil turun dari kudanya mengikuti Bidam begitu pula dengan Hanwook-rang

“kita kembali ke Cholyuk dengan menyamar, kurasa aku tahu siapa penyelundup itu” kata Bidam sambil berjalan masuk ke arah hutan

Jungsae-rang dan Hanwook-rang saling berpandangan heran dan mengikuti Bidam.

Malam hari…

Bidam, Jungsae-rang dan Hanwook-rang serta 4 orang nando mengendap-ngendap mendatangi sebuah gua yang tersembunyi memakai pakaian penyusup dan penutup wajah. Bidam memberi kode tangan agar mereka maju dan mencari persembunyian seaman mungkin sambil mengamati aktivitas di dalam gua itu. Benar yang diperkirakan Bidam, setelah kepergiannya dari Cholyuk, ada aktivitas di gua itu. Setelah menunggu beberapa lama para pekerja tambang membawa 2 gerobak dan membawanya keluar dari gua, kelompok Bidam mengikuti diam-diam lalu gerobak berhenti di depan sebuah bangunan mirip gudang tua. Mereka masuk ke dalam gudang itu, Bidam mengintip diam-diam dan melihat mereka sedang menyembunyikan potongan-potongan besi ke dalam tumpukan gandum. Bidam sengaja tidak menyergap mereka dulu karena ingin tahu, mau dikemanakan besi-besi itu.

Setelah mengintai selama beberapa jam kemudian. Mereka keluar kembali dengan muatan penuh gandum, mereka menuju ke arah sungai..

Sebuah perahu barang berukuran sedang telah siap untuk mulai berlayar, disana ada beberapa orang yang sepertinya sedang melakukan transaksi. Muatan besi telah sampai di tempat mereka dan mereka sedang mengecek barang-barang selundupan.

“Sekarang saatnya kita menyergap, berapa jumlah mereka semua” bisik Bidam pada Jungsae-rang dan Hanwook-rang yang ada disebelahnya.

“Jumlah mereka sekitar 15 orang Sangdaedung” jawab Jungsae-rang

“Tampaknya malam ini kita harus bekerja keras” timpal Bidam sambil bersiap mengacungkan pedangnya. Lalu mereka mengendap mendekati para penyelundup.

Dengan satu kibasan tangan yang dilakukan oleh Bidam sebagai perintah maju, lalu kelompok Bidam mulai menyerbu kepada para penyelundup. Para penyelundup terkejut dan mereka siap melawan.

Akhirnya kelompok Bidam dan kelompok penyelundup berseteru dan saling menyerang. Ditengah-tengah pertempuran, Bidam melihat Han SangJi seperti sedang bersiap melarikan diri beserta salah seorang pria paruh baya yang baru dilihat Bidam, Bidam berteriak memanggil Jungsae-rang agar mencegah mereka lari.



FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 11

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 11

SCENE : GATHER THE CLUE

Di meja bundar suatu penginapan kecil..

Bidam tengah duduk tampaknya menunggu seseorang lalu datang 2 orang wanita, 1 wanita muda yang memakai pakaian wanita biasa dan yang satu lagi wanita memakai topi lebar yang ditutup kain sifon berpakaian wanita bangsawan dengan belahan dada agak rendah yang memperlihatkan sedikit belahan dadanya. Lalu wanita itu duduk di depan Bidam dan membuka topinya, ternyata wanita separuh baya dengan yang memakai make up tebal serta gincu merah yang tebal. Melihat Bidam, wanita itu tersenyum genit tapi Bidam memperlihatkan ekspresi dingin lalu wanita itu mengibaskan tangan pada wanita muda tanda mengusir, wanita muda itu keluar dan pintupun tertutup.

“Sangdaedung Bidam, senang sekali bisa bertemu dengan anda hanya sekarang tampaknya anda sendirian tidak ada orang yang selalu mendampingi anda” sambutnya dengan suara dibuat-buat

“maksudmu, Yeomjong, dia sudah tewas di tanganku. Kau tahu persis apa yang terjadi sebenarnya” jawab Bidam dengan nada mencemooh.

“Ya Tuan Sangdaedung Bidam, rumor di tempatku sangat ramai beredar. Bahkan pernikahan anda dengan Yang Mulia Ratu serta usaha anda untuk meraih simpati public dengan merebut benteng Daia sungguh berita yang luar biasa”

“cukup berbasa-basi, Nyonya Yangshik aku harap bisnismu berjalan dengan lancar”

“Terima kasih atas perhatian Tuan Sangdaedung, selama para pria di belahan bumi ini memerlukan kesenangan, usaha saya tentu akan berjalan lancar” jawab Nyonya Yangshik dengan gaya manja, Bidam menatapnya dengan ekspresi datar

“ada sesuatu yang ingin kutanyakan? Kau tahu sesuatu yang terjadi disini, tentang penyelundupan besi” selidik Bidam. Nyonya Yangshik tampak terkejut dan gugup seketika.

“saya.. saya.. “ jawabnya

“aku berharap kau bersikap bijaksana dan bekerja sama denganku” kata Bidam tajam

“baiklah.. Tuan Sangdaedung, dari yang saya dengar bahwa…”

Beberapa saat kemudian Jungsae-rang dan Hanwook-rang datang mereka memakai baju rakyat biasa.

“Bagaimana penyelidikan kalian?” tanya Bidam

“Si pengepul gandum itu namanya Bangsawan Cha-Byung, dari yang saya amati memang benar-benar pengepul gandum Sangdaedung, saya sudah menyelidikinya dan memeriksa latar belakangnya,” jelas Hanwook-rang

“kau sudah tahu darimana mereka mendapatkan besi-besi itu?” tanya Bidam pada Jungsae-rang

“mereka mendapatkannya dari pertambangan liar” jawab Jungsae-rang

“apa? Sudah kuduga, mereka bekerja sendiri-sendiri” timpal Bidam ”apa gubernur provinsi terlibat?” tanya Jungsae-rang

“itu yang harus kita ketahui dan menemukan bukti, dimana lokasi pertambangan itu?” Bidam balik bertanya

“ada di beberapa tempat tapi yang paling besar ada di selatan Cholyuk, disana juga dekat dengan lumbung gandum desa, jadi mereka sepertinya menyelundupkan dari daerah sana” jawab Jungsae-rang

“baiklah Jungsae-rang, kau tetap awasi pertambangan itu dan Hanwook-rang kau temui pria petani itu dan korek informasi lebih dalam tentang hal ini. Aku akan menemui gubernur provinsi Cholyuk, ah.. aku lupa siapa namanya?”

“Bangsawan Han Sangmyul”

SCENE : IRON ORE MINE

Kediaman Gubernur Cholyuk : Bangsawan Han Sangmyul

Bidam kembali memakai pakaian perangnya bersama beberapa pengawal ketika dia memasuki halaman rumah gubernur Cholyuk, Bangsawan Han Sangmyul, dia menyambut Bidam dengan senang karena kedatangan Sangdaedung Shilla. Setelah beramah tamah dan jamuan makan malam, Bidam dikenalkan oleh Han Sangmyul pada putranya Han SangJi seorang pemuda yang tampan, terlalu tampan, malah kelihatan cantik dengan gaya kemayu sambil membawa kipas.

“ini putra saya satu-satunya Tuan Sangdaedung, Han SangJi” kata Bangsawan Han Sangmyul, Han Sangji memberi hormat dan Bidam hanya mengangguk. Lalu mereka bertiga berbicara

“Bagaimana dengan keadaan para bangsawan disini? apakah mereka puas dengan kebijakan Yang Mulia Ratu” tanya Bidam

“Ya saya rasa wajar apabila ada pro dan kontra tapi semua hal yang muncul tidak mengkhawatirkan karena kami tetap tunduk pada kebijakan istana yang menetapkan bahwa saat ini para bangsawan hanya diperbolehkan mempunyai pasukan pribadi maksimal 50 orang lalu tanah yang mereka miliki tidak boleh melebihi 70 hektar, untuk pemerataan kesejahteraan rakyatnya. Awalnya bagi Bangsawan kaya yang mempunyai tanah lebih dari 70 hektar sangat keberatan bila tanahnya dibagi-bagi tapi demi menghindari pajak yang sangat tinggi dari istana, akhirnya mereka menurut” papar Bangsawan Han Sangmyul.

“Bagus, kau harus terus awasi kondisi Bangsawan disini karena kebijakan ini diterapkan diseluruh daerah Shilla dan tetap akan diterapkan pada daerah baru yang diinvasi oleh Shilla” jawab Bidam

“lalu bagaimana dengan pertambangan bijih besi disini, Cholyuk merupakan salah satu daerah penghasil bijih besi yang besar di Shilla? Apakah kalian tetap mengirimkan dan memenuhi kuota hasil tambang pada istana” tanya Bidam tiba-tiba, mendengar pertanyaan ini Bangsawan Han Sangmyul terkejut dan buru-buru menjawab

“tentu Tuan Sangdaedung, kami selalu mengirimkan jumlah kuota yang ditetapkan istana, apa..apa.. ada masalah?” tanyanya

“kuharap tidak, dimana lokasi pertambangan terbesar di Cholyuk?” kata Bidam

“ada di sebelah utara Cholyuk, Tuan Sangdaedung. Bila anda berkenan saya bersedia mengantarkan” sahut Han SangJi tiba-tiba suaranya sangat lembut nyaris seperti wanita dengan gaya kemayu, bila Bangsawan Han Sangmyul tidak mengenalkannya sebagai putranya, Bidam yakin akan mengira pria ini wanita. Han SangJi tersenyum manis membuat Bidam sedikit jengah tapi ada perasaan geli juga karena baru sekali ini Bidam menghadapi pria kemayu.

Kamar tamu rumah Bangsawan Han Sangmyul

Bidam tengah beristrahat, duduk dan berpikir mengenai masalah penyelundupan ini

“Hanwook-rang bilang pertambangan ada di selatan sedangkan Han SanJi bilang di utara…hmm..”gumam Bidam.

Lalu diingatnya perkataan Nyonya Yangshik tadi siang..

“baiklah.. Tuan Sangdaedung, dari yang saya dengar bahwa para Bangsawan disini sangat keberatan denngan kebijakan Yang Mulia Ratu Deokman yang membatasi jumlah pasukan pribadi juga jumlah kepemilikan tanah, bagi Bangsawan menengah hal ini tidak masalah tapi bagi Bangsawan kalangan atas yang terbiasa hidup mewah tentunya hal ini akan mempengaruhi hasil pendapatan mereka apalagi jumlah pajak yang sangat tinggi bila mereka tetap memperluas tanahnya. Akhirnya mereka mencari celah untuk memperkaya diri melalui hasil pertambangan. Karena istana hanya meminta jumlah kuota yang sama setiap bulannya tanpa mengetahui berapa hasil tambang sebenarnya maka kelebihan kuota itu mereka menjualnya” jelas Nyonya Yangshik

“kepada siapa mereka menjualnya?”

“itu yang saya tidak tahu, tapi yang saya dengar mereka mengumpulkan semua hasil tambang di seseorang bernama ‘Na Bi’ tapi saya tidak tahu siapa dia”

“Na Bi, bukankah itu artinya kupu-kupu” tanya Bidam heran

“iya betul, menurut yang saya dengar begitu”

“Apakah hasil tambang sedemikian banyak sehingga mereka menjual kelebihannya?”

“Tuan Sangdaedung, tidak tahu Cholyuk terkenal dengan tambang bijih besi dan pertambangan di Cholyuk bukan hanya satu seperti yang Sangdaedung ketahui”

“apa? Kalau begitu gubernur pasti mengetahuinya dan dia tidak melaporkan pada kerajaan”

“saya rasa dia tahu tapi tidak berani mengatakannya karena tekanan para Bangsawan disini”

Bidam mengernyitkan keningnya tanda berpikir, lalu mengambil kertas dan menuliskan laporan lalu memberi segel dan menggulungnya, lalu datang 2 orang kurir yang merupakan nando anggota resimen Hwarang Jungsae-rang dan diserahkan surat itu pada mereka.

“surat ini harus disampaikan pada tangan Yang Mulia Ratu sendiri dan berikan padaku jawabannya segera, mengerti!” perintah Bidam. 2 orang nando menunduk dan mengambil gulungan surat, menghormat lalu pergi.